Wisata Sejarah di Jakarta Barat

1

Jakarta Barat merupakan salah satu dari 5 kota administrasi dan 1 kabupaten administrasi di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, dengan Pusat Pemerintahannya berada di Kecamatan Kembangan.

Baca juga: Masjid – Masjid Kuno di DKI Jakarta

Juga Jakarta Barat terkenal dengan peninggalan masa kolonial Belanda seperti Gedung Balai Kota (kini menjadi Museum Sejarah), kawasan Pecinan (Glodok) dan juga sejumlah masjid tua serta benteng-benteng pertahanan masa awal pendudukan Belanda di Batavia.

Museum Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta)

Museum Fatahillah (https://id.wikipedia.org)

Museum Fatahillah memiliki nama resmi Museum Sejarah Jakarta adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 1, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi.

Bangunan ini dahulu merupakan balai kota Batavia (Stadhuis van Batavia) yang dibangun pada tahun 1707-1712 atas perintah Gubernur Jendral Joan van Hoorn. Bangunan ini menyerupai Istana Damdi Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara. Pada tanggal 30 Maret 1974, bangunan ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah.

Gedung ini sempat mengalami beberapa kali peralihan fungsi. Pernah menjadi Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat (1925-1942), kantor pengumpulan logistik Dai Nippon (1942-1945), markas Komando Militer Kota Kodim 0503 Jakarta Barat (1952-1968). Baru pada tahun 1968, gedung secara resmi diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta. Lalu diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret 1974 oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin.

Toko Merah

Toko Merah (https://id.wikipedia.org)

Toko Merah terletak di Jl. Kali Besar Barat No. 11, Pinangsia, Tambora, RT.7/RW.3, Roa Malaka, Tambora, Jakarta Barat.

Toko Merah (https://jakartayuk.wordpress.com)

Dibangun pada tahun 1730 di atas tanah seluas 2.471 meter persegi dan merupakan salah satu bangunan tertua di Jakarta. Ciri khas warna merah pada bangunan ini yang menjadikan bekas kediaman Gubernur Jenderal Gustaaf Willem baron van Imhoff terkenal dengan sebutan Toko Merah dikalangan masyarakat luas.

Interior Toko Merah (http://woow-world.blogspot.com)

Pada masa pendudukan Jepang menjadi Gedung Dinas Kesehatan Tentara Jepang. Setelah Indonesia Merdeka, Toko Merah berubah melewati fase-fase perubahan pindah tangan pemilik kantor yang salah satunya adalah PT. Satya Niaga pada tahun 1964. Selanjutnya pada tahun 1977 berubah menjadi PT Dharma Niaga (Ltd) dan gedung tersebut tetap digunakan sebagai kantor. Pada tahun 1990-an, Toko Merah dijadikan Bangunan Cagar Budaya berdasarkan UU No. 5 Tahun 1992 dan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 475 Tanggal 29 Maret Tahun 1993. Setelah sekian lama terabaikan, Akhirnya Toko Merah direstorasi pada tahun 2012 dan sekarang Toko Merah menjelma menjadi ‘Function Hall’ yang dapat dijadikan sebagai tempat konferensi dan pameran.

Bekas Gedung Arsip Nasional

Bekas Gedung Arsip Nasional (https://travelingyuk.com)

Bekas Gedung Arsip Nasional terletak di Jl. Gajah Mada No. 111, RT.1/RW.1, Krukut, Tamansari, Jakarta Barat, dibangun pada sekitar Abad ke-18. Peletakan batu pertama berlangsung pada tahun 1755 dan proses pembangunan selesai pada tahun 1760. Bangunan megah ini kemudian digunakan sebagai tempat tinggal gubernur jendral VOC, Reinier de Klerk.

Interior Bekas Gedung Arsip Nasional (https://travelingyuk.com)

Pada tahun 1925 gedung Arsip milik Republik Indonesia ini pernah digunakan sebagai Departemen Pertambangan yang dibawah pimpinan langsung kolonial Hindia Belanda. Setelah itu sempat digunakan sebagai Lands Archief atau gedung Arsip Negeri untuk pemerintah kolonial Belanda.

