Prosesi Pernikahan Adat Dayak Kenayatn Kalimantan Barat

Kedua pasangan pengantin diapit oleh kedua belah pihak keluarga dalam ritual upacara adat perkawinan Dayak Kanayatn (https://pontianak.tribunnews.com)

Suku Dayak Kendayan atau Kenayatn tinggal berkelompok di pedalaman Kalimantan Barat. Hingga kini, suku ini masih berusaha melestarikan tradisi leluhur, salah satunya adalah adat perkawinan. Perkawinan bagi orang Kendayan merupakan masalah yang melibatkan kerabat dan keluarga. Artinya, menyangkut urusan seluruh waris kedua belah pihak. Jika tidak ditemui kata sepakat, maka perkawinan belum dapat dilaksanakan (JJ Kusni, 2001).

Busana Adat Pengantin Dayak Kanayatn (http://mahligai-indonesia.com)

Secara umum, prosesi adat perkawinan orang Dayak Kendayan dimulai dengan pinangan dan diakhiri dengan membongkar tengkalang (seserahan). Lebih dari itu, terdapat beragam ritual yang harus dijalankan. Adat perkawinan suku Kendayan melarang perkawinan 2 orang yang masih terikat keluarga. Namun, beberapa orang terkadang rela melanggar aturan dengan membayar denda sebagai tebusan atas pelanggaran mereka (JU Lontaan, 1975).

Secara umum, proses pelaksanaan upacara adat perkawinan Dayak Kendayan meliputi 3 tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan penutup.

Persiapan

Pada tahap ini, semua orang yang akan berpartisipasi dalam upacara ini bersama-sama menyiapkan segala hal yang berhubungan dengan proses perkawinan yang akan dilakukan. Mulai dari perlengkapan hingga kebutuhan adat.

Pelaksanaan

Pelaksanaan upacara adat perkawinan Dayak Kendayan digelar dalam beberapa tahap, antara lain tunang, balawang karamigi, bisik gumi, pasamean, dan prabut pelaminan. Berikut adalah pelaksanaan selengkapnya.

Tunang

Pada tahap ini, orangtua mempelai laki-laki meminta kepada orangtua perempuan untuk meminang anaknya. Pada umumnya, lamaran ini akan diterima. Saat ini, sistem tunangan ini masih dilakukan meskipun sebenarnya antara kedua calon sudah saling mengenal dan bersepakat untuk menikah. Dalam konteks ini, tunang dilakukan untuk menghormati adat.

Bisik Gumii

Tahap ini adalah tahap di mana orangtua laki-laki memanggil segala warisnya yang terdiri dari 2 saudara pihak bapak dan ibu (4 waris), untuk berunding. Hal yang dirundingkan adalah menyelidiki apakah calon menantu perempuan yang dipilih masih terikat keluarga atau tidak, dan untuk mengetahui apakah calon menantu perempuan itu cocok dijadikan istri. Setelah calon mempelai perempuan yang dimaksud telah disetujui, maka 4 waris kemudian memilih seorang.

Hal yang sama juga dilakukan oleh keluarga mempelai perempuan. Pihak perempuan harus mengadakan penelusuran tentang 3 hal, yaitu apakah ia masih terikat keluarga sehingga harus mengeluarkan adat pangaras, jika ada ikatan keluarga tapi jauh ia harus membayar adat pari basah, dan jika terdapat ikatan keluarga dekat ia harus membayar adat pangarumpang.

Balawang Karamigi

Kurang lebih 3 hari setelah perundingan, patone datang ke rumah mempelai perempuan untuk bertemu dengan bapak sang gadis. Patone akan bertanya dengan kata-kata ungkapan yang akan dijawab oleh tuan rumah. Jawaban dari tuan rumah inilah yang menentukan apakah lamaran itu diterima atau tidak.

Pasamean

Setelah itu, tuan rumah akan menggelar adat bakomo mantah, yaitu membuat tambul, tumpik, nasi pulut, dan menyembelih seeokor ayam. Semua bahan itu akan dimasak, lalu dimakan bersama. Setelah persetujuan ini, pihak perempuan biasanya akan mengirimkan sebentuk cincin kepada calon mempelai laki-laki. Pada saat itu, mereka akan menentukan hari perkawinan. Saat mengirimkan cincin, biasanya akan diucapkan matamuan asap bontong (kedua pihak telah mempersatukan asap dapurnya). Pihak mempelai laki-laki biasanya akan mengirimkan benda-benda kuno sebagai pertanda ikatan.

