Prosesi Pernikahan Adat Belitung Bangka Belitung

Kedua mempelai bersanding sesuai pernikahan adat Belitung (https://www.indonesiakaya.com)

Pernikahan merupakan salah satu fase penting dalam kehidupan manusia. Karenanya, terdapat prosesi khusus yang dilakukan dalam menyambut fase ini. Di Indonesia, setiap daerah memiliki proses khusus dalam penyelenggaraan pernikahan. Di dalamnya, terdapat nilai-nilai yang sakral dan unik.

Adapun langkah-langkah yang akan dilaksanakan prosesi pernikahan adat Belitung sebagai berikut:

A. Neresik

Neresik disebut juga meresik atau Beresik  merupakan upaya orang tua mencarikan jodoh bagi anaknya, biasanya mereka akan berusaha mencari tahu apakah ada seseorang yang memiliki anak dayang atau bujang, hal ini disebut dengan Neresik, yang juga boleh diartikan upaya orang bujang atau dayang untuk menjajaki apakah bujang atau dayang sudah dipinang atau belum untuk mencari tahu latar belakang dirinya dan keluarganya.

B. Mutus Paham

Setelah keluarga bujang dan dayang saling mengenal, serta masing-masing orang tua semakin mantap akan calon menantunya maka adat perkawinan dilanjutkan dengan Mutus Paham, yang merupakan upacara Meminang. Pada upacara Mutus Paham Pihak orang tua calon mempelai perempuan, mengunjungi rumah calon mempelai laki-laki. Mereka akan bermusyawarah menentukan hari/tanggal akad nikah (Ijab Kabul), hari dan tanggal yang baik pelaksanaan begawai. Di masa lalu mutus paham dilaksanakan pada malam hari, dan kini biasanya pada pada pagi, siang atau sore hari.

Dalam mutus paham utusan membawa Tipak  dan Jajak Gede kue  sebagai simbol pelamaran, berupa berupa Bolu Panggang atau Bolu kukus. dan juga kue ketan sebagai simbol keakraban. Dalam tradisi meminang biasanya juga dilengkapi dengan membawa Gunong Sire, Gunong Pinang dan Gunong Kapor.

Dalam Mutus Paham menandakan bahwa dalam Adat Perkawinan Melayu Belitong, yang melamar adalah perempuan. Jika Jajak Gede diterima oleh keluarga laki-laki dan ia memberikan sesuatu (biasanya bahan kain) kepada keluarga perempuan sebagai balasannya hal ini berarti lamaran dayang tersebut diterima. Namun, jika Jajak Gede, dikembalikan oleh keluarga Laki-laki berarti pihak keluarga tidak setuju akan lamaran tersebut.

C. Pembentukan Panitia Gawai/Malam kumpulan

Seminggu sebelum hari pelaksanaan perkawinan, di rumah calon mempelai perempuan dibentuk panitia gawai untuk menyelenggarakan upacara perkawinan tersebut, yang terdiri dari :

  1. Penghulu Gawai
  2. Wakil penghulu gawai
  3. Mak Panggong/pesira,
  4. Mak Inang/Tukang Cuntok
  5. Tukang Tanak Nasik,
  6. Tukang Ngundang,
  7. Tukang Nerimak Tamu,
  8. Tukang Masak Aik,
  9. Tukang Perikse Sajian,
  10. Tukang Angkat Sajian
  11. Tukang Lepas Sajian,
  12. Tukang Nyuci Piring/tukang bebasun,
  13. Tukang Berebut Lawang,
  14. Tukang Jage Jajak,
  15. Tukang Ngantar Makanan pengantin,
  16. Tukang Ngarak (Grup Hadrah),
  17. Tukang Ngambelek pengantin.

