Masjid Al Alam Cilincing Jakarta Utara

Masjid Al Alam Cilincing

Masjid Al-Alam Cilincing terletak di Jln. Cilincing, RT/RW 02/04, Cilincing, Jakarta Utara, lokasinya dekat sungai yang airnya hitam dan sepertinya sungai ini tempat bergantung para nelayan pencari ikan. Nama masjid Al-Alam Cilincing ini sering tertukar dengan Masjid Al-Alam Merunda, karena sama-sama menyandang nama Al-Alam.

Sungai (yang airnya hitam) di dekat Masjid Al alam Cilincing ini merupakan urat nadi kehidupan nelayan setempat. Tampak Beberapa perahu nelayan sedang bersandar. Di sebelah kanan adalah jalan yang mengarahkan ke lokasi masjid.

Letaknya tidak jauh dari tempat pelelangan ikan. Sebelum memasuki gerbang masjid, akan terlihat di depannya deretan perahu berwarna-warni yang sedang menepi dan kesibukan para nelayan di atasnya.

Sejarah

Menurut versi sejarah yang dimiliki oleh Dinas Purbakala DKI Jakarta, Masjid Al Alam Cilincing dibangun pada tanggal 22 Juni 1527, yaitu bertepatan dengan ditaklukkannya Sunda Kelapa oleh pasukan Fatahillah, yang kemudian dijadikannya sebagai hari jadi kota Jakarta.

Arsitektur

Denah bangunan Masjid Al Alam Cilincing (http://encyclopedia.jakarta-tourism.go.id)

Arsitektur Masjid Al Alam Cilincing merupakan hasil percampuran bentuk arsitektur atau akulturasi arsitektur, antara bentuk arsitektur tradisional Jawa, yang direpresentasikan oleh bangunan lama dan serambi timur, bentuk arsitektur Timur Tengah, yang direpresentasikan oleh fasad serambi selatan, utara dan timur, dan bangunan menara, dan bentuk arsitektur Modern. yang direpresentasikan oleh bangunan baru (serambi) selatan dan utara, yakni pada bagian atapnya. Proses akulturasi yang terjadi adalah adaptasi. Unsur-unsur bentuk arsitektur tradisional Jawa mendominasi bentuk arsitektur Masjid Al Alam Cilincing.

Akulturasi arsitektur yang terjadi pada Masjid Al Alam Cilincing menunjukkan adanya keterkaitan masjid ini dengan orang-orang Jawa yang tergabung dalam pasukan Fatahillah, yang mereka tentu saja juga membawa kebudayaannya-Jawa.

Bangunan

Wasiat Sunan Gunung Jati terdapat di dinding luar sisi timur Masjid AlAlam Cilincing, Bangunan Lama. Hal ini juga mungkin bisa menjadi petunjuk adanya kaitan antara masjid ini dengan para wali di Jawa. Wasiat ini juga terdapat pada masjid-masjid yang didirikan Walisanga di Jawa.

Dibatasi pagar tembok dengan gerbang utama di sisi barat daya. Masjid ini menghadap ke timur, dengan lima buah pintu masuk. Di bagian luar di sisi timur laut terdapat sebuah ruangan yang dipergunakan untuk kantor Ikatan Remaja Masjid, yang di sampingnya terdapat tempat wudhu dan kamar kecil.

Masjid Al Alam Cilincing terdiri dari dua bangunan, bangunan lama ada di sebelah barat bangunan baru. Bangunan lama merupakan bangunan utama, tempat ruang shalat utama. Bangunan baru sepertinya menjadi semacam serambi bangunan lama.

Detail Konstruksi jendela Masjid Al alam Cilincing, Bangunan Lama.

Bangunan lama, dinding bagian atas berupa dinding bilah bambu yang dicat warna coklat. Pada dinding bambu ini terdapat beberapa jendela kayu berukuran 50 cm x 100 cm (dengan lubang anginnya). Daun jendela berukuran 50 cm x 60 cm, dan dicat warna coklat tua.

Dinding terbuat dari bilah Bambu di Masjid AlAlam Cilincing, Bangunan Lama

Bangunan lama memiliki teras selebar 2 m di sisi timur, utara dan selatan. Teras di sisi timur didukung oleh tiang-tiang kayu berukuran 15 cm x 15 cm dengan tinggi 2 m yang dicat warna coklat tua. Sebagian tiang kayu ini sudah keropos. Sementara di sisi utara dan selatan teras didukung oleh tiang-tiang beton konstruksi modern.

Ruang Utama

Bangunan lama (kini sebagai ruang utama shalat) memiliki luas sekitar 10 m x 10 m. Dindingnya, satu meter di bawah berupa dinding tembok dilapis keramik warna putih.

Pintu Utama (di sisi timur) Masjid AlAlam Cilincing, Bangunan Lama.

Masjid Al Alam Cilincing, bangunan lama, memiliki 5 pintu masuk, 2 pintu di utara dan 2 pintu di selatan, sedangkan 1 pintu disisi timur, dari serambi.

