Perhiasan Etnik Unik dari Hewan dan Tumbuhan

Tusuk konde terbuat dari tulang hewan khas Gianyar, Bali

Kebanyakan orang mungkin tak asing dengan perhiasan emas atau perak dengan material batuan dan mutiara. Namun siapa sangka, hewan dan tumbuhan pun bisa dikreasikan menjadi perhiasan etnik nan unik bernilai seni tinggi.

Cangkang kerang, cangkang penyu, batok kelapa, serabut kelapa, tanduk sapi, tanduk kerbau, gading gajah, tulang sapi, gigi hewan, dan sebagainya, bagi masyarakat awam tentu tidak berharga. Lain halnya di tangan para perajin. Barang yang terbilang limbah dapat bernilai seni tinggi dan bernilai ekonomis.

Salah satu komoditas laut yang mempunyai potensi bisnis tinggi adalah kerang. Selain kerang diambil dagingnya untuk dikonsumsi sehari-hari, kulit atau cangkang kerang ternyata juga dimanfaatkan oleh banyak orang sebagai bahan baku pembuatan aneka kerajinan tangan dan perhiasan unik. Dengan bekal kreativitas, para perajin menyulap cangkang kerang menjadi berbagai macam kerajinan tangan unik seperti tempat tisu, bingkai foto, dan untuk mempercantik penampilan, cangkang kerang juga dapat berupa bros.

Tusuk konde dari tulang hewan

Pada umumnya, bros cangkang kerang merupakan salah satu jenis kerajinan tangan unik yang memiliki warna dan beraneka ragam bentuk serta banyak dijumpai di daerah sekitar pantai. Selain cangkang kerang, cangkang penyu untuk perhiasan juga dapat kita temui di Pulau Derawan. Pemasarannya bukan hanya di dalam negeri, tetapi antusias pasar luar negeri juga sangat besar.

Selain cangkang kerang dan cangkang penyu, bagian dari hewan lain yang bisa kita manfaatkan adalah tanduk. Tanduk bisa diambil dari kerbau dan sapi. Perhiasan yang ditawarkan memang tergolong unik yaitu dari tanduk kerbau. Namun setelah diolah dan dipoles, ia menjadi kalung, anting, gelang bahkan tusuk konde yang sangat cantik. Dua jenis tanduk ini yang paling bagus untuk dibuat sebagai aksesoris, selain karena warnanya, dua jenis tanduk itu lebih kuat.

Perhiasan berbasis tumbuhan tak kalah unik dengan perhiasan berbasis hewan. Masyarakat di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, mengolah tumbuhan liar pakis resam menjadi asesoris gelang dan cincin. Rasam atau paku andam merupakan jenis paku yang besar yang biasa tumbuh pada tebing-tebing di tepi jalan pegunungan. Tumbuhan ini mudah dikenal karena peletakan daunnya yang menyirip berjajar dua dan tangkainya bercabang mendua (dikotom). Pakis resam ini masih bisa dikembangkan untuk asesoris lain seperti bando, dan lain-lain.

Kiri – kanan: Bros dan Kalung dari tulang hewan

Bahan lain yang terlihat sepele tetapi memiliki nilai ekonomis adalah serat alam. Bahan-bahan serat alam merupakan kandidat sebagai bahan penguat untuk dapat menghasilkan bahan komposit yang ringan, kuat, ramah lingkungan serta ekonomis. Alam telah banyak menyediakan kebutuhan manusia mulai dari makanan sampai bahan bangunan. Salah satunya adalah bahan-bahan serat alam. Jenis-jenis serat alam misalnya; sisal, flex, hemp, jute, rami, kelapa mulai digunakan sebagai bahan penguat untuk komposit polimer.

Serat nanas atau tanaman kayu digunakan sebagai bahan sandang dan serat alam yang dapat digunakan untuk membuat tambang. Tambang ini bisa dikreasikan menjadi gelang atau kalung yang bisa dikombinasikan dengan material lain untuk menambah nilai keindahan. Tren aksesoris akar bahar pun tak kalah saing dengan aksesoris berbahan serat nanas. Aksesori dari akar bahar, baik dalam bentuk gelang maupun cincin, bukanlah hal baru.

Di Ternate, Maluku Utara, aksesori dari akar bahar mengundang perhatian warga, khususnya para kolektor. Ada yang membeli dalam bentuk tangkai ataupun yang sudah jadi. Tidak hanya bentuknya yang indah di pergelangan tangan yang membuat orang tertarik, tetapi kandungannya yang dapat menyerap racun dari dalam tubuh serta dipercaya menangkal ilmu hitam menjadi alasan aksesori dari akar bahar banyak diburu.

Koleksi dari tanduk

Satu lagi bahan tumbuhan yang dapat disulap menjadi perhiasan eksotis adalah padi. Padi selama ini lebih dikenal sebagai penghasil beras, yang menjadi makanan pokok penduduk. Namun siapa sangka beras yang biasa disantap sebagian besar masyarakat Indonesia itu menyimpan keindahan bernilai tinggi bagi dunia fashion. Butiran putihnya yang dianggap “biasa saja” ternyata bisa disulap menjadi aksesori eksotis.

Perhiasan dari butiran beras ini mengusung konsep perhiasan berkelanjutan (sustainable jewelry). Aksesori yang dihasilkan menggunakan material ramah lingkungan yang kerap dipandang sebelah mata. Butiran beras kering disusun dengan sangat hati-hati menjadi sebuah perhiasan; dari cincin, gelang, anting-anting, sampai kalung. Menggunakan campuran resin brass dan dipoles dengan berbagai palet warna kalem, beras-beras yang dirangkai itu lebih terlihat seperti sebongkah batu alam mentah yang bergerigi karena masih belum dipoles.

“Batu mentah” yang terbuat dari beras tersebut lantas diikat dengan helaian perak untuk membentuk sebuah cincin, anting, atau gelang. Ada juga yang dikaitkan dengan rantai emas untuk menghasilkan kalung nan cantik. Dengan kreativitas tanpa batas, ternyata limbah hewan dan tumbuhan pun bisa menjadi perhiasan etnik nan unik dan bernilai ekonomis.

Kalung terbuat dari fosil kayu

Bahan Baku Alam untuk Perhiasan

Gading: Green ivory (gading yang diambil dari gajah hidup), dead ivory (gading yang diambil dari gajah yang mati secara alamiah), cured ivory (gading yang telah disimpan selama 20 tahun atau lebih), fossil ivory (gading yang berasal dari gajah purbakala/mammoth), African ivory (gading yang diambil dari gajah afrika), Indian ivory (gading milik gajah jantan, biasanya lebih mudah dipahat/dibentuk dan warnanya lebih gelap). Karena bentuk dasarnya yang melengkung dan cukup mudah dibentuk, gading banyak diolah untuk menjadi cincin. Selain cincin, juga jepit rambut, sisir, anting, dan gagang belati

Gigi: Gigi yang banyak dipakai adalah gigi taring hewan karnivora. Biasa dijadikan ornamen penghias untuk asesoris seperti ikat pinggang dan kalung.

Cakar: Banyak digunakan sebagai ornament terutama di negara- negara bagian timur. Biasanya dikombinasikan dengan emas atau perak untuk kalung, gelang, atau bros.

Tanduk dan cangkang penyu: Cangkang penyu yang paling disukai adalah cangkang penyu sisik (Eretmochelys Imbricate) yang hidup di laut tropis dan subtropis. Warnanya terkenal akan lorengnya yang agak buram dan dikombinasikan dengan cokelat-kuning terang. Tanduk yang banyak dipakai adalah tanduk banteng, sapi, dan domba. Tanduk terkenal mudah diolah dengan banyak metode pengolahan seperti dipahat, dilubangi, atau dipotong-potong.

Koral: Koral yang paling disukai adalah koral yang berasal dari perairan mediterania dan jepang, yaitu corallium nobile dan corallium rubrum. Koral mudah dibentuk menggunakan kikir, rotary cutter, dan amplas.

Perhiasan Berbasis Hewan Sejak Zaman Prasejarah

Bros Capung terbuat dari cangkang kerang

Siapa sangka, manusia telah memiliki sense of art sejak zaman prasejarah. Menurut tim arkeolog dari Indonesia dan Australia, di Indonesia tepatnya Sulawesi Selatan, ditemukan tulang jari kuskus yang sudah dilubangi serta tulang babirusa dan kuku elang yang diubah jadi perhiasan. Pada masanya, manusia Indonesia menyulap tulang-tulang hewan menjadi liontin, digantungkan pada leher dengan tali yang terbuat dari bahan kulit kayu.

Penemuan tersebut punya arti penting bagi sejarah nusantara. Artinya, jejak kecerdasan manusia Indonesia mulai tampak dari penemuan tersebut. Penemuan itu menjadi pelengkap dari sejumlah temuan sebelumnya, menambah jelas kisah sejarah perkembangan seni di nusantara. Seni di nusantara sendiri walaupun bisa diperdebatkan – bisa dirunut hingga ratusan ribu tahun lalu, ketika Homo sapiens bahkan belum ada.

Para peneliti menemukan cangkang kerang, kuku elang, tulang babirusa, dan tulang hewan berkantung yang pada masa itu dipakai sebagai perhiasan. Temuan koleksi ornamen yang digali dapat dikategorikan sebagai perhiasan, termasuk liontin dan manik-manik berbentuk cakram. Perhiasan tersebut diukir dari tulang hewan pra-sejarah. Umurnya diperkirakan berada di antara 30.000 sampai 22.000 tahun yang lalu. Temuan ini menunjukkan bahwa tradisi bersolek sebagai salah satu bentuk berkesenian telah berkembang puluhan ribu tahun.

Peta Ragam Bahan Perhiasan Nusantara

Daftar Penjual Perhiasan Nusantara

Sumber: Majalah Dekranas Kriya Indonesia Craft, Edisi 37 Agustus 2017 (E-book)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.