Masjid – Masjid Kuno di DKI Jakarta [2]

Masjid Jami’ Al Ma’mur Tanah Abang Jakarta Pusat

Masjid Al-Makmur (https://bujangmasjid.blogspot.com)

Masjid Al-Makmur terletak di Jl. KH Mas Mansyur No.6, Tanah Abang, Jakarta Pusat, dibangun pada tahun 1704 oleh bangsawan Kerajaan Mataram Islam pimpinan KH Muhammad Asyuro, tepatnya sekitar 100 meter dari Blok A Tanah Abang, Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Masjid ini menempati lahan seluas 3.200 m2 dan mampu menampung hingga 5.200 jemaah.

Tahun 1932 masjid ini diperluas hingga ke arah utara seluas 508 m2. Perluasan di atas tanah wakaf Salim Bin Muhammad bin Thalib itu kemudian ditambah lagi dengan sebidang tanah milik masjid di bagian belakang seluas 525 m2 di tahun 1953. Jadi luas total masjid ini sebesar 2.175 m2. Ketika masih ada kuburan wakaf (kini jadi rumah susun Tanah Abang), warga keturunan Arab yang meninggal dunia sebelum dimakamkan terlebih dulu jenazahnya dishalatkan di Masjid Al-Makmur. Para pedagang dan pembeli di Pasar Tanah Abang juga menjadikan masjid tua ini sebagai tempat shalat mereka terutama shalat dzuhur dan ashar.

Masjid Jami’ Al Ma’mur Menteng Jakarta Pusat

Masjid Jami’ Al Ma’mur terletak di Jl. Raden Saleh Raya No. 30, RT.3/RW.3, Kelurahan Cikini, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Masjid yang dibangun pada tahun 1890 ini merupakan pindahan dari sebuah Surau yang dibangun oleh Raden Saleh Syarif Bustaman atau maestro pelukis Indonesia, sekitar tahun 1860 di samping rumah kediamannya.

Namun perjanjian jual beli tersebut diingkari oleh Koningen Emma Ziekenhuis. Akibatnya Surau yang dibangun oleh Raden Saleh dipindahkan ke samping kali Ci Liwung, sehingga tempat ibadah ini kerap kebanjiran. Tahun 1890 tercatat sebagai tahun ketika Masjid itu dipindahkan secara gotong-royong dengan diusung beramai-ramai oleh masyarakat sekitar. Tanah yang dipilih sebagai lokasi baru adalah tanah milik Sayid Ismail Salam bin Alwi Alatas yang lain di lokasi Masjid sekarang. Walaupun begitu ternyata Koningen Emma Ziekenhuis tetap ingin memindahkan Masjid ini karena di lahan tersebut direncanakan akan dibangun sebuah Gereja. Persoalan ini akhirnya membuat masyarakat sekitar marah. Bahkan sampai terdengar oleh H. Agus Salim, bersama tiga rekannya, KH Mas Mansyur, HOS Cokroaminoto, dan Abi Kusno yang tergabung dalam Serikat Islam. Kemudian oleh sebuah panitia yang didukung oleh Beliau, dipugarlah Masjid tersebut pada tahun 1926. Di bagian depan Masjid kemudian ditambahkan lambang Organisasi Sarekat Islam yang sampai sekarang menjadi ciri khas Masjid tersebut. Keseluruhan proses pemugaran akhirnya selesai pada tahun 1936 menjadi bentuk Masjid yang sekarang.

Masjid Jami Al Riyadh Senen Jakarta Pusat

Masjid Jami Al Riyadh terletak di Jl. Kembang VI No. 4A, RT 001 RW 02 Kwitang, Senen, Jakarta Pusat yang berada di kawasan pada penduduk. Masjid ini didirikan oleh Habib Ali Al Habsyi bin Habib Abdurrahman Al Habsyi sekitar tahun 1938.

Jakarta Timur (Jaktim)
Masjid Jami’ Assalafiyah Klender Jakarta Timur

Masjid Jami Assalafiyah terletak di Jl. Jatinegara Kaum Raya No 208, Klender, Jakarta Timur. Masjid ini dikenal dengan Masjid Pangeran Jayakarta, didirikan pada tahun 1620 M. Pada mulanya didirikan untuk menghimpun para jawara (preman, jagoan) dan ulama untuk meneruskan perjuangannya melawan Pemerintah Belanda dan untuk menyiarkan agama Islam di tanah Sunda Kelapa.

Masjid Jami’ Nurushshabah Jatinegara Jakarta Timur

Masjid Jami’ Nurushshabah terletak di Jl. Masjid No.23, RT.14/RW.9, Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur. Masjid yang didirikan tahun 1839, dahulunya disebut Masjid Pos Bidaracina yang pendirinya bernama Imam Muhamad. Ia memperoleh tanah dari kumpeni untuk membangun masjid ini.

