Wisata Sejarah di Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah

Kabupaten Pekalongan berada di jalur pantura yang menghubungkan Jakarta-Semarang-Surabaya. Angkutan umum antar kota dilayani oleh bus dan kereta api di Kota Pekalongan. Kajen, ibukota Kabupaten Pekalongan, berada di bagian tengah-tengah wilayah kabupaten, sekitar 25 km sebelah selatan Kota Pekalongan.

Batu Purbakala Watu Bahan

Batu Purbakala Watu bahan, bertumpuk Watu Bahan dengan beragam bentuknya (https://pekalongankab.go.id)

Batu Purbakala Watu bahan terletak dikawasan Perhutani di Kecamatan Doro bagian selatan di Desa Lemah abang, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, diperkirakan peninggalan Mataram Kuno abad 9 atau 10 Masehi.

Jika anda ingin berkunjung ke wisata batu purbakala watu bahan. Kalian bisa menuju arah Pasar doro kebarat. Ada balai desa doro rejo, lalu belok kiri kemudian silahkan tanya warga sekitar pasti mereka mengetahui tentang wisata batu purba watu bahan pekalongan.

Watu Bahan tertata rapi (https://pekalongankab.go.id)

Batu – batu di wisata watu bahan terlihat dalam keadaan sudah berbentuk dan tertata- rapi, seakan batu-batu ini sudah dipahat dan disusun. Namum sebenarnya batu-batu tersebut sudah sejak dulu kala berbentuk seperti itu. Oleh sebab itu, kemudian masyarakat sekitar menamakan curug ini dengan sebutan Watu bahan yang berasal dari kata watu (batu) bahan (bahan baku). Batu – batu di tempat ini seperti sudah tersusun di curug. Batu – batu tersebut dulunya seakan sudah di persiapkan dan akan digunakan sebagai bahan bangunan.

Curug Watu Bahan (https://pekalongankab.go.id)

Watu bahan merupakan batu yang berbentuk persegi yang tertata membentuk tebing, batu ini terlihat seperti batu peninggalan purbakala, Wisata Watu Bahan memiliki keunikan karena ditempat tersebut banyak batu yang berbentuk persegi enam dan persegi panjang. Batu tersebut menyerupai hebel atau balok yang telah tertata secara bertumpuk tumpuk sehingga membentuk tebing batu yang unik dan indah. Susunan batu tersebut konon telah tersusun sejak ratusan tahun yang lalu. Susunan batu yang membentuk tebing tersebut panjangnya mencapai ratusan meter dan tingginya kira – kira mencapai puluhan meter.

Peninggalan Sejarah

Seperti dikutip dari dosen unimus bahwa data permukiman awal dari masa prasejarah dan awal masa sejarah kuno sebagaimana ditunjukan oleh adanya peninggalan megalitik dan lingga yoni dibeberapa tempat di daerah Kabupaten Pekalongan di bagian selatan menunjukan bahwa pemukiman penduduk telah berlangsung lama dan telah mengenal sistem kemasyarakatan dan keagamaan. Sistem kemasyarakatan yang bagaimana tidak dapat diketahui pasti karena terbatasnya sumber informasi.

Beberapa benda peninggalan sejarah yang berada di daerah Kabupaten Pekalongan berupa Yoni dan Lingga dan bukti peninggalan yang lain seperti:

  • Lingga/ Yoni yang berada di Desa Telagapakis Kecamatan Petungkriyono.
  • Yoni yang berada di Dukuh Gondang Desa Telogohendro wilayah Kecamatan Petungkriyono.
  • Lingga yang berada di Dukuh Mudal Desa Yosorejo wilayah Kecamatan Petungkriyono.
  • Lingga/ Yoni yang berada di Dukuh Parakandawa Desa Sidomulyo Kecamatan Lebakbarang.
  • Yoni yang berada di Dukuh Pajomblangan Kecamatan Kedungwuni.
  • Yoni yang berada di Dukuh Kaum Ds. Rogoselo Kecamatan Doro.
  • Yoni yang berada di Desa Batursari Kecamatan Talun.
  • Archa Ghanesha yang berada di Desa Kepatihan Kecamatan Wiradesa.
  • Archa Ganesha yang berada di Desa Telogopakis Kecamatan Petungkriyono.
  • Batu lumpang yang berada di Desa Depok Kecamatan Lebakbarang.
  • Batu Lumpang yang berada di Dukuh Kambangan di Desa Telogopakis Kecamatan Petungkriyono dan sebagainya.

Data pemukiman pada periode awal Abad Masehi sampai Abad XIV dan  XV sangat langka dan terbatas, sehingga sulit dipastikan pertumbuhan dan perkembangan komunitas di wilayah Pekalongan pada masa pengaruh kebudayaan Jawa Hindu berkembang di Jawa. Hal ini terjadi karena sampai masa kini belum ditemukan prasasti peninggalan tertulis yang mampu mengungkapkan kehidupan pada masa  itu.  Banyak  ditemukan  toponim,  beserta  tradisi lisan, berupa legenda mitos, atau cerita rakyat yang berkaitan dengan toponim, akan tetapi sulