Wisata Sejarah di Kota Pekalongan Jawa Tengah

Kota Pekalongan ini terletak di jalur Pantura yang menghubungkan Jakarta-Semarang-Surabaya. Pekalongan berjarak 101 km sebelah barat Semarang, atau 384 km sebelah timur Jakarta. Pekalongan dikenal dengan julukan kota batik, karena batik Pekalongan memiliki corak yang khas dan variatif. Kota Pekalongan masuk jaringan kota kreatif UNESCO dalam kategori crafts & folk art pada Desember 2014 dan memiliki city branding World’s city of Batik.

Bekas Benteng Pekalongan (Fort Peccalongan)

Jejak bekas benteng ini terletak di salah satu sudut belakang rumah tahanan Pekalongan, hanya satu bagian ini saja yang masih tersisa dari sebuah benteng

Bekas Benteng Fort Peccalongan terletak di Jl. Rajawali 1 Pekalongan, Kota Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, dengan luas tanah Benteng Pekalongan 7.435 meter persegi dengan luas bangunan 1.720 meter persegi.

Benteng ini didirikan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1753 sebagai tempat penyimpanan senjata. Benteng ini lebih tua dari benteng  Vedreburg (1765) yang ada di kota Jogjakarta.

Benteng ini dibangun untuk mengawasi pelabuhan yang ada di Krapyak. Kapal-kapal yang masuk lewat pelabuhan dan masuk melalui Kali Loji akan mudah terawasi oleh pasukan VOC dari benteng. Benteng juga untuk mengawasi hutan yang masih rimbun di sebagian besar wilayah Pekalongan saat itu.

Logo kota Pekalongan dengan Benteng Fort Peccalongan (https://id.wikipedia.org)

Tidak berfungsinya benteng terjadi pada 1799, ketika VOC dinyatakan bangkrut kemudian beralih tangan kepada pemerintah Hindia Belanda. Sejak 1950 Benteng Pekalongan difungsikan menjadi lapas (LP II). Kemudian, berdasarkan surat dari Kementerian Kehakiman 1985, LP II berubah fungsi menjadi rumah tahanan.

Jejak bekas benteng ini terletak di salah satu sudut belakang rumah tahanan Pekalongan, hanya satu bagian ini saja yang masih tersisa dari sebuah benteng.

Benteng ini pun digunakan sebagai salah satu simbol yang ada yang terdapat pada logo kota Pekalongan.

Kantor Pos Pekalongan

Kantor Pos Pekalongan (https://www.cintapekalongan.com)

Kantor Pos Pekalongan terletak di Jl. Cenderawasih No. 1 Kota Pekalongan, dengan luas 4936 m2 ini telah berfungsi sebagai tempat pengiriman barang pada tahun 1756. Dengan rute Karawang, Cirebon dan Pekalongan. Pelayanan ini mengalami kemajuan di masa pemerintahan gubernur jendral herman william daendels pda abad 18 dgn dibangunnya jalan dari Anyer sampai Pamanukan. Menurut arsip di kantor pos pekalongan, kantor ini diresmikan pada tahun 1900, lebih tua dari kantor pos Semarang.

Gedung Guest Cafe

Gedung Guest Cafe (https://www.youtube.com/)

Gedung Guest Cafe terletak di Jl. Pemuda nomor 51, Pekalongan, berdiri sejak tahun 1850, milik Bakorwil.

Ide pendirian kafe ini bermula dari celetukan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, tentang pemanfaatan gedung tua. Selain itu, kafe ini menawarkan tempat nongkrong yang nyaman bagi para pemuda Pekalongan.

Kafe yang buka dari pukul 11.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB ini sengaja menyajikan menu the agar masyarakat Pekalongan semakin sadar dengan potensi teh yang dimiliki kota yang berjuluk Kota Batik ini.