Pada malam pembentukan panitia gawai, Penghulu Gawai juga mengumumkan susunan acara Gawai, biasanya seperti ini:

D. Selamat Gawai/ngiro gawai/Selamat Pajang

Pada hari kamis sebelum hari pelaksanaan Gawai (Resepsi Pernikahan), dilaksanakan Nyelamatek Gawai yang dipimpin oleh Dukun Kampong. Tujuan selamatan ini adalah untuk mengharap kemudahan dalam perhelatan yang akan digelar nantinya. Sebelum Selamat Gawai, semua perabotan untuk Gawai dikumpulkan di rumah yang akan begawai. Dalam upacara tersebut, pada siang kamis Dukun Kampong menaburkan kesalan yang dibuat dari campuran Daun Neruse dan Daun Ati-Ati, di dalam dan luar rumah.

Pada hari yang sama tersebut, Mak Inang menghias ranjang pengantin. Salah satu properti yang dipasang dengan adalah kelambu pada ranjang pengantin. Sebelum Mak Inang memasang kelambu,  Mak Inang terlebih dahulu membaca Shalawat sebanyak 3 kali.  Selain itu, Mak Inang juga menghias pelaminan dengan berbagai hiasan salah satunya dengan kain berwarna-warni yang dibentuk menyerupai Buah Butun, upacara menghias kamar dan pelaminan disebut Upacara Menggantong.

Dalam upacara Nyelamatek Gawai disediakan dulang khusus yang berisi 2 buah telur rebus yang diletakkan atau disembunyikan didalam Jengkarok (dibuat dari beras ketan), pisang, dan Berete,. Makanan ini kemudian dimakan bersama-sama oleh orang-orang yang masang kelambu. Khusus, untuk telur rebus, biasanya diperebutkan setelah doa bersama.

E. Betangas

Betangas adalah mandi dari uap dari berbagai bunga dan ramuan yang bertujuan untuk mengharumkan badan perempuan. Bahan yang digunakan adalah Kayu Manis, Cengkeh, Pala, Daun Pandan, Bunga Kenanga, dan juga bisa ditambahkan dengan Jeruk Purut. Dalam betangas, badan mempelai perempuan  kecuali wajah dan kepala ditutup dengan menggunakan tikar lais sehingga uap ramuan dan bunga akan maksimal diserap tubuh.

F. Upacara Mandi Kusul

Seminggu sebelum Gawai atau resepsi pernikahan digelar, maka calon pengantin perempuan melaksanakan upacara Mandi Kusul yang dipimpin oleh Mak Inang. Setelah upacara ini selesai, diharapkan seminggu sebelum hari pernikahan, bujang-dayang sudah tidak ada lagi mengadakan pertemuan dan masing-masing tentunya harus dapat menahan diri dalam menjelang saat yang bahagia.

Adapun bahan yang digunakan dalam Mandi Kusul  terbuat dari tepung beras dicampur dengan air dibuat bulat menyerupai kelereng tapi lebih besar. Kemudian dicampur dengan Kunyit dan Daun Telase.

G. Ngasah Gigi dan Ngandam Rambut

Gigi kedua calon mempelai gigi diasah menggunakan pecahan pasuk, tujuannya adalah untuk meratakan gigi yang dilaksanakan di rumah perempuan oleh Mak Inang.

Selain Ngasa Gigi  rambut calon mempelai perempuan akan diandam, yaitu membersihkan rambut halus di kening dengan cara dicukur dan merapikan buku halus disekitar alis dengan gunting oleh Mak Inang. Tujuan Ngandam Rambut adalah supaya wajah pengantin terlihat rapi dan cantik. Bahan dan Perlengkapan untuk Ngandam  atau Berandam, Gunting Kecil, Alat Cukur, Kesalahan  yang dituang ke dalam mangkuk.

H. Akad Nikah

Pelaksanaan Akad Nikah biasanya dilakukan pada hari yang sama dengan Gawai, juga dapat dilaksanakan pada hari yang berbeda. Hal ini disesuaikan dengan kesepakatan bersama antara keluarga calon mempelai laki-laki dan perempuan pada saat Mutus Paham. Tempat pelaksanaan prosesi akad Nikah disesuaikan dengan kesepakatan bersama, biasanya dilaksanakan dirumah perempuan atau Kantor KUA.

