Geopark Ciletuh Kabupaten Sukabumi Jawa Barat

Puncak Darma Geopark Ciletuh Kabupaten Sukabumi (https://sportourism.id)

Geopark Ciletuh di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ditetapkan sebagai Geopark Dunia saat resmi mendapatkan predikat sebagai UNESCO Global Geopark (UGG). Hal itu ditetapkan pada sidang Executive Board Unesco ke 204, Komisi Programme and External Relations, Kamis (12/4/18) di Paris, Perancis, bersama dengan ditetapkan Geopark Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat.

Kawasan Ciletuh merupakan wilayah yang memiliki potensi keunikan geologi yang dapat dikembangkan sebagai tujuan wisata lengkap yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif. Kawasan ini memiliki potensi alam yang sangat berbeda dan variatif yang tidak banyak dimiliki oleh daerah lainnya di Indonesia.

Curug Cimarinjung di Geoarea Ciletuh

Keunggulan tersebut terletak pada keindahan alamnya yang luar biasa, perpaduan antara bentang alam pantai dan perbukitan, air terjun, dan keunikan batuan geologi serta keanekaragaman flora dan fauna yang sulit ditemukan di wilayah lainnya. Tidak berlebihan jika kawasan ini dijuluki sebagai pinggiran surga di Jawa Barat.

Nama Ciletuh berasal dari kata bahasa Sunda, “Ci”, “Leuteuk dan Kiruh” yang berarti air sungai yang berlumpur. Hulu Sungai Ciletuh terletak di desa Ciletuh Kecamatan Jampangkulon. Nama “Ciletuh” juga digunakan sebagai nama formasi geologi yang sangat dikenal bagi peneliti geologi kawasan Indonesia, khususnya Jawa Barat.  Formasi Ciletuh adalah satuan batuan yang terdiri atas batupasir kuarsa – konglomeratik dan mengandung sisipan tipis batubara, berumur Eosen (45 juta tahun lalu) dengan lokasi tipe berada di kawasan pesisir Geoarea Ciletuh.

Kawasan geologi Ciletuh unik dan sangat menarik untuk dipelajari, karena geologinya merupakan hasil dari tumbukan dua lempeng yang berbeda, yaitu Lempeng Eurasia (lempeng benua) yang berkomposisi granit (asam) dan Lempeng Indo-Australia (lempeng samudera) yang berkomposisi basal (basa), menghasilkan batuan sedimen laut dalam (pelagic sediment), batuan metamorfik (batuan ubahan), dan batuan beku basa hingga ultra basa.

Sejarah Kawasan Ciletuh

Geopark Ciletuh terletak di perbatasan zona aktif tektonik: zona subduksi antara lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia, yang terus menyatu pada 4 mm / tahun. Daerah ini ditandai oleh keanekaragaman geologi yang langka yang dapat diklasifikasikan menjadi tiga zona: zona subduksi terangkat batu, lanskap Dataran Tinggi Jampang dan pergeseran zona magmatik kuno dan evolusi busur muka.

Bukti untuk proses subduksi yang serupa yang terjadi selama zaman Kapur (145-66 juta tahun lalu) ditemukan di daerah Ciletuh dalam bentuk formasi batuan yang diendapkan di dalam parit subduksi yang dalam. Formasi batuan ini terdiri dari kompleks ophiolite, metamorf, sedimen dalam, dan kompleks mélange dan dikenal sebagai formasi batuan tertua di permukaan Jawa Barat. Di Oligosen-Miosen Awal (sekitar 23 hingga 15 juta tahun yang lalu), daerah tersebut mengalami peningkatan dan membentuk Dataran Tinggi Jampang.

Proses tektonik selama Miocene-Pliocene (5-8 juta tahun yang lalu) menyebabkan keruntuhan gravitasi bagian dari Formasi Jampang, membentuk morfologi amfiteater alam berbentuk sepatu kuda terbesar di Indonesia dan serangkaian air terjun. Daerah ini juga dapat digambarkan sebagai ‘tanah pertama Pulau Jawa bagian barat‘. Proses pelapukan dan aberasi memengaruhi beberapa formasi batuan dan menghasilkan formasi unik batuan berbentuk hewan. Sejak Pleistocene (2,5 juta tahun lalu hingga saat ini), aktivitas gunung berapi telah bergeser ke utara, menghasilkan sumber mata air panas, air mancur panas, dan panas bumi di wilayah utara.

