Masjid Jami’ Kebon Jeruk Taman Jakarta Barat

Masjid Jami’ Kebon Jeruk

Masjid Jami’ Kebon Jeruk berlokasi di Hayam Wuruk No. 85, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Tamansari, Kota Jakarta Barat. Lokasi masjid tidak jauh dari lokasi Masjid Jami’ Al Mubarak Krukut. Apabila dicapai dari Monas, Patung Kuda, maka menuju ke arah utara melalui Jalan Merdeka Barat, Jalan Majapahit, dan Jalan Gajah Mada sejauh sekitar 3 km, sampai di putaran balik (sebelum Toko Buku Gramedia), lalu memutar balik ke arah selatan, sejauh 150 meter sampailah di lokasi masjid.

Masjid Jami’ Kebon Jeruk didirikan pada tahun 1786 pada sebidang tanah milik Tuan Tschoa yang juga disebut Kapitan Tamien Dossol Seng. Ia mengepalai kaum Muslim Tionghoa antara tahun 1780 dan 1797. Kapitan kaum Tionghoa Muslim terakhir adalah Moh. Japar, yang memegang jabatan ini sampai tahun 1827.

Arsitektur

Masjid Jami’ Kebon Jeruk (https://cagarbudaya.kemdikbud.go.id)

Masjid Jami’ Kebon Jeruk berarsitektur Timur Tengah, Tionghoa, Kolonial Belanda, dan bentuk arsitektur tradisional Jawa, dan Betawi. Bentuk arsitektur Timur Tengah direpresentasikan oleh bentuk lengkungan pada teras, ruang utama lama, dan lubang angin di bawah bentuk atap kerucut segi delapan. Bentuk arsitektur Tionghoa direpresentasikan oleh bentuk hiasan di atas pintu kayu di ruang utama lama sisi selatan dan utara.

Bentuk arsitektur Kolonial Belanda direpresentasikan oleh bentuk dinding segi delapan di bagian atas ruang utama baru dengan konstruksi atapnya yang berbentuk kerucut segi delapan, dan pilar-pilar besar yang menyatu pada dinding di ruang utama lama. Bentuk arsitektur tradisional Jawa direpresentasikan oleh bentuk atap tajuk tumpang dua yang menaungi ruang utama lama beserta konstruksi plafon papannya, dan bentuk hiasan sulur-suluran yang keluar dari jambangan di atas pintu di ruang utama lama sisi timur. Bentuk arsitektur tradisional Betawi direpresentasikan oleh bentuk balustrade di atas ruang utama lama, di bawah atap tajuk tumpang kedua yang berupa jalusi kayu. Balustrade ini merupakan bagian bangunan lama.

Atap

Atap tajuk tumpang dua menumpu pada dinding yang melingkupi ruangan, di sisi selatan, utara dan timur.

Memolo atau Mustaka Masjid Jami’ Kebon Jeruk (https://nexlaip.wordpress.com)

Bangunan

Masjid Jami’ Kebon Jeruk dengan luas tanah 1.200 m2, luas bangunan 1.200 m2 serta tanah Wakaf.

Ruang Utama

Ruang utama lama

Interior Ruang Utama (Lama) Masjid Jami’ Kebon Jeruk.

Masjid Jami’ Kebon Jeruk memiliki ruang utama yang diduga merupakan bentuk awal masjid, yang memiliki ukuran 10m x 10m. Masjid ini telah mengalami renovasi beberapakali seperti tahun 1950 dimana dibuat perluasan pada keempat sisi masjid. Sekarang posisi ruang utama lama tersebut berada di bagian tengah bangunan masjid, sehingga tidak ada mihrab padanya.

Ruang utama ini dinaungi oleh atap berbentuk tajuk tumpang dua. Tetapi atap ini tidak ditopang oleh konstruksi saka guru sebagaimana pada bangunan-bangunan tradisional Jawa.

Plafon Ruang Utama (Lama) Masjid Jami’ Kebon Jeruk. Terlihat disekeling ruang di bawah atap terdapat balustrade berjalusi, yang mengingatkan pada unsur seni budaya Betawi

Atap tajuk tumpang dua menumpu pada dinding yang melingkupi ruangan, di sisi selatan, utara dan timur. Pada bagian atas dinding-dinding pelingkup ini terdapat balok keliling segi empat. Pada sisi barat ruang utama ini tidak terdapat dinding pelingkup sehingga pada sisi barat ruang utama menyatu dengan ruang utama yang rupanya ditambahkan kemudian. Pada dinding-dinding pelingkup sisi selatan, utara, dan timur terdapat pilar-pilar besar bentuk segi empat yang menyatu dengan dinding, yang dicat dengan warna sama dengan dindingnya, yakni warna abu-abu muda dengan list wa Di bagian atas ruang utama terdapat ruangan ke atas lagi berbentuk segi empat, yang langsung dinaungi oleh atap tajuk tumpang kedua. Dilihat dari luar, di puncak atap tajuk tumpang kedua ini terdapat memolo atau mustaka. Plafon di ruang utama bentuknya mengikuti bentuk tumpang, berbahan papan kayu yang dicat warna hijau.Pada sisi pinggir-pinggirnya terdapat semacam balustrade kayu berjalusi.rna putih.

Di sebelah selatan ruang utama lama terdapat serambi selatan dan teras selatan. Pada teras selatan, yang sebenarnya merupakan tempat masuk utama masjid, terdapat bentuk lengkungan-lengkungan setengah lingkaran di antara kolomkolom teras. Bentuk lengkungan setengah lingkaran baik di teras maupun di ruang utama lama merupakan sumbangan dari kebudayaan Timur Tengah.

Ruang utama baru

Lubang Angin di bagian atas Ruang Utama (Baru) Masjid Jami’ Kebon Jeruk, yang berbentuk Segi Delapan 

Di sebelah barat ruang utama lama terdapat ruang utama baru yang keduanya menyatu, tanpa dinding pemisah. Pada bagian atas ruang utama baru ini terdapat dinding pelingkup berbentuk segi delapan, yang dinaungi oleh atap berbentuk kerucut segi delapan. Tepat di bawah atap, pada dinding segi delapan bagian atas, terdapat lubang-lubang angin yang bagian atasnya berbentuk lengkung setengah lingkaran.

Mihrab dan Mimbar

Pada dinding sisi barat ruang utama baru terdapat mihrab dan mimbar yang menjorok keluar. Dinding sisi barat ini bagian interiornya dilapis marmer warna abu-abu. Pada bagian atas mihrab dan mimbar berbentuk mendatar. Dinding mihrab dan mimbar dilapis marmer warna abu-abu.

Pemugaran

Masjid ini telah mengalami renovasi beberapakali antara lain:

  • Tahun 1950 dimana dibuat perluasan pada keempat sisi masjid
  • Tahun 1974 dilakukan perbaikan pada bagian-bagian yang rusak.
  • Tahun 1983 s/d 1986 dan terahir tahun 1998.

Sumber: E-book Akulturasi Arsitektur Masjid-Masjid Tua di Jakarta oleh Ashadi, Arsitektur UMJ Press, Penerbit Arsitektur UMJ Press 2018.

One thought on “Masjid Jami’ Kebon Jeruk Taman Jakarta Barat

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.