Museum Mini Linggam Cahaya Lingga Kepulauan Riau

Museum Mini Linggam Cahaya

Museum Mini Linggam Cahaya terletak di Komplek Istana Damnah, Jalan Raja Muhammad Yusuf, Kelurahan Daik Lingga, Kecamatan Lingga, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Museum ini didirikan atas adanya sebuah ide dari salah satu tokoh masyarakat Kabupaten Lingga yang memberikan pernyataan bahwa masyarakat-masyarakat di sekitar Kabupaten Lingga ini banyak sekali yang menyimpan berbagai benda-benda bersejarah khas tanah Melayu.

Museum Mini Linggam Cahaya (https://hangtuahnews.co.id)

Museum Mini Linggam Cahaya ini mulai dibangun pada tahun 2002 dan menelan biaya sekitar Rp. 412.000.000.000 untuk pembangunannya. Pembangunannya sendiri memakan waktu beberapa bulan. Pada tahun 2003, Museum Mini Linggam Cahaya ini diresmikan oleh Pemerintah setempat dan mulai dibuka untuk umum. Wisatawan pun berdatangan dari berbagai penjuru, ada yang berasal dari daerah Sumatera, Jawa, Kalimantan hingga wisatawan yang berasal dari luar negeri.

Koleksi

Beragam keramik dari beberapa dinasti Cina

Benda-benda tersebut dikumpulkan oleh generasi mereka sebelumnya yang juga pernah hidup pada masa kerajaan Melayu Riau Lingga. Selanjutnya benda-benda bersejarah tersebut diwariskan secara turun temurun kepada generasi-generasi mereka selanjutnya untuk dijaga dan dilestarikan agar kelak generasi-generasi mereka akan mengetahui bahwa kawasan Daik, Lingga ini dulunya merupakan sebuah kawasan penting yang terdapat di Indonesia. Jumlah barang bersejarah di museum ini sangat banyak, yaitu sekitar 5.700 barang antik.

1. Keto

Keto

Keto adalah sejenis gelas mirip piala-piala yang dipergunakan untuk perlengkapan hidup sehari-hari masyarakat kelas bangsawan. Diperkirakan dibuat pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Syah (1832 – 1841) dan diproduksi di Kampung Tembaga Daik.

2. Ikat Pinggang Berantai

Ikat pinggang berantai

Ikat pinggang ini berbahan uang sen dari perak. Merupakan ikat pinggang wanita bangsawan pada masa kesultanan Lingga. Diperkirakan digunakan pada masa kesultanan Abdurrahman Muazzam Syah (1885 – 1913).

3. Bunga Tajuk (Kembang Goyang)

Terbuat dari perak dan permata delima, digunakan sebagai hiasan kelengkapan di atas kepala. Dipakai pada acara-acara adat istiadat seperti perkawinan adat Melayu.

3. Mahkota

Mahkota dan Kembang Goyang

Mahkota ini terbuat dari perak dan bertahtakan batu yakut dan selon digunakan sebagai salah satu perhiasan di atas kepala, biasanya dikenakan oleh pengantin.

4. Kalang

Merupakan salah satu hasil kerajinan suku laut/komunitas adat terpencil (Kat) yang terbuat dari rotan semut dan bambu. Hingga kini kalang masih digunakan oleh masyarakat suku laut Dapur Arang, Desa Kelumu. Pengrajin di Desa Kelumu bernama Mak Halimah. Keterampilan membuat Kalang ia peroleh secara turun temurun dari nenek moyang suku laut.

6. Miniatur Gancu Ikan

Gancu ikan terbuat dari besi, digunakan oleh nelayan sebagai alat tradisional untuk mengangkat ikan yang besar ke sampan sebagai pembantu kail (pancing). Gancu ikan sudah dipergunakan oleh para nelayan sejak zaman kesultanan Lingga Riau, dan masih dipakai hingga kini di kalangan nelayan tradisional di Kabupaten Lingga.

7. Miniatur Alat Proses Sagu

Alat ini mulai dipergunakan oleh masyarakat Lingga semenjak masa Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (1857 – 1883) Sultan Lingga ke-4. Alat ini terdiri dari rumah sagu tradisional dan parut sagu. Pada bentuk aslinya rumah sagu terbuat dari bahan kayu, beratap daun, dll. Berfungsi sebagai tempat memproses sagu menjadi saripati sagu.

8. Kandil

Kandil adalah jenis pelita yang terbuat dari bahan tembaga, porselin dan lainnya yang berfungsi sebagai alat tradisional untuk penerangan tempo dulu semasa Sultan Mahmud Riayat Syah (1761 – 1812) dan dikembangkan semasa Sultan Muhammad Syah (1832 -1841) pada Kesultanan Lingga Riau.

9. Kaki Dian

Terbuat dari bahan tembaga. Berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan lilin yang biasa dipakai di rumah pada majelis adar, seperti khatam Al Qur’an, tepuk tepung tawar, ijab qobul, dan sebagainya. Di Lingga Kaki Dian ini sudah digunakkan sejak zaman dahulu secara turun temurun sejak masa pemerintahan Sultan Abdurrahman Muazzam Syah (1885 – 1911) hingga saat ini.

10. Perlengkapan Tradisional Mandi syafar dan mandi-mandi pengantin

Perlengkapan mandi

Perlengkapan adat ini sudah digunakan semasa Sultan Abdurrahman Muazzam Syah (1883 -1911).

Museum Mini Linggam Cahaya
Jalan Raja Muhammad Yusuf, Kelurahan Daik Lingga, Kecamatan Lingga, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau
Buka: Senin hingga Jum’at, 08.00–16.00, Sabtu dan Minggu tutup
Biaya masuk sebesar Rp. 3.000 per orang

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.