Situs Geologi

Geopark Ciletuh memiliki luas 126.100 Ha yang meliputi 74 desa di delapan kecamatan yang masuk kawasan geopark Ciletuh yakni Ciracap, Surade, Ciemas, Waluran, Simpenan, Palabuhanratu, Cikakak, dan Cisolok.

1. Geoarea Cisolok

Daerah ini merefleksikan kondisi pergesaran jalur magmatik (aktivasi vulkanik) dari Selatan ke  Utara di Pulau Jawa. Hal ini dicirikan oleh kehadiran batuan vulkanik tua di selatan, hingga aktivitas gunung api muda di bagian utara berupa geyser dan endapan travertin serta gunung api aktif (Gunung Salak).

2. Geoarea Jampang

Geoarea Jampang memiliki bentang alam yang disebut ‘Plato Jampang’ dengan panorama yang sangat indah. Plato ini termasuk dalam zona fisiografi pegunungan selatan yang membentang dari Jampang di barat ke Pangandaran di Timur Jawa Barat. Kawasan ini tersusun oleh batuan vulkanik yang diendapkan dalam pada lingkungan laut pada masa Oligosen-Miosen yang dikenal sebagai Formasi Andesit tua. kemudian mengalami pengangkatan akibat proses tektonik sehingga membentuk dataran tinggi atau ‘Plato Jampang’.

Geoarea Jampang meliputi Kecamatan Simpenan, sebagian kecamatan Ciemas dan sebagian Kecamatan Waluran.

3. Geoarea Ciletuh

Amphiteater di Geoarea Ciletuh

Geoarea Ciletuh memiliki bentang alam berupa dataran tinggi yang berbentuk tapal kuda (amphiteater) yang terbuka ke arah Teluk Ciletuh (Martodjojo, 1984). Bentuk amfiteater ini memiliki diameter lebih dari 15 km, sehingga di yakini sebagai bentuk amfiteater alam terbesar di Indonesia. Di bagian tengah amfiteater terdapat sebaran batuan tertua di Jawa barat yang berupa batuan bancuh dan ofiolit hasil pengendapan dari aktivitas tumbukan antara kerak samudera dan kerak benua pada Zaman Kapur, lebih dari 65 juta tahun lalu.

Batuan melange dan ofiolit terdiri atas peridotit, gabro dan lava basal; batuan metamorfik berupa sekis hijau, serpentinit dan amfibolit; serta batuan sedimen berupa batupasir kuarsa-konglomeratik (Formasi Ciletuh). Batuan tersebut merupakan batuan tertua yang tersingkap kepermukaan di Jawa Barat yang terbentuk (terendapkan) di palung laut dalam.

Curug Puncak Manik

Geoarea Ciletuh inilah  bukti awal munculnya Pulau Jawa, karena di sinilah terjadinya tumpukan lempeng samudera dan benua pada 65 juta tahun yang lalu. Tumpukan itu terus berproses dampai muncul ke permukaan dan menjadi Pulau Jawa. Bukti-bukti itu awal pembentukan Pulau Jawa itu ada di Teluk Ciletuh di pinggir-pinggir pantainya, berupa batu-batuan, itu batu-batunya dari dasar samudera.

Di sejumlah tebing-tebing terdapat beberapa air terjun atau curug dengan ketinggian bervariatif yang merupakansalah satu daya tarik Ciletuh yang menjorok ke arah laut, beberapa air terjun dapat terlihat dari tepi pantai Ciletuh seperti Curug Cimarinjung, Curug Sodong, Curug Cikanteh, Curug Cikaret, Curug Puncak Jeruk, Curug Luhur, Curug 3 in 1, Curug Puncak Manik, Curug Tengah, Curug Awang, Curug Luhur-Cagangsa, jarak antara air terjun yang berjauhan sehingga memerlukan waktu dua sampai tiga hari untuk mengunjungi semua air terjun tersebut.