Masjid Jami Al-Anwar Jatinegara Jakarta Timur

Masjid Jami Al-Anwar terletak di Jl. Jl. Masjid I No.6, RT.11/RW.7, Rawa Bunga, Jatinegara, Jakarta Timur 13350.

Masjid ini diperkirakan dibangun pada tahun 1859. Menurut pengelola masjid, Ustadz Rasyid, masjid tersebut dibangun atas gotong royong 12 desa di sekitar masjid.

Jakarta Selatan (Jaksel)
Masjid Al Atiq Tebet Jakarta Selatan

Masjid Al Atiq (*)

Masjid Al Atiq berlokasi di Jalan Masjid, Kampung Melayu Besar, Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan. Lokasi ini dekat dengan Sungai Ciliwung. Dari Terminal Kampung Melayu berjarak sekitar 4,5 km ke arah barat. Dari terminal kearah barat, sekitar 4,4 km sampai di jembatan Sungai Ciliwung, belok ki kiri, ke arah selatan. Melalui Jalan Masjid yang agak sempit, sejauh sekitar 100 meter sampailah di lokasi masjid yang dihimpit oleh permukiman penduduk.

Trisula petunjuk ke arah kiblat (*)

Sampai sekarang, tidak ada bukti-bukti sejarah yang merujuk pada waktu pembangunan pertama kali Masjid Al Atiq. Ketiadaan bukti-bukti sejarah membuat Heuken tidak memasukkannya dalam kategori masjid-masjid tua di Jakarta.

Tetapi berdasarkan keterangan yang terpasang pada Papan Keterangan di pagar depan halaman masjid, ditulis bahwa masjid didirikan pada tahun ± 1632 M/1053 H.

Bangunan Masjid Al Atiq hampir semuanya baru dan modern, kecuali atap yang masih mempertahankan bentuk tajuk tumpang tiga dengan trisula pada puncaknya. Trisula ini menghadap ke arah kiblat. Menurut informasi dari salah satu pengurus masjid, ada dua bagian masjid yang masih dipertahankan, yaitu trisula di puncak atap masjid dan konstruksi lengkungan di atas mihrab dan tulisan Arabnya.

Sumber: E-book Akulturasi Arsitektur Masjid-Masjid Tua di Jakarta oleh Ashadi, Arsitektur UMJ Press, Penerbit Arsitektur UMJ Press 2018.

Masjid Tangkuban Perahu Setiabudi Jakarta Selatan

Masjid Tangkuban Perahu berlokasi di Jalan Taman Tangkuban Perahu, Guntur, Setiabudi, Jakarta Selatan. Lokasi masjid relative mudah dicapai. Dari Pasarraya Manggarai ke arah barat melalui Jalan Sultan Agung sejauh 1,5 km, sampai diujung Jalan Salak, belok kiri (arah selatan) melalui Jalan Salak sejauh 200 meter sampailah di lokasi masjid.

Cikal bakal Masjid Tangkuban Perahu adalah Masjid Shihabudin, yang didirikan tahun 1870 di lokasi antara Jalan Mangunsarkoro dan Jalan Latuharhari, di tempat bekas tangsi kavaleri. Tanah masjid ini disumbangkan oleh pendirinya yaitu Sayid Achmad bin Muh bin Shahab, yang pernah menjadi tuan Gambar 6.42 Eksterior Masjid Nurushobah. Bentuk Bangunan Menara mendominasi. tanah yang memiliki tanah yang luas di Menteng. [Heuken, 2003: 100].

Bangunan Masjid Tangkuban Perahu yang sekarang ini adalah sama sekali baru. Bangunan masjid baru, hasil dari pemugaran total, selesai dan diresmikan pada tahun 2012 oleh Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo.

Sumber: E-book Akulturasi Arsitektur Masjid-Masjid Tua di Jakarta oleh Ashadi, Arsitektur UMJ Press, Penerbit Arsitektur UMJ Press 2018.

Masjid Al Mubarok Kuningan Jakarta Selatan

Masjid Al Mubarok berlokasi di Jalan Gatot Subroto kav. 14, Kecamatan Kuningan Barat, Jakarta Selatan, di dalam Kompleks Museum TNI Satria Mandala, Jakarta Selatan. Lokasinya berjarak kurang lebih 1,5 km dari Semanggi.

Masjid AlMubarok atau lebih dikenal Masjid Tua Al Mubarok pernah rubuh pada 1920-an dan dibangun kembali dengan sisa pondasi yang ada dan sesuai dengan 65 persen bentuk awalnya.

Masjid Al Mubarok dilindungi oleh Pemerintah Daerah sebagai Monumen Ordonansi no 238 tahun 1931, dan kemudian ditetapkan sebagai masjid tua melalui Lembaran Daerah no 60 tahun 1972.

[1] [2]

One thought on “Masjid – Masjid Kuno di DKI Jakarta [2]

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.