Gedung Arsip Nasional digunakan untuk resepsi pernikahan (https://www.jejakpiknik.com)

Setelah Indonesia Merdeka akhirnya gedung ini dijadikan sebagai Gedung Arsip Nasional RI. Dan di tahun 1974, akhirnya arsip nasional dipindahkan ke Jalan Ampera, Jakarta Selatan. Dan gedung arsip yang lama akhirnya mengalami perubahan dan juga renovasi untuk memberikan tampilan lebih baru dan menghindari gedung menjadi rusak, dilakukan di tahun 1979. Usai direnovasi gedung ini tidak pernah digunakan. Dan di tahun 1990 sempat mengalami kerusakan di beberapa area.

Gedung Candra Naya

Gedung Candra Naya (https://hurahura.wordpress.com)

Gedung Candra Naya di Jalan Gajah Mada. No. 3, RT.3/RW.5, Glodok, Tamansari, Jakarta Barat. Rumah yang disebut Candra Naya tersebut adalah rumah terakhir Mayor China Khouw Kim An di Batavia dibangun pada abad ke-18. Zaman Hindia Belanda dulu, diangkat seseorang untuk mewakili etnisnya.

Mayor Khouw Kim An yang lahir di Batavia 5 Juni 1879. Kariernya termasuk cemerlang di pemerintahan Batavia. Pada 1905 diangkat menjadi Leutenant, 1908 dipromosikan menjadi Kapitan, dan 1910 naik pangkat lagi menjadi Mayor.

Gedung Candra Naya terhimpit dua gedung (https://jakarta-tourism.go.id)

Seterusnya keluarga Khouw menguasai gedung itu. Banyak peristiwa bersejarah berlangsung di gedung itu. Pada 1946 berdiri Perhimpunan Sinar Baru (Sin Ming Hui) yang bergerak di bidang sosial. Masa berikutnya berdiri gedung sekolah, lembaga fotografi, dan klub bridge. Lembaga Fotografi Candra Naya dikenal luas sebagai tempat pendidikan yang menghasilkan fotografer-fotografer ternama Indonesia. Sedangkan klub bridgenya banyak menelurkan pemain berkaliber nasional.

Candra Naya juga berperan dalam sejarah pendidikan. Pada awalnya pendirian Universitas Tarumanagara dibicarakan di sini, termasuk RS Sumber Waras. Tahun 1960-an hingga 1970-an Candra Naya pernah menjadi tempat penyelenggaraan pesta-pesta pernikahan yang bonafide. Sebelum menjamurnya gedung-gedung resepsi khusus, Candra Naya tidak pernah sepi dari pesanan para calon pengantin. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya).

Gedung Candra Naya (https://jakarta-tourism.go.id)

Candra Naya merupakan bangunan cagar budaya yang dilindungi undang-undang. Penetapannya didasarkan SK Gubernur DKI Jakarta tahun 1972, lalu diperkuat SK Mendikbud tahun 1988. Terakhir, dipertegas lagi oleh Undang-undang Benda Cagar Budaya Nasional (UUBCB) tahun 1992.

Museum Tekstil Jakarta

Museum Tekstil Jakarta (http://asemus.museum)

Museum Tekstil Jakarta terletak di Jalan K.S. Tubun atau Petamburan No. 4, Palmerah, Jakarta Barat, pada mulanya adalah rumah pribadi seorang warga negara Perancis yang dibangun pada abad ke-19.

Kemudian dibeli oleh konsul Turki bernama Abdul Azis Almussawi Al Katiri yang menetap di Indonesia. Selanjutnya tahun 1942 dijual kepada Dr. Karel Christian Cruq.

Ragam Batik Indonesia di Museum Tekstil Jakarta (https://www.jejakpiknik.com)

Pada awal tahun 1945 pernah digunakan sebagai markas dari “Perintis Front Pemuda” dan Angkatan Pertahanan Sipil dalam perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan Indonesia.

Kemudian pada tahun 1947 gedung ini dimiliki dan didiami oleh Lie Sion Pin. Kemudian disewakan kepada Departemen Sosial yang diubah menjadi sebuah lembaga untuk orang tua.

