Prosesi Pernikahan Adat Saibatin Lampung

Pakaian Temanten Saibatin (https://www.indonesiakaya.com)

Suku Saibatin mendiami daerah pesisir Lampung yang membentang dari timur, selatan, hingga barat. Wilayah persebaran Suku Saibatin mencakup Lampung Timur, Lampung Selatan, Bandar Lampung, Pesawaran, Tanggamus, dan Lampung Barat.

Seperti juga Suku Pepadun, Suku Saibatin atau Peminggir menganut sistem kekerabatan patrilineal atau mengikuti garis keturunan ayah. Meski demikian, Suku Saibatin memiliki kekhasan dalam hal tatanan masyarakat dan tradisi.

“Saibatin” bermakna satu batin atau memiliki satu junjungan. Hal ini sesuai dengan tatanan sosial dalam Suku Saibatin, hanya ada satu raja adat dalam setiap generasi kepemimpinan. Budaya Suku Saibatin cenderung bersifat aristokratis karena kedudukan adat hanya dapat diwariskan melalui garis keturunan. Tidak seperti Suku Pepadun, tidak ada upacara tertentu yang dapat mengubah status sosial seseorang dalam masyarakat.

Ciri lain dari Suku Saibatin dapat dilihat dari perangkat yang digunakan dalam ritual adat. Salah satunya adalah bentuk siger (sigekh) atau mahkota pengantin Suku Saibatin yang memiliki tujuh lekuk atau pucuk (sigokh lekuk pitu). Tujuh pucuk ini melambangkan tujuh adoq, yaitu suttan, raja jukuan/depati, batin, radin, minak, kimas, dan mas. Selain itu, ada pula yang disebut awan gemisir (awan gemisikh) yang diduga digunakan sebagai bagian dari arak-arakan adat, diantaranya dalam prosesi pernikahan.

a. Perkenalan dan Area berjumpa

Ruang tersebut dinamakan manjau, pengertian manjau merupakan cara berjumpa atau berkunjung kerumah perawan yg telah dikenal dalam rangka menjalin pertalian untuk berumah tangga. Tipe manjau ada dua macam, yaitu:

  1. Manjau di atas, yang dilakukan diruang tamu sang pemuda berjumpa gadis dibagian atas hunian.
  2. Manjau di bawah,  jumpa pemuda gadis dilakukan didapur rumah, yaitu seseorang gadis mesti memperhatikan sekian banyak norma, yaitu:

a. Sang pemuda akan ke dapur dan tak boleh ketahuan oleh nakbay sejak mulai atau kerabat gadis
b. Bila pemuda berjumpa bersama orang lain sehingga dia mesti menutupi wajahnya dengan sarung
c. Tak boleh mengganggu ketenangan orang yang sedang tidur, manjau yang mengikuti norma tersebut disebut setekutan atau sesihaan kala manjau, dilakukan pada pukul 20.00 hingga 23.00, tergantung kesepakatan. Bila gadis berdialog dengan berbisik-bisik, sang gadis berada di dapur yang remang dan pemuda di luar dapur, keduanya memakai penutup kepala atau sarung dgn tujuan supaya muka mereka tidak terlihat.

Dalam seketutan belia lainnya berwenang buat menyapa sang perawan sesudah mendapat izin dari jejaka yang sudah berjanji lebih dulu. Gadis yang sudah meminta izin untuk menyapa perawan diperbolehkan namun tidak boleh lama cuma kurang lebih 3 – 5 menit. pemuda-pemuda ini menganut prinsip bahwa sebelum kawin, gadis milik bersama merupakan persaingan yg sehat diantara sesama pemuda untuk memperoleh hati gadis.

Setekutan dilakukan sewaktu-waktu contohnya 15 hari menjelang pesta perkawinan, bagi ulun lampung telah jadi tradisi tolong membantu dan gotong royong dari membawa kue, menumbuk padi dan lain lain. Sepanjang rentang disaat di rumah yg mengadakan pesta tak pernah sepi, hampir tiap-tiap tengah malam bila tiap-tiap hunian ada anak gadisnya dapat dikunjungi.

Dua hari menjelang pesta rata-rata ada program menggiling bumbu masak, acaranya ini cuma untuk bis ujang perawan buat menyiapkan bumbu masak . program ini dimulai dari pikul 20.00 wib hingga 23.00 wib selesai tugas memarut bumbu masak, gadis-gadis membawa lokasi disudut-sudut dapur yg dapat saling mendengar antara ke-2pasanganya. Program setekutan masal didapati dan dikontrol oleh kepala muda buat menghindari hal-hal yg tak diinginkan.

Bila pemuda sepakat buat menikahi gadis, kejenjang pembicaraan tingkat orangtua dinamakan “nyakko kicek an” bila mereka sudah mengatakan hasratnya buat kawin terhadap paman atau pak balak dan bibinya inalunik masing masing, selesailah pekerjaan awal utk memastikan jodohnya. Seandainya amanat untun belia perawan sudah diungkapkan paman dan bibinya terhadap kedua orang tua muda perawan, sehingga seluruhnya kerabat dapat mempersiapkan acara perlamaran.

