Tradisi Tumpeng Sewu Kemiren Banyuwangi Jawa Timur

Festival Tumpeng Sewu di Desa Kemiren, Banyuwangi

Masyarakat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur, biasa menggelar tradisi Tumpeng Sewu (Seribu Tumpeng) yang digelar seminggu sebelum Idul Adha setiap tahunnya.

Tradisi ini diawali ritual Mepe Kasur (menjemur kasur). Beramai-ramai warga menjemur kasur di sepanjang depan rumah masing-masing dari pagi hari hingga menjelang sore.

Kasur yang dijemur juga bukan sembarang kasur. Namun kasur khas warga Kemiren, yang cirinya berwarna hitam dan merah. Masyarakat Using ini meyakini dengan mengeluarkan kasur dari dalam rumah dapat membersihkan diri dari segala penyakit. Penjemuran kasur dari jam 07.00 hingga pukul 14.00, sebelum Ashar dimasukkan kembali

Baca juga: Desa Wisata Kemiren Banyuwangi Jawa Timur

Mepe kasur (https://banyuwangi.merdeka.com)

Bagi pengunjung yang hadir di acara Mepe kasur, juga bisa menikmati jajanan khas Kemiren, seperti pisang goreng telur, kucur, cenil, tape ketan khas Using, hingga kuliner rujak Soto dan pecelan.

Tepat pukul 14.00, usai warga memasukkan kasurnya akan dilakukan arak-arakan Barong mengelilingi desa. Yang sebelumnya sesepuh desa melakukan ziarah ke makam leluhur Desa Kemiren, Buyut Cili.

Selanjutnya ritual ini akan diteruskan dengan menggelar selamatan tumpeng sewu. Setiap rumah warga Using mengeluarkan minimal satu tumpeng yang diletakkan di depan rumahnya.

Tumpeng ini adalah nasi dalam bentuk kerucut dengan lauk pauk khas Using, yakni pecel pithik (ayam panggang dibalut parutan kelapa).

Arak-arakan Barong mengelilingi desa (https://pariwisatabanyuwangi.com)

Baca juga: Mengenal Nasi Tumpeng

Ritual ini akan dimulai sesudah adzan maghrib, di mana akan digelar sholat berjamaah di Masjid Nur Huda. Sebelum makan tumpeng sewu warga akan di ajak berdoa agar warga Desa Kemiren dijauhkan dari segala bencana, dan sumber penyakit karena ritual tumpeng sewu diyakini merupakan selamatan tolak bala.

Usai salat berjamaah, akan dilanjutkan penyalaan oncor ajug-ajug (obor bambu berkaki empat) dari ujung jalan desa sebagai penerang jalan.

Uniknya, api pertama penyalaan obor ritual ini diambil dari api biru (blue fire) Gunung Ijen. Setelah obor dihidupkan, seluruh warga akan menggelar tumpengnya di depan rumah masing-masing, untuk dimakan bersama-sama.

Tumpeng Sewu (https://www.majalahglobal.com)

Tumpeng yang disuguhkan setiap warga nantinya berbentuk kerucut yang memiliki makna petunjuk untuk mengabdi kepada Sang Pencipta, di samping kewajiban untuk menyayangi sesama manusia dan lingkungan alam.

Sementara pecel pithik sebagai lauk pelengkap mengandung pesan moral yang tinggi, yakni “ngucel-ucel barang sithik”. Diartikan mengajak orang berhemat dan bersyukur dengan apa yang telah dimilikinya.

Ritual yang digelar setiap tahun ini selalu dihadiri ribuan warga Banyuwangi. Setiap pengunjung yang datang dipersilahkan untuk menikmati hidangan gratis, karena sudah menjadi tradisi warga Using Kemiren untuk menjamu setiap tamu yang datang.

Akhir ritual ini akan ditutup dengan mocoan lontar, mengkidungkan tembang lontar macapat Yusuf di dua tempat, Balai Desa Kemiren dan Pendopo Barong Kemiren.

Sumber: tribunnews

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.