Masjid Jami’ Assalafiyah Klender Jakarta Timur

Masjid Jami Assalafiyah (https://google.co.id)

Masjid Jami Assalafiyah terletak di Jl. Jatinegara Kaum Raya No 208, Klender, Jakarta Timur. Masjid ini dikenal dengan Masjid Pangeran Jayakarta, didirikan pada tahun 1620 M. Pada mulanya didirikan untuk menghimpun para jawara (preman, jagoan) dan ulama untuk meneruskan perjuangannya melawan Pemerintah Belanda dan untuk menyiarkan agama Islam di tanah Sunda Kelapa.

Sejarah

Masjid Jami Assalafiyah (https://cagarbudaya.kemdikbud.go.id)

Masjid Jami’ Assalafiyah atau juga dikenal sebagai Masjid Pangeran Jayakarta di kawasan Jatinegara Kaum, Klender, Jakarta Timur ini, tak bisa dipisahkan dari sejarah perjuangan Pangeran Jayakarta, penguasa terahir Jayakarta sebelum kekalahannya menghadapi serbuan pasukan VOC (Belanda) dibawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen pada tanggal 30 Mei 1619. Kekalahan pasukan Pangeran Jayakarta dalam perang melawan VOC itu berakibat pada dibumihanguskannya Jayakarta oleh pasukan VOC termasuk keraton dan Masjid Kesultanan Jayakarta yang berdiri megah di sekitar kawasan yang kini dikenal sebagai Hotel Omni Batavia.

Masjid Jami Assalafiyah (https://pingpoint.co.id)

Belanda menganggap Pangeran Jayakarta tewas di dalam sebuah sumur di kawasan Mangga Dua, Jakarta, namun nyatanya yang diberondong peluru oleh pasukan Belanda di dalam sumur tersebut tak lebih dari selembar jubah dan sorban Pangeran Jayakarta yang sengaja dilemparnya ke dalam sumur tersebut untuk mengelabui pasukan Belanda.

Sedangkan beliau bersama para pengikutnya berhasil melarikan diri ke wilayah yang kini dikenal sebagai Jatinegara Kaum, membuka daerah baru serta mendirikan masjid yang kini dikenal dengan nama Masjid Jami’ Assalafiyah. Bahkan putra beliau yang bernama Pangeran Senapati diperintahkan untuk pergi sejauh mungkin dari Jayakarta untuk menghindari kejaran Belanda sekaligus menyebarkan ajaran Islam ke luar Jayakarta, pada ahirnya menetap di wilayah Cibarusah, Kabupaten Bekasi dan mendirikan Sebuah masjid yang dikemudian hari menjadi pusat perjuangan pasukan Hisbullah melawan penjajahan Belanda di wilayah Bekasi, masjid tersebut kini bernama Masjid Al-Mujahidin Cibarusah.

Bangunan

Kubah limas bangunan lama tetap dipertahankan bentuk aslinya dengan atap genteng kampung yang kini sudah langka

Diambil data dari Sistem Informasi Masjid (Simas), Kementrian Agama (Kemenag) RI, masjid Pangeran Jayakarta dengan luas tanah 7.000 m2 dan luas bangunan 450 m2, dan daya tampung jamaah 800 orang.

Keaslian masjid kuno ini sekarang hanya bisa dilihat dari kubah kecil khas Jawa berukuran 2,5 x 2,5 meter yang dipasang di atas atap masjid. Selain itu ada juga pohon Kiara tua yang berdiri tepat di depan masjid, pohon ini usianya sudah 200 tahun lebih.

Mihrab dan Mimbar (*)

Pemugaran

Denah Masjid Jami’ As-Salafiyah Jatinegara Kaum, Jakarta Timur

  • Pemugaran pertama kali dilakukan oleh Pangeran Sugeri pada tahun 1700 M. Pangeran Sugeri adalah putra Sultan Fatah (Sultan Banten). Anak dan bapak ini hijrah, kemudian bergabung dengan Pangeran Jayakarta, karena mereka berselisih dengan saudaranya, Sultan Haji yang diangkat menjadi Penguasa Banten oleh Pemerintah Hindia Belanda.
  • Pemugaran masjid yang kedua dilaksanakan pada tahun 1842 oleh Aria Tubagus Kosim (*)
  • Pemugaran ketiga tahun 1969 oleh Gubernur DKI H. Ali Sadikin (*)
  • Masjid dibangun dua lantai dengan membuat menara baru. Pemugaran keempat pada tahun 1992 oleh Gubernur DKI H. Suryadi Soedirdja, melalu Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta (*)

(*) Sumber: E-book Akulturasi Arsitektur Masjid-Masjid Tua di Jakarta oleh Ashadi, Arsitektur UMJ Press, Penerbit Arsitektur UMJ Press 2018.

One thought on “Masjid Jami’ Assalafiyah Klender Jakarta Timur

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.