Wisata Sejarah di Jakarta Timur

1

Wilayah Jatinegara dulunya memang bernama Mester Cornelis. Sampai sekarang Pasar Jatingara pun disebut Pasar Mester. Pada pintu masuk pasar dari Jalan Jatinegara Timur terpampang tulisan “Pasar Mester’. Para kondektur bus pun masih berteriak ‘mester… mester…’ ketika melintas di daerah Jatinegara. Mereka hendak memberi tahu penumpang bahwa bus sudah sampai di wilayah Mester Cornelis.

Baca juga: Masjid Jami’ Assalafiyah (Masjid Pangeran Jayakarta)

Wilayah Mester Cornelis berubah nama jadi Jatinegara pada zaman Jepang. Ada yang berpendapat perubahan tersebut karena di daerah itu ditemukan banyak pohon jati. Namun ada pula yang berpendapat, nama Jatinegara mengacu kepada ‘negara sejati’ yang sudah dipopulerkan Pangeran Jayakarta jauh sebelumnya. Pangeran Jayakarta mendirikan perkampungan Jatingera Kaum di wilayah Pulogadung, Jakarta Timur setelah Belanda menghancurkan keratonnya di Sunda Kelapa.

Bekas Rumah Meester Cornelis Senen

Bekas Rumah Meester Cornelis Senen (https://sportourism.id)

Gedung ini terletak di Jalan Bekasi Timur No. 73, Kelurahan Rawa Bunga, Kecamatan Jatinegara, Kota Jakarta Timur. Lokasi gedung ini berada di samping Pasar Akik atau berseberangan dengan Stasiun Jatinegara. Menurut catatan sejarah yang ada, gedung ini berdiri di atas lahan milik Meester Cornelis Senen yang pertama kali mengembangkan daerah tersebut.

Sejarah

Peresmian Taman Museum Benyamin Sueb (http://poskotanews.com)

Ketika seorang guru agama Kristen yang berasal dari Pulau Lontar, Banda, Maluku, Meester Cornelis Senen, merintis dan mengusahakan tanah di daerah tersebut atas izin Pemerintah Hindia Belanda.

Tambahan kata Meester untuk Cornelis Senen merupakan penghargaan masyarakat setempat akan pengabdiannya sebagai pengajar Injil, sehingga nama Cornelis Senen jadi sering dipanggil dengan Meester Cornelis. Di situ, Meester Cornelis juga diangkat sebagai penguasa setempat di daerah tersebut oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Awalnya, bangunannya belum semegah ini. Hanya semacam kediaman Cornelis Senen yang memiliki halaman begitu luas. Sepeninggal Cornelis Senen pada tahun 1661, riwayat penggunaan bangunan bekas kediaman Cornelis Senen tidak begitu jelas. Diperkirakan tetap menjadi kediaman penguasa setempat juga. Namun, sejak Herman Willem Daendels diangkat menjadi Gubernur Jenderal di Hindia Belanda dari 1808 hingga 1811, kediaman bekas milik Cornelis Senen ini dibangun atas perintahnya, menjadi sebuah gedung yang megah seperti sekarang ini.

Taman Museum Benyamin Sueb (https://www.genpi.co)

Daendels mengubah rumah landhuizen milik Cornelis Senen ini dengan suatu gaya Empire Style yang berbau Prancis. Gaya tersebut kemudian terkenal dengan sebutan Indische Empire Style, yaitu suatu gaya arsitektur Empire Style yang disesuaikan dengan iklim, teknologi dan bahan bangunan setempat. Setelah selesai, gedung tersebut digunakan tetap diperuntukkan bagi kediaman penguasa setempat atau Wedana.

Tahun 1938-1942 dimanfaatkan sebagai kantor Bupati, kemudian dari 1945-1949 secara bergantian dikuasai oleh pejuang RI yang tergabung dalam Kesatuan Laskar Rakyat Jakarta. Pada tahun 1953 bangunan ini menjadi Markas Komando Militer Kota Jatinegara (KODIM 0505).

Pada 22 September 2018, bangunan tersebut lalu dialih fungsi menjadi Taman Museum “Benyamin Sueb”. Museum itu akan menceritakan perjalanan karier sang seniman serta menyimpan benda-benda peninggalan dia.

Stasiun Jatinegara

Pada 1887, Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij membangun jalur rel kereta api dari Batavia Zuid (Jakarta Kota) menuju Bekasi sepanjang 27 kilometer. Jalur rel tersebut melintas tepat di depan gedung ini, yang sekarang berdiri Stasiun Jatinegara (dulu disebut Stasiun Meester Cornelis). Pembukaan jalur rel ini menjadikan daerah Meester Cornelis semakin ramai dan berkembang pesat. Kondisi inilah yang menyebabkan Pemerintah Hindia Belanda meningkatkan status Meester Cornelis menjadi daerah otonom yang bernama Regetschap Meester Cornelis atau Kabupaten Meester Cornelis, berdasarkan Staatsblad No. 383 tertanggal 14 Agustus 1925, dan peraturan tersebut mulai berlaku pada 1 Januari 1926.

Bekas rumah Hendrik Laurens van der Crap

Bekas rumah Hendrik Laurens van der Crap (http://syahrilachmad.blogspot.com)

Bekas rumah Laurens van der Crap berada di belakang Rumah Sakit POLRI, Jalan Raya Bogor, Kelurahan Kramat Jati, Kecamatan Kramat Jati, dibangun pada 1775, luas pekarangan Van der Crap bisa mencakup satu rukun warga.

Keberadaan landhuis (rumah tingg), terutama di pinggiran wilayah Jakarta, berkaitan dengan orang-orang kaya yang menguasai tanah-tanah perkebunan. Seiring dengan kondisi keamanan yang mulai membaik di wilayah pinggiran pada akhir abad 17. Mereka para orang-orang kaya itu mulai berani membangunlandhuis dan menempati lahan-lahan kepunyaannya.

Kondisi Bekas rumah Hendrik Laurens van der Crap sekarang (http://syahrilachmad.blogspot.com)

Stasiun Jatinegara

Stasiun Jatinegara (https://www.flickr.com)

Stasiun ini berada di jalur menuju Bandung, berdiri 1910 dan diperkirakan dirancang oleh arsitek Ir. S. Snuyff, kepala sementara Biro Perancang Departemen Pekerjaan Umum. Kota Meester Comelis, terletak di kedua sisi Sungai Ciliwung, merupakan kotapraja yang mandiri, sejak tahun 1935. Pada mulanya stasiun ini dinamakan Rawa Bangke, sebutan untuk rawa-rawa yang terletak di dekatnya, yang tampaknya juga memisahkan stasiun NIS Meester Cornelis dan seberang sungai. Stasiun lama BOS berbentuk lebih kecil dari stasiun lama NIS Weltevrden, terletak lebih ke arah barat dan masih sempat berfungsi sebagai kantor dinas selama beberapa waktu.

Stasiun Jatinegara ini telah berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya. Stasiun ini tidak lagi dapat menaikkan penumpang ke arah luar Jabodetabek. Kereta-kereta ke Jawa tidak bisa naik dari sini. Tapi kalau turun bisa di sini.
Karena hal tersebut stasiun ini menjadi lebih sepi tidak seperti beberapa tahun yang lalu. Beberapa tahun lalu banyak penumpang yang lalu lalang membawa kardus dan tas-tas besar hendak pulang kampung.

Namun penumpang kereta yang memiliki tujuan Jabodetabek masih bisa naik dari stasiun ini. Mereka adalah penumpang pengguna KRL. KRL sendiri telah ada di Jakarta sejak tahun 1925.

Gereja Koinonia

Gereja Koinonia (http://yoselvan.blogspot.com)

Gedung Gereja ini dibangun pada tahun 1911-1916. Koinonia berarti “Persekutuan”. Kompleks gereja yang berada di ujung Jalan Matraman ini merupakan gereja pertama di Kawasan Timur Batavia, saat Meester Cornelis membuka kawasan ini (1881-1918). Arsitekturnya bergaya vernacular, penerapan gable Belanda dan penerapan salib Yunani pada pediment tympanium. Denah gereja dipengaruhi aturan geometrik. Bentuk segi empatnya dibagi tepat menjadi sembilan bagian, dimana empat sudut terluar berfungsi sebagai ruang tangga, sehingga bagian dalam gereja berbentuk salib simetri. Ruang-ruang tangga dari luar terlihat seperti menara.

One thought on “Wisata Sejarah di Jakarta Timur

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Desa Wisata Marajai Balangan Kalimantan Selatan

Mon Apr 1 , 2019
(https://www.dimensitiga.com) Desa Wisata Marajai terletak di Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, berada di kawasan pegunungan meratus. Kawasan pegunungan Meratus yang membentang di sembilan kabupaten di wilayah Kalimantan Selatan memiliki keanekaragaman hayati melimpah. Desa Wisata Marajai Desa Wisata Marajai, Kecamatan Halong, berpenduduk 197 KK dengan jumlah penduduk 578 jiwa. […]