Keragaman Hayati (Biodiversity)

Selain keragaman geologi yang terdapat pada daerah ini, keragaman hayati (biodiversity) juga mendukungnya adalah tingkat variasi kehidupan, sebagai contoh: variasi genetik, variasi spesies, atau variasi eksosistem dalam satu daerah, bioma, atau planet. Flora dan fauna khas yang ada di daerah ini adalah:

Flora

Terdapat warisan biologi yang terletak di kawasan hutan lindung, berupa a) Setigi (Paemis acydula) yang merupakan tumbuhan khas yang hidup di gunung, kini dapat ditemui di pesisir pantai Ciletuh, b) Kepuh (Sterculia foetida), c) Butun (Barringtonia alatica), d) Nyamplung (Callophyillum inophyllum), e) Haur gereng (Bambusa spinosa), f) Rafflesia Palma yang dapat ditemukan di Curug Puncakmanik, dan lain sebagainya.

Tanaman hortikultura sudah cukup dikenal di kawasan Kecamatan Ciemas dan Ciracap berupa aneka buah-buahan dan sayuran, seperti mangga, semangka, durian, buah naga, pisang, pepaya,bawang merah, dan lainnya Sedangkan tanaman perkebunan berupa teh, kelapa, sawit, cengkeh, karet, kayu jati, jabon, dan sengon, bawang merah, dan lainnya

Sedangkan tanaman perkebunan berupa teh, kelapa, sawit, cengkeh, karet, kayu jati, jabon, dan sengon. Area perkebunan yang sudah ada seperti perkebunan teh Bojongasih, perkebunan kelapa, kelapa sawit, cengkeh, dan karet yang terdapat di beberapa desa di Kecamatan Ciemas dan Ciracap.

Tanaman biofarmaka berupa tanaman untuk bahan baku obat-obatan seperti serehwangi, kunyit, jahe, cengkeh dan lainnya. Budidaya untuk fauna juga dikembangkan dengan baik di dalam geopark, baik yang dikelola secara perorangan oleh masyarakat, kelompok peternak atau petani, maupun secara profesional oleh pihak swasta. Budidaya ternak sapi dan kambing, ikan dan ayam juga banyak di lakukan oleh masyarakat di sekitar kawasan geopark. Budidaya udang dalam bentuk tambak yang terdapat di Desa Mandrajaya, Ujunggenteng dan Pangumbahan telah dikelola secara profesional oleh pihak swasta dengan mempekerjakan masyarakat lokal. Saat ini juga sedang dikembangkan budidaya sidat oleh komunitas masyarakat di Desa Mandrajaya.

Fauna

Suaka Margasatwa Cikepuh dan Cagar Alam Cibanteng berfunsi sebagai area perlindungan untuk satwa liar yang dilindungi yaitu penyu (Chelonia mydas dan CheloniaImbricata), Banteng (Bosjavanicus), menjangan (Muntiacus muntjak),dan. Selain itu juga di jumpai hewan lainnya seperti Macan tutul, Raptor (elang laut, elang ularbido, dan elang brontok), Surili, Julang emas dan Rangkong badak, Owa Jawa, Lutung Jawa, Kera ekor panjang; Babi hutan, Musang, Tupai, Biawak, Ular, Ayam hutan, dan aneka jenis burung.

Secara keseluruhan, Prof. Erri dan tim melalui skema penelitian Academic Leadership Grant (ALG) Unpad menginventarisasi 81 spesies burung, 24 spesies mamalia, 11 spesies amfibi, dan 19 spesies reptil. Dari jumlah tersebut, 44 spesies diantaranya terkategori satwa REEPS (Rare, Endangered, Endemic, & Protected Species), diantaranya macan, elang jawa, owa jawa, kukang, surili, hingga trenggiling.

Warisan Budaya

Keragaman budaya sebagai salah satu pilar geopark sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar geopark, karena budaya yang selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan dan memperkuat kehidupan masyarakat yang sehat dan menjadi indikator kesejahteraan masyarakat. Sehingga kenekaragaman budaya harus dipertahankan dan kembangkan.