I. Masang Pacar Inai

Pacar Inai dibuat Daun Pacar yang ditumbuk dicampur dengan gamber, selang kuali dan nasik, biasa juga ditambah dengan asam. Dikenakan pada semua kuku kaki dan tangan kedua mempelai. Setelah menggunakan pacar maka kuku dan ujung jari akan terlihat kuning kemerah-merahan. Pemasangan pacar inai ini dilakukan satu atau dua malam sebelum hari perayaan.

J. Gawai Penganten (Munggah)

Jika pengantin perempuan belum khatam Al-Qur’an, maka akan dilaksanakan Khataman AL-Quran, juga biasa disebut Betamat Ngaji. Jika tidak ada khataman  di ganti dengan pembacaan Barzanzi atau Berjanji. Pada pembacaan barzanzi biasanya  disediakan air didalam wadah misalnya Teko untuk didoakan  kemudian ditambahkan kembang, untuk digunakan pada upacara Mandi besimbor.

Aik Asrokal atau Aik Serakal aik berkat dicampur dengan kembang 7 macam yang berbau wangi. digunakan untuk mandik besimbor, tujuannye  supaye penganten selalu wangi.

Gawai  di Kediaman Perempuan (Munggah)

Menurut Adat, perkawinan Melayu Belitung perayaan/pesta perkawinan dilaksanakan di rumah mempelai perempuan, dengan tata cara berikut :

1. Pihak keluarga mempelai perempuan melalui Penghulu Gawai menunjuk utusan untuk mengantar Seperanggun Pelampunan, dengan diarak dengan tabuhan hadrah Gendang Empat atau Hadrah Maindi . Selanjutnya utusan pulang membawa makanan untuk sarapan yang disebut Seperanggun Pelampunan.

2. Setelah dirasa cukup waktu Melampun bagi keluarga mempelai Laki-laki maka Penghulu Gawai mengutus pasangan suami istri atau laki-laki dengan perempuan lainnya yang disepakati secara syara’atau masih memiliki hubungan darah (Mahram) misalnya sepupu, dengan membawa Tipak Pengiring (Terbuat dari Tembaga, memiliki roda yang terbuat dari perak), Mak Inang membawa pakaian pengantin yang akan dipakai oleh Mempelai Laki-laki. Selanjutnya mereka melakukan serah terima keminangan dari perempuan kepada pihak mempelai laki-laki, dengan maksud dan tujuan untuk menyampaikan pesan dari pihak mempelai perempuan untuk menjemput anak menantu laki-laki beserta keluarga dan rombongan. Tipak Pengiring yang masing-masing berisi Gamber, Cengkeh, kelahan atau potongan kecil Pinang, Kapor (Kapur) dan daun sirih yang disisipkan diantara cupu yang berjumlah ganjil minimal 5, 7 dan 9. Sirih harus bertemu urat atau bertemu ujung (sama panjang), dan disusun secara telentang, hal ini melambangkan penerimaan dan penyerahan diri dari Mempelai Perempuan kepada suami lahir dan batin. Kemudian dicicipi paling tidak tidak sekelah (potongan kecil) pinang, sejuring (seketis) daun sirih.

Wakil atau utusan harus menyampaikan pesan yang dititipkan kepada mereka berdua dari orang tua mempelai perempuan kepada pihak orang tua pengantin laki-laki, antara lain:

  • Agar pengantin laki-laki dan keluarga dapat hadir/tiba di rumah gawai dengan jadwal yang telah ditentukan oleh panitia gawai
  • Agar mempersiapkan sejumlah uang untuk Berebut Lawang

3. Di rumah pengantin laki-laki, Mak inang bertugas menghias pengantin laki-laki. Setelah semuanya dalam keadaan siap, kemudian pengantin laki-laki didudukan di tempat yang agak tinggi menggunakan kursi.

