Perhiasan Tradisional Nias Sumatera Utara

Secara tradisional laki-laki dan perempuan Nias memakai banyak perhiasan terutamanya bangsawan. Sejarah telah mencatat pertama dari Nias menyebutkan bahwa masyarakat setempat memakai banyak perhiasan emas.

Pria

Kiri: Kalung ‘Kalabubu’. Tengah: Anting-anting besar: Kiri: Kumis logam

Hiasan yang paling penting bagi pria adalah kalung yang terbuat dari tempurung kelapa atau tempurung kura-kura, yang disebut ‘Kalabubu‘. Ini hanya bisa dipakai oleh pendekar yang telah membuktikan diri dalam pertempuran.  Bangsawan dan kepala suku memakai hiasan kepala yang besar. Pria memakai anting-anting hanya di telinga kanan. Di bagian utara, anting-anting ini besar sekali dan hampir sebesar kepala pria. Sebuah penghiasan yang sangat unik di Nias adalah kumis logam yang dipakai oleh pendekar.

Penutup Kepala “Takula Gere”

Penutup Kepala “Takula Gere”

Khusus dipakai oleh Imam tradisional atau pemimpin utama agama kuno yang disebut ‘Ere Mbörönadu’ pada upacara pembaharuan hukum yang disebut Fondrakö.

Masyarakat Nias yang menyadari pelanggaran dan dosa merasa tidak dapat berkomunikasi dengan dewanya. Karena itu, pemimpin agama kuno menggunakan media “Takula” yang menyerupai wajah manusia untuk menghubungkan manusia dengan dewanya yang ada di atas langit.

Takula kayu ini berasal dari wilayah Maniamölö, Nias Selatan.

Anting “Fondruru”

Fondruru Dalinga

Anting-anting laki-laki, yang disebut Fondruru Dalinga, biasanya terbuat dari emas, digunakan hanya di telinga kanan, sedangkan telinga kiri tidak menggunakan anting-anting.

Bentuknya datar, berornamen bentuk mawar saling berdampingan. Diikat diatas sebuah putaran kecil. Hiasan mawar ini menunjukkan sebuah pusat berpola bunga dilingkari dengan pola benang emas dengan kawat emas berbentuk spiral dengan emas.

Rompi Besi “Öröba Si’öli”

Rompi Besi “Öröba Si’öli”

Digunakan oleh prajurit di Nias Selatan sebagai perlindungan terhadap tombak dan pedang.

Perisai “Baluse”

Perisai “Baluse”

Digunakan oleh prajurit di Nias sebagai perlindungan terhadap tombak dan pedang.

Tempat Duduk “Osa-osa Ni’oböhö”

Tempat Duduk “Osa-osa Ni’oböhö” diusung

Osa-osa merupakan tempat duduk seseorang ketika melakukan pesta stratifikasi. Pelaksana pesta menjamu seluruh kerabat, warga desa dan bahkan warga desa tetangga untuk mendapatkan pengakuan dan pengukuhan status sosial. Semenjak itu seluruh yang hadir dalam pesta selalu memberi penghormatan baginya. Pengukuhan dan pengakuan itu bertujuan untuk meningkatkan derajad atau status sosial.

Tempat Duduk “Osa-osa Ni’oböhö” diusung

Tempat Duduk “Osa-osa Ni’oböhö” tetap

Wanita

Kiri: Perhiasan tradisional dari dulu. Tengah: Perhiasan Nias modern. Kanan: Perhiasan dari Kepulauan Batu (Tello)

Wanita memakai perhiasan emas, kuningan, tembaga, kerang dan manik-manik. Seringkali anting-anting dan gelang berukuran besar sekali. Terutama kalau dibandingkan dengan yang dipakai saat ini, seperti anting Saru Dalinga. Versi yang lebih kecil dari desain yang sama adalah yang dipakai hari ini, terutama di pesta pernikahan. Penghiasan wanita memiliki perbedaan dari daerah ke daerah. Karena itu, dari melihat foto-foto sejarah bisa dikatakan di mana foto tersebut diambil dari melihat perhiasan perempuan.

Mahkota Emas “Rai Högö”

Mahkota Emas “Rai Högö”

Makhota Emas untuk perempuan keluarga bangsawan. Biasanya perhiasan terbuat dari emas 16 atau 18 karat. Perhiasan ini yang dipajang ini dibuat oleh Adi Duha alias Ama Feliks, seorang ahli pandai emas di Desa Hiliganöwö, Nias Selatan.

