Asal Mula Selat Nasi Kepulauan Riau

Asal mula Selat Nasi Kepulauan Riau

Alkisah seorang penguasa di Pulau Subi. Datuk Kaya namanya. Istrinya bernama Cik Wan. Mereka dikaruniai seorang putri, Nilam Sari namanya. Amat jelita paras Nilam Sari hingga tersebar berita kejelitaannya itu ke negeri-negeri jauh. Terkenal baik pula sifat dan perilaku putri cantik dari Pulau Subi itu. Ia tak ubahnya permata ayu kebanggaan keluarga serta masyarakat pulau itu.

Suatu hari sekelompok pedagang dari Palembang singgah di Pulau Subi. Mereka mendengar cerita tentang kejelitaan dan kebaikan perilaku Nilam Sari. Cerita itu pun mereka ceritakan di Palembang setelah mereka pulang. Cerita tentang Nilam Sari akhirnya menyebar dan didengar Raja Palembang dan Permaisurinya. Keduanya merasa, putri jelita dari Pulau Subi itu pantas menjadi istri Pangeran Demang Aji Jaya, anak lelaki mereka.

Permaisuri Raja Palembang mengungkapkan rencananya itu pada putranya. Ia merasa senang karena Pangeran Demang Aji Jaya menerima rencana itu. Raja Palembang juga turut senang. Sang Raja lalu mengirim utusan kerajaan ke Pulau Subi untuk meminang Nilam Sari. Mereka terdiri dari beberapa orang dan dipimpin seorang petinggi kerajaan. Berbagai hadiah indah dan berharga turut dibawa rombongan utusan itu.

Setelah berlayar beberapa waktu, utusan Raja Palembang tiba di Pulau Subi. Bergegas para utusan menemui Datuk Kaya dan mengungkapkan kepentingan kedatangan mereka.

Datuk Kaya berbahagia mendengar pinangan untuk putrinya itu. “Baiklah,” katanya, “Hamba terima pinangan untuk putri hamba ini.”

Para utusan merasa lega. Perjalanan mereka membawa hasil. Rencana pernikahan pun dibahas. Para utusan dan Datuk Kaya sepakat, pernikahan antara Nilam Sari dan Pangeran Demang Aji Jaya akan dilangsungkan pada bulan Syafar tanggal 10.

Asal mula Selat Nasi Kepulauan Riau (https://dongengceritarakyat.com)

Setelah para utusan Raja Palembang pulang, Datuk Kaya segera mengadakan persiapan untuk pernikahan putrinya itu. Warga Pulau Subi berbahagia mendengar rencana pernikahan itu. Mereka lantas bekerja saling bahu-membahu membantu keluarga Datuk Kaya.

Pernikahan itu akan dilangsungkan besar-besaran. Puluhan kerbau dan kambing disembelih. Begitu pula ratusan ayam dan itik. Daging yang sangat banyak itu disiapkan untuk bahan masakan gulai, rendang, dan lauk-pauk. Beras, ketan, dan tepung dalam jumlah sangat banyak siap untuk dijadikan nasi dan aneka kue serta penganan. Menjelang waktu yang telah ditentukan, semua persiapan hampir selesai.

Tanggal 10 bulan Syafar akhirnya tiba. Semua persiapan telah rampung. Nilam Sari telah pula dihias. Kecantikan putri Datuk Kaya itu semakin terpancar anggun mempesona. Busana yang dikenakannya nampak indah gemerlap, membuat decak kagum orang-orang yang melihatnya. Pelaminan nan indah telah disiapkan. Begitu pula dengan aneka hiasan perayaan. Berbagai masakan siap untuk disantap para undangan. Berdandang- dandang nasi disajikan. Aneka masakan lezat siap untuk dinikmati. Berbagai kue dan penganan juga telah siap untuk disantap.

Menjelang siang, rombongan pengantin dari Kerajaan Palembang belum juga datang. Datuk Kaya terlihat resah dan tegang. Ia berjalan mondar-mandir, pandangannya menatap kejauhan berulang-ulang. Beberapa saat waktu berlalu, belum juga terlihat tanda-tanda kehadiran rombongan pengantin yang sangat ditunggunya.

Mengetahui kelakuan suaminya, Cik Wan mendekati. Katanya, “Sabar, Bang. Kurasa, mereka sedang dalam perjalanan menuju ke sini.”

