Spesies Mangrove Terlangka Ditemukan di Kubu Raya Kalimantan Barat

Tumuk Putih atau Brugueira Hainesii (https://www.mongabay.co.id)

Temuan spesies mangrove Tumuk Putih atau Brugueira hainesii atau berus mata buaya yang baru ditemukan tim identifikasi mangrove Sampan Kalimantan, di areal kerja hak pengelolaan hutan desa bentang pesisir Padang Tikar, tepatnya di Desa Tanjung Harapan, Kabupaten Kubu Raya, membuat heboh aktivis lingkungan. Tim identifikasi mangrove Sampan, Bekti, menuturkan, temuan tumuk putih ini merupakan temuan terakhir dari rangkaian pengambilan data lapangan yang telah dilakukan dari bulan April 2017.

Kemudian pada akhir Mei 2017, pihaknya mendapat laporan dari Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa Tanjung Harapan, Ismail, telah ditemukan tumbuhan terinduksi serupa dengan Bruguier hainesii. Mendengar itu, pihaknya langsung ke lokasi temuan untuk melakukan pengecekan lapangan. Setelah diverifikasi, hasilnya dikirim ke ahli mangrove, Benjamin Brown, kandidat PhD University of Charles Darwin dan anggota IUCN Mangrove Specialis Grup dan Nurain Lapolo, calon master lingkungan hidup UNG. Hasilnya, lanjut dia, jenis tumbuhan itu memang benar 100 persen Bruguiera Hainesii. Kalau masyarakat Tanjung Harapan menyebutnya tumuk putih. Sedangkan secara nasional dan internasional dikenal degan nama berus mata buaya.

Tumuk Putih atau Brugueira Hainesii

Spesies ini ditemukan hidup pada substrat lumpur berpasir yang langsung menghadap ke Laut Cina Selatan, dan berasosiasi dengan Bruguiera sengaxula, Bruguiera parviflora, dan Bruguiera cylindrica. Dari informasi yang didapatnya, populasi tumuk putih sejak lama tidak begitu besar jika dibandingkan jenis tumuk lainnya di desa itu.

Dari hasil penelitian mangrove yang dilakukan sejak awal tahun 2017, ternyata wilayah bentang pesisir Padang Tikar merupakan salah satu yang memiliki ekosistem mangrove terlengkap dan terkaya di Asia Tenggara dengan total luas 59.847 hektare. Di Indonesia sedikitnya 40 dari 50 spesies mangrove sejati dunia berada di Indonesia. Dengan demikian, mangrove di bentang pesisir Padang Tikar mempresentasikan 33 persen dari total 202 jenis mangrove yang terdata di Indonesia atau 47 persen dari total 150 jenis mangrove di Pulau Kalimantan. Khusus mangrove sejati bentang pesisir Padang Tikar merepresentasikan 82,5 persen dari total 40 jenis mangrove sejati yang ada di Indonesia.

Tumuk Putih atau Brugueira Hainesii (https://www.mongabay.co.id)

Di wilayah ini juga, lanjut Bekti, menjadi habitat bagi spesies terancam punah. Terdapat empat tumbuhan masuk dalam kategori mengkhawatirkan. Yaitu tumuk putih kategori crtically endangered, jenis dungun status endangered, gedabu status near threatened, dan terumtum berstatus near threatenes. Khusus tumuk putih ini, kata Bekti hanya terdapat di tiga negara dengan jumlah tidak lebih dari 203 pohon. “80 pohon di Malaysia, tiga pohon di Singapura, dan 120 pohon di Papua Nugini,” ungkapnya.

Ditambahkan Bekti, dengan temuan ini menjadi indikator bahwa ekosistem mangrove bentang pesisir Padang Tikar masih sehat dan terjaga dengan baik. “Temuan ini harus menjadi perhatian semua pihak dalam mendukung upaya perlindungan dan pengelolaan mangrove oleh masyarakat secara serius dan konkret,” tutupnya.

Sumber: pontianakpost

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.