Batik Pandeglang Banten

Batik Pandeglang Motif Gula Kawung Sakojor

Kabupaten Pandeglang merupakan salah satu wilayah yang berada di Provinsi Banten. Pandeglang sendiri dikenal sebagai wilayah yang memiliki berbagai macam seni rupa dan budaya tradisional yang unik dan menarik.

Kabupaten Pandeglang memiliki kurang lebih 70 motif, baru 14 motif yang sudah di patenkan. Pada akhir tahun 2017 lalu, Dinas Perindustrian Perdagangan dan Energi Sumber Daya Mineral (Disperindag dan ESDM) Kabupaten Pandeglang dan Dinas Pariwisata Kabupaten Pandeglan bekerjasama mengadakan acara “Launching 14 Motif Batik Pandeglang”. Ke-14 motif tersebutpun sudah resmi terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia sebagai kekayaan intelektual Kabupaten Pandeglang.

Setiap motifnya memiliki nama serta arti filosofi tersendiri dan motif-motif dari batik pandeglang tersebut menggangkat ke khasaan daerah Pandeglang dan mencerminkan kehidupan serta seni budaya masyarakatnya seperti badak bercula satu, debus, rampak bedug, makanan tradisional jojorong, rumah adat, lesung padi, dan masih banyak lagi. Berikut ini ke-14 motif Batik Pandeglang tersebut :

Motif Berkah

Motif batik ini menggambarkan potensi kekayaan alam kabupaten Pandeglang yang merupakan berkah dari sang Maha Pencipta Allah SWT, dengan kerangka kehidupan masyarakan kabupaten Pandeglang yang berkarakter kuat dalam segala bidang dilambangkan dengan simbol gunung dan cula Badak.

Kaligrafi bintang 9 sudut cerminan dari 1) Rosul, 2) 4 Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali), 3) 4 Imam Madzhab (Syafi’ie, Hanafi, Maliki dan Hambali) dan 4) Tokoh Wali Songo yang memiliki andil besar dalam penyebaran dan pengembangan agama Islam khususnya di Pandeglang yaitu (Syarif Hidayatullah) sehingga sampai saat ini Pandeglang dikenal dengan kota santri yang mimiliki hampir 99,9% dari penduduk Pandeglang semuanya beragama Islam.

Motif Lumampah

Motif batik ini mengandung pesan moral kerja keras, kerja cerdas (tersimbol dengan golok) yang bagian dari karakter masyarakan Pandeglang dalam memanfaatkan sumber daya alam kehidupan yang lebih baik (tersimbol dengan saung sunda dan pohon pandan).

Diharapkan dengan desain motif ini orang yang mengenakannya memiliki sikap displin yang kuat dan profesionalisme dalam bidangnya.

Motif Tawadhu

Motif batik ini mengandung makna seperti ilmu padi makin berisi semakin merunduk, dimana keberhasilan atau kekayaan yang diperoleh dalam kehidupan ini hanya semata milik sang pencipta (tampak dalam simbol leuit dan padi).

Diharapkan orang yang mengenakan batik motif ini memiliki sifat tawadhu dan tidak sombong.

Motif Jojorong Sapasung

Motif batik ini mengandung arti dimana kehidupan yang penuh dengan kreatifitas akan menemukan manisnya hidup, makna ini tersimbol dalam makanan tradisional Jojorong yang menyimpan lelehan gula kawung didalamnya. Motif batik ini juga sebagai simbol pelestarian makanan tradisional yang hampir terlupakan oleh generasi millenia saat ini.

Diharapkan orang yang mengenakan batik motif ini memiliki daya kreatifitas dan inovasi yang tinggi yang membawa keharuman bagi diri dan lingkungannya.

Motif Kaceprek Sapalengpeng

Motif batik ini mengandung makna buah kehidupan yang penuh manfaat buat ummat akan menghasilkan kenikmatan dunia akhirat tersimbolkan dalam kaceprek dan emping yang memiliki rasa dan selera yang nikmat menambah nafsu makan.

Diharapkan orang yang mengenakan batik motif ini memiliki kemanfaatan hidup bagi diri dan lingkungannya.

Motif Kadu Sakangkot

Motif batik ini mengandung filosofi Yakni Raja dari sebuah kenikmatan rasa adalah nikmat sehat dan harumnya aroma hidup, hal ini terlambangkan dalam nuansa batik Kadu Sakangkot, dimana durian/Kadu (sunda) sebagai The king of fruit disamping memiliki aroma yang harum semerbak yang mengandung decak selera bagi siapapun yang mencium baunya, juga banyak mengandung nilai gizi dan vitamin yang bermanfaat buat tubuh manusia.

