Peta Tenun Nusa Tenggara Timur

Peta Nusa Tenggara Timur

Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi yang didominasi oleh kepulauan, tiga pulau utama di wilayah ini adalah Pulau Flores, Pulau Sumba, dan Pulau Timor Barat.

Sedangkan pulau-pulau lain di antaranya adalah Pulau-pulau Adonara, Alor, Babi, Besar, Bidadari, Dana, Komodo, Rinca, Lomblen, Loren, Ndao, Palue, Pamana, Pamana Besar, Pantar, Rusa, Raijua, Rote (pulau terselatan di Indonesia), Sawu, Semau dan Solor.

Beragam Tenun di Provinsi Nusa Tenggara Timur (https://sunspiritforjusticeandpeace.org)

Penyebarannya tiga jeni tenun di NTT dapat dilihat sebagai berikut:

  1. Tenun Ikat; penyebarannya hampir merata di semua Kabupaten di Nusa Tenggara Timur, kecuali Kabupaten Manggarai dan sebagian Kabupaten Ngada;
  2. Tenun Buna; penyebarannya di Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, Belu, dan yang paling banyak adalah di Kabupaten Timor Tengah Utara; dan
  3. Tenun Lotis/Sotis atau Ikat; terdapat di Kabupaten atau Kota Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu, Alor, Flores Timur, Lembata, Sikka, Ngada, Manggarai, Sumba Timur, dan Sumba.

Pulau Flores

Pulau Flores (https://peta-kota.blogspot.com)

Flores, dari bahasa Portugis yang berarti “bunga” adalah sebuah pulau yang berada di wilayah administrasi Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Nama Flores berasal dari bahasa Portugis yaitu “cabo de flores “ yang berarti “Tanjung bunga”. Nama tersebut semula di berikan oleh S.M. Cabot untuk menyebut wilayah timur dari pulau Flores.

Kabupaten

Kabupaten-kabupaten yang ada di Pulau Flores yaitu:

  1. Manggarai Barat, ibukotanya Labuan Bajo
  2. Manggarai, ibukotanya Ruteng
  3. Manggarai Timur, ibukotanya Borong
  4. Ngada, ibukotanya Bajawa
  5. Nagekeo, ibukotanya Mbay
  6. Ende, ibukotanya Ende
  7. Sikka, ibukotanya Maumere
  8. Flores Timur, ibukotanya Larantuka

Suku

Suku bangsa Flores adalah percampuran etnis antara Melayu, Melanesia, dan Portugis. Dikarenakan pernah menjadi Koloni Portugis, maka interaksi dengan kebudayaan Portugis sangat terasa dalam kebudayaan Flores, baik melalui genetik, agama, dan budaya. Ada beberapa Suku – suku yang terdapat di Pulau Flores yang terdiri dari delapan suku besar antara lain :

  1. Manggarai
  2. Riung
  3. Ngada
  4. Nage-Keo
  5. Ende
  6. Lio
  7. Sikka
  8. Larantuka

Kain Tenun

Flores, sebagai bagian dari kelompok pulau di NTT terdiri dari tiga puluh suku dengan bahasa dan dialek yang berbeda yang juga menghasilkan hasil tenun yang beragam pula.

Penenun flores memilin sendiri kapas untuk dijadikan benang yang akan ditenun. Mereka juga mencelup sendiri banang ke dalam bahan pewarna. Untuk mendapatkan warna yang tahan lama, pencelupan dilakukan berkali-kali. Telapak tangan dan kuku-kuku wanita penenun sampai berwarna hitam gara-gara melakukan pencelupan.

Awalnya, motif kain tenun ikat NTT ini kebanyakan bercorak bunga atau hewan seperti cicak dan ayam. Namun, sejak pedagang asal Eropa masuk ke kawasan NTT. Corak yang diadaptasi pun mulai bergaya kolonial. Motif-motif yang ditenun pun menjadi semakin variatif. Biasanya, corak yang ditenun sesuai dengan perkembangan kehidupan masyarakat NTT saat itu.

Beberapa daerah di Flores yang hasil tenunnya cukup menonjol adalah:

1. Tenun Manggarai

Di Manggarai, ada teknik khusus dalam pembuatan ikat, yaitu menggunakan lidi-lidi pengungkit untuk menghasilkan pakan tenun songket tambahan.

2. Tenun Ngada

Tenun ikat di Ngada, disebut Sapu lue dan Lawo, umumnya bergaris sederhana dengan warna kombinasi biru dan coklat yang gelap.

Di Kabupaten Ngada terdapat beberapa desa yang dikenal sebagai tempat penghasil Tenun Ikat antara lain di Langa Kecamatan Bajawa dan Desa Tiworiwu Kecamatan Jerebuu.

