Legenda Si Badang Sadim Sani, Hercules dari Kepulauan Riau

Badang Sadim Sani mengangkat batu tokong sebesar bukit itu dengan sebelah tangannya saja

Di sebuah pulau kecil hidup seorang pria bernama Badang, dengan nama lengkapnya Badang Sadim Sani, Hercules Indonesia. Ia merupakan seorang yang amat rajin. Ia bekerja sebagai budak pada seorang tuan yang amat kaya bernama Nira Sura.

Lokasi tempat tinggal Si Badang ini dikenal dengan nama Pulau Karimun, sebuah pulau yang kini telah berstatus kabupaten di Provinsi Kepri. Secara geografis, letak Pulau Karimun berdekatan dengan dua negara yaitu Malaysia dan Singapura. Hanya butuh 45 menit perjalanan saja menggunakan feri cepat menuju Johor, Malaysia.

Badang bekerja sebagai penebas pohon di hutan. Pohon-pohon yang ditebang guna untuk perluasan ladang-ladang baru. Pada zaman itu para pekerja tidak dibayar dengan uang melainkan dengan beras.

Beras yang diterima Si Badang ditanak menjadi nasi, untuk makanan sehari-hari. Badang merasa hambar dengan nasi yang dimakan tanpa lauk pauk. Kemudian terpikir olehnya untuk menangkap ikan di sungai.

Sore hari, selepas bekerja menebas pohon Badang memasang lukah di sungai yang dilewatinya. Lukah adalah alat perangkap ikan yang terbuat dari bambu atau rotan. Sekilas mirip tudung penutup ayam, namun bentuknya lebih kurus.

Badang memasang lukahnya setiap sore hari, dan diangkat setiap pagi saat memulai pekerjaannya. Namun, setiap kali Badang mengangkat lukahnya selalu yang terlihat adalah tulang-tulang ikan. Si Badang curiga ada yang memakan ikan hasil tangkapannya. Badang berang. Tidak hanya sekali, tetapi setiap hari kejadian ini selalu berulang.

Badang berinisiatif untuk mencari tahu siapa pelaku yang memakan hasil ikan tangkapannya. Ia menduga bahwa pelakunya adalah hewan buas yang ada di hutan itu. Hingga suatu ketika sebelum ia beraksi untuk melacak pelaku pencuri ikannya, malam harinya Badang bermimpi sedang berada di dalam perahu yang penuh dengan muatan dagang. Dalam mimpi tersebut ia menjadi seorang yang kaya raya serta hidup mewah bersama ayah, ibu, dan adiknya.

Masih di dalam mimpi, Badang mengangkat sebuah batu yang sangat besar. Lalu batu tersebut dilemparkannya ke atas hingga melayang dan jatuh ke muara sungai. Ada satu hal aneh dalam mimpi tersebut, ia memakan muntahan suatu makhluk yang wujudnya amat mengerikan.

Ketika terbangun dari mimpinya, Badang sedikit merasa terganggu, ketakutan. Lalu ia bergegas menuju sungai dengan membawa sebilah parang untuk mencari tahu pelaku yang memakan ikan-ikannya. Alangkah terkejutnya ia saat mengetahui bahwa yang memakan ikan di lukahnya bukan binatang buas melainkan sesosok yang amat mengerikan, mirip seperti di dalam mimpinya.

Badang mengintip dari celah popohonan. Makhluk yang memakan ikan hasil tangkapannya ternyata merupakan Jembalang Air atau Hantu Air. Bentuknya tinggi besar melebihi rumah Badang. Rambutnya gondrong sepinggang. Janggutnya panjang menutupi dadanya yang berbulu. Ia memiliki dua tanduk di kepalanya. Matanya merah redup.

Sehabis memakan ikan di dalam lukah tersebut, Jembalang Air itu pun tertidur pulas. Karena rasa emosi yang sudah memuncak, Badang pun memberanikan diri untuk menghadapi Jembalang Air itu. Ia mengikat rambut Jembalang yang panjang dengan jaring. Lalu jaring tersebut ditimpakan dengan batu besar.

Wahid Satay, Pemeran Badang Perkasa, Hercules Indonesia (https://www.kompasiana.com)

Sambil memegang parang, Badang membentak makhluk tersebut hingga terbangun. Jembalang Air tampak ketakutan dengan ancaman Si Badang. Untuk menyelamatkan dirinya, Jembalang Air itu berjanji akan memenuhi apapun permintaan Si Badang.

Badang menyetujui kesepakatan yang ditawarkan Jembalang Air. Badang meminta untuk diberikan kekuatan agar tidak cepat lelah dalam menjalankan pekerjaannya. Jembalang Air sanggup memenuhi permintaan Si Badang asal ia mau melakukan syarat yang harus dipenuhi. Adapun syarat tersebut adalah memakan muntahan Jembalang Air.

Awalnya Si Badang cukup terkejut dengan syarat yang harus dipenuhinya, tetapi akhirnya ia mau melakukannya dengan posisi masih mengancam, memegang rambut Jembalang Air. Karena ia khawatir itu hanya akal-akalan Si Jembalang Air. Lalu Jembalang Air itu mengambil sebuah daun dan memuntahkan isi dalam perutnya.

Daun yang berisi muntahan Jembalang Air yang konon berupa dua buah batu geliga merah itu dimakan oleh Si Badang. Badang mencoba kekuatan barunya dengan mencabut sebuah pohon besar dengan satu tangan, karena tangan satunya lagi masih dalam posisi memegang jaring yang mengikat rambut Jembalang Air. Ternyata pohon besar tersebut berhasil dicabut Si Badang dengan mudah hingga akar-akarnya.

Badang melepaskan jaring yang dipegangnya. Jembalang Air berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya memakan ikan-ikan di dalam lukah tersebut. Saat dalam perjalanan pulang ke rumah, Si Badang mencoba kekuatan barunya dengan mencabuti pohon-pohon besar yang dilaluinya tanpa beban sedikitpun.

Hijrah ke Temasik

Suatu ketika sang majikan, Nira Sura, berkeinginan untuk memperluas lahan di Baruah. Ia menyuruh Badang untuk menebang pohon-pohon di sana. Nira Sura heran Badang pulang begitu cepat dari Baruah. Ia curiga Badang tidak melaksanakan perintahnya.

Badang mengatakan kepada Nira Sura bahwa ia telah melakukan pekerjaan dengan baik. Pohon-pohon di hutan Baruah telah rata, membentuk ladang baru. Badang juga berkata ia melakukannya seorang diri. Nira Sura masih tak percaya. Bagaimana mungkin pohon-pohon besar itu bisa dilakukan Si Badang dalam sehari, seorang diri.

Badang menceritakan kepada Nira Sura tentang kejadian yang dialaminya beberapa waktu lalu. Nira Sura terenyuh mendengar cerita Si Badang. Ia lalu membebaskan Si Badang. Badang pun terbebas dari status budaknya.

Badang bebas mencari pekerjaan baru yang diinginkannya. Hingga suatu ketika kekuatan Si Badang tersohor hingga Temasik (Singapura). Konon, kabar kekuatan Si Badang menyebar kemana-mana karena peran tuan lamanya, Nira Sura.

Badang memutuskan berlayar ke Temasik. Ia ingin mencoba peruntungan di tempat lain. Nira Sura berpesan kepada Si Badang agar tetap rendah hati dan mempergunakan kekuatan yang dimilikinya hanya untuk kebaikan.

Suatu ketika saat Badang sedang bersantai di teras rumahnya yang baru di Temasik ia melihat sekitar 50 orang sedang mendorong kapal besar ke laut. Ia menawarkan untuk membantu mendorong kapal tersebut.

Makam Si Badang Sadim Sani di Pulau Buru, Kepulauan Riau (http://seniberjalan.com)

Tetapi tawaran Badang ditolak. Badang hanya dianggap sebelah mata. Raja Temasik bernama Seri Rena Wikrama kemudian mengirim 300 orang lagi untuk membantu menggeser kapal tersebut ke laut. Nihil. Tetap tidak membuahkan hasil. Kapal besar tersebut masih tetap di tempat.

Mengetahui bahwa tawaran Si Badang ditolak untuk membantu mendorong kapal, Sang Raja memberikan kesempatan kepada Si Badang untuk melakukannya. Di hadapan Sang Raja dan ratusan orang Si Badang berhasil mendorong kapal besar tersebut ke laut hanya seorang diri. Semua mata terpana melihat apa yang barusan dilakukan Si Badang, tak terkecuali Raja Seri Rena Wikrama.

Setelah kejadian tersebut, Raja Seri Rena Wikrama memanggil Si Badang ke istana dan mengangkatnya menjadi Panglima Militer Tertinggi. Badang sering mendapatkan titah dari Sang Raja untuk hal-hal kebaikan.