Diharapkan orang yang mengenakan batik motif “Kadu Sakangkot” menjadi seorang pemimpin yang memberikan rasa kenyamanan bagi pengikutnya dan menebarkan keharuman yang penuh manfaat buat semua ummat.

Motif Gula Kawung Sakojor

Motif batik ini melambangkan bentuk sauyunan dalam kebersamaan hidup dilambakan dalam istilah sakojor atau satu ikatan batin yang memiliki harapan hidup yang manis tercermin dalam simbol gula kawung, hal ini diambil dari sebuah filosofi tembang “Dhandang gula” dimana tembang tersebut menggambarkan seseorang yang mendambakan sebuah harapan hidup yang manis, dan memiliki watak luwes serta fleksibel.

Motif Taleus Sabeuti Pandan Sadapur

Motif batik ini mengandung makna dimana talas dan pandan dikenal sebagai tumbuhan yang selalu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Bisa tumbuh dimana saja. Di tanah gersang, tanah liat apalagi di tanah yang subur, talas dan pandan selalu bisa menghasilkan sesuatu, walaupun ia tidak menghasilkan isi tetapi daunnya tetap bisa dimanfaatkan manusia.

Diharapkan orang yang mengenakan batik dengan motif “Taleus Sabeuti Pandan Sadapur” memiliki sifat yang dapat menyesuaikan diri dimanapun berada dan selalu memberikan manfaat untuk diri sendiri dan orang lain.

Motif Peuteuy Sapapan Jengkol Sapalekpek

Motif batik ini mengandung makna dimana jengkol dan petai merupakan makan yang memiliki aroma yang kurang sedap (bau) tetapi banyak yang suka. Dan ternyata jengkol serta petai merupakan makan yang banyak mengandung khasiat buat kesehatan tumbuh manusia.

Hal itu memberikan gambaran bahwa sikap perilaku yang kurang baik pada setiap diri manusia harus segera ditutupi dengan perilaku yang baik dan bermanfaat buat orang lain.

Motif Leuit Salisung Pare Sapocong

Lisung, halu dan padi mengandung lambang kesuburan hidup. Leuit merupakan wujud konkret dari ketahanan pangan masyarakat, kepemilikan leuit dari ukuran, jumlah, maupun isinya kerap dijadikan ukuran status kemapanan ekonomi orang Sunda zaman dulu. Leuit juga lambang investasi. Mungkin ini yang mendasari filosofi : “Buncir leuit, loba duit” (Leuit penuh, banyak duit/uang), ungkapan yang menunjukkan tingkat kekayaan yang tidak terukur, tidak kekurangan.

Dengan simbolisasi motif batik ini diharapkan orang yang mengenakan batik ini memiliki sifat pandai menabung.

Motif Badak Sacula

Simbol Badak dalam motif ini melambangkan kekuatan dalam mengarungi rimba dan ketundukkan dalam kemanfaatan. Dimana Badak dengan tubuhnya yang besar dan kuat, mampu menjelajah rimba sekitar 10 kilometer setiap harinya. Badak berjalan mengitari medan rimba yang keras dan tajam. Perjalanan jauhnya itu tanpa pamrih dan kesombongan.

Badak berjalan dengan cara menunduk tenang, terkesan merendah (tidak congkak). Namun, di balik perjalanannya, ia membawa manfaat besar bagi kelestarian alam.

Motif Kacapi Saruntuy

Motif batik ini mengandung pesan moran kepada manusia bahwa asamnya perjalanan hidup ini tidak harus menjadikan putus harapan tetapi mesti memberikan mafaat buat orang lain. Tercermin dalam simbol buah kecapi dimana buah kecapi walaupun rasanya asam dan sedikit manis tetapi buah kecapi terbukti mengandung banyak khasiat buat kesehatan tubuh manusia.

Diharapkan orang yang mengenakan batik motif ini memiliki sifat tidak putus harapan dalam mejalani kehidupan ini.

Motif Cangkaleng Sasiki

Motif batik ini mengandung makna ajakan kepada manusia untuk memaknai hidup lebih baik lagi dan memberikan manfaat bagi yang membutuhkan seperti kolang kaling/cangkaleng (sunda) yang dihasilkan dari buah betina pohon aren dinama pohon aren itu sediri memiliki banyak manfaat dari setiap bagian-bagian yang ada pada pohon aren. Tatap sabar ketika bagian-bagian dari pohon aren diambil karena dibutuhkan oleh manusia.

Diharapkan orang yang mengenakan batik motif “Cangkaleng Sasiki” memiliki filosofi hidup selalu menjadi lebih baik dan bermanfaat buat orang lain.

Sumber: pelitabanten

One thought on “Batik Pandeglang Banten

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.