Pasangan pengantin Saibatin (https://batinbudayapoerba.blogspot.com)

b. Pembatasan Jodoh dalam Perkawinan

Pembatasan jodoh atau endogami dalam perkawinan ulun lampung saibatin di krui ialah endogami strata. Merupakan tiap-tiap anak penyimbang mesti kawin dengan anak punyimbang serta. Tapi pembatasan seperti ini telah tak ada lagi. Orang Krui mendapat pengaruh budaya pantai yg kuat khususnya dari Bengkulu dan Minangkabau yg islami.

Menurut Kausar Mas salah satu orang punyimbang, ulun Krui dalam pembatasan jodoh menganut syariat hukum Islam. Dalam hukum islam yg berdasarkan Al-Qur’an, terdapat ketentuan-ketentuan menyangkut beberapa orang yang tak boleh mengikat tali perkawinan yg dinamakan muhrim, karena jalinan darah, jalinan perkawinan, dan interaksi sepersusuan.

c. Melamar (Nyakakko kicek an)

Perkawinan yg normal yakni perkawinan yg didahului bersama lamaran dari pihak laki-laki pada pihak perawan. Lamaran dapat menjalin jalinan dan ikatan pertunangan anatara bujang – gadis, serta janji di antara dua kerabat, yang seterusnya dilanjutkan dgn upacara-upacara adat perkawinan seperti upacara Rebah Diah (Nayuh). Rebah Diah atau nayuh yakni pesta tradisi perkawinan dengan cara besar-besar yang berturut-turut.

Sesudah kata sepakat antara pemuda – gadis ke pelaminan yg di sampaikan lewat paman atau bibinya pada kedua orang tua pemuda-gadis, sehingga keluarga laki-laki mengutus dua atau tiga orang keluarga dekat ke rumah gadis. Untuk kunjungan pertama, tujuan utusan yakni menanyakan apakah benar-benar di antara pemuda – gadis mereka telah menjalin interaksi, dan sejauh mana interaksi diantara mereka itu. Maksud kedua utusan itu yakni buat mengamati atau nindai macam mana tabiat gadis calon yang akan menjadi menantunya itu. Sedang maksud ketiga mengamati status keluarga atau keturunan, ekonomi, pula agama.

Jikalau hasil misi perdana sesudah di dinilai keluarga dan kerabat belia dengan hasil yang baik, sehingga dipersiapkan utk melangkah ke tahap kunjungan kedua. Pada kunjungan kedua ke rumah perawan, anggota delegasi lebih tidak sedikit dari kunjungan mula-mula, sebab melibatkan anggota wanita dan perawan. Jumlah delegasi terdiri dari lima orang pria, tiga orang wanita dan dua gadis. Degelasi ini memiliki maksud mutlak buat menambahkan kembali janji kepada kunjungan mula-mula. Dan maksud kedua bernegosiasi mengenai pola perkawinan kedua anak bujang-gadis ini. Pilihan pola ini menurut adat saibatin cuma ada dua, yakni mula-mula Bujujog atau Semanda. Apabila pola ini cocok juga bisa disepakati kedua keluarga, sehingga kepada saat itu pula ditentukan serta untuk kunjungan berikutnya. Kepada kunjungan ke-2 ini rombongan mengambil sekapur sirih yang merupakan lambang pergaulan yg baik, kue juwadah, wajik, dan buah-buahan yg menunjukkan betapa baik dan hangatnya kehadiran mereka.

Sesudah kunjungan ke-2 dari pihak belia, sehingga masihlah ada sekian banyak kunjungan lagi untuk menguatkan proses lamaran pihak muda pada pihak perawan dan untuk memenuhi beraneka ragam persyaratan yg diminta oleh pihak gadis, contohnya masalah penentuan jujogh dan maskawin.

Penyambutan dengan Pencak Silat (https://batinbudayapoerba.blogspot.com)

d. Penentuan Maskawin

Persyaratan perkawinan kebanyakan berupa tiga macam faktor, adalah :

  1. Maskawin atau beride-price,
  2. Pencurahan tenaga buat kawin atau beride-service,
  3. Pertukaran perawan atau beride-exchange.

Maskawin atau beride-price merupakan banyaknya harta yang diberikan oleh pemuda pada gadis, dan kaum kerabatnya. Fungsi maskawin kepada tidak sedikit suku di Indonesia yaitu sebagai syarat. Karena syarat, sehingga kebanyakan orang tak tanya lagi kenapa, atau buat apa. Orang cuma tahu bahwa maskawin itu syarat, dan mesti dilakukan. Sebaliknya, yang merupakan syarat maskawin seterusnya bercampur dengan unsur-unsur yg bersangkut paut bersama kepercayaan.

Pola perkawinan Bujujogh ulun lampung memisahkan dua pengertian antara, (1). Maskawin dengan dua (2) jujogh atau daw. Pengertian maskawin yang mula-mula merupakan pemberian pengantin laki laki terhadap wanita, saat ketika akad nikah, berupa barang yang difungsikan sehari-hari, seperti : perhiasan emas, uang real, kain tapis, kebaya, selop, cermin dan pakaian-pakaian mandi yang lain. Kedua, jujogh atau daw (roh atau batin) ialah lebih bermakna jaminan kehidupan kepada wanita lantaran pisahnya beliau bersama keluarga yg melahirkan dan membesarkannya.