Suatu ketika, Raja Seri Rena Wikrama sangat menginginkan daun kuras yang enak rasanya. Daun tersebut terdapat di daerah Kuala Sayong, Sumatera Utara, perbatasan dengan Aceh. Raja menyuruh Si Badang untuk mencarinya. Badang pun melaksanakan titah Sang Raja. Ia berlayar seorang diri menuju Kuala Sayong.

Setibanya di Kuala Sayong Badang memanjati pohon untuk mengambil daun kuras yang cukup tinggi. Tak disangka ternyata batang pohon tersebut sangat rapuh. Badang terjatuh. Kepalanya terhempas di bebatuan. Tetapi diluar dugaan, Si Badang tidak cedera. Kepalanya tidak terluka sedikit pun. Anehnya, yang pecah terbelah menjadi dua justru batu tersebut. Batu yang dipercaya terkena hentaman kepala Si Badang itu masih bisa disaksikan hinggga kini yang dikenal dengan nama Batu Belah.

Popularitas Si Badang semakin tersohor. Bahkan hingga ke telinga Kerajaan di India. Kerajaan India menawarkan kepada Raja Seri Rena Wikrama untuk mengadu kekuatan antara Si Badang dengan ksatria yang dimilikinya bernama Nadi Bijaya. Tanpa pikir panjang Raja Seri Rena Wikrama menyetujui tawaran tersebut dengan ramah.

Kemudian Sang Ksatria India, Nadi Bijaya, dikirim ke Temasik bersamaan dengan tujuh buah kapal yang di dalamnya terdapat banyak muatan barang dagangan. Sebagaimana kesepakatan, bagi yang kalah dalam adu kekuatan nanti maka dia harus menyerahkan semua muatan dagangan yang ada di kapal.

Adu kekuatan antara Si Badang dan Nadi Bijaya dimulai. Dari setiap pertarungan, hasilnya selalu imbang. Sementara barang dagangan yang diperebutkan bagi yang menang sudah siap untuk diangkut. Akhirnya diputuskanlah untuk adu kekuatan mengangkat batu besar yang ada di depan istana. Nadi Bijaya mampu mengangkat batu tersebut hingga setinggi lutut. Sementara Si Badang mengangkat batu yang sama hingga di atas kepalanya lalu dilemparkannya ke laut. Nadi Bijaya mengakui kekalahannya. Tujuh buah kapal berisi muatan barang dagang yang dibawanya dari India diserahkan semua kepada Kerajaan Temasik.

Si Badang mengabdi kepada Kerajaan Temasik sekian tahun lamanya. Selama pengabdian tersebut ia banyak mengalahkan ksatria-ksatria dari kerajaan lain. Termasuk ksatria dari Tanah Jawa. Si Badang mulai merasakan kejenuhan. Ia berkeinginan untuk mengundurkan diri dari Kerajaan Temasik. Ia memutuskan untuk kembali ke Sumatera.

Pulang Kampung

Si Badang menghabiskan sisa hidupnya di sebuah pulau kecil di gugusan Kepulauan Karimun, Provinsi Kepri, tepatnya di Pulau Buru. Ia wafat di pulau kecil tersebut dan dimakamkan di sana.

Hingga kini makam Si Badang dapat disaksikan di Pulau Buru. Banyak pelancong yang datang ke Karimun menyempatkan untuk berziarah ke makam Si Badang. Dari Pulau Karimun Besar menuju Pulau Buru hanya berjarak 15 menit saja dengan menggunakan feri cepat. Di pulau ini juga terdapat sisa peninggalan masjid tua nan bersejarah bernama Masjid Abdul Gani.

Makam Si Badang Sadim Sani di Pulau Buru, Kepulauan Riau (https://batam.tribunnews.com)

Bagi yang ingin piknik cantik ke makam Si Badang di Pulau Buru, akses perjalanan dari Batam menuju Tanjungbalai Karimun terlebih dahulu. Kemudian berpindah ke pelabuhan KPK (pelabuhan antar pulau) yang hanya berjarak satu kilometer dari pelabuhan utama. Dari Pelabuhan KPK tinggal menyeberang ke Pulau Buru dengan menggunakan feri cepat selama 15 menit.

Pesan Moral

Dalam cerita ini tergambar bahwa sifat seseorang tidak suka takabur, mengandalkan kebolehannya atau kekuatannya. Tetapi berbuat benar-benar menurut kesanggupan, tidak mengada-ada. Orang yang tidak mengada-ada, selalu sukses.

Sumber: fadlifadli

One thought on “Legenda Si Badang Sadim Sani, Hercules dari Kepulauan Riau

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.