Beragam Ulos Sumatera Utara di Museum Tekstil Jakarta (https://www.inews.id)

Pada tahun 1962 properti diakuisisi oleh Departemen Sosial. Awalnya digunakan sebagai kantor, kemudian berubah menjadi sebuah asrama karyawan pada tahun 1966.

Kemudian pada tahun 1952 dibeli oleh Departemen Sosial untuk kemudian pada akhirnya, di tahun 1975, secara resmi diserahkan kepada Pemerintah DKI Jakarta Kota oleh Menteri Sosial. Gubernur Ali Sadikin memutuskan bahwa kebutuhan untuk dilestarikan tradisi tekstil Indonesia lebih besar dari kebutuhan kota untuk ruang penyimpanan arsip, yang bangunan ini telah dialokasikan dan lahirlah Museum Tekstil, kemudian pada tanggal 28 Juni 1976 diresmikan penggunaannya oleh Ibu Tien Soeharto sebagai Museum Tekstil.

Museum Bank Indonesia

Museum Bank Indonesia (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Museum Bank Indonesia terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 3, Jakarta Barat (depan stasiun Beos Kota) merupakan cagar budaya peninggalan De Javasche Bank yang beraliran neo-klasikal, dipadu dengan pengaruh lokal, dan dibangun pertama kali pada tahun 1828.

Museum Bank Indonesia (https://wisatasekolah.com)

Bangunan hasil rancangan Ed. Cuypers ini merupakan bangunan dua lantai yang terdiri atas empat bangunan yang saling menyatu sehingga membentuk denah segi empat. Keempat sisi bangunan yang saling menyambung ini membentuk hall terbuka di bagian tengah. Fasad bangunan museum penuh dengan ornamen-ornamen lokal, terutama Jawa, seperti motif sulur-suluran serta pilar-pilar yang terpahat pada dinding percandian di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Deretan jendela tinggi, pilar-pilar, serta rooster memenuhi dinding luar bangunan sehingga bangunan ini tampak raya akan ragam hias. Pada atap bangunan terdapat lucarne, yang selain berfungsi sebagai pencahayaan sekaligus sebagai aspek estetika. Pintu masuk utama bangunan ini terdapat di sisi selatan, dimana terdapat beberapa anak tangga menuju ruangan lobby museum.

Cafe Batavia

Cafe Batavia (https://www.shopback.co.id)

Cafe Batavia terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 14, RT.7/RW.7, Pinangsia, Tamansari, Jakarta Barat, dibangun secara bertahap dari tahun 1805 sampai dengan tahun 1850, sebelumnya gedung ini pernah menjadi kantor administrasi VOC. Baru di tahun 1991 bangun bersejarah ini berubah menjadi sebuah kafe seperti sekarang.

Museum Seni Rupa dan Keramik

Museum Seni Rupa dan Keramik (https://www.checkinjakarta.id)

Museum ini terletak di Jalan Pos Kota No. 2, Jakarta Barat. Gedung yang diresmikan pada 12 Januari 1870 itu awalnya digunakan oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk Kantor Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia (Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia).

Museum yang tepatnya berada di seberang Museum Sejarah Jakarta itu memajang keramiklokal dari berbagai daerah di Tanah Air, dari era Kerajaan Majapahit abad ke-14, dan dari berbagai negara di dunia.

Saat pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan sekitar tahun 1944, tempat itu dimanfaatkan oleh tentara KNIL dan selanjutnya untuk asrama militer TNI.

Pada 10 Januari 1972, gedung dengan delapan tiang besar di bagian depan itu dijadikan bangunan bersejarah serta cagar budayayang dilindungi. Tahun 1967-1973, gedung tersebut digunakan untuk Kantor Walikota Jakarta Barat. Dan tahun 1976 diresmikan oleh Presiden (saat itu) Soeharto sebagai Balai Seni Rupa Jakarta.

Pada 1990 bangunan itu akhirnya digunakan sebagai Museum Seni Rupa dan Keramik yang dirawat oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta. Pada awalnya, nama yang digunakan untuk gedung ini adalah Balai Seni Rupa dan Keramik yang kemudian berubah menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik.