Pengantin laki-laki diperkenankan membawa perlengkapan :

  • Tas berisi kelengkapan pakaian laki-laki ( untuk beranjuk selama lebih kurang 3 atau 7 hari).
  • Tipak dengan perlengkapan isinya juga Kantip,
  • Baki berisi uang hantaran (tidak ada ketentuan besaran jumlah uang)
  • Seperangkat Antaran yang berisi kelengkapan pakaian pengantin perempuan (sebagai Antaran yang tidak ada ketentuan pula).
  • Sejumlah uang untuk biaya rebut lawang yang diserahkan kepada Tukang Berebut Lawang dari pihak keluarga laki-laki.

4. Kemudian orang tua laki-laki atau yang diwakilkan mengunyah atau memutarmembalikkan daun sirih yang semula terlentang menjadi telungkup dan memutarbalikkan ujung dan pangkal sirih. Hal ini bermakna tercapainya kesepakatan di kedua belah pihak untuk anak mereka duduk bersanding di pelaminan.

5. Tuan rumah mempersilahkan pak lebai membaca do’a selamat untuk melepas keberangkatan pengantin laki-laki beserta rombongan. Selawat Nabi Muhammad SAW dielukan dan hadra di tabo. pengantin laki-laki di arak yang dinaungi Payong Lilin yang diiringi arak-arakan dan tabuhan hadera sampai ke rumah gawai (pengantin perempuan).

6. Selanjutnya Pengantin Laki-laki dan rombongan akan diarak, dengan iring-iringan hadrah kemudian disambut dengan Berebut Lawang, tetapi sebelum itu boleh juga di laksanakan atau di sambut dengan tarian selamat datang atau pencak silat, sekedar menambah kemeriahan gawai, dan boleh juga di tambah dengan lawakan,

Di halaman depan rumah, disebut Lawang Pertame belage Bebalas Pantun dengan Tukang Tanak Nasik. Ia menjunjung kerak nasi, membawa gelidau bersama pendamping yang juga Tukang Tanak nasik.  Di pintu rumah disebut Pintu Ke Dua, disambut dengan Penghulu Gawai atau Penghulu Balai kembali berebut Lawang. Di pintu kamar pengantin disebut Pintu Ke Tiga disambut berebut Lawang di Lawang Mak Inang.

Filofofi berebut lawang

Pintu Pertama: Bahwa Pengantin laki-laki harus siap memberi nafkah kepada istri dan anaknya nanti.

Pintu Ke Dua: Bahwa Pengantin laki-laki selain mampu memberi nafkah bagi keluarganya juga harus siap menjadi imam atau pemimpin yang baik bagi istri dan anaknya nanti, yang mampu memimpin menjadi keluarga yang Sakinah Mawaddah Warrahmah.

Pintu Ke Tiga: Bahwa selain mampu memberi nafkah kepada anak istri, serta menjadi pemimpin rumah tangga yang baik, juga harus mampu merias istri dan anak-anaknya salahsatu caranya dengan pakaian yang layak.

7. Setelah rebut lawang selesai /telah dilunasi, Mak Inang mempersilahkan pengantin laki-laki mendampingi pengantin perempuan untuk duduk bersanding di pelaminan berupa menggunakan kasur. Kemudian penghulu gawai memulai kegiatan dengan : ucapan terimah kasih………

8. Utusan (bapak / ibu pengantin perempuan ) di persilahkan melapor kepada tuan rumah.

9. Utusan (bapak/ibu pengantin Laki-laki selaku pimpinan rombongan) di persilahkan menyampaikan maksud dan tujuannya kepada tuan rumah / orang tua pengantin perempuan dengan cara :

Tipak Engsane atau Tipak yang bertutup (https://www.indonesiakaya.com)

  • Menyerahkan Tipak Engsane (Tipak yang bertutup) diikuti dengan kalimat-kalimat boleh juga dengan pantun, yang isinya bahwa menantu beserta keluarganya telah hadir di rumah gawai.
  • Selain tipak juga diserahkan seperangkat hantaran yang merupakan pemberian dari Suami kepada istri, berupa baki berisi duit, ada kalanya juga berisi perhiasan dan seperangkat bingkisan berisi kelengkapan pengantin perempuan.
  • Tuan rumah/orang tua pengantin perempuan menerima Tipak beserta isinya.
  • Isi Tipak diperiksa satu persatu, sire di putar letaknya dan ujung daun sire dipotong sedikit dan dikunyah, rokok/korek apinya di keluarkan dan dipersilahkan untuk dinikmati oleh rombongan.

