Sejarah Permainan Ujungan

Permainan tradisional Ujungan

Ujungan merupakan suatu kesenian bela diri yang berkembang di Bekasi. Kata ujungan sendiri berasal dari Bahasa Sunda, Jung yang berarti dari lutut ke bawah. Kata ini berkembang menjadi ujung yang artinya kaki. Beberapa tokoh ujungan Bekasi mengatakan bahwa ujungan berasal dari kata ujung (bongkot, bahasa dialek Bekasi), baik ujung rotan maupun ujung kaki.

Sejarah

Dulu era tahun 1990-1980an, di daerah Bekasi dan Jakarta pinggiran pernah ada kesenian bela diri yang unik bernama Ujungan. Seni pertunjukan bela diri menggunakan tongkat, yang dipadukan dengan musik dan tari. Kini Ujungan nyaris tak pernah terdengar.

Ujungan adalah seni ketangkasan beladiri menggunakan tongkat yang usianya sangat tua, dari abad ke 7 hingga masa kejayaannya pada abad 18 sampai awal abad ke 19.

Tidak pasti dari mana asal muasal kesenian ini. Sebab, hampir di semua daerah di Jawa Barat dan Jakarta, mengenal Ujungan meski dengan nama yang berbeda-beda. Di Banyumas Jawa Tengah ada juga permainan Ujungan, sebuah ritual mistis memanggil hujan.

Di Bekasi sendiri, jejaknya terekam dalam artefak dan gerabah  yang ditemukan di sekitar situs Buni, Bebelan. Mungkin hanya Ujungan, satu-satunya seni beladiri yang tercatat secara arkeologis.

Iringan Musik

Setiap pertunjukan Ujungan selalu diiringi dengan alat musik Samyong,  sejenis Gambang berbahan kayu, keberadaanya kemudian digantikan oleh gamelan.

Samyong akan dimainkan bersamaan dengan masuknya ”Pengibing” pencak silat atau biasa disebut  Uncul  ke  arena. Pengibing akan berjalan keliling untuk mencari penantang. Jika ada orang yang masuk menerima tantangan, maka dimulailah Ujungan.

Permainan

Sang pemenang kemudian akan mengajukan tantangan kepada penonton, begitu seterusnya hingga seseorang petarung dianggap sebagai seorang jawara Ujungan apabila tidak adalagi yang berani menantang.

Para pemain Ujungan akan saling beradu ”kesaktian” dengan mengunakan tongkat  yang dimainkan berdasarkan teknik pencak  silat masing-masing. Ukuran tongkat bervariasi, berkisar 40-125cm, umumnya di daerah Betawi dan sekitarnya menggunakan rotan berukuran   70cm, dengan diameter sebesar lengan bayi.

Rotan yang digunakan dipilih dengan tingkat fleksibilitas yang tinggi, sehingga dapat melengkung saat dipukulkan ke kaki atau badan lawan, polos tanpa dilapisi apapun sebagai pegangan.

Permainan tradisional Ujungan (http://pendekarsumurtujuh.blogspot.com)

Setiap pertandingan akan dipimpin wasit yang disebut  Boboto. Biasanya seorang Boboto  merupakan tokoh sesepuh yang memiliki kesaktian di atas rata-rata, para guru silat. Kehadiran  Boboto sangat diperlukan untuk menengahi, maklum pada peserta Ujungan kebanyakan jawara, sehingga rentan lepas kendali yang bisa menyebabkan terjadi perkelahian sesungguhnya.

Boboto akan mengunakan tongkat panjang atau selendang sebagai alat memimpin pertandingan, di arena seluas 5×10 meter. Seperti juga umumnya pertandingan, selalu ada aturan.

Aturan Permainan

Bagian kepala dan kemaluan tidak boleh dipukul, hanya dibolehkan pinggang ke bawah. Sasaran utama pukulan terletak pada tulang kering, dan mata kaki lawan baik yang kanan maupun yang kiri. Setiap pukulan yang mengenai sasaran atau disebut Balan,  akan mendapatkan nilai untuk   menentukan pemenang. Pemenang bisa juga ditentukan dari siapa yang keluar dari arena atau tunduk.

Dalam permainan ujungan ini, ujung kaki (jari-jari kaki, khususnya ibu jari) harus diperhatikan dan dipertahankan agar tidak terkena ujung rotan. Sebab akan menimbulkan luka berat bila terkena pukulan penjug (istilah dalam permainan ujungan). Menariknya dalam permainan ujungan ini terdapat dua hal yang perlu diperhatikan yakni Ujung Rotan dan Ujung Kaki

Harga diri

Bagi para Jawara, ujungan adalah pertaruhan harga diri dan perebutan status sosial. Uniknya, setiap jawara yang bertanding harus dari daerah yang berbeda dan tidak saling mengenal, untuk   mencegah timbulnya balas dendam bagi yang kalah.

Tokoh yang dikenal sebagai jawara dan pelestari Ujungan di Bekasi adalah Abah Natrom. Ada juga Ki Dalih atau akrab dipanggil Baba Dalih yang terkenal merajai arena Ujungan dari  Cikarang, Cakung,  Betawi hingga Tanggerang di era tahun 1950an.

Pada era penjajahan Ujungan diajarkan kepada para pemuda untuk menumbuhkan mental perlawanan dan tidak takut kepada Belanda dan Jepang. Tahun 1960 Ujungan dilarang oleh Pemerintah karena dianggap permainan keras dan sadis.

Pada perkembangan selanjutnya, Ujungan bukan lagi sebagai media untuk menyeleksi jawara yang terbaik, melainkan hanya sebagai hiburan rakyat.

Abah Natrom dan Baba Dalih adalah generasi terakhir yang setia melestarikan Ujungan sampai awal   dekade 1980an. Sampai tahun 80an,  di daerah Babelan dan sekitarnya kita masih bisa menyaksikan pertunjukan  Ujungan. Biasanya digelar pada hari-hari besar, seperti pernikahan, perayaan adat dan lainnya. Tapi sekarang nyaris sudah tidak ada.

Ujungan kini di ujung kepunahan. Padahal seni bela diri ini merupakan kesenian Sunda dan Betawi yang sudah berumur ratusan tahun. Di dalamnya menanamkan sportivitas dan persaudaraan. Kesenian warisan budaya leluhur, yang didalamnya berpadu pencak silat, musik, tari dan nilai-nilai   luhur.  Jika bukan kita siapa lagi yang peduli ?

Sumber: kumparan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.