Kain Tenun Ikat Ngada Nusa Tenggara Timur

Kain Tenun Ikat Bajawa, Kabupaten Ngada, NTT

Tenunan Kabupaten Ngada dikenal dengan sebutan Tenun Ikat (Sapu Lue dan Lawo). Tenun ikat Kabupaten Ngada ini sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Flores, menurut orang setempat dinamakan Tenun Ikat karena dalam proses membuat motif ada bagian benang yang diikat agar tidak terkena pewarna saat proses pewarnaan.

Kegiatan menenun merupakan suatu budaya masyarakat yang telah diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya. Kain tenun yang dihasilkan mengandung nilai filosofi yang tinggi karena kain tenun ini menggambarkan kehidupan masyarakat setempat.

Kain Tenun Ikat Bajawa, Kabupaten Ngada, NTT

Pekerjaan menenun yang bermotif tinggi tidak sembarang wanita dibolehkan, penenun wanita yang berusia sajalah (yang telah matang atau dewasa) dapat mengerjakan, sedangkan wanita yang muda-muda hanya membantu saja.

Di Kabupaten Ngada, jumlah kelompok tenun ikat di Ngada saat ini 85 kelompok. Untuk jenis tenunan Ikat tersebar di Langa, Kecamatan Bajawa, Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebu’u, Kecamatan Inerie dan Kecamatan Golewa.

Tenun Desa Bena, Kabupaten Ngada, NTT

Motif

Seni tenunan ikat pada masyarakat Bajawa digolongkan sederhana dan belum berkembang secara baik dengan berbagai motif seperti kuda dan kaki ayam. Kegiatan tenun menenun nampaknya merupakan ciri khas dihampir setiap etnis masyarakat Nusa Tenggara Timur, termasuk masyarakat Bajawa. Kegiatan tenun dinamakan “Mane tenu atau Seda tenu” yang dilakukan khusus oleh para wanita (kaum Ibu dan wanita muda atau gadis).

Warna

Tenun ikat Ngada menggunakan warna-warna gelap, antara lain dengan kombinasi warna biru dan cokelat, dengan garis-garis sederhana.

One thought on “Kain Tenun Ikat Ngada Nusa Tenggara Timur

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.