Membuka Tipak dan melihat isinya (https://www.indonesiakaya.com)

  • Tipak kemudian ditutup kembali sehingga rapi, sedangkan baki yang tertutup rapi, tuan rumah mohon bantuan pemangku adat melaksanakan tugasnya yang telah dipercayakan padanya.
  • Setelah pemangku adat memeriksa isi baki dan sekaligus menghitungnya, berikut seluruh bingkisan, beliau menyerahkan kembali kepada tuan rumah dan harapan tuan rumah (orang tua mempelai perempuan) untuk menanyakan kepada utusan pihak pengantin laki-laki : Untuk ape segala isi baki dan bingkisan-bingkisan di maksud, apakah sekedar nggariek, minjamek atau kiape ; kerene dak ade dalam perjanjian dan duit mas kawin la di bayar tunai. Pihak utusan pengantin laki-laki kemudian menjawab pertanyaan tersebut dengan duit, bingkisan dan segale galenya itu ukan nggariek, ukan juak minjamek , tapi base kerajin-rajinan mendapat menantu.

Pemangku adat memeriksa isi baki dan sekaligus menghitungnya (https://www.indonesiakaya.com)

10. Kedua mempelai berdiri menghadap tokoh adat atau tokoh agama seperti Lebai yang membacakan doa selamat.

11. Kedua mempelai nyembah yaitu bersalaman kepada ke dua orang tua masing-masing dan bergantian, juga nyembah sanak saudara dan tamu undangan.

12. Ke dua mempelai disandingkan kembali di pelaminan atau Puade dan Jamaah menikmati hidangan. Selepas itu, jamaah juga disuguhkan dengan kue-kue kecil yang disajikan di dalam dulang yang berisi, Bolu, Rintak, Kue Satu, Semperet, Tangge-tangge dan Dudul Maskat.

13. Setelah makan selesai dulang diangkat oleh Tukang Angkat Sajian Lepas Sajian, maka penghulu gawai mempersilahkan kepada kedua orang tua mempelai untuk titip menitip anak menantu, dengan cara bersamalaman. Bapak atau wali mempelai laki-laki menyampaikan kalimat kepada bapak atau wali perempuan, begitula ibu atau wali perempuan menitip cakap untuk menitip anak dan juga disambut oleh ibu atau wali ibu, sambil bersalaman

San (besan), Anak Aku jangan dibuat Menantu. Kalok debuat Menantu kalok be jadi antu, tapi buatlah anak aku menjadi anak kalok menjadi  anak dapat di sanak (di ajar) Dan disambut oleh bapak atau wali perempuan “Insya Allah, San (besan) ape yang bisan titip ape yang bisan sampaikan kite ajarek same”.

14. Kemudian sholawat dibacakan oleh Nuje sebagai pertanda bahwa rangkaian acara sudah selesai.

15. Setelah itu penghulu gawai, mengucapkan bermadah kembali, dengan beberapa pantun:

Kalok Ade Selembar Kain
Idang Ngembalut Bua Kuini
Kalok Gik Ade Keperluan lain
Sedare-sedare dapat meninggalkan ruangan ini.

Kalok ade selembar tikar,
Unjor-unjor buah kuini,
Tapi amun agik nak kelakar,
Tuan Ruma agik siap melayani.

Kemudian Kembang Teluk  dibagi-bagikan kepada seluruh jamaah termasuk keluarga, baik kepada anak-  yang dilakukan oleh tuan rumah dan boleh dibantu oleh mempelai perempuan. Setelah itu undangan diperkenankan meninggalkan tempat acara.

J. Bejamu

Jamu-jamuan adalah rangkaian kegiatan siraturrahmi keluarga yang dilaksanakan pada waktu malam hari. Undangan yang hadir dalam acara Bejamu tersebut adalah orang tua keluarga terdekat kedua belah pihak pengantin. Tujuan Bejamu adalah mengharap dan doa restu dari keluarga. Untuk menghibur pengantin yangsedang duduk bersanding pada saat resepsi perkawinan berlangsung boleh dengan hiburan tradisional seperti campak, beripat/beregong.

