Masjid Al Mukarromah Kampung Bandan Pademangan Jakarta Utara

Pintu gerbang Masjid Al Mukarromah (https://wisataziarahmasjid.wordpress.com)

Masjid Al Mukarromah Kampung Bandan, sesuai nama belakangnya, berlokasi di Jalan Kampung Bandan No.8, RT.8/RW.2, Kelurahan Bandan, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara. Lokasi masjid sangat mudah dicapai karena persis di pinggir Jalan Raya Kp Bandan. Dari arah Stasiun Jakarta Kota menuju ke arah utara sejauh 500 meter sampai di Jalan Kunir, belok kanan (ke arah timur) melalui Jalan Kunir dan Jalan Kp Bandan sejauh 500 meter berbelok ke selatan dan kemudian ke timur, tetap melalu Jalan Kp Bandan, kurang lebih 800 meter, sampailah di lokasi masjid.

Masjid Al Mukarromah adalah salah satu masjid tua di Jakarta yang dibangun pada abad ke-18. Dalam bahasa Arab, nama masjid ini memiliki arti mulia atau yang dimuliakan. Pada mulanya disebut Masjid Kampung Besar.

Masjid Jami’ Al Mukarromah Kampung Bandan pertama kali dibangun sebagai sebuah mushola atau langgar di dekat dua makam Ulama Besar Batavia (makam Al Habib Muhammad bin Umar Al Kudsi yang wafat tahun 1705 dan Al Habib Ali bin Abdurrahman Ba’alawi yang wafat tahun 1710) oleh Al Habib Abdurrahman bin Alwi Asy-Syathiri pada tahun 1789. Beliau wafat tahun 1908. Putra beliau yang bernama Sayid Alwi bin Abdurrahman bin Alwi Asy-Syathiri kemudian membangun mushola tersebut sebagai sebuah masjid. Sejarah pembangunan masjid ini terbilang cukup unik.

Luas tanah kompleks masjid ini sebetulnya hampir 1 hektar, namun sejak 1970-an sudah mulai banyak digarap warga pendatang untuk dijadikan tempat tinggal. Pada 1998, Pemprov DKI Jakarta akhirnya membangun tembok pembatas di sekeliling area masjid agar sisa lahan yang ada tidak semakin berkurang. Pemprov DKI Jakarta sendiri pada 1972, telah memasukkan Masjid Jami’ Al Mukarromah Kampung Bandan sebagai salah satu cagar budaya yang bangunannya harus dilindungi.

Masjid ini menjadi signifikasi historis terhadap kampung ini yang mengalami pemugaran dan perluasan di tahun 1972 oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta dan tetap dipertahankan sampai masa kini. Meski dilakukan pemugaran besar-besaran, namun desain bangunan masih mempertahankan bentuk bangunan pertama, agar menjaga keaslian dan nilai dari sejarah dari masjid itu sendiri.

Arsitektur

Bangunan Lama Masjid Al Mukarromah Kampung Bandan, beratap Limasan Tumpang Tiga

Secara keseluruhan, bentuk bangunan Masjid Jami’ Al Mukarromah terdiri atas bentuk arsitektur Timur Tengah, tradisional Jawa dan Betawi.

Bentuk arsitektur Timur Tengah direpresentasikan oleh bentuk lengkungan pada ruang utama bangunan lama, oleh bentuk atap kubah, bentuk pintu dan jendela pada dinding sisi utara dan selatan ruang utama bangunan baru, bentuk dan hiasan mihrab masjid, dan bentuk lengkungan setengah lingkaran di seram luar masjid bangunan baru.

Bentuk arsitektur tradisional Jawa direpresentasikan oleh atap bangunan lama yang berbentuk limasan tumpang tiga. Bentuk arsitektur tradisional Betawi direpresentasikan oleh bentuk jendela pada bangunan lama.

Bangunan

Masjid Al-Mukarromah terletak di atas tanah seluas 95 x 50 m, dibatasi pagar beton dengan jeruji besi dilengkapi dengan pintu gerbang yang terletak di sisi selatan.

Masjid Jami’ Al Mukarromah Kampung Bandan memiliki dua bentuk bangunan: bangunan baru di bagian depan (sebelah barat) dan bangunan lama di bagian belakang (sebelah timur).

Ruangan Utama

Ruang Utama Lama

Ruang Utama Bangunan Lama Masjid Al Mukarromah Kampung Bandan. Tampat sebelah kiri adalah area makam

Bangunan asli masjid adalah ruang diantara sembilan kolom batu yang antar kolomnya berbentuk lengkung setengah lingkaran bagian atasnya. Ukuran ruang utama lama 4m x 6m. Kesembilan kolom ini tingginya 1 meter, dan jarak antar dua kolom adalah 2 meter, kecuali dua kolom di sisi barat yang berjarak 4 meter.

Kesembilan kolom, pada bagian atasnya terdapat bentuk kapitel berupa segi empat tumpuk tiga. Kesembilan kolom menjadi tumpuan kaki-kaki lengkungan, di samping sebagai bagian struktur penopang atap. Pada bagian atas ruang utama lama ini terdapat plafon berbahan papan lambrisering dicat warna coklat.

Ruang Utama Baru

Lubang Lengkungan Setengah Lingkaran yang menyatukan Ruang Utama Bangunan Lama dan Bangunan Baru

Ruang utama baru berukuran 9m x 9m dinaungi dengan atap berbentuk kubah setengah bola. Dlihat dari luar, bentuknya kubah bawang dari bahan aluminium dicat warna hijau. Pada sisi dalam kubah terdapat tulisan Arab Asma’ul Husna. Di tengah-tengah atap kubah digantungkan lampu hias.

Ruang utama baru (https://jakarta.tribunnews.com)

Ruang utama baru dilingkupi oleh keempat dinding di sisi timur, utara, selatan, dan barat. Di sisi timur, pada dindingnya terdapat lubang lengkungan berbentuk setengah lingkaran, yang menghubungkan ruang utama baru dengan ruang utama lama.

Di sisi utara, pada dindingnya terdapat pintu dan jendela kaca rangka kayu yang pada bagian atasnya berbentuk lengkung setengah lingkaran. Pada dinding sisi selatan terdapat pintu dan jendela yang bentuk dan konstruksinya sama dengan yang ada pada dinding sisi utara.

Mihrab dan Mimbar

Mihrab dan Mimbar Masjid Al Mukarromah

Di sisi barat, pada dindingnya terdapat mihrab yang menjorok keluar. Pada bagian atas mihrab bentuknya berupa lengkung setengah lingkaran. Pada bentuk yang melengkung ini terdapat tulisan Arab. Di dalam mihrab sisi kanan ditempatkan mimbar kayu. Dinding mihrab dilapis keramik warna hitam.

Serambi

Di sebelah utara ruang utama baru terdapat serambi luar yang terbuka. Di sebelah utara serambi luar ini terdapat bangunan-bangunan pelengkap seperti aula, kantor sekretariat, kantor yayasan, dan ruang belajar madrasah.

Di sebelah selatan ruang utama baru adalah serambi selatan yang terbuka. Di serambi ini terdapat sebuah nisan makam yang termasuk tua, tapi tidak ada keterangan apapun pada nisan makamnya.

Pemugaran

Dana pemugaran berasal dari pemerintah setiap sepuluh tahun sekali, sedangkan untuk dana pemeliharaan rutin, pengurus masjid mendapatkannya dari infaq shalat Jumat dan para peziarah.

  • Pada tahun 1947, bangunan ini diperluas menjadi sebuah masjid yang bisa menampung banyak jamaah untuk beribadah dan para peziarah makam
  • Tahun 1956 dengan penambahan ruangan di bagian belakang dan samping kanan
  • Pemugaran pada tahun 1979-1980
  • Pemugaran pada tahun 1989-1990
  • Pemugaran pada tahun 2000-2001 dimana dilakukan peninggian pada bangunan masjid

Sumber: E-book Akulturasi Arsitektur Masjid-Masjid Tua di Jakarta oleh Ashadi, Arsitektur UMJ Press, Penerbit Arsitektur UMJ Press 2018.

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.