Seputar Turbulensi Pesawat yang Perlu Diketahui

Suasana kacau juga terlihat di kabin Eva Air penerbangan dari Taipei menuju Chicago usai terkena turbulensi.

Sungguh tak nyaman rasanya jika kamu harus menghadapi turbulensi saat melakukan perjalanan dengan pesawat terbang. Tak hanya membuat tidak nyaman, turbulensi juga sering membuat kamu khawatir akan keselamatan penerbangan.

Seperti yang terjadi pada maskapai ALK Airlines yang dilaporkan mengalami turbulensi dalam penerbangan dari Kosovo menuju Swiss pada Minggu (16/6/2019). Video yang direkam oleh penumpang bernama Morjeta Basha itu memperlihatkan penumpang berteriak setelah pesawat Boeing 737-300 itu terguncang karena turbulensi.

Turbulensi merupakan perubahan kecepatan aliran udara yang menyebabkan goncangan pada tubuh pesawat, baik kecil maupun besar. Meski demikian, dikutip dari situs lonelyplanet.com, turbulensi pada dasarnya merupakan hal yang wajar.

“Pesawat dirancang untuk menahan turbulensi besar, sementara pilot dan pramugari dilatih untuk mengarahkan Anda melewatinya dengan aman,” isi informasi dalam situs tersebut.

Selain merupakan kejadian yang wajar, berikut empat hal seputar turbulensi pesawat menurut situs lonelyplanet.com.

1. Apa yang menyebabkan turbulensi udara?

Dalam situs ini disebutkan bahwa penyebab terutama turbulensi adalah awan, namun ada juga yang disebut CAT (Clear Air Turbulence) atau turbulensi udara cerah. Hal in senada dengan yang disampaikan oleh Assiva Husman, pilot WNI yang pernah menjadi Captain Pilot pesawat B-777 Qatar Airways lewat emailnya kepada Kompas.com. Ia mengatakan, turbulensi bisa dikategorikan menjadi 2 yaitu turbulensi seputar awan dan turbulensi udara cerah.

Kondisi turbulensi yang dialami pesawat saat terbang, seyogyanya memohon pertolongan pada Yang Maha Kuasa, Allah SWT.

Adapun turbulensi udara cerah lebih berbahaya karena awak kabin memiliki sedikit waktu untuk memeringatkan penumpang. Hal lain yang menyebabkan turbulensi menurut situs lonelyplanet.com adalah gelombang udara.

“Mari kita mulai dengan turbulensi bangun. Karena udara berperilaku seperti cairan. Pikirkan gelombang atau ombak bangun datang dari balik lambung kapal. Pesawat juga demikian, tetapi itu tidak terlihat oleh mata kita,” ujar penulis. Itulah sebabnya, jarak dan ketinggian antar pesawat dipisahkan agar tak terjadi gelombang bangun tersebut.

Karena pengendali lalu lintas udara tahu di mana pesawat berada, bangun turbulensi cukup langka. Yang lebih umum adalah turbulensi karena udara bersih atau awan.

2. Apa yang harus kamu lakukan saat pesawat turbulensi?

Sebenarnya pesawat dirancang untuk dapat menahan turbuensi. Jika kamu perhatikan, sayap pesawat akan bergerak naik dan turun apabila gelombang udara terjadi.

Jadi tips pertama adalah, jangan panik. Awak kabin telah dilatih untuk membuat kamu seaman mungkin. Jadi jangan melanggar jika mereka memerintahkanmu untuk tetap berada di tempat dudukmu saat turbulensi terjadi.

Yang tak kalah penting adalah selalu kenakan sabuk pengaman. Kemudiakan pastikan juga orang di sekitarmu telah menggunakan sabuk pengamannya dengan benar. Untuk menjaga keamanan orang lain, jangan sekali-kali meletakkan barang pribadi di sekitar kursi. Jika turbulensi terjadi barang-barang bisa saja bergerak mengikuti arah pesawat dan berpotensi melukai orang lain.

Beginilah kondisi kabin Delta Airlines jurusan Santa Ana, California menuju Seattle, Washington usai diguncang turbulensi

3. Benarkah semakin hari turbulensi pesawat akan semakin sering terjadi?

Jika itu pertanyaannya, maka jawabannya adalah “ya’. Dengan perubahan iklim saat ini, maka cuaca ekstrem berpotensi lebih sering terjadi. Hal ini membuat kemungkinan peningkatan turbulensi selama penerbangan akan terjadi selama beberapa dekade mendatang.

Namun, jangan terlalu khawatir sekarang. Hal itu diprediksi akan terjadi mulai sekitar tahun 2050. Selain itu, menurut data, ada lebih dari seratus ribu penerbangan dalam sehari dan sebagian besar di antaranya lancar.

4. Apa yang dilakukan pesawat dan pilot untuk mengurangi turbulensi?

Saat ini teknologi peramalan turbulensi pesawat dan sistem pelaporan turbulensi oleh pilot semakin meningkat. Hal ini akan membuat awak kabin lebih cepat menginformasikan terkait turbulensi dan segera melakukan prosedur-prosedur keamanan.

Di masa depan, kamu mungkin akan melihat sensor otomatis di pesawat yang memasukkan data kembali ke algoritme besar yang akan memberikan informasi lebih baik mengenai di titik mana kita akan mengalami turbulensi.

Tak hanya itu, para ilmuwan juga tengah mencari cara untuk mengurangi dampak turbulensi tersebut. Salah satu opsi di masa depan adalah biomimikri, atau meniru yang dilakukan burung saat terbang. Ujung sayap albatros, misalnya, akan mengepak bebas ke atas dan ke bawah. Itu mungkin terlihat sangat aneh untuk pesawat, tetapi ini bisa saja terjadi di masa depan.

Sumber: kompas

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.