Museum Bank Mandiri

Museum Bank Mandiri (https://ulinulin.com)

Museum Bank Mandiri terletak di Jalan Lapangan Stasiun No. 1 Jakarta Barat, DKI Jakarta. Berada tepat di seberang halte Transjakarta dan tidak jauh dari Stasiun Kota Tua, dibangun pada tahun 1929 sebagai gedung Nederlandshe Handel-Maatschappij (NHM) sebuah perusahaan dagang milik Belanda di bidang perbankan.

Gedung ini kemudian menjadi gedung kantor Bank Koperasi Tani dan Nelayan Urusan Ekspor Impor pada tahun 1960 ketika NHM dinasionalisasi menjadi perusahaan Indonesia. Hingga akhirnya pada tahun 1999 Bank Ekspor Impor Indonesia ini legal merger dengan Bank Mandiri dan gedung ini pun menjadi aset Bank Mandiri.

Museum Wayang

Museum Wayang (https://pesona.travel)

Museum Wayang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 27, Pinangsia, RT.3/RW.6, Kota Tua, Tamansari, Kota Jakarta Barat, dibangun pertama kali pada tahun 1640, dengan nama De Oude Hollandsche Kerk (Gereja Lama Belanda).

Tahun 1732 diperbaiki dan berganti nama De Nieuwe Hollandse Kerk (Gereja Baru Belanda) hingga tahun 1808 akibat hancur oleh gempa bumi pada tahun yang sama. Di atas tanah bekas reruntuhan inilah dibangun gedung museum wayang dan diresmikan pemakaiannya sebagai museum pada 13 Agustus 1975. Meskipun telah dipugar beberapa bagian gereja lama dan baru masih tampak terlihat dalam bangunan ini.

Gedung Cipta Niaga

Gedung Cipta Niaga (https://silviagalikano.com)

Gedung Cipta Niaga terletak di Jl. Kali Besar Timur 4 No. 31, RT.7/RW.7, Pinangsia, Tamansari, Kota Jakarta Barat.

Gedung Cipta Niaga asalnya milik perusahaan perkapalan Internationale Credit en Handelsvereeniging Rotterdam yang biasa disingkat dengan Internatio. Gedung ini dibangun pada tahun 1912 oleh Biro Arsitek Ed. Cuypers en Hulswit.

Gedung Cipta Niaga digunakan kegiatan seni budaya

Pada akhir 1957, ketika semua perusahaan Belanda dinasionalisasi, Internatio berganti nama menjadi PT. Satya Negara Trading Corp. Beberapa tahun kemudian, PT. Satya Negara dilebur ke dalam PN. Tjipta Niaga yang kemudian menjadi PT. Tjipta Niaga.

Gedung Ex-Asuransi Jiwa OLVEH (*)

Gedung bekas OLVEH (http://arsitektur-indonesia.com)

Gedung tiga lantai bernuansa kolonial tersebut dikenal dengan sebutan Gedung bekas OLVEH. Gedung ini terletak di Jalan Jembatan Batu No. 50, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Tamansari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi gedung ini berada di seberang selatan stasiun Jakarta Kota, atau di seberang selatan Halte Busway Jakarta Kota.

OLVEH sebenarnya merupakan singkatan dari Onderlinge Levensverzekering Van Eigen Hulp (Mutual Life Assurance Society Personal Assistance), yaitu salah satu perusahaan asuransi jiwa yang ada di Hindia Belanda pada masa itu. Perusahaan asuransi ini didirikan pada 1 Juli 1879 oleh Jhr. Mr. G. De Bosch Kemper di Den Haag, Belanda. Oleh karena itu, perusahaan asuransi ini sering juga disebut dengan De OLVEH van 1879.

Desain arsitekturnya dibuat oleh Schoemaker bersaudara, yakni Richard Leonard Arnold Schoemaker dan Charles Prosper Wolf Schoemaker yang mendirikan sebuah firma bernama C.P Schoemaker en Associatie-Architecten & Ingenieurs. Pengerjaan bangunan gedung tersebut memakan waktu sekitar setahun, dan kemudian diresmikan pada tahun 1922.

Gedung Ex-Chartered Bank (*)

Gedung Ex-Chartered Bank (http://library.binus.ac.id)

Terletak di Jl. Kali Besar Barat No. 1-2, Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Gedung Ex-Chartered Bank merupakan salah satu aset bangunan gedung bersejarah milik Bank Mandiri.

