Di Balik Keindahan Mutiara Khatulistiwa

Mutiara Indonesia

Sebagian besar wilayah Indonesia terdiri atas laut sehingga kita memiliki banyak kekayaan mutiara, terutama di NTT, Maluku, dan Jayapura. Warna mutiara di air laut kita pada umumnya putih, krem, sampanye, keemasan, hijau, dan abu-abu. Bagaimana cara kita mengetahui kualitas mutiara laut?

Sebelum ditemukan teknologi budidaya kerang laut para pencari mutiara menyelam ke dasar laut sampai ke kedalaman ratusan meter. Itu pun seringkali mereka tidak mendapatkan kerang yang berisi mutiara. Bahkan tidak sedikit para penyelam yang meninggal akibat kehabisan oksigen atau lumpuh karena tekanan udara di bawah permukaan laut. Itu sebabnya harga mutiara laut mahal harganya. Harga satu gram mutiara air laut dapat mencapai ratusan ribu rupiah, sehingga seuntai kalung mutiara bisa mencapai seratus juta rupiah atau lebih. Biasanya mutiara air laut dijual dalam bentuk butiran, sedangkan mutiara air tawar dalam bentuk untaian.

Kini kerang mutiara air tawar maupun air laut dibudidayakan dengan cara memasukkan inti mutiara (nucleus) ke dalam cangkang kerang. Untuk melindungi diri dari benda asing yang masuk itu kerang kemudian secara alamiah akan melapisi ‘benda asing’ di dalam tubuhnya. Lapisan ini disebut nacre.

Mutiara di dalam kerang

Kerang mutiara laut membutuhkan waktu sekitar tiga tahun untuk menghasilkan sebutir mutiara, sedangkan mutiara air tawar hanya butuh sekitar enam bulan dan dapat menghasilkan 6 sampai 15 butir. Tidak semua mutiara yang dihasilkan berbentuk bulat sempurna. Meski demikian desainer perhiasan dapat menjadikan mutiara tak bulat itu menjadi perhiasan yang menarik. Bahkan mutiara yang bentuknya tak sempurna bulat ini kini menjadi tren perhiasan karena bentuknya yang unik, tidak ada duanya. Harganya pun dapat melampaui mutiara yang bundar sempurna. Mutiara ini dapat menjadi mata cincin, bandul kalung atau anting yang unik, atau dapat dirangkai menjadi gelang dan kalung yang cantik.

Mutiara air laut

Mutiara air laut lebih bersinar dengan warna keemasan, putih, hitam, cokelat, abu-abu, dan hijau. Sedangkan mutiara air tawar kurang bersinar namun lebih beraneka warna karena warnanya dapat direkayasa manusia. Mutiara air tawar tetap disebut mutiara asli karena berasal dari kerang yang hidup, bukan dari mesin pabrik seperti ‘mutiara’ plastik.

Harga mutiara air laut ditentukan oleh kualitas, kilau, bentuk, permukaan, ketebalan nacre, ukuran, dan beratnya. Jika mutiara semakin berkilau dengan kualitas tinggi, mendekati bundar sempurna, memiliki permukaan yang mulus, memiliki lapisan nacre yang tebal dengan warna yang cerah, ukuran mutiara pun besar dan berat, maka harga mutiara akan semakin mahal.

Keindahan Mutiara Indonesia

Harga mutiara juga ditentukan oleh desain perhiasannya. Tak heran jika Anda dapat memperoleh mutiara dengan harga hanya beberapa puluh ribu rupiah dari perajin di pantai-pantai Lombok, namun bisa juga harus merogoh kocek hingga puluhan juta rupiah untuk mendapatkan perhiasan mutiara yang sempurna di toko atau pameran perhiasan.

Mutiara Laut Selatan Masih Jadi Primadona

Indonesia bukanlah satu-satunya negara penghasil mutiara air tawar maupun laut. Di perairan Jepang dibudidayakan mutiara jenis Akoya. Mutiara Akoya dari Jepang ini dijuluki mutiara klasik dan memiliki ciri khas putih susu, silver dan gold. Kemudian mutiara laut hitam jenis Tahiti (The Black Tahitian Pearl) yang merupakan jenis mutiara laut yang berasal dari perairan pulau Tahiti (Kepulauan Polinesia). Dari lepas pantai perairan Mexico terdapat mutiara Cortez yang terkenal dengan klasifikasi hitam, hijau gelap (Pistachio) yang memiliki khas warna pelangi yang cerah.

Yang paling terkenal, mahal dan paling dicari oleh para kolektor mutiara adalah mutiara jenis South Sea Pearl Gold (mutiara laut selatan). Mutiara jenis ini salah satu habitat penyebaran dan lokasi budidayanya berada di Pulau Lombok, Indonesia, mutiara jenis ini terkenal di dunia dengan julukan “The Queen Of Pearl” yang artinya ‘Ratunya Mutiara’. Panyebaran mutiara jenis ini terdapat di Pulau Lombok, Ambon dan Papua. Selain warna mutiara laut gold yang menjadi primadona dari South Sea Pearl ini, ada warna lain yang tidak kalah populernya yaitu warna white sinar pink, dan sampanye.

Sumber: Majalah Dekranas Kriya Indonesia Craft, Edisi 37 Agustus 2017 (E-book)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.