Jembatan Loji

Jembatan Loji Pekalongan (https://www.cintapekalongan.com)

Jembatan Loji Pekalongan terletak di Jl. Sultan Agung, Panjang Wetan, Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Jawa Tengah, tepat didepan Rutan (Rumah Tahanan) Kota Pekalongan sekarang ini. Jembatan loji merupakan salah satu bangunan cagar budaya di kota pekalongan. Yang dibangun pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda.

Masyarakat pekalongan mengenal dengan sebutan jembatan loji, berasal dari kata lodge, namun nama aslinya adalah kali kupang. Ternyata kata Lodge diciptakan oleh salah seorang anggota Fremansonry (aliran-aliran memanggil roh-roh atau arwah-arwah) di Pekalongan, kali loji yang kita lihat sekarang lebarnya lebih kecil dari yang dahulu.

Jembatan Loji Pekalongan (https://telungatustravelingindonesia.blogspot.com)

Jembatan yang membentang diatas kali loji itu Sebagai Sarana penyeberangan sepanjang 90 meter ini terletak di depan bekas benteng VOC, yang merupakan kantor niaga pemerintahan kolonial belanda, dan pasar loji. Awalnya Jembatan masih terbuat dari kayu, tetapi seiring perubahan jaman tampilanya pun berubah. Ada yang menarik dari pembangunan jembatan loji ini. Pada saat dimulai pembangunannya pada tahun 1880, saat hendak mengecor pondasi jembatan, insinyur proyek asal belanda sempat mengalami kesulitan, karena seluruh adonan semen terbawa arus sungai. Kemudian salah seorang kuli bangunan (warga pekalongan, yang tidak diketahui identitasnya) mengusulkan kepada insinyur belanda tersebut agar campuran semen untuk mengecor tiang penyangga dicampur dengan tepung kanji (pati). Dan ternyata hasilnya sungguh diluar dugaan, yang larut dalam air hanya kanjinya. Sedangkan semen tetap bisa menempel tidak terbawa arus

Atas keberhasilan ini, oleh residen (yang memimpin sebuah karesidenan) pekalongan pada saat itu, kuli bangunan tersebut diberi penghargaan. Pada masa awal pembangunanya, keberadaan jembatan ini sangat vital. Baik untuk kepentingan masyarakat maupun pemerintah belanda yang sedang melebarkan sayap jajahannya ke pedalaman pekalongan. Sekitar tahun 1950-an setelah indonesia merdeka, jembatan ini dipertahankan dan menjadi penghubung antara pesisir pekalongan dan daerah pedalaman karena jembatan ini satu-satunya jalan yang dapat memperpendek jarak tempuh.

Tugu Titik 0 Kilometer Pekalongan

Tugu Titik 0 kilometer (https://travellerhaphap.blogspot.com)

Tugu Titik 0 kilometer (Mylpaal) terletak di Jl. Jatayu, Panjang Wetan, Pekalongan Utara, Kota Pekalongan. Banyak masyarakat yang tidak mengetahui keberadaan titik 0 kilometer Pekalongan. Tugu yang terletak di ujung lapangan jetayu ini justru dianggap sebagai tugu penghalang bagi warga yang sedang berjalan-jalan ataupun berolahraga.

Tugu 0 kilometer atau MYLPAAL dalam bahasa Belanda yang berasal dari 2 suku kata MYL: Satuan Panjang (1 mill=1,609 km) dan PAAL: Tiang.

Tugu Titik 0 kilometer (https://www.cintapekalongan.com)

Tugu MYPAAL ini di bangun sebagai tonggak awal pembuatan jalan daendels, yakni jalur pantura sepanjang 1.100 Lilometer yang digagas oleh jendral herman William Daendles pada tahun 1808. Jalan itu memanjang dari Anyer-Panarukan. Sebenarnya yang membuka jalan pantura adalah para ulama-ulama kita (Walisongo). Daendles hanya mengaspal. Ada yang kota pekalongan sebagai poros dari tengah jawa Misalnya, dapat dilihat dari jarak tempuh dari beberapa kota. Kota pekalongan berjarak kurang dari 400 km dari Jakarta dan 420 km dari Surabaya.