K. Mandi Besimbor

Upacara Mandi Besimbor adalah upacara mandi bersama yang dilakukan oleh pasangan pengantin yang dipimpin oleh Mak Inang. Namun,  orang tua dari kedua belah mempelai dan sesepuh adat biasanya turut memandikan.  Tujuan Mandi Besimbor adalah memberikan do’a restu dan harapan semoga dikaruniai anak yang sholeh dan sholehah serta usia pernikahan sampai akhir hayatnya. Jadwal kegiatan mandi besimbor setelah dilaksanakan upacara resepsi perkawinan, yaitu sore hari itu juga atau esok pagi.

L. Silaturrahmi Kepada Keluarga Perempuan (Penganten Ngadap)

Silaturrahmi yang dimaksud adalah orang tua perempuan ngulukan  mengajak anak menantunnya yang masih baru saja menempuh hidup baru ke rumah keluarga terdekat, yaitu ke rumah Mak Long/Pak Long, Pak Cik/Mak Cik, Pak Nga/Mak Nga, Pak Anjang/Mak Anjang, Pak Ute/Mak Ute, Pak Busu/Mak Busu. Tujuannya adalah untuk memberitahukan serta memberi tahu hubungan keluarga terdekat (susunan silsilah). Biasanya di setiap rumah keluargan pasangan pengantin akan dielu-elukan dan diberkahi dengan do’a restu. Upacara silaturrahmi ini dilaksanakan ketika pasangan masih berada di kediaman perempuan belum beranjuk ke rumah keluarga laki-laki. Acara ini biasanya dilaksanakan selama lebih kurang 3 sampai 7 hari.

M. Gawai Penganten Beranjuk

Setelah tiga atau tujuh hari setelah kegiatan gawai pengantin di rumah orang tua pengantin perempuan, sepasang pengantin tersebut akan dibawa beranjuk ke rumah orang laki-laki.  Biasanya hari atau tanggal pelaksanaannya sudah disampaikan oleh wakil atau utusan keluarga laki-laki pada hari gawai di rumah perempuan sebelum gawai tersebut selesai dan sebelum utusan atau rombongan pengantin laki-laki kembali ke rumahnya masing-masing. Wali atau utusan orang tua laki-laki menyampaikan amanat orang tua pengantin laki-laki bahwa setelah 3 atau 7 hari ke depan pasangan pengantin (anak dan menantu) akan dijemput untuk melaksanakan kegiatan Gawai Beranjuk atau pengantin Beranjuk.

