Kain Tenun Songke Manggarai Nusa Tenggara Timur

Beragam Songke Manggarai (https://luiskaru.blogspot.com)

Kain Songke merupakan kain tenun khas daerah manggarai, kain tenun songke juga biasa di sebut lipa atau towe. Towe atau lipa dalam bahasa setempat di kenakan oleh laki – laki dan perempuan, baik di rumah maupun saat menghadiri ritual adat, ke gereja, ketika mandi dan tidur, saat kelahiran dan pernikahan, dan untuk membungkus orang yang telah meninggal.

Sejarah

Beragam Songke Manggarai (https://luiskaru.blogspot.com)

Pada tahun 1613-1640 kerajaan Gowa Makasar, Sulawesi Selatan pernah berkuasa di hampir seluruh wilayah Manggarai Raya. Pertemuan dengan berbagai macam kepentingan budaya melahirkan sesuatu yang baru bagi kebuadaayan orang Manggarai termasuk di dalamnya masalah berbusana sehingga kebudayaan dari Makasar sebagiannya dibawa ke Manggarai termasuk juga masalah kain yang dipakai. Orang Makasar menyebut songke dengan sebutan songket, tetapi orang Manggarai lebih mengenalnya dengan sebutan songke (tanpa akhiran huruf t).

Warna

Warna dan beragam Motif Songke (https://angelina-febunmer.blogspot.com)

Warna dasar benang yang dipakai dalam penenunan songke adalah hitam yang bagi orang manggarai warna hitam melambangkan arti kebesaran dan keagungan serta kepasrahan bahwa semua manusia pada suatu saat akan kembali kepada Mori Kraeng (Sang Pencipta). Sedangkan warna benang untuk sulam umumnya warna-warna yang mencolok seperti merah, putih, orange, dan kuning. Motif yang dipakai pun tidak sembarang. Setiap motif mengandung arti dan harapan dari orang Manggarai dalam hal kesejahteraan hidup, kesehatan, dan hubungan, baik antara manusia dan sesamanya, manusia dengan alam maupun manusia dengan Sang Pencipta.

Motif

Berikut beberapa motif yang sering dipakai dalam penenunan kain songke dan maknanya:

  1. Motif wela kawu (bunga kapuk), bermakna keterkaitan antara manusia dengan alam sekitarnya.
  2. Motif ranggong (laba-laba), bersimbol kejujuran dan kerja keras.
  3. Motif ju’i (garis-garis batas), pertanda keberakhiran segala sesuatu, yaitu segala sesuatu ada akhirnya, ada batasnya.
  4. Motif ntala (bintang), berkaitan dengan harapan yang sering dikumandangkan dalam tudak, doa “porong langkas haeng ntala” supaya senantiasa tinggi sampai ke bintang. Maksudnya, agar senantiasa sehat, diberikan umur yang panjang, dan memiliki ketinggian pengaruh lebih dari orang lain dalam hal membawa perubahan dalam hidup.
  5. Motif wela runu (bunga runu), yang melambangkan bahwa orang Manggarai bagaikan bunga kecil tapi memberikan keindahan dan hidup di tengah-tengah kefanaan ini.

Jenis dan Ukuran Songke

Songke Manggarai untuk Peci (https://luiskaru.blogspot.com)

Jenis dan Ukuran Sonke di Manggarai yaitu

  1. Sarung, panjang 135 x lebar 170 cm
  2. Selendang atau syal, panjang 200 cm x lebar 20 dan 30 cm
  3. Baju, semua ukuran (M, L, S, XL, XXL)
  4. Rok, semua ukuran (M, L, S, XL, XXL)
  5. Peci, berbagai usia dengan ukuran tinggi 20 cm

Peralatan Menenun

Alat-alat yang digunakan untuk menenun songke adalah sebagai berikut:

  1. Lihu, kayu yang diletakan di bagian belakang pinggang sebagai penahan beban (berang)
  2. Pesa, kayu yang dipasangkan antara berangdan lihu yang letaknya di bagian perut. Alat ini berpasangan dengan lihu yang dihungkan dengan wase (tali) sebagai pengait. Alat ini dipakai untuk penampung kain yang sudah jadi atau sudah ditenun.
  3. Mbira, sebagai pengancing benang yang dimasukan dari kiri atau kekanan juga untuk mengancing benang sulam motif dengan cara ditarik sebanyak 1 atau 2 kali ke arah perut.
  4. Keropong, bambu berukuran kecil tempat diletakannya keliri atau lebih cocoknya disebut sebagai rumah keliri agar ketika dimasukan diatara celah-celah benang berang, kliri tidak tersangkut. Keliri adalah kayu kecil berukuran sekitar 40 cm yang dililitkan benang yang dipakai sebagai pengunci benang sulam yang dimasukan dari kiri ke kanan.
  5. Jangka, alat yang berbentuk seperti sisir rambut yang berfungsi sebagai pemisah benang 1 helai ke sebelahnya. Jadi setiap ruang antara gigi jangka yang satu ke yang lain diletakan benang diantaranya.
  6. Nggolong, alat dari bambu yang berukuran sekitar ibu hari orang dewasa yang digunakan sebagai pemberi ruang agar kliri bisa masuk dari sebelah kiri ke kanan atau sebaliknya.
  7. Kerempak, kayu persegi yang dipakai sebagai penekan saat akan menggantikan posisi dari mbira dan nggolong.
  8. Donging, kayu bercabang yang membentuk sudut 30 derajat tempat menaruh banggang atau papan yang dilit oleh berang.
  9. Banggang, papan yang digunakan untuk melilitkan berang.
  10. Benang sulam digunakan untuk membentuk motif
  11. Berang, mal kain songke

Proses Pembuatan Songke

Pohon kapas yang sengaja ditanam untuk keperluan sehari-hari membuat sumbu pada lampu pelita, untuk dijadikan benang jahit atau benang tenun setelah diproses secara tradisional). Kemudian kapas yang sudah dipisahkan,  dijemur hingga benar-benar kering dan siap untuk dipintal.

Proses pemintalan menggunakan alat pemintal tradisional yang oleh orang Manggarai menyebutnya gasong (Alat yang terbuat dari sebuah papan berukuran kecil bulat yang ditengahnya dipasang kayu sebesar jari kelingking anak-anak). Kapas kemudian dililitkan pada ujung atas kayu kecil, lalu gasong diputarkan sehingga benang seperti dipintal, sambil jari tangan sebelah kiri menyambung kapas-kapas yang terpisah. Proses ini akan mengubah menjadi benang.

Benang hasil pintalan kemudian dililitkan pada tubuh gasong sampai alat ini benar-benar tidak kelihatan kayu tengahnya dan sudah dirasa berat. Benang kemudian dipindahkan dari gasong ke alat yang namanya woer, yaitu alat untuk membentuk benang menjadi gumpalan-gumpalan berbentuk bulat seperti bola.

Benang masih harus diwarnai sesuai kebutuhan (lazimnya warna hitam) menggunakan pewarna alami terbuat dari pohon nila dan arang. Setelah diwarnai, benang dikeringkan. Jika benang hendak dipakai sebagai benang jahit maka benang hasil pintalan harus terlebih dahulu dilicinkan dengan dengan liling (rumah lebah penghasil madu yang sudah dikeringkan kemudian dipadatkan). Caranya, benang ditempelkan atau ditekan dengan jari pada liling kemudian benang ditarik sehingga setiap serat benang menyatu. Akan tetapi, jika benang dipakai untuk menenun sehelai kain, maka langkah tadi dilewatkan.

Setelah benang mencukupi kebutuhan penenunan kain songke, benang kemudian dibuat menjadi mal kain dengan alat tradisional yaitu wenggi (kayu berukuran 1,5 m sebanyak 2 buah untuk lebar dan 2 m sebnyak 2 buah untuk panjang yang dirangkai menjadi persegi panjang dan diletakan setinggi kurang lebih 30 cm diatas tanah dengan setiap sudut diberi bantu pengalas). Untuk memulai membentuk mal songke dibutuhkan 2 orang perempuan untuk duduk di dalam mal, lalu benang diikatkan pada kayu yang dijadikan lebar, apakah mulainya dari samping kiri atau kanan tergantung kelincahan dari yang mengerjakan. Keduanya berbagi tugas baik memberi maupun menerima benang. Benang yang diterima lalu dikaitkkan pada kayu lalu diberikan lagi kepada si pemberi. Begitu terus, hingga ukuran yang diinginkan terpenuhi. Proses pembuatan ini kita sebut dengan istilah maneng. Setelah maneng selesai, mal kain songke (berang) dipidahkan ke alat tenun tradisional. Ketika proses ini sudah dilakukan, maka aktivitas selanjutnya adalah menenun berang hingga menjadi sehelai kain songke. Proses ini membutuhkan waktu yang lama  sekitar berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan tergantung pada ketersediaan benang, banyaknya motif yang digunakan dan kemahiran si penenun songke.

Karena nilai estetis dan terapannya sangat tinggi, modal yang dikeluarkan untuk membeli kain yang satu ini pun sangat fantastis. Kembali lagi pada masalah ukuran, tingkat kesulitan penganyaman motif, dan lamanya proses penenunan. Harga songke yang ditawarkan berkisar antara 400-an sampai pada level jutaan.

Pemanfaatan Songke

Songke Manggarai untuk Sarung Pria (https://www.johanpajarmedia.com)

Songke biasa dipakai dalam upacara adat seperti penti (Pesta Kenduri), caci (tarian adat Manggarai), lipa tabing (songke yang diberikan oleh kaum laki-laki kepada kaum perempuan pada saat lamaran), kawing (sebagai Belis/Emas Kawin), lipa rapu (pembungkus mayat), randang (membuka kebun baru), nempung (musyawarah), tombo adak (pembicaraan megenai adat) dan kegunaan sehari-hari seperti untuk sarung, pengganti busana ibadah baik kaum perempuan maupun laki-laki, baju, celana, jas, peci dan syal. Akan sangat terhormat apabila seseorang yang bertamu ke keluarga atau tetangganya mengenakan songke.

Songke Manggarai untuk Sarung Wanita (https://www.johanpajarmedia.com)

Songke banyak digemari bukan hanya oleh orang Manggarai sendiri tetapi juga orang dari luar daerah Manggarai bahkan sampai ke luar negeri, karena disamping kain ini bisa dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari juga yang tak kalah menarik adalah keindahanberbagai motif yang ketika dipadukan menjadi satu membuat semua yang melihat terkagum-kagum.

Sumber: ariesrutung

One thought on “Kain Tenun Songke Manggarai Nusa Tenggara Timur

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.