Kain Tenun Sumba NTT

Pada sehelai kain Sumba tercermin aspek lingkungan alam dan gaya kehidupan masyarakatnya. Semua itu terungkap melalui kreativitas penciptaan desain pada kain tenunnya. Fauna, flora, rangkaian seni budaya, adat istiadat, serta nilai-nilai keindahan Sumba terungkap di dalamnya.

Motif

Beberapa ragam hias khas Sumba adalah Kuda dan Rusa. Di dalam kehidupan sehari-hari, kuda sangat berperan sebagai alat transportasi yang mampu menjelajahi seluruh wilayah Sumba. Jenis kuda Sumba yang terkenal adalah kuda Sandel, dan menjadi salah satu sumber kekayaan masyarakat serta komoditi ekspor.

Kain Tenun Motif Naga yang kemungkinan besar terilmahi oleh gambar-gambar pada keramik Celadon (KK Kria dan Tradisi Fakultas Senirupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung)

Sejak berabad-abad yang lalu, saudagar-saudagar Sumba memperdagangkan kudanya ke Cina, ditukarkan dengan porselin, pakaian, perhiasan dan kain tenunan. Oleh karena itu kain Sumba juga mengenal motif Naga yang kemungkinan besar terilmahi oleh gambar-gambar pada keramik Celadon.

Kain Tenun Motif Naga yang kemungkinan besar terilmahi oleh gambar-gambar pada keramik Celadon (KK Kria dan Tradisi Fakultas Senirupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung)

Corak Kuda pada kain adat Sumba digambarkan dalam macam-macam perilaku, misalnya dalam keadaan mengangkat salah satu kakinya ke atas, ke belakang dan lain sebagainya.

Kain tenun Sumba motif Kuda (https://www.picbon.com)

Ada pula corak kuda dalam tenun ikat Sumba tidak sepenuhnya nyata tetapi didasari pada mitos atau legenda, yaitu motif Kuda bersayap.

Berbeda dengan kuda, corak Rusa pada tenun ikat Sumba, merupakan lambang kaum bangsawan. Dahulu hanya kalangan bangsawan saja yang diperbolehkan berburu rusa, sehingga corak Rusa pada mulanya hanya terdapat pada kain-kain milik bangsawan.

Kain tenun Sumba motif Rusa (https://www.bukalapak.com)

Corak khas lainnya adalah pohon Andung atau sering juga disebut ‘pohon tengkorak’. Tengkorak yang tampak tergantung pada dahan-dahannya.merupakan penggambaran dari tengkorak-tengkorak penjahat yang ditaklukkan, kemudian digantungkan pada pohon lontar yang ditanam di halaman pintu gerbang desa. Pohon Andung dapat disamakan dengan pohon hayat yang dapat diketemui di beberapa tempat di Indonesia. Pohon ini melambangkan kesuburan dan juga disebut ‘pohon kehidupan’, karena digambarkan mempunyai banyak cabang dan ranting yang merupakan perlambangan hidup manusia yang panjang dan terus menerus.

Warna

Ada dua warna yang menonjol yaitu warna merah kecoklatan-coklatan, yang disebut hinggi kombu rara dan yang berwarna kebiru-biruan yang disebut hinggi kaworu.

Dahulu ada perbedaan dalam memakai kedua jenis hinggi tersebut. Warna biru dengan paduan putih biasanya dipakai oleh laki-laki dari golongan rakyat biasa, sedangkan hinggi dengan warna merah kecoklat-coklatan, disebut juga karat besi, dipakai oleh para bangsawan.

Macam Kain

1. Kain Patola

Menurut sejarahnya, kain Patola itu sudah dikenal luas di kalangan raja-raja Sumba, sejak jaman Majapahit di abad 14. Raja Majapahit memberikan pengukuhan kepada raja Sumba dengan kepangkatan (regalia) berupa sutera yang disebut Patola.

2. Kain Hinggi

Kain dengan panjang +/- 200 cm yang diperuntukkan bagi laki-laki dewasa, dapat dipakai sebagai selimut, selendang atau dilitkan di pinggang.

Hinggi terdiri dari hinggi kaliuda, hinggi kombu, dan hinggi kawuru. Hinggi kombu bahan pewarnanya berasal dari akar mengkudu yang menghasilkan warna merah sedangkan hinggi kawuru bahan pewarnanya berasal dari daun tarum/nila (wora) menghasilkan warna biru.

3. Kain Lau

Merupakan kain dalam bentuk sarung yang dikenakan oleh perempuan.

Penghasil Tenun

Ada dua daerah penghasil tenun ikat yang terkenal. Pertama, Sumba Timur dengan ragam hias fauna, sedangkan Sumba Barat yang lebih menampilkan corak yang cenderung Geometris.

Sumber: Buku Tenunan Indonesia, Penerbit Seri Buku Indonesia Indah, Yayasan Harapan Kita

One thought on “Kain Tenun Sumba NTT

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.