Museum Perjuangan Rakyat Jambi

Museum Perjuangan Rakyat Jambi

Museum Perjuangan Rakyat Jambi terletak di antara Jl. Sultan Agung dan Jl. Slamet Riyadi atau sebelah selatan Mesjid Agung Jambi. Pendirian museum atas prakarsa dari Dewan Harian Daerah Angkatan ’45 (DHD-’45) bersama Pemerintah Daerah Provinsi Jambi sebagai wujud dari pentingnya bangunan sebagai monumen dalam mengenang Sejarah Perjuangan Rakyat Jambi semasa pergerakan nasional dan kemerdekaan Indonesia.

Koleksi dan Diorama

Koleksi museum sebagian besar merupakan benda-benda yang terkait dengan tinggalan masa perjuangan rakyat Jambi. Benda-benda tersebut dipamerkan di dalam dan diluar gedung. Pada lantai pertama terbagi dalam dua ruang pamer.

Replika Pesawat Terbang Catalina RI 005

Salah satu koleksi bersejarah adalah replika Pesawat Terbang Catalina RI 005 yang dipajang di halaman museum. Awalnya Catalina disewa oleh Dewan Pertahanan Daerah Jambi dari seorang mantan penerbang RAAF (Royal Australian Air Force) bernama Kobley, untuk kepentingan perjuangan mempertahankan dan melindungi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tugasnya adalah membawa senjata, makanan, pakaian, dan perlengkapan militer atau petugas militer dan sipil yang menghubungkan antara Kota Jambi, Bukit Tinggi, Prapat, Banda Aceh, Tanjung Karang, Jogjakarta dan Singapura. Pesawat Catalina RI 005 dalam penerbangannya mengalami kecelakaan dan jatuh di Sungai Batanghari dekat Desa Sijinjang pada tanggal 29 Desember 1948. Pada kecelakaan itu, Cobley dan Jon Londa dinyatakan meninggal dunia. Sementara Prangko yang menjabat sebagai Kepala Tata Usaha Markas Pertahanan Surabaya dengan pangkat Sersan Mayor AURI selamat usai melompat ke sungai dari pintu belakang pesawat.

Ralph Richard Cobley, Soldier of Fortune

Pada sisi kanan berupa koleksi persenjataan modern semasa perang melawan Penjajah Belanda di Jambi. Persenjataan tersebut dipergunakan pada perang kemerdekaan tahun 1945-1950, seperti senapan, pistol vickers, senjata mesin ringan, dan senjata lain. Termasuk jenis persenjataan modern yang unik adalah senjata rakitan tangan atau kecepek yang dipergunakan oleh Kompi II Batalyon Cindur Mato pada tahun 1948. Ada juga senjata seperti pistol dan senapan rampasan dari Pasukan Belanda.

Pada sisi kiri pengunjung, dapat dilihat peralatan senjata tradisional seperti keris, pedang, badik, tombak, pakaian perang, ikat kepala, alat komunikasi dan perlengkapan perang bersifat religius yang dipergunakan melawan pasukan kolonial. Diantaranya yang dipakai oleh Khatib Mat Suruh dari Kerinci dan laskar Barisan Selempang Merah dari Tanjung Jabung.

Peralatan senjata tradisional (https://www.tribunnews.com)

Pada lantai dua disajikan diorama Sejarah Perjuangan Rakyat Jambi dalam mempertahankan kemerdekaan, terbagi dalam 17 diorama. Setiap diorama melukiskan peristiwa bersejarah yang terjadi di Jambi, mulai dari kemerdekaan nasional hingga usaha Belanda untuk menolak kemerdekaan dan hendak mengambil alih kembali wilayah Indonesia. Peristiswa bersejarah yang ditampilkan dalam diorama antara lain, Pertempuran Tanah Minyak. Realisasi Perjanjian Linggarjati oleh Komisi Tiga Negara terhadap Jambi yang diprakarsai PBB, Peranan Pesawat Udara Catalina RI 005, dan diorama lainnya.

Diorama Pertempuran di Tanah Minyak

Pada lantai tiga terdapat koleksi meja kerja yang dipergunakan oleh salah seorang pejuang kemerdekaan. Terdapat pula berbagai dokumen tertulis seperti naskah-naskah perjuangan, surat-surat penting STD/TNI dan BKRD, serta foto-foto mantan gubernur, walikota dan bupati di seluruh wilayah Provinsi Jambi.

Museum Perjuangan Rakyat Jambi
Jl. Sultan Agung No 12, Kota Jambi
Telp.: 0741-7552802
Buka : Senin – Kamis: 08.00-15.30, Jumat: 08.00-11.00, Sabtu dan Minggu: 09.00-13.00 dan Hari Libur Nasional: Tutup
Tiket : Rp 2.000,- dan Rp 1.500,-
Website: https://museumperjuanganrakyatjambi.blogspot.com

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.