3. Tenun Nagekeo

Suku Nage Keo menghasilkan tenunan yang menampilkan motif bintik-bintik kecil dari teknik ikat pembentuk motif floral. Jalur ikat ini dikombinasikan dengan jalur-jalur kecil lain berwarna putih, merah, dan biru polos.

4. Tenun Sikka

Perempuan suku Sikka menggunakan kain sarung dari tenun ikat sebatas pinggang, biasa disebut utan. Sementara untuk baju atasnya, mereka mengenakan kebaya yang disebut labu. Mereka melengkapinya dengan dong atau sejenis selendang, serta konde berbentuk bunga yang disebut bunga we.

5. Tenun Ende Lio

Kain tenun Ende mendapat pengaruh yang kuat dari Eropa, sebab secara geografis Ende berada di pesisir selatan Flores. Ragam hias kain tenun ikat Ende hanya menggunakan satu motif di tengah-tengah kain.

6. Tenun Lio

Motif tenun ikat di daerah Lio terilhami oleh motif potola India, atau motif jlamprang dan ceplok pada batik. Ragam hias dahan, daun, dan ranting turut melengkapi kain tenun ikat dari Lio.

Beragam Tenun di Nusa Tenggara Timur  (https://google.com)

Pulau Lomblen (Lembata)

Pulau Lumblen (https://www.darmanreubee.com)

Lomblen, kadang juga disebut Kawela atau Lembata, merupakan Kabupaten Lembata dengan ibukotanya Lewoleba, sebuah pulau yang terletak di Kepulauan Nusa Tenggara Timur, yakni di antara Pulau Adonara dengan Pulau Pantar. Pulau ini dibatasi oleh Laut Flores di utara, Selat Alor di barat, Laut Sawu di selatan, serta Selat Lamakera di barat.

Tenun Lembata

Ada dua jenis kain tenun ikat Lembata. Kewatek nai rua, yaitu kain sarung yang tenunannya terdiri dari dua bagian kain yang digabungkan. Dan Kewatek nai telokain yang terdiri dari tiga bagian yang disambung menjadi satu sarung.

Pekerjaan menenun kain ini berlangsung hingga berbulan-bulan. Dengan sangat tekun dan sabar mereka menenun. Mereka tak bosan, sebab menenun bagi mereka adalah menoreh jejak kebudayaan.

Selain diminati para kolektor, kain tenun ikat juga banyak digunakan untuk dekorasi maupun kebutuhan sehari hari. Proses pembuatan secara tradisional pun masih tetap dipertahankan. Tak heran jika harganya cukup mahal. Kain tradisional ini asal NTT ini dijual antara Rp 100 ribu hingga Rp 19 juta rupiah.

Pulau Alor

Pulau Alor (https://sultansinindonesieblog.wordpress.com)

Alor adalah sebuah pulau yang terletak di ujung timur Kepulauan Nusa Tenggara, merupakan Kabupaten bernama Kabupaten Alor dengan ibukotanya Kalabahi. Pulau Alor adalah satu dari 92 pulau terluar Indonesia karena berbatasan langsung dengan Timor Leste di sebelah selatan.

Tenun Alor

Di Pulau Alor, tenun merupakan pusaka leluhur. Dalam lembaran-lembaran tenun tersimpan jalinan ingatan tentang kehidupan di setiap helai benangnya.

Di pulau Alor yang eksotis tersebut, sentra tenun ikat berada di Kecamatan Alor Barat Laut. Nama tempatnya ‘Gunung Mako’, tepatnya terletak di Dusun Hula, Desa Alor Besar, Kecamatan Alor Barat Laut, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

Beragam Tenun di Nusa Tenggara Timur  (https://google.com)

Pulau Sumba

Pulau Sumba (https://dians999.wordpress.com)

Sumba berbatasan dengan Sumbawa di sebelah barat laut, Flores di timur laut, Timor di timur, dan Australia di selatan dan tenggara. Selat Sumba terletak di utara pulau ini. Di bagian timur terletak Laut Sawu serta Samudra Hindia terletak di sebelah selatan dan barat.

Kabupaten

Pulau Sumba terdiri dari empat kabupaten:

  1. Kabupaten Sumba Barat, dengan ibukotanya Waikabubak
  2. Kabupaten Sumba Barat Daya, dengan ibukotanya Tambolaka
  3. Kabupaten Sumba Tengah, dengan ibukotanya Waibakul
  4. Kabupaten Sumba Timur, dengan ibukotanya Waingapu

Kain Tenun Sumba

Tenun Sumba memiliki corak menarik, dari dekat terlihat motifnya bisa dibilang etnik. Menurutnya, tenun merepresentasikan penduduk di Kabupaten tersebut. Dari tenun Sumba misalnya, terdapat nilai-nilai religius.