Prabut Pelaminan

Setelah kedua belah pihak setuju, patone akan mendatangi keluarga kedua mempelai untuk menanyakan kelengkapan segala persyaratan. Jika sudah lengkap, patone akan bertanya perkawinan akan digelar dengan cara apa, begawe jambu Jawa (kedua belah pihak orang kaya dengan pesta besar), begawe mokongi (keduanya keluarga sederhana), atau begawe ngalalak copak (kedua keluarga amat sederhana). Jika sudah memilih salah satu, perkawinan akan segera digelar.

Mengantar Pengantin Laki-laki

Rombongan pengantin laki-laki dipimpin oleh patone pergi ke rumah mempelai perempuan dengan diiringi oleh para pemuda yang dipilih. Mereka membawa makanan dan atong (kotak) yang berisi uang logam, ayam yang telah direbus, dan pakaian laki-laki sehari-hari. Barang yang ada di dalam atong menjadi alamat atau pertanda bagi calon mempelai perempuan. Jika berisi kain belacu, berarti calon suami meminta calon istri untuk membantunya menjadi tani. Namun, jika berisi kain-kain mewah seperti batik, maka itu pertanda kalau sang istri tidak perlu susah-susah membantu mengerjakan sawah.

Menyambut Rombongan Pengantin Laki-laki

Rombongan pengantin perempuan akan menyambut dengan menebarkan beras kuning. Setelah itu, seseorang dari pihak perempuan menyerahkan beras banyu sepinggan ke patone. Lalu patone menerimanya dan mencelupkan tangannya ke dalam beras tersebut serta mengusapkan tangannya ke dahi pengantin laki-laki sebagai tanda ia telah membersihkan segala kekotoran selama perjalanan. Setelah itu, seorang gadis datang membawa setekoh air putih dan menuangkannya ke kaki pengantin laki-laki. Kedua pengantin lalu masuk ke rumah dan duduk di serambi diikuti rombongan. Saat mereka duduk, datanglah seorang gadis membawa sepiring beras pulut, beras biasa, seperangkat sirih, beras banyu, dan seekor ayam yang lalu dikipas-kipaskan sebagai simbol membuang sial selama perjalanan pengantin laki-laki.

Pengantin Tama atau Nyangahan Nabare Rasi

Sesudah acara makan malam, pengantin perempuan duduk di balik kelambu di dalam kamar.  Kemudian patone mendekati kamar diikuti pengantin laki-laki. Di depan kamar, patone berdiri sambil memikul tikar dan membungkus sebilah tombak, sedangkan pengantin laki-laki memikul atong. Patone lalu mengetuk pintu sambil mengucap mantonk katingek. Mendengar suara ketukan, pengantin perempuan membuka pintu lalu patone dan pengantin laki-laki masuk. Setelah itu, kedua pengantin duduk bersandingan dan patone memberikan nasi pulut kepada kedua pengantin dengan posisi tangan bersilang. Seusai acara ini, kedua pengantin dipersilahkan tidur

Mandi di Sungai

Keesokan paginya, kedua pengantin pergi ke sungai untuk mandi sambil membawa bara api dari dapur. Sesampai di sungai, mereka akan duduk di tepi sungai lalu berdoa sambil memegang bara api yang kemudian dicelupkan ke sungai. Tindakan ini merupakan simbol agar Jubata (Tuhan) memadamkan bencana yang akan mengancam mereka seperti padamnya bara api tersebut.

Penutup

Acara ditutup dengan ngama tingkalang yakni membongkar tingkalang oleh ahli waris. Setelah itu, semua rombongan akan pulang dan pengantin perempuan pulang ke rumah pengantin laki-laki. Setelah semua pulang, upacara adat ini dianggap selesai.

Dalam upacara perkawinan adat ini terdapat doa-doa yang dilantunkan, antara lain :

  • Doa permohonan kepada Jubata agar kedua mempelai diberikan keturunan yang baik dan dilimpahi rejeki.
  • Doa permohonan agar kedua mempelai beserta keluarganya dijauhkan dari bencana.

Sumber: infoitah

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.