Gedung Ex-Chartered Bank (http://www.warungblogger.org)

Gedung ini dibangun pada tahun 1921 atas lahan seluas 2.279 m2, yaitu era dimana perdagangan Hindia Belanda sedang maju pesat dengan Eduard Cuypers (1859-1927) sebagai arsiteknya. Pada mulanya gedung ini digunakan sebagai kantor cabang Chartered Bank of India, Australia, and China di Batavia. Kemudian pada 2 Maret 1965 diserahkan pengelolaan kepada Bank Umum Negara (BUNEG) yang kemudian menjadi Bank Bumi Daya (BBD) pada ak hir tahun 1968.

Dengan ciri khas kubah kecoklatan yang menghiasi sudut depan gedung ini memegahkan bangunan berkonstruksi beton bertulang dan dinding bata yang mencirikan arsitektur khas kolonial modern neoklasik abad 20 dengan hiasan kaca patri dengan gambar aktifitas manusia seperti orang pergi ke pasar, orang membawa getah karet, orang menumbuk padi, orang membawa tebu, orang membawa tembakau. Gedung Ex-Chartered Bank ini berada di kawasan strategis yang bernilai ekonomi tinggi pada masa perkembangan perekonomian di Batavia.

Gedung Ex Escomptobank (*)

Gedung Ex Escomptobank (https://id.wikipedia.org)

Gedung tua berarsitektur Indisch yang terletak di pojok pertemuan jalan Pintu Besar Utara dan jalan Bank, menempati lahan seluas 3.010 m² adalah milik Bank Mandiri. Bangunan cagar budaya ini awal mulanya merupakan Kantor Pusat Nederlandsch-Indische Escompto Maatschappij di Batavia yang dibeli tahun 1902. Pembangunan gedung kantor bank yang memiliki seluruhnya 6.729 m² ini dilakukan bertahap.

Gedung Ex Escomptobank atau Regional Credit Recovery III Bank Mandiri

Gedung pertama yang menghadap ke jalan Pintu Besar Utara terdiri 2 lantai dibangun tahun 1904 dan mulai digunakan tahun 1905. Keunikan gedung Escomptobank ini pada bagian atas dinding luarnya terdapat ornament lambang-lambang kota Hindia Belanda seperti Surabaya, Batavia dan Semarang juga terdapat lambang kerajaan Belanda dan kota Amsterdam. Gedung kedua Escomptobank yang berada di pojok jalan dirancang oleh arsitek Biro Fermont & Cuypers tahun 1920. Gedung ini dibangun tahun 1921 dan selesai sekitar 1928.

Stasiun Jakarta Kota (Stasiun Beos)

Stasiun Jakarta Kota (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Merupakan stasiun kereta api kelas besar tipe A yang terletak di Jl. Lada, Kelurahan Pinangsia, kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Stasiun yang terletak pada ketinggian +4 meter ini merupakan stasiun terbesar yang berada dalam pengelolaan PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi I Jakarta dan merupakan satu dari sedikit stasiun di Indonesia yang bertipe terminus (perjalanan awal atau akhir), yang tidak memiliki jalur lanjutan lagi.

Pembangunannya dimulai dari tahun 1926, selesai pada 19 Agustus 1929 dan secara resmi digunakan pada 8 Oktober 1929. Acara peresmiannya dilakukan secara besar-besaran dengan penanaman kepala kerbau oleh Gubernur Jendral jhr. A.C.D. de Graeff yang berkuasa pada Hindia Belanda pada 1926-1931.

Stasiun bertipe terminus (perjalanan awal atau akhir), yang tidak memiliki jalur lanjutan lagi (https://www.youtube.com)

Sejarah

Dikutip dari okezone, bahwa Stasiun Jakarta Kota bukan merupakan stasiun tertua di Jakarta, merupakan hasil penyatuan dua stasiun yaitu Stasiun Batavia Utara dan Stasiun Beos.

Stasiun Batavia Utara (Stasiun Batavia Noord)

Stasiun tertua di Jakarta itu adalah Stasiun Batavia. Stasiun yang didirikan perusahaan kereta api swasta NIS (Nederlandsche Indische Spoorweg Maatschappij), dibangun pada tahun 1869, stasiun ini resmi beroperasi pada tahun 1871 dengan jalur Batavia – Buitenzorg (Bogor). Letaknya kalau sekarang ada di belakang Gedung Bank BNI 46 Jakarta Kota.

Meski begitu, stasiun ujungnya di sebelah utara bukan di Stasiun Batavia itu. Melainkan ada sebuah “halte” atau stasiun kecil di Pasar Ikan Jakarta Utara dan jalur Batavia-Buitenzorg (kini Bogor) ini baru selesai dan resmi dibuka pada 1871.

Stasiun Beos (Batavia Zuid)

Bentuk bangunannya belum seperti saat ini dan pada 1870 baru didirikan BOS atau  Bataviasche Oosterspoorweg Maatschapij (Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur). Jalur awalnya pun mengarah ke timur, tepatnya Batavia-Bekasi. Sejak ada Beos itu pun, stasiun yang hanya berjarak sekitar 200 meter itu punya sebutan berbeda, yakni Stasiun Batavia Noord (utara) milik NIS dan Batavia Zuid (selatan) milik Beos.

Diakuisisi

Beos kemudian dibeli SS (Staatsspoorwegen), perusahaan kereta pemerintah Hindia Belanda karena memang awalnya mereka tidak punya stasiun di Batavia. Dibeli pada 1898 dan barulah mereka punya stasiun, stasiun Beos itu dengan membuat jalur Batavia-Duri-Angke-Tangerang-Merak.

SS juga kemudian mengakuisisi NIS pada tahun 1913, pemilik jalur Batavia Noord-Bogor karena pada awal abad ke-20, karena NIS rugi besar, hingga SS jadi pemilik dua stasiun tersebut (Batavia Noord dan Zuid).

Tentu akan mubazir jika SS mengoperasikan dua stasiun yang berdekatan itu sekaligus. Maka diputuskanlah membangun stasiun yang lebih besar dan lahan yang dipilih ya di lahan berdirinya Stasiun Batavia Zuid.

Pembangunannya dipercayakan pada arsitek Belanda kelahiran Tulungagung, Jawa Timur, yakni Frans Johan Louwrens Ghijsels dengan desain bergaya Art Deco.

Akhir 1925, Stasiun Batavia Zuid sudah mulai dirobohkan untuk persiapan pembangunan selama tiga tahun. Sementara untuk operasional, semua jalur dipindahkan ke Batavia Noord sampai stasiun yang baru selesai dibangun 1929 dan sejak itulah, Stasiun Batavia Noord dibongkar.

Gedung Ex-NV Reiss & Co (*)

Gedung Ex-NV Reiss & Co atau Gedung Bank Sinarmas

Gedung Ex-NV Reiss & Co atau NV Handelsvereniging v/h Reiss & Co., sekarang menjadi Bank Sinarmas terletak di Jl. Kali Besar Barat No. 8, Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Lokasi gedung bank ini berada di selatan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Tambora, atau utara Toko Merah.

NV Reiss & Co. membuka cabang di Batavia ini lantaran pada masa itu geliat aktivitas ekonomi Batavia sangatlah tinggi. Kanal Kali Besar atau de Groot Riviermerupakan tempat transaksi dan sekaligus bongkar muat barang komoditas, baik yang akan dibawa maupun yang didatangkan dari Eropa. Sehingga, banyak perusahaan-perusahaan milik orang Belanda yang berusaha mendirikan gedung di sekitar Kali Besar ini.

Keterangan: (*) Tambahan

One thought on “Wisata Sejarah di Jakarta Barat

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Wisata Sejarah di Jakarta Utara

Tue Mar 19 , 2019
Rumah Si Pitung (https://www.mitramuseumjakarta.org) Wilayah Jakarta Utara yg merupakan bagian dari pemerintah daerah Khusus Ibukota Jakarta, ternyata pada abad ke 5 justru merupakan pusat pertumbuhan pemerintah kota Jakarta yg tepatnya terletak di muara sungai Ciliwung di daerah Angke. Saat itu muara Ciliwung merupakan Bandar Pelabuhan Kerajaan Tarumanegara dibawah pimpinan Raja […]