Tarian Tradisional Boyolali Jawa Tengah

Tari Topeng Ireng Boyolali

Keragaman budaya dapat disaksikan dalam bentuk atraksi kesenian, upacara-upacara adat, hasil karya luhur dalam bentuk seni bangunan, dan sebagainya. Dalam konteks pariwisata, pilihan menyaksikan atraksi budaya menjadi salah salah satu prioritas untuk menngunjungi suatu daerah atau kawasan tertentu yang nantinya dikunjungi.

Tari Turonggo Seto Boyolali

Tari Turonggo Seto (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Nama Turonggo Seto berasal dari dua kata yang masing-masing memiliki pengertian sendiri-sendiri. ‘Turonggo’ berarti kuda dan kata ‘Seto’ yang berarti putih. Dengan demikian Turonggo Seto mempunyai arti “Kuda Putih”.

Merupakan tarian yang bercerita tentang kisah Pangeran Diponegoro saat berperang melawan Belanda yakni dengan menunggang Kuda Putih.

Tari Turonggo Seto

Tari Turonggo Seto disajikan oleh tujuh belas penari laki-laki. Satu penari berperan sebagai panglima dengan model busana yang berbeda, sedangkan enam belas penari berperan sebagai prajurit dengan menggunakan busana yang seragam. Gerak pada Turonggo Seto bersifat dinamis dan gerak-gerak yang diperagakan saat menari merupakan perwujudan bentuk-bentuk gerak saat menunggang kuda, berlari, berperang dan mengadu kekuatan.

Tarian Kusuma Bangsa

Tari Kusuma Bangsa saat pentas di Oslo, Norwegia (http://www.boyolali.go.id)

Ditarikan oleh lima penari, merupakan cerita perjuangan Nyi Ageng Serang, putri bungsu Panembahan Natapraja di wilayah kerajaan Mataram dalam menghadapi penjajah.

Setiap gerakan tarian ini menggambarkan sosok wanita tangguh dan bijaksana, anggun serta religius. Cundrik dan Selendang digunakan sebagai properti dalam tarian ini. Cundrik merupakan senjata khusus perempuan sebagai simbol ketangguhan, sedangkan selendang putih melambangkan kemurnian hati Nyi Ageng Serang dalam bertekad memperjuangkan kemerdekaan dan mengemban amanah dalam mengangkat derajat kaum wanita.

Tari Topeng Ireng Boyolali

Tari Topeng Ireng Boyolali saat pentas di Oslo, Norwegia (http://www.boyolali.go.id)

Nama Topeng Ireng sendiri berasal dari kata Toto Lempeng Irama Kenceng. Toto artinya menata, lempeng berarti lurus, irama berarti nada, dan kenceng berarti keras. Oleh karena itu, dalam pertunjukan Topeng Ireng para penarinya berbaris lurus dan diiringi musik berirama keras dan penuh semangat. Tarian ini sebagai wujud pertunjukan seni tradisional yang memadukan syiar agama Islam dan ilmu beladiri atau pencaksilat. Tak heran, Topeng Ireng selalu diiringi dengan musik yang rancak dan lagu dengan syair Islami.

Tari Bujang Ganong

Tari Bujang Ganong saat pentas di Swedia (http://www.boyolali.go.id)

Tarian ini menggambarkan seorang tokoh yakni Patih Bujang Ganong yang diutus Prabu Sewandana untuk meminang Dewi Sangga Langit. Sikap berkemauan keras, cerdik jenaka dan sakti sang patih dilihat dari gerakan yang cekatan dan atraktif.

Tarian Jaran Kepang Boyolali

Tarian Jaran Kepang Boyolali (https://www.boyolali.go.id)

Tarian ini menggambarkan seorang yang trampil, gagah, berwibawa yang memiliki etos kerja tinggi seperti halnya mayoritas masyarakat Boyolali. Tari ini tercipta dengan latar belakang peninggalan sejarah yang berwujud kuburan kuda jaman kuna di wilayah Boyolali.

Susunan gerak tari menampilkan semangat kuda. Kekuatan fisik diterapkan pada gerak kaki, ketrampilan gerak kuda divisualisasikan dalam tehnik penggunaan kuda kepang atau anyaman bambu. Karakter kuda yang gagah tampil pada vokabuler gerak tari tradisi kerakyatan dengan gerak tubuh yang lebar.

Tari Bedhaya Manten

Tari Bedhaya Manten saat pentas di Kungstardgarden, Kota Stockholm (http://www.boyolali.go.id)

Tarian yang berkisah tentang anak gadis menginjak dewasa yang siap menikah. Penari Bedhaya Srimpi berjumlah empat orang yang melambangkan empat arah mata angin. Sebagai simbol bahwa anak gadis yang sudah cukup ilmu dan mampu menghadapi rintangan dari segala penjuru. Digambarkan dalam visual gerakan saling melempar sirih antar mempelai dan membasuh kaki pengantin lelaki oleh sang pengantin perempuan. Prosesi tradisi pengantin ini masih berjalan dan dilestarikan hingga saat ini di wilayah Boyolali dan sekitarnya.

Tari Gotong Royong

Tari Gotong Royong saat pentas di Swedia (http://bkp2d.boyolali.go.id)

Tari Gotong Royong ini dibawakan sepasang penari putra dan putri yang menggambarkan kesuburan kota Boyolali. Gerakan menari dilakukan dengan ekspresi riang gembira penuh semangat bergotong royong dengan sesama mewujudkan kota Boyolali menjadi kota makmur dan berbudaya.

Tari Sri Panganti

Merupakan tarian dengan gerakan lemah gemulai yang menggambarkan gadis yang sedang menanti pemuda idaman.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.