Datuk Kaya tidak menanggapi ucapan istrinya. Ia tetap gelisah menanti.

Cik Wan selalu meminta bersabar pada Datuk Kaya (https://ceritarakyatnusantara.com)

Menjelang sore, rombongan tamu yang ditunggu belum juga tiba. Kegelisahan Datuk Kaya semakin menjadi-jadi. Cik Wan berulang-ulang memintanya bersabar, memberinya harapan sebentar lagi rombongan dari Kerajaan Palembang akan segera datang. Tetapi hingga malam tiba, rombongan yang dinanti tidak juga terlihat.

Datuk Kaya marah. Ia merasa dipermainkan. Kehormatannya dilecehkan. Serunya, “Berani benar mereka mengingkari janji!”.

Cik Wan masih tetap berusaha menyabarkan suaminya. “Bisa jadi, mereka belum datang karena ada sesuatu yang menghadang perjalanan mereka, Bang.”

Tetapi, Datuk Kaya terlanjur marah. Ia kembali tidak menanggapi ucapan Cik Wan.

Waktu terus berlalu. Rombongan pengantin lelaki dari Palembang akhirnya datang pada tanggal 13 bulan Syafar. Nilam Sari dan Pangeran Demang Aji Jaya segera dinikahkan.

Cik Wan kebingungan. Semua masakan dan makanan untuk pesta pernikahan itu telah basi. Apa lagi yang harus mereka hidangkan untuk menyuguh tamu dan segenap undangan? Cik Wan memberitahukan masalah itu pada suaminya. Maka sarannya, “Sebaiknya kita masak lagi untuk suguhan para tamu dan undangan.”

Asal mula Selat Nasi Kepulauan Riau (https://youtube.com)

Datuk Kaya yang sangat marah itu langsung menolak saran Istrinya. “Tidak!” tegas jawabnya. “Makanan yang telah kita buat itu pantas disantap mereka yang mengingkari janji!.”

Cik Wan masih mencoba menyabarkan Datuk Kaya. “Kurasa,” katanya, “mereka tidak sengaja mengingkari janji. Pasti ada sesuatu yang menghadang perjalanan mereka. Hadangan itu yang membuat mereka tidak dapat datang pada tanggal sepuluh.”

Datuk Kaya tidak mau tahu. Ia tetap marah.

Benar ternyata dugaan Cik Wan. Perjalanan rombongan kerajaan Palembang itu dihadang badai. Kapal tidak mungkin melanjutkan perjalanan dengan menerjang badai yang mengganas. Nakhoda kapal lalu mengarahkan kapal menuju pulau untuk berlindung. Mereka baru melanjutkan perjalanan setelah badai mereda. Akibatnya, mereka terlambat tiga hari dari waktu yang telah sebelumnya mereka sepakati.

Cik Wan akhirnya mengetahui penyebab keterlambatan rombongan pengantin dari Kerajaan Palembang itu. Ia kembali menyabarkan suaminya dan menyarankan agar mereka kembali memasak untuk menyuguh tamu.

“Tidak!” seru Datuk Kaya. “Tamu tak tahu diri itu biarlah memakan makanan basi itu!”

Cik Wan terus berusaha menyabarkan suaminya, namun Datuk Kaya tetap bersikeras dengan keputusannya. Kemarahan Cik Wan akhirnya tersulut. Katanya, “Jika Abang tetap bersikeras, jatuhkan talak satu padaku!”

Datuk Kaya murka. Ia tidak hanya menjatuhkan talak satu, melainkan talak tiga pada Cik Wan!

Datuk Kaya mengambil nasi basi dan menghambur-hamburkannya di tanah. Hamburan nasi basi itu memanjang hingga menyerupai bentuk sebuah selat. “Ingat!” seru Datuk Kaya. “Kita bercerai sebatas nasi basi ini!”

Mendadak laut bergolak dan badai datang menderu-deru. Badai menerjang Pulau Subi hingga pulau itu terbelah menjadi dua. Batas belahan itu tepat seperti hamburan nasi basi. Satu belahan kecil adalah bagian Cik Wan, sementara belahan besar milik Datuk Kaya. Adapun selat pembelah itu di kemudian hari dinamakan Selat Nasi.

Pesan Moral

Kemarahan dan Ketidaksabaran hanya akan mendatangkan musibah dan penyesalan di kemudian hari.

Sumber: dongengceritaanak

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.