Daw yakni permintaan orangtua wanita kepada orangtua laki laki, berkenaan jaminan kehidupan anaknya. Rata-rata daw berupa harta tak bergerak seperti sawah, ladang, hunian. Menjadi satu orang perempuan yg sudah di (ti) jujogh, sehingga cuma atau peranannya sama bersama ibu suaminya. Oleh lantaran itu, seorang perawan yg di (ti) jujogh yakni berperan juga sebagai pengganti ibu suaminya dan memiliki hak kepemilikan (sawah, ladang, kebun, dll) yang sama dalam kehidupan berkeluarga.

Daw atau jujogh yakni permintaan jaminan ortu wanita terhadap keluarga dan kerabat laki laki, sedangkan maskawin adalah permintaan wanita pada pengantin cowok. Kalau keluarga wanita tak setuju dengan calon pengantin laki laki, sehingga bakal di tolak dengan cara halus dengan trik meminta jujogh atau maskawin itu melebihi kapasitas kapabilitas pria. Keadaan seperti ini kadangkala menyebabkan adanya perundingan tarik-ulur hingga berbulan-bulan. Jika kejadian seperti ini tak menemukan solusi, tidak jarang berjalan kesepakatan antara bujang-gadis utk Kawin Lari atau Miktudaw.

Miktudaw atau kawin lari dilakukan sebab bersama ide pemuda gadis sendiri, adapula yang direncanakan oleh orangtua muda yg berdasarkan kehendak gadis atau hanya dikarenakan kehendak pemuda.

Latar belakang pemuda-gadis miktudaw anatara lain : (1). Syarat-syarat pembayaran, pembiayaan dan upacara perkawinan yang diminta pihak perawan tak akan dipenuhi oleh pihak muda. (2). Perawan belum diizinkan oleh orang tuanya buat bersuami namun karena kondisi perawan bertindak sendiri. (3). Orangtua atau keluarga perawan menolak lamaran pihak muda, dulu perawan bertindak sendiri.(4). Gadis sudah bertunangan dgn seorang pemuda yg tak di sukai oleh di perawan. (5). Gadis dan pemuda sudah berbuat yg tidak sejalan bersama hukum tradisi dan hukum agama (perawan sudah hamil dan lain-lain).

Penentuan maskawin ini dilakukan kepada kala program lamaran, yakni kepada disaat pihak belia laksanakan kunjungan ke3. Maksud delegasi ke3 ini kepada intinya yakni ngilu baban atau minta beban. Tujuan minta beban keluarga belia menegosiasikan permintaan dari pihak keluarga wanita, merupakan masalah duit jujoghnya, maskawin, dan trik pembayarannya. Terhadap kunjungan ke3 ini rombongan mengambil sekapur sirih yg menunjukkan betapa ringannya perjalanan mereka.

Sesudah berlangsung kesepakatan seterusnya pihak pemuda mengirimkan utusannya kembali buat yg keempat kalinya. Rombongan kali ini terdiri dari tiga puluh peserta dari tiga unsur, yg terdiri dari tujuh orang pria pendekar kebiasaan, empat orang mirul atau istri punyimbang etika, tujuh orang perawan berkebaya dan tujuh orang jejaka yang mengenakan peci dan bersarung gantung, lima orang pengawal. Mereka hadir mengambil seluruh permintaan pihak wanita, merupakan : duit jujogh, duit maskawin, buak atau kue-kue etika, seperti juwadah, wajik, cucor mandan, buak keras salimpok & buah-buahan.

Rombongan disambut bersama tari nyambai oleh Mulei-mekhanai dari pihak wanita sbg penghormatan pada keluarga pihak cowok. Mulei-mekhanai saling bertaaruf dan memperlihatkan keterampilan menarinya masing-masing, dgn diiringi kulintang tabuh ulok dan rebana bertalu-talu, lemah-gemulai tarian perawan berkebaya, nga-adido (nyanyian) mamak (paman) rapipi, lengkaplah perawan program lamaran, maka tinggal menunggu semangu atau diwaktu hari perkawinan.

Nayuh

Arak-arakan lapah adat (https://www.indonesiakaya.com)

Nayuh merupakan adat kebiasaan masyarakat Lampung Sai Batin dalam merayakan acara Pernikahan. Dimana dalam perayaan tersebut sering dilaksanakan kebiasaan ngantak bakul dan betetikolan yang kedua duanya merupakan percerminan pelaksanaan Adat Pesetiti, dengan saling membantu baik dalam kebot maupun “bah mekonan” sesuai dengan motto Lampung Barat “Beguai Jejama” .

Dimana prosesi semua kegiatan dilaksanakan hanya untuk menyambut acara pada hari H yaitu prosesi pernikahan yang ditandai dengan “arak-arakan lapah adat”

Sumber: riaspengantinmuslimmuntilan