Tata Cara Gawai Penganten Beranjuk

  1. Orang tua pengantin laki-laki sebagai tuan rumah gawai, pada hari yang telah ditentukan mengirimkan utusan pasangan laki-laki dan perempuan beserta rombongan termasuk Mak Inang diarak menuju rumah pengantin laki-laki.
  2. Utusan sampai ke rumah bisan (orang tua pengantin perempuan), bisan (besan) dipersilahkan masuk oleh orang tua pengantin perempuan, tamu/utusan menguraikan maksud dan tujuan kedatangannya, yaitu untuk menjemput anak, menantu beserta seluruh keluarga untuk dapat hadir di rumah bisan atau pihak pengantin laki-laki.
  3. Dalam pembicaraan utusan (bapak/Ibu pengantin lai-laki) memulai dengan menyerahkan Tipak sebagai pembuka kata. Pembicaraan berlangsung secara penuh keakraban dan persaudaraan yang mendalam. Kemudian Tipak diterima dan dibuka untuk diterima isinya.
  4. Setelah kedua belah pihak (utusan dan orang tua pengantin perempuan) sepakat dan menerima dengan baik, pasangan pengantin yang siap berpakaian pengantin duduk bersama-sama jemaah lainnya untuk berdo’a demi keselamatan sepasang pengantin yang dipimpin oleh pemangku adat setempat.
  5. Setelah do’a selesai dibaca dan hidangan sekedarnya dipersilahkan untuk dinikmati bersama-sama.
  6. Selesai makan, ruangan dibersihkan dulangpun diangkat, pasangan pengantin duduk sungkem menghadap orang tua dan mertua mohon pamit dan doa restu orang tua dan mertua selamat diperjalanan hingga sampai di rumah gawai beranjuk.
  7. Pasangan Pengantin, serta kedua orang orang tua mempelai perempuan menuju kediaman laki-laki dengan diiringi dengan Hadrah. Keluarga dekat dan handai taulan terdekat ikut mengantar pengantin beranjuk. Pihak utusan (Bapak/Ibu pengantin dan Pak Long/ Mak Long, dsb) dalam tugas mengantar pengantin beranjuk, mereka juga harus membawa Tipak sebagai pembuka kata dan sekapur sire, kue pengantin dan koper-koper berisi pakaian dan perlengkapan pasangan pengantin, diiringi do’a dan selawat.
  8. Setelah kedua belah pihak (utusan dan orang tua pengantin perempuan) sepakat dan menerima dengan baik, pasangan pengantin yang siap berpakaian pengantin duduk bersama-sama jemaah lainnya untuk berdo’a demi keselamatan sepasang pengantin yang dipimpin oleh pemangku adat setempat.
  9. Setelah do’a selesai dibaca dan hidangan sekedarnya dipersilahkan untuk dinikmati bersama-sama. Selesai makan, ruangan dibersihkan, pasangan pengantin duduk sungkem menghadap orang tua dan mertua mohon pamit dan doa restu orang tua dan mertua selamat diperjalanan hingga sampai di rumah gawai beranjuk.
  10. Pasangan Pengantin, serta kedua orang orang tua mempeleai perempuan menuju kediaman laki-laki dengan diringi dengan Hadrah. Keluarga dekat dan handai taulan terdekat ikut mengantar pengantin beranjuk. Pihak utusan (Bapak/Ibu pengantin dan Pak Long/ Mak Long, dsb) dalam tugas mengantar pengantin beranjuk, mereka juga harus membawa Tipak sebagai pembuka kata dan sekapur sire, kue pengantin dan koper-koper berisi pakaian dan perlengkapan pasangan pengantin, diiringi do’a dan selawat.
  11. Setibanya di kediaman laki-laki rombongan diterima dengan penuh kegembiraan dan dielu-elu oleh panitia gawai beserta orang tua pengantin laki-laki. Rombongan pengantin beranjuk dipersilahkan duduk ditempat yang telah dipersiapkan,
  12. Pengantin disandingkan oleh Mak Inang dipelaminan,
  13. Penghulu gawai mempersilahkan utusan yang ditugaskan untuk menjemput sepasang pengantin beserta keluarganya melaporkan kepada tuan rumah bahwa anak dan menantu beserta keluaga sudah dijemput dan telah hadir di rumah Gawai pengantin beranjuk dalam keadaan sehat wal’afiat,
  14. Berikutnya penghulu gawai mempersilahkan pimpinan rombongan pengantin beranjuk untuk menyampaikan maksud kedatangannya berupa serah terima dengan menyerahkan dengan Tipak sebagai pembuka,
  15. Setelah serah terima selesai dilaksanakan, Penghulu gawai mempersilahkan Mak Inang untuk nguluan pengaten yang sedang bersanding agar dibawa ke ruang tamu untuk sungkeman kepada kedua orang tua untuk mendapatkan do’a restu.
  16. Penghulu Gawai meminta seluruh hadirin berdiri dan kemudian meminta tokoh adat (Lebai) untuk memimpin doa yang ditujukan kepada sepasang pengantin agar dalam mengarungi kehidupan berumah tangga yang baru akan diberikan tuntunan taufik hidayah oleh Allah SWT, kesejahteraan, bahagia, hidup rukun dan damai, dikaruniai keturunan yang sholeh dan sholeha.
  17. Kemudian pengantin diiringi oleh Mak Inang untuk bersalaman dengan orang tua, keluarga dan undangan untuk mengharap doa restu dari mereka.
  18. Setelah pemberian do’a restu selesai, penghulu gawai memberikan tanda atau kode kepada panitia agar segera menghidangkan makanan tengah hari. Hidangan disajikan di dalam dan di luar rumah. Selanjutnya penghulu gawai mempersilahkan para jemaah untuk menikmati makan siang berarti Gawai Pengantin Beranjuk selesai dan penghulu gawai menutup dengan selawat nabi.
  19. Setelah makan siang, acara dilanjutkan dengan penyampaian pesan. Utusan yang mewakili orang tua pengantin laki-laki bersilaturrahmi kepada orang tua pengantin perempuan untuk menyampaikan pesan orang tua perempuan, yang berisi tentang segala kekurangannya di pihak anaknya yang masih muda belia dan masih banyak membutuhkan bimbingan dan tuntunan dari pihak orang tua pengantin laki-laki. Hal ini kemudian dijawab oleh pihak laki-laki, yang juga mengutarakan segala kekurangan pula atas putera yang masih muda dan masih banyak membutuhkan bimbingan dan tuntunan pula sekaligus mohon kehadiran kedua besannya beserta keluarganya pada upacara jamu-jamuan.

N. Jamu-jamuan Gawai pengantin Beranjuk

Jamu-jamuan yang dilaksanakan pada Gawai pengantin Beranjuk sama metodenya seperti jamu-jamuan di rumah pengantin perempuan. Rombongan besan (keluarga perempuan) juga diharapkan hadir.

O. Mulang/Mulangek Runut

Setelah 3 atau 7 hari pengantin Beranjuk di rumah pengantin laki-laki akan dilaksanakan Ngulange’ Runut. Namun, sebelumnya orang tua pengantin laki-laki ngulukan anak/menantunya gi nganju’an  atau membawa ke rumah keluarga terdekat (Pak Long/Mak Long, dsb). Untuk memperkenalkan secara dekat dan mengetahui silsilah keturunan keluarga laki-laki.

Kata Ngulangek Runut, yaitu Ngulange’ berarti nulate (mengulangi ???)  sedangkan kata Runut berarti mengembaklikan. Dengan demikian terminologi Ngulangek Runut adalah mengembalikan sepasang pengantin baru  yang telah melaksanakan kegiatan beranjuk ke rumah orang tua laki ke rumah orang tua pengantin perempuan. Nulange Runut tidak perlu diwakilkan atau diutus kepada kepada orang lain, tapi cukup sepasang pengantin baru diantar oleh orang tua pihak laki-laki ke rumah besannya (orang tua perempuan) tanpa ada pengiringnya dan tidak pula memakai rebana/hadera.

Acara Mulangek Runut dilaksanakan berupa silaturrahmi antara besan, masing-masing berpesan untuk menitipkan anaknya agar tidak dibuat menantu namun dianggap sebagai anak kandung sendiri. Hal tersebut dimaksudkan mungkin atau pasti akan terjadi anak-anak mereka sewaktu-waktu berada (misalnya untuk menginap) di rumah orang tua perempuan dan sewaktu-waktu berada di rumah orang tua laki-laki. Dalam keberadaan mereka tersebut mungkin akan terjadi kekeliruan atau kekhilafan yang baru saja menjalani hidup baru, maka pihak mertua secara ikhlas tanpa menyindir agar secara langsung dan terbuka menasehatinya dengan penuh kasih sayang dan pengayoman yang sifatnya mendidik tanpa pilih kasih antara keduanya.

Setelah Ngulangek Runut dianggap bahwa sepasang pengantin baru tersebut sudah memulai kehidupan dalam suasana suami istri (satu keluarga kecil). Diharapkan sepasang pengantin baru paling lambat selama 3 (tiga) bulan sudah berumah tangga sendiri (misa/berpisah) di rumah sendiri pula.

Sumber: budayabeltim

One thought on “Prosesi Pernikahan Adat Belitung Bangka Belitung

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.