Aksesories Busana Nusantara

Bros

Indonesia memiliki beberapa ragam aksesori busana seperti bros, pending, sabuk,dan pendok. Bahkan keris dan kujang, yang di masa lalu merupakan senjata untuk membunuh musuh, kini menjadi perhiasan pelengkap busana tradisional pria yang bertatahkan emas permata.

Bros

Bros dapat berfungsi sebagai peniti sekaligus hiasan yang memperindah busana wanita dan pria. Kebaya, baju kurung, baju bodo dengan kain tenun akan lebih serasi bila dihias bros dengan desain etnik terbuat dari perak atau logam kuning. Bros dari plastik yang fancy akan lebih cocok dikenakan untuk busana kasual.

Bros disematkan di bagian dada pada kebaya Kartini dan kuthu baru. Bros juga dapat berfungsi menjaga selendang agar tidak turun dengan menyematkannya di dekat bahu. Pria yang mengenakan beskap hitam mengenakan bros pada dadanya.

Pada zaman kerajaan ratusan tahun yang lalu bros dibuat dari emas, perak, dan dihias dengan ukiran serta berlian dan batu-batu permata. Kerongsang adalah sejenis bros tradisional untuk mengancingkan kebaya.

Bros pertama kali dikenakan oleh bangsa Eropa pada zaman Perunggu. Dalam perkembangannya desain bros menjadi semakin artistik. Bros tampil dalam warna-warna cerah dihias berlian, permata warna-warni, dan kristal dengan desain yang rumit. Perhiasan ini sangat digemari kaum perempuan dan banyak diperjual belikan.

Bros menjadi popular selama beberapa abad. Desain bros menjadi lebih detil dan penuh dengan simbol yang memiliki makna tertentu di kalangan elit. Perajin dan desainer menggunakan logam mulia emas dan perak untuk membuat bros. Kadang-kadang ukiran dari gading atau mutiara juga menjadi dekorasi pada bros. Bukan hanya sebagai aksesori, bros menjadi lambang status sosial seseorang.

Sabuk dan Pending

 

Sabuk (Ikat Pinggang)

Sabuk dikenakan pada pinggang untuk menjaga kain atau celana agar tidak melorot. Untuk busana tradisional wanita biasanya sabuk wanita dibuat dari emas, perak atau logam kuningan yang disebut pending. Pending ditatah dengan ukiran-ukiran yang sangat indah.

Pending

Sejak Zaman Perunggu sabuk sudah dikenakan pria dan wanita. Sabuk dihias ukiran atau pernikpernik terutama pada bagian gespernya. Untuk busana modern, sabuk dilengkapi dengan belt loop yang berfungsi menyelipkan ujung sabuk agar sebagian sabuk tidak menjuntai. Gesper sabuk pria ada yang modelnya sederhana tapi ada juga yang berupa kepala harimau, banteng, singa, burung elang atau ular.

Keris

Keris

Keris Indonesia telah terdaftar di UNESCO sejak 2005 sebagai Warisan Budaya Dunia Non-Bendawi Manusia. Keris umumnya memiliki luk, bagian yang lekuk-lekuk. Jumlah luk memberi makna tersendiri dalam budaya Jawa. Pria Jawa umumnya menyematkan kerisnya di bagian belakang. Namun jika akan berperang atau berperang tanding, keris biasa diselipkan di depan. Tapi sekarang keris tidak lagi dipakai untuk duel dan hanya dikenakan sebagai pelengkap busanatradisional.

Keris yang dibuat pada era modern tidak memiliki ‘ruh’. Sedangkan keris pada zaman dulu dibuat oleh pandai besi yang bertirakat, berdoa dan berpuasa terlebih dahulu sebelum menempa besi yang dicampur pamor. Keris-keris yang dihasilkan menjadi keris bertuah. Tak jarang pula keris direndam dalam larutan warangan, racun yang dapat membunuh lawan dalam sekejap.

Berbagai legenda dari periode Demak-Mataram mengenal beberapa keris yang terkenal, misalnya keris Nagasasra Sabukinten. Keris juga menjadi simbol kebesaran para pemimpin Sumatera, khususnya Kesultanan Aceh. Sarung (pendok) dan hulu kerisnya dihias batu permata. Keris pusaka sering disimpan sebagai benda koleksi atau diwariskan turun temurun. Pada harihari berdasarkan penanggalan Jawa, keris dibersihkan dengan air bunga mawar dan melati.

Di daerah Jawa dan Sunda keris ditempatkan di pinggang bagian belakang pada masa damai, tetapi pada masa perang akan diubah posisinya menjadi di depan. Penempatan keris di depan dapat diartikan sebagai kesediaan untuk bertarung. Di Sumatra, Kalimantan, Malaysia, Brunei, dan Filipina keris ditempatkan di depan dalam upacara-upacara kebesaran.

Penggunaan keris tersebar di wilayah yang pernah terpengaruh oleh Majapahit, seperti Jawa, Madura, Nusa Tenggara, Sumatera, pesisir Kalimantan, sebagian Sulawesi, Semenanjung Malaya, Thailand Selatan, dan Filipina Selatan (Mindanao). Keris di setiap daerah memiliki kekhasan sendiri dalam penampilan, fungsi, teknik garapan, serta penamaannya. Pada masa kini keris juga masih menjadi bagian dari syarat sesajian dan digunakan dalam ritual mistik atau paranormal. Sejak abad ke-19 dan seterusnya senjata api modern menggantikan fungsi keris sebagai senjata. Pada masa kini kalangan perkerisan Jawa selalu melihat keris sebagai tosanaji atau ‘logam yang luhur’, bukan sebagai senjata.

Warangka Keris (Pendok)

Keris

Warangka atau sarung keris dibuat dari kayu jati, cendana, timoho, atau kemuning. Secara garis besar terdapat dua bentuk warangka, yaitu warangka ladrang yang terdiri dari bagianbagian: angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar, ri serta cangkring. Sementara jenis wrangka gayaman (gandon) hampir sama bagian-bagiannya seperti wrangka ladrang, tetapi tidak terdapat angkup, godong, dan gandek.

Wrangka ladrang dipakai untuk upacara resmi, seperti menghadap raja, penobatan, pengangkatan pejabat kerajaan, perkawinan, dan lain-lain. Ini merupakan ekspresi penghormatan. Gandar keris dimasukkan di pinggang belakang, diselipkan di lipatan sabuk (setagen) agar tidak mengancam keselamatan raja.

Sedangkan wrangka gayaman dipakai untuk sehari-hari, diselipkan di depan atau di pinggang belakang. Dalam peperangan yang digunakan adalah keris wrangka gayaman, karena bentuknya lebih sederhana yang memungkinkan pemakainya lebih cepat dan mudah bergerak.

Gandar atau antupan adalah pembungkus bilah keris yang biasanya dibuat dari kayu. Gandar hanya digunakan untuk membungkus sehingga keindahannya tidak diutamakan. Untuk memperindahnya dilapisi selongsong-silinder yang disebut pendok. Bagian pendok (lapisan selongsong) inilah yang biasanya diukir sangat indah, dibuat dari logam kuningan, suasa (campuran tembaga emas), perak, atau emas dan bertatah tretes atau berlian.

Di kalangan raja-raja Bugis, Goa, Palembang, Riau, Bali, pendoknya dibuat dari emas, disertai dengan tambahan hiasan seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang bertaburkan intan dan berlian. Bila dilihat dari hiasannya, pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos (tanpa ukiran).

Sumber: Majalah Dekranas Kriya Indonesia Craft, Edisi 37 Agustus 2017 (E-book)

Follow me!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.