Mahkota Kayu “Ndrönö”

Mahkota Kayu “Ndrönö”

Mahkota dari kayu ini dulu dilapis dengan emas tipis.

Sisir Emas “Sukhu Ana’a”

Sisir Emas “Sukhu Ana’a”

Sukhu Ana’a merupakan sisir emas untuk perempuan keluarga bangsawan. Biasanya perhiasan terbuat dari emas 16 atau 18 karat. Perhiasan ini yang dipajang ini dibuat oleh Adi Duha alias Ama Feliks, seorang ahli pandai emas di Desa Hiliganöwö, Nias Selatan.

Sisir Kayu “Sukhu Eu”

Sisir Kayu “Sukhu Eu”

Sisir rambut yang terbuat dari kayu.

Kalung Emas “Gala Mbagi”

Kalung Emas “Gala Mbagi”

Kalung Emas untuk perempuan keluarga bangsawan. Biasanya perhiasan terbuat dari emas 16 atau 18 karat. Perhiasan yang dipajang ini dibuat oleh Adi Duha alias Ama Feliks, seorang ahli pandai emas di Desa Hiliganöwö, Nias Selatan.

Gelang “Töla Zaga”

Gelang “Töla Zaga”

Gelang tangan perempuan, kayu berlapis emas. Biasanya perhiasan terbuat dari emas 16 atau 18 karat. Perhiasan ini yang dipajang ini dibuat oleh Adi Duha alias Ama Feliks, seorang ahli pandai emas di Desa Hiliganöwö, Nias Selatan.

Ikat pinggang “Sawe”

Ikat pinggang “Sawe”

Ikat pinggang perempuan yang diperbuat dari pilinan perak.

Bola nafo

Tas Bola nafo

Bola berarti tempat atau kantong, dan nafo adalah ramuan dari lima bahan. Tas Bola nafo dibuat dengan menganyam rumput yang telah dikeringkan dan diwarnakan. Biasanya dihiasi dengan simbol dan motif dari Nias, masing-masing dengan makna tersendiri. Motif  Ni’otarawa digunakan oleh bangsawan sementara motif Ni’ohulayo digunakan oleh masyarakat umum. Teknik yang digunakan untuk menganyam tas Bola nafo dan menenun pakaian tradisional juga digunakan untuk membuat barang-barang lain seperti tikar dan selimut.

Penutup Wadah Mas Kawin“Balubulu Nahia”

Penutup wadah mas kawin

Penutup wadah mas kawin. Terbuat dari manik-manik. Pada saat pesta perkawinan putri bangsawan, maka mas kawin dan perhiasan emas yang diletakkan di atas piring “keramik/porselin”ditutup dengan “balubalu”.

Tempat Perhiasan “Naha Gamagama”

Tempat Perhiasan “Naha Gamagama”

Kotak perhiasan terbuat dari serat tenunan dengan tutup kayu dengan ukiran.

Ni’okindrö (anyaman daun janur)

Kiri: Ni’okindrö. Tengah: Nifatali Bulumio. Kanan: Presiden Jokowi di Pulau Nias pada tahun 2016 dengan Nifatali Bulumio dari Museum Pusaka Nias

Pada pesta-pesta dan upacara, tempat untuk acara ini sering dihiasi dengan anyaman daun-daun janur.  Dengan menyambungkan anyaman daun janur ini, Orang Nias membuat bentuk dan pola yang indah . Ini disebut Ni’okindrö (anyaman daun janur). Gaya Ni’okindrö bervariasi antara daerah ke daerah. Bentuk yang dibuat oleh daun janur memiliki banyak arti yang berbeda. Hari ini ketika kunjungan tamu penting ke Nias, mereka sering disajikan dengan kalung yang dibuat menggunakan teknik ini. Kalung ini dikenal sebagai Nifatali Bulumio. Hanya beberapa orang yang mampu membuat kalung seperti ini. Di tahun 2016 pada waktu kunjungan Presiden Jokowi ke Nias, beliau dipersembahkan dengan Nifatali Bulumio yang dibuat oleh karyawan museum.

Sumber: Museum Nias

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.