Gedung Bekas Karesiden Pekalongan (Bakorwil)

Gedung Bekas Karesiden Pekalongan (https://www.cintapekalongan.com)

Gedung Bekas Karesiden Pekalongan, sekarang Gedung Bakorwil Pekalongan terletak di Jl. Diponegoro 51, Dukuh, Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah.

Gedung ini dibangun masa J van Der Ep (residen pekalongan) saat itu pada tahun 1850. Pembangunan gedung ini memerlukan waktu 3 tahun dengan luas kira-kira 5000 m2. Gedung ini mulai ditempati pada masa residen George Johan Peter van de Por, pengganti residen sebelumnya. Didalam gedung ini terdapat 4 kamar, 1 dari 4 kamar ini tidak boleh dibuka oleh siapapun sampai sekarang, terdapat juga foto-foto residen-residen pekalongan dari awal-akhir.

Bekas Gedung National Hundles Bank (NHD)

Gedung PT. Pertani (Persero)

Gedung ini terletak di Jl. Jetayu No.9, Panjang Wetan, Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah. Bank pertama di Pekalongan yang dulu menjadi pusat transaksi keuangan di Karesidenan Pekalongan.

Gedung ini dibangun pada tahun 1828 oleh jendral herman William daendles. setelah merdeka tepatnya pada tanggal 14 januari 1959 mulai menjadi gedung PT. Pertani (Persero).

Gedung Musem Batik

Gedung Museum Batik

Gedung Museum Batik terletak di Jl. Jetayu No.1 Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, Bangunan ini dibangun tahun 1900, memiliki luas tanah dan bangunan 40 meter persegi.

Gedung museum ini sebelumnya adalah bekas kantor balai kota Pekalongan, pada masa penjajahan kolonial Belanda gedung tersebut merupakan kantor keuangan yang membawahi tujuh pabrik gula di karesidenan Pekalongan.

Hingga Jepang meninggalkan Pekalongan pun bangunan ini masih berfungsi sebagai kantor pemerintahan kota pekalongan, sebelum pada tahun 1950 pindah ke jalan mataram. Pada 12 Juli 2006 bangunan ini akhirnya menjadi Museum Batik yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pekalongan mendirikan sebuah museum batik ternyata karena adanya desakan dari masyarakat & pengrajin batik kepada pemerintah kota Pekalongan.

Gedung Bekas Landraad

Pengadilan Negeri Pekalongan (https://google.com)

Gedung bekas Landraad, sekarang menjadi Pengadilan Negeri Pekalongan terletak di Jl. Cendrawasih No. 2, Pekalongan, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah.

Pengadilan Negeri Pekalongan didirikan pada zaman penjajahan Belanda yaitu pada tahun 1920 dengan nama Landraad. Pengadilan Negeri Pekalongan dibangun di atas tanah seluas 6.175 m2. Selanjutnya gedung Pengadilan Negeri Pekalongan telah mengalami perubahan dengan adanya perombakan dan tambahan 2 bangunan gedung ruang sidang di sebelah barat dan sebelah timur sehingga sekarang ada 4 ruang sidang dan 1 ruang sidang anak.

Pabrik Limun Oriental

Pabrik Limun Oriental (https://travel.detik.com)

Pabrik Limun Oriental terletak di Jl. Rajawali Utara No.15, Panjang Wetan, Pekalongan Utara, Panjang Wetan, Kota Pekalongan Utara, Jawa Tengah, sudah ada sejak tahun 1910, lebih tua sebelum coca cola. pabrik Limun atau pabrik Soda, sirup, dan sejenisnya. Dahulu, masyarakat Pekalongan menyebut minuman bersoda dengan sebutan ‘orson’. Limun inilah yang dimaksudkan sebagai orson, dengan 9 rasa, yaitu rasa nanas, kopi moka, jeruk, framboze, sirsak, lemon, anggur, leci dan korma.

Sumber: alvianfoto

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.