1. Geoarea Cisolok

Geoarea Cisolok terdiri dari tiga kecamatan yaitu Cisolok, Cikakak dan Pelabuan Ratu, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.

Kecamatan Cisolok

Merupakan kecamatan paling ujung dari kawasan geoarea Cisolok. Kecamatan yang terdiri dari 13 desa ini merupakan daerah perbatasan dengan Provinsi Banten. Di kecamatan Cisolok, terdapat beberapa lokasi wisata yang masuk di wilayah geoarea Cisolok, diantaranya, yaitu : Pantai Karang Hawu, Pantai Cibangban, air panas Cisolok, kasepuhan Adat Sinar Resmi, kasepuhan Adat Ciptamulya, dan Kasepuhan Adat Ciptagelar.

Kecamatan Cikakak

Kecamatan Cikakak berada di antara Kecamatan Palabuhanratu dan Kecamatan Cisolok. Kecamatan Cikakak terdiri dari 8 desa yang merupakan desa pantai dan perbukitan. Di kecamatan Cikakak terdapat pantai Cimaja yang dikenal baik oleh para peselancar air hingga ke mancanegara. Sehingga, di wilayah ini terdapat tempat kursus surfing atau selancar air yang dimiliki oleh Kang Dede, salah seorang peselancar asli Cimaja yang termasuk dalam deretan peselancar di Dunia. Selain pantai Cimaja, terdapat beberapa tujuan wisata yang menjadi bagian dari geoarea Cisolok, diantaranya adalah situs megalitik cengkuk, punden berundak pangguyangan, situs ciarca dan situs salak datar.

Kecamatan Palabuhanratu

Merupakan kecamatan yang menjadi ibukota Kabupaten Sukabumi. Kecamatan Palabuhanratu terdiri dari 7 desa dan 1 kelurahan. Kawasan ini sudah sejak lama dikenal dengan wisata pantai, Selain wisata pantai, di Kecamatan Palabuhanratu juga terdapat wisata arung jeram atau rafting yang terkenal, terletak di desa Citarik. Di kecamatan Palabuhanratu, masih terdapat beberapa tujuan wisata yang masuk dalam kawasan geopark, diantaranya adalah Pantai Citepus, batu bersusun, gua lalay.

2. Geoarea Jampang

Geoarea Jampang meliputi Kecamatan Simpenan, sebagian kecamatan Ciemas dan sebagian Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.

3. Geoarea Ciletuh

Geoarea Jampang meliputi Kecamatan Simpenan, sebagian kecamatan Ciemas dan sebagian Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.

Aksesbilitas

Sumber dari Humas Pemda Jawa Barat di akun Facebook resminya, pihak pemerintah telah menyiapkan jalur baru sepanjang 33 kilometer yang terbentang mulai dari Sukabumi-Bagbagan-Simpang Loji-Cileteuh-Muara Cisaar-Puncak Darma dan berakhir di Palangpang yang merupakan pusat Geopark Ciletuh.

Sementara itu, jalur lama berjarak 71 kilometer, mulai dari Sukabumi-Bagbagan-Simpang Loji-Kiara Dua-Simpang Waluran- Malereng-Taman Jaya-Palangpang, yang merupakan pusat Geopark Ciletuh. Dengan demikian, rute baru ini bisa memangkas jarak hingga lebih dari separuhnya.

Informasi lebih lanjut hubungi

Badan Pengelola Geopark Ciletuh-Palabuhanratu
Jalan RE Martadinata 209, Bandung 40114, Jawa Barat
Telp +62 22 7273209, +62 22 7103605,
Fax +62 22 7271385

Jalan Jend. Sudirman, Komplek Perkantoran Pemda Jajaway, Palabuhanratu 43364, Jawa Barat
Kontak : Mega Fatimah Rosana (+628112213566), Dana Budiman (+62816630713)

One thought on “Geopark Ciletuh Kabupaten Sukabumi Jawa Barat

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.