Kemilau Logam Mulia Nusantara

Kalung

Kekayaan emas dan perak Nusantara sudah tersohor sejak dahulu kala. Bahkan kedatangan bangsa lain ke negeri kita bukan sekadar untuk mencari rempah-rempah, melainkan juga logam mulianya. Namun segudang masalah meredupkan kemilau pertumbuhan industri ini.

Gelang emas bertahta Mutiara Laut

Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki ragam bentuk dan ukiran perhiasan yang unik dan menarik. Kota Gadang di Sumatera Barat, Kotagede di Yogyakarta, Banggil di Provinsi Jawa Timur, dan Celuk di Bali adalah sentra kerajinan perak yang besar. Tempat ini sudah menghasilkan produk-produk kriya perak berkualitas internasional dengan harga lokal.

Gelang

Sejak zaman dahulu masyarakat Kotagede, di Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki keahlian membuat kerajinan ukiran kayu, perak dan emas. Kotagede termasuk sentra kerajinan perak yang indah dan terkenal sampai ke mancanegara. Keberadaan perajin perak di Kotagede juga tak luput dari peran VOC, persekutuan dagang Belanda, yang masuk ke Yogyakarta sekitar abad ke-16. Banyak pedagang VOC yang memesan alat-alat rumah tangga dari emas, perak, tembaga, dan kuningan kepada penduduk setempat. Perajinnya tidak hanya dari masyarakat Kotagede. Penduduk asal Bantul, Kulon Progo, dan Gunung kidul banyak datang dan bermukim di Kotagede untuk menjadi perajin perak. Produk perak di Kotagede terkenal karena halus, detil, dan indah desainnya sehingga menjadi karya seni yang bernilai tinggi. Ratusan jenis keraijinan perak tersedia di sini dari aksesori sampai benda dekorasi rumah. Kotagede sebagai sentra industri perak pernah mengalami masa kejayaan.

Tusuk konde

Inovasi produk, modal, dan teknologi juga menjadi masalah di tengah munculnya berbagai produk perak dari Vietnam, India dan lainnya yang mampu memroduksi perhiasan perak dengan kualitas yang baik. Ketatnya persaingan ini menuntut produk industri kerajinan Indonesia harus terus ditingkatkan. Para perajin dan desainer harus terus kreatif mengembangkan desain-desain yang mengikuti tren pasar, tidak semata bersikukuh mengulang-ulang ragam hias tradisional warisan leluhur.

Kalung

Lesunya industri perak terlihat jelas di Nagari Koto Gadang, di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Memasuki milenium ke-21, kelesuan ini mulai merambat naik. Bahkan, pada 2013 situs sumbarkita.com mensinyalir jumlah perajin perak tinggal delapan orang. Padahal, di awal 2000 jumlah perajin masih puluhan orang. Rupanya sebagian besar beralih ke pekerjaan lain yang lebih menguntungkan. Menurut Asri Sutan Mancayo, seorang perajin, penyebabnya adalah harga perak bahan baku yang melambung tinggi mencapai Rp 10 juta per kg. “Para perajin kekurangan modal untuk membeli bahan baku,” katanya. Apalagi, jumlah pembeli juga terus menciut seiring tergerusnya wisatawan ke Sumatera Barat.

Cincin

Perlu uluran tangan pemerintah agar kerajinan perak di Negeri ini tidak tinggal kisah sejarah. “Tanpa Bapak Angkat, kerajinan yang merupakan identitas Koto Gadang ini akan menghilang,” ujarnya setengah menerawang.

Subang

Upaya pembaruan dan upaya ini memang sudah mulai terlihat. Di Celuk, Bali, sekelompok anak muda bersama para tokoh desa menggagas Celuk Jewelry Festival (CJF) sebagai momentum bersatu dan bangkitnya Desa Celuk. Kegiatan ini didorong oleh kepedulian mereka terhadap seni kerajinan perak dan emas. Melalui CJF masyarakat setempat dapat memromosikan dan menjual hasil karya mereka. Desa Celuk sejak berabad silam sudah dikenal sebagai penghasil perak dengan ciri khasnya.

Sumber: Majalah Dekranas Kriya Indonesia Craft, Edisi 37 Agustus 2017 (E-book)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.