Prosesi Pernikahan Adat Samin Jawa Tengah

Pasangan pengantin samin (https://blokbojonegoro.com)

Ajaran Samin (disebut juga Pergerakan Samin atau Saminisme) adalah salah satu suku yang ada di Indonesia. Masyarakat ini adalah keturunan para pengikut Samin Surosentiko yang mengajarkan sedulur sikep, di mana mereka mengobarkan semangat perlawanan terhadap Belanda dalam bentuk lain di luar kekerasan. Bentuk yang dilakukan adalah menolak membayar pajak, menolak segala peraturan yang dibuat pemerintah kolonial. Masyarakat ini acap memusingkan pemerintah Belanda maupun penjajahan Jepang karena sikap itu, sikap yang hingga sekarang dianggap menjengkelkan oleh kelompok di luarnya.

Masyarakat Samin sendiri juga mengisolasi diri hingga baru pada tahun ’70-an, mereka baru tahu Indonesia telah merdeka. Kelompok Samin ini tersebar sampai Jawa Tengah, namun konsentrasi terbesarnya berada di Desa Klopodhuwur di Blora dan Desa Tapelan di Kecamatan Ngraho, Bojonegoro. Penyebaran selain di Blora, Bojonegoro,  ada di Pati, Rembang, Kudus, Madiun, Sragen, dan Grobogan. (dikutip dari id.wikipedia.org).

Istilah

Istilah Samin bisa berarti banyak. Pertama, istilah itu merupakan simplikasi makna “sama”, yaitu bersama-sama membela negara melawan Belanda, atau bermakna “sami-sami amin”, jika semua setuju maka dianggap sah (untuk melawan penjajah), sebagai bentuk dukungan rakyat.  Kedua, nama Samin muncul, diilhami nama tokoh, yaitu Samin Surosentiko keturunan Bupati Tulungagung. Ketiga, Samin bermakna Sami Wonge (sama orangnya) maksudnya bersaudara. Keempat, nama Suku di Jawa Tengah (antara lain Samin, Jawa, Karimun, dan Kangean).(Sigar, 1998:1)  Kelima, Samin atau Saminisme adalah anggapan orang Jawa pesisir yang hidup di daerah pinggiran.(Endraswara, 1999:17). Keenam, dalam versi dongeng rakyat, kata Samin muncul sebelum Samin Surontiko ada, ketika masyarakat di lembah Sungai Bengawan Solo dari Suku Kalang, bekas para Brahmana, pendeta, dan sarjana Majapahit akhir pemerintahan Brawijaya V menyingkir dari Majapahit (Soerjanto, 2004:78). Versi keenam tersebut bertolak belakang dengan keberadaan Samin di Bengawan Solo sebagai usaha R. Surowidjojo memperluas daerah perlawanan terha-dap Belanda sejak tahun 1840.(Winarno, 2003:56)

Perjodohan umumnya pada masyarakat Samin Kudus diambilkan dari sesama pengikut Samin (tunggal bibit). Pilihan itu, dilatarbelakangi oleh intensitas berinteraksi di antara warga Samin sendiri, berdasarkan pada prinsip angan-angan dalam benak (partikel), dipertimbangkan secara mendalam (artikel), dilampiaskan dalam komunikasi verbal (pengucap), dan ditindaklanjuti perkawinan (laku/kelakuan). Dalam pernikahan antar pengikut Samin, mereka memiliki janji yakni janji sepisan kanggo selawase (janji pertama untuk selamanya). Adapun tahapan perkawinan model Samin meliputi, nyumuk, ngendek, nyuwito, dan diseksekno atau (paseksen).

1. Nyumuk

Nyumuk adalah kedatangan keluarga (calon) kemanten putra ke keluarga (calon) temanten putri untuk menanyakan keberadaan calon menantu, apakah sudah mempunyai calon suami atau masih gadis (legan). Jika belum memiliki calon suami, diharapkan menjadi calon menantunya. Selanjutnya, pihak keluarga calon temanten putra menentukan hari untuk ngendek. Proses nyumuk tidak disertai calon temanten putra. Biasanya, kedatangan mereka tidak menyertakan banyak saudara atau teman, tidak sebagaimana ketika acara ngendek.

2. Ngendek

Buah tangan dari temanten pria (https://portalgaruda.org)

Ngendek adalah pernyataan calon besan dari keluarga temanten putra kepada bapak-ibu (calon) temanten putri, menindaklanjuti forum nyumuk. Pelaksanaan ngendek diawali pernyataan calon temanten putra kepada bapak ibunya (di rumahnya calon temanten putri) bahwa dirinya berkeinginan mempersunting seorang putri. Sedangkan ibu temanten putra (biasanya) memberi mahar kepada calon temanten putri (calon menantu) sebagai tanda telah diendek (diwatesi atau disetujui). Ngendek dihadiri tokoh Samin, keluarga Samin, dan tetangganya yang berajaran Samin dan nonsamin.

Dalam prosesi ngendek, besan (keluarga dari calon temanten putra) kedatangannya membawa ‘buah tangan’ yang biasanya berupa hasil bumi dan jenis makanan yang biasanya dihidangkan bagi tamu. Prosesi ngendek, diungkapkan dengan penyataan berikut:

“Kang, anggonku mrene sak rombongan duwe karep, siji, pingin merohi kahanane sedulurku ing kene, opo yo podo sehat kewarasan, semono ugo aku sak rombongan kahanane wilujeng-sehat, nomer loro, aku duwe karep, minongko nggenepi karepe anak ku lanang kang aran … (menyebut nama) nekok ake, opo turunmu wong jeneng wedok pengaran ….(menyebut nama), wes duwe calon? Yen durung, bakal dikarepake turunku.” (“Kang Mas, kedatangan ku kesini bersama rombongan punya niat, satu, ingin mengetahui keadaan saudaraku disini, apa pada sehat sentosa, demikian juga aku dengan rombongan dalam keadaan selamat dan sehat, nomer dua, aku punya keinginan, untuk menyampaikan atas keinginan anakku pria yang bernama … (menyebut nama) menanyakan, apa anak mu gadis bernama … (menyebut nama), apa sudah punya calon? Kalau belum, akan diinginkan keturunanku.”)

Pernyataan tersebut dijawab oleh calon besan (bapak temanten putri):

“Turunku ….. legan (Turunanku atau Anakku … masih gadis). Pernyataan dilanjutkan tokoh Samin bahwa prosesi ngendek sudah disaksikan oleh forum, sekaligus memberikan pesan (sesorah) agar kedua calon besan sabar menunggu menuju proses perkawinan atau nyuwito. Setelah prosesi ngendek berakhir, tuan rumah mempersilahkan tamu menikmati hidangan yang disediakan.

3. Nyuwito-Ngawulo (Pengabdian)

Hari dilangsungkan perkawinan dilaksanakan dengan didasari niat temanten putra untuk meneruskan keturunan (wiji sejati, titine anak Adam). Setelah pasuwitan, biasanya temanten putra hidup bersama keluarga kemanten putri dalam satu rumah (ngawulo), atau kemanten putri hidup bersama keluarga temanten putra. Penempatan tersebut berdasarkan kesepakatan antar besan. Jika (besan) hanya memiliki seorang anak putra, biasanya temanten putri nyuwito di rumah temanten putra, begitu pula sebaliknya. Selama proses ngawulo, temanten membantu melaksanakan pekerjaan yang dilaksanakan mertuanya.

Rentang waktu nyuwito, tidak dibatasi waktu dan ditentukan oleh kedua temanten jika sudah cocok ditandai keduanya telah berhubungan intim. Proses nyuwito, pada dasarnya adalah masa menuju kecocokan kedua belah pihak, sehingga apabila kedua pihak tidak menemui kecocokan, maka tidak melanjutkan tahapan menuju paseksen.

4. Paseksen (Persaksian)

 Sepasang temanten Samin (https://portalgaruda.org)

Paseksen adalah forum ungkapan temanten putra di hadapan mertua yang dihadiri temanten putri, keluarga, dan tamu undangan warga Samin dan nonsamin di rumah temanten putri. Pertama, pernyataan tuan rumah (besan atau bapak temanten putri) sebagai berikut:

“Dumateng sedulur kulo sedoyo, poro mbah, poro bapak, ibu, kadang kulo seng pernah nem, jaler miwah estri sing wonten mondoane kulo mriki. Kulo niki gadah kondo mangke do ndiko sekseni. Kulo duwe turun wong jeneng wedok pengaran… (menyebutkan nama), empun dijawab wong jeneng lanang pengaran …(menyebut nama). Kulo empon ngelegaake, yen miturut kandane wong jeneng lanang pengaran … turune tatanane wong sikep rabi pun dilakoni.” (“Kepada saudaraku semuanya, poro eyang, poro bapak, ibu, saudaraku yang pernah bujang, putra atau putri yang ada di rumah saya ini. Saya ini punya omongan (ucapan) nanti anda semua menjadi saksi. Saya mempunyai turunan putri bernama …. (menyebutkan nama), sudah dijawab seorang putra bernama … (menyebutkan nama). Saya sudah ikhlas, bila menurut ucapan seorang putra bernama … turunannya Sistem Sikep telah dilaksanakan pernikahan.”)

Selanjutnya dijawab tamu yang hadir atau forum: “Nggih.” (“Ya”)

Lalu ditegaskan lagi: “Niku kondo kulo do ndiko sekseni piyambak.” (“Itu ucapan saya, kalian saksikan bersama.”)

Dijawab kembali oleh forum: “Nggih.” (“Ya”)

Kedua, pernyataan temanten putra, berupa syahadat, yakni:

“Kulo duwe kondo ndiko sekseni. Kulo ajeng ngandaake syahadat kulo: (“Saya punya omongan atau ucapan kalian saksikan. Saya akan mengucapkan syahadat atau janji saya):

kulo wong jeneng lanang pengaran …, toto-toto noto wong jeneng wedok pengaran …(menyebut nama). Kulo sampun kukuh jawab demen janji, janji sepisan kanggo selawase, inggih niku kondo kulo ndiko sekseni.”  (saya seorang pria bernama …, bersiap mengatur seorang wanita bernama … (menyebut nama). Saya sudah mantap mengucapkan janji, janji pertama untuk selamanya, ini ucapan saya kalian saksikan.”)

Dijawab forum: “Yo, Le..” (“Ya nak…”)

Ketiga, doa tokoh Samin (nyintreni) untuk keselamatan bagi kedua mempelai.

Sumber: Penelitian Perkawinan Masyarakat Samin dalam Pandangan Hukum Negara oleh Moh. Rosyid, Jurnal “Analisa” Volume XVII, No. 01, Januari – Juni 2010 (E-book)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.