Motif kuda melambangkan kebanggaan, kekuatan dan keberanian. Untuk motif ayam melambangkan kehidupan wanita ketika berumah tangga. Motif dan warna tertentu dalam tenun Sumba juga menunjukkan strata sosial pemakainya.

Pada dasarnya, di Sumba, kain tenun dipakai pada upacara adat sebagai lambang penghargaan terhadap suku yang diharapkan dapat menghindarkan mereka dari bencana, roh-roh jahat dan hal-hal buruk lainnya.

Dua kain tenun ditunjukkannya, warnanya menyerupai warna tanah. “Kain Sumba menggunakan bahan-bahan alami untuk pewarnaan, bisa dari daun dan akar-akaran, karena dengan warna alami ini membuat kain tenun Sumba semakin lama semakin bagus dan tidak pudar,” tuturnya.

Pulau Rote (Roti)

Pulau Rote

Kepulauan Rote dengan pulau terbesar, pulau Rote, beserta pulau-pulau kecil disekitarnya berstatus sebagai kabupaten dengan nama Kabupaten Rote Ndao, dengan ibukotanya Baa.

Kain Tenun Rote Ndao

Tenun Rote tak kalah menarik. Dasarnya yang hitam menggambarkan kerasnya masyarakat Rote. Keras berarti memiliki prinsip yang kuat, sedang warna merah yang biasa dipakai juga menggambarkan keberanian.

motif tradisional yang masih banyak digarap penenun di Kabupaten Sikka, seperti korsang manowalu (burung dalam mitologi setempat), korsang nagalalang (tapak kaki naga), dan sesaweor (ekor ikan sesa), atau lawa jara (motif kuda dan penunggangnya).

Kabupaten Ende pun masih mempertahankan sejumlah motif tradisional mereka seperti lawo nggaja (motif gajah yang diartikan sebagai kendaraan para dewa), lawo jara (motif kuda), lawo zombo/ rombo (motif pepohonan lambang kehidupan), dan lawo nepa mite di Nggela yang bermotifkan ular.

Pulau Timor Barat

Pulau Timor Barat (https://id.wikipedia.org)

Timor Barat adalah wilayah yang mencakup bagian barat Pulau Timor, kecuali distrik Oecussi-Ambeno (sebuah eksklave milik Timor Leste).

Kabupaten

Pulau Timor Barat terdiri dari enam kabupaten:

  1. Kabupaten Belu, ibukotanya Atambua
  2. Kabupaten Timor Tengah Utara, ibukotanya Kefamenanu
  3. Kabupaten Malaka, ibukotanya Betun
  4. Kabupaten Timor Tengah Selatan, ibukotanya Soe
  5. Kabupaten Kupang, ibukotanya Oelamasi
  6. Kota Kupang, ibukotanya Kupang

Pulau Sabu

Pulau Sabu (https://amavolta.wordpress.com)

Pulau Sabu terdiri dari pulau Sabu dan pulau Raijua, juga dikenal dengan sebutan Sawu atau Savu merupakan Kabupaten Sabu Raijua dengan ibukotanya Seba, hasil pemekaran dari Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Tenunan Sabu

Tiap wilayah dan suku mempunyai keunikan motif pada hasil tenunannya. Ada daerah atau suku yang menampilkan corak motif kuda, rusa, udang, naga, singa, orang-orangan, pohon tengkorak. Ada juga yang menonjolkan corak burung, cecak, buaya dan motif kaif. Bagi daerah-daerah lain corak motif bunga-bunga atau daun-daun lebih ditonjolkan sedangkan corak motif binatang hanya sebagai pemanisnya saja.

Ragam hias pada tenun ikat Sabu misalnya menonjolkan arti perlambang dari kehidupan masyarakat dan keaadan alam sekitarnya, dan juga masih menunjukkan pengaruh kebudayaan Dong Son. Kombinasi hiasan berderet dalam jalur lebar yang teratur namun tidak simetris menjadi ciri khas tenunan di pulau kecil yang terletak pada deretan pulau bagian selatan Indonesia, tepatnya di antara Pulau Rote dan Sumba.

Orang Sabu mengenal 3 warna dasar tenunan, yaitu putih, coklat, dan biru-hitam, sesuai jenis tumbuhan untuk mewarnakan benang. Sekarang digunakan warna kuning dari umbi kunyit yang dibawa dari Pulau Timor. Penenun di Pulau Sabu lebih suka menggunakan bahan pewarna tradisional karena lebih cerah. Kain hasil tenun ikat tradisional Pulau Sabu yang paling terkenal adalah si hawu atau sarung Sabu dan higi huri atau selimut.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.