Kala Etnik dan Modern Berpadu

Perpaduan etnik dan modern

Perhiasan etnik selalu menarik, sementara yang modern pun tak kalah menawan. Dengan kekayaan motif dan material yang begitu beragam, etnik dan modern berpadu selaras dalam perhiasan Nusantara. Jejak warisan Arab, Tiongkok, Eropa, dan lokal menyatu menampilkan keindahan sempurna.

Sebagai negeri yang multietnik dan multibudaya, Indonesia memiliki ratusan ribu ragam perhiasan di dari seluruh penjuru negeri. Namun ragam perhiasan yang begitu banyak itu sebenarnya dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar saja, yakni perhiasan etnik atau disebut juga perhiasan tradisional atau heritage, dan perhiasan modern.

Perhiasan etnik ditandai dengan perhiasan dengan motif yang digali dari kekayaan budaya setempat. Meminjam ungkapan Nyoman Desak Suarti, maestro dan pelopor kerajinan perhiasan perak asal Bali, “Perhiasan yang mempunyai secuplik budaya di balik tiap motifnya.”

Menurut Suarti yang sejak lama telah memasarkan kerajinan perhiasan Indonesia hingga ke mancanegara, faktor etnik inilah yang disukai pembeli internasional. Yang mereka sukai bukan sekadar perhiasan indah, melainkan lengkap dengan cerita di baliknya, bagian dari budaya yang terkandung di dalam perhiasan tersebut. “Inilah salah satu keunggulan kerajinan perhiasan Indonesia,” ujarnya.

Kisah di balik motif hias ini merupakan senjata utama untuk menarik perhatian pembeli internasional, terutama dari Amerika, Inggris dan Tiongkok.

Perhiasan etnik dapat dikelompokkan lagi menjadi dua bagian, yakni perhiasan untuk dikenakan pada aktivitas sehari-hari, serta perhiasan sebagai kelengkapan upacara. Jenis perhiasan yang pertama dapat digunakan oleh siapa saja, kapan saja. Sedangkan yang kedua hanya dapat dikenakan oleh orang-orang tertentu pada kesempatan tertentu. Misalnya pada upacara pernikahan, kematian, ritual penyembuhan, dan sebagainya.

Baik motif maupun teknik pembuatan perhiasan etnik harus mengikuti aturan atau pakem tertentu, karena mewakili simbol atau perlambang tertentu. Pada perhiasan untuk keperluan upacara, berbagai aturan ini terkadang sangat ketat. Pembuatnya hanya orang tertentu yang dianggap memiliki kekuatan magis. Tidak jarang pembuatnya harus berpuasa, bertirakat, bahkan bertapa, untuk menghasilkan perhiasan agar menghasilkan tuah yang diinginkan.

Selain perhiasan yang dapat digunakan sehari-hari, para perajin perhiasan etnik juga memproduksi replika atau miniatur. Di Kota Gadang, Sumatera Barat, dengan mudah kita dapati miniatur rumah gadang dari perak, dengan detil yang indah dan menawan. Sementara di Kota Gede, Yogyakarta, banyak dijual replika becak dan andong, yang juga tak kalah detil dan menawan.

Berbeda dengan perhiasan etnik yang serba diatur, perhiasan modern memiliki motif yang lebih bebas dan kekinian, tidak tunduk kepada pakem tertentu. Desain-desainnya mengikuti selera masa kini yang disukai generasi muda. Teknik pembuatannya pun lebih canggih.

Perhiasan modern banyak menggunakan teknik filigri (filigree), yakni teknik membuat perhiasan atau produk seni dari logam (emas, perak, perunggu, kuningan, atau tembaga) dengan menggunakan benang-benang dan butiran logam yang dipelintir, dianyam, dibentuk dan disatukan dengan teknik patri (bakar) sehingga menjadi bentuk yang diinginkan. Teknik ini dapat dipadukan dengan mengikat batu berharga, sehingga perhiasan yang dihasilkan semakin indah dan berharga.

Di antara kedua kutub ini sebenarnya ada perpaduan, yakni perhiasan modern yang mengambil motif etnik. Perhiasan dengan motif campuran ini pun sangat disukai pembeli.

Tren kegemaran akan model dan motif perhiasan ini terus bergeser seiring waktu. Suarti, yang telah berkecimpung lebih dari dua dasawarsa di industri perhiasan, menuturkan ketika awal ia masuk ke pasar Amerika Serikat pada tahun 1980-an, masyarakat di negeri Paman Sam menggemari perhiasan bermotif etnik. Namun lima tahun kemudian mereka menyukai perpaduan motif barat dan timur. Saat ini, yang disukai pembeli adalah model yang sederhana. “Perhiasan bermotif sederhana pun laris terjual jika ada cerita di balik motif yang ditawarkan,” paparnya.

Di Indonesia, aksesori dengan sentuhan etnik yang unik kini menjadi tren yang disukai wanita. Aksesori ini bersifat multifungsi karena bisa digunakan untuk kegiatan sehari-hari maupun untuk acara-acara resmi. Detil ornamen-ornamen khas dari beberapa daerah Nusantara menambah keindahan perhiasan etnik. Kalung Bugis, Sulawesi Selatan, paling kaya akan motif. Ada liontin masif yang bersiluet kepala naga yang menunjukkan pengaruh Tiongkok, bersiluet bunga tulip yang menunjukkan jejak pengaruh Eropa, atau kaligrafi aksara Arab, dipadu dengan motif bunga dan sulur-suluran khas Nusantara.

Namun perhiasan bermotif modern pun semakin disukai, khususnya di kalangan usia muda. Tidak perlu pakem tertentu untuk perhiasan modern ini. Berbagai material dan motif dapat dipadu padan, sepanjang selaras dan indah, menggambarkan dinamika dan kebebasan jiwa pemakainya.

Sumber: Majalah Dekranas Kriya Indonesia Craft, Edisi 37 Agustus 2017 (E-book)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.