Ruang utama Masjid Al Alam Cilincing, Bangunan Lama.

Konstruksi Saka Guru Masjid Al Alam Cilincing, pada Bangunan Lama. Tampak pada bagian pamidhangan terdapat konstruksi susunan papan yang juga sebagai penutup ruangan bagian atas. Warna coklat tua mendominasi warna Ruang Shalat Utama ini.

Mihrab dan Mimbar

Mihrab dan Mimbar Masjid Al Alam Cilincing, Bangunan Lama.

Pada sisi barat terdapat mihrab (tempat imam memimpin shalat berjama’ah). Mihrab dibuat menjorok keluar belakang masjid dengan hiasan-hiasan kaligrafi kalimat syahadat. Sebuah mimbar ditempatkan di sebelah mihrab, yang juga dibuat menjorok keluar, namun dengan ukuran yang lebih kecil. Dinding mihrab dan mimbar dibuat penuh berupa dinding tembok yang dilapis keramik warna putih.

Bangunan baru yang dibangun belakangan ini adalah berada di sebelah utara, selatan, dan timur bangunan lama. Bangunan baru di sebelah timur memiliki atap berbentuk tajuk tumpang dua sama dengan bentuk atap bangunan lama.

Masjid Al alam Cilincing, Bangunan Baru (Serambi) sisi Timur. Bentuk atap tajuk tumpang dua dan lengkungan berulang mendominasi tampilan bangunan.

Sementara bangunan baru di sebelah selatan dan utara beratap dak, yang merupakan salah satu bentuk arsitektur modern. Bangunan baru bersifat terbuka, sehingga ia merupakan serambi. Sehingga bangunan lama memiliki tiga serambi di sisi selatan, utara dan timur. Di antara ketiga bangunan baru (serambi) ini yang paling menarik adalah bangunan baru sisi timur.

Pada bangunan baru, serambi timur, pada bagian tengahnya terdapat empat tiang saka guru yang berupa konstruksi beton setinggi 3,5 m dan dicat warna coklat tua. Pada keempat sisi masing-masing tiang ini terdapat hiasan-hiasan ornamen. Umpak bagian bawah tiang dihias sedemikian rupa, yang menunjukkan seni tradisional Jawa. Begitu pun pada bagian atas tiang.

Konstruksi Saka Guru Masjid Al alam Cilincing, Bangunan Baru Sisi Timur (dijadikan Serambi masjid). Tampak pada keempat tiangnya terdapat hiasan ornamen.

Pada bagian tengah atas, ruang diantara keempat tiang saka guru ditambahkan susunan papan dan usuk sebagai penutup ruang bagian tengah atas, sama seperti yang ada pada bangunan lama. Pada keempat sisi atap yang miring, plafonnya menggunakan papan lambrisering dicat warna coklat tua. Lantai bangunan baru dilapis keramik warna merah hati.

Peil lantai bangunan baru (serambi selatan, utara, dan timur) lebih tinggi 90 cm daripada peil lantai bangunan lama. Di serambi sisi timur ditempatkan bedug dan kentongan. Tampilan bangunan baru sisi selatan dan utara didominasi oleh atap datar atau dak dan bentuk-bentuk lengkung berulang pada fasadbangunannya. Sementara, tampilan bangunan baru (serambi) timur didominasi atap tajuk tumpeng dua dan bentuk lengkungan berulang. Bentuk lengkung berulang pada fasade bangunan merupakan salah satu ciri bentuk arsitektur Timur Tengah (Arab). Bangunan baru selatan dan utara menampilkan bentuk arsitektur campuran antara modern dan Timur Tengah (Arab), sedangkan bangunan baru sisi timur menampilkan bentuk arsitektur campuran antara tradisional Jawa dan Timur Tengah (Arab).

Menara

Menara Masjid Al-Alam Cilincing di bangunan baru

Sebuah Menara ditambahkan pada bangunan baru. Pada bagian bawah berbentuk persegi, dan pada bagian atasnya berbentuk segi banyak, mendekati bulat, hingga puncak. Bentuk bulat ini dibuat persegmen, semakin ke atas bentuknya semakin mengecil. Atap Menara berbentuk kubah dan pada puncaknya terdapat lafadz Allah dari bahan logam. Bentuk Menara ini sekilas mirip dengan bentuk Menara Masjid An Nawier di Pekojan, yang merupakan ciri khas gaya arsitektur Timur Tengah (Arab).

Pemugaran

Tahun 1972 dilakukan pemugaran oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, dengan jenis pekerjaan mengganti dinding bata setinggi 100 cm, dengan tetap mempertahankan keaslian bagian atasnya berupa dinding bambu. Di sisi selatan dan barat dibuat pelataran parkir, kemudian tahun 1989 dilakukan pemugaran kembali dengan perluasan serambi timur dan utara, membuat tempat wudhu dan WC.

Sumber: E-book Akulturasi Arsitektur Masjid-Masjid Tua di Jakarta oleh Ashadi, Arsitektur UMJ Press, Penerbit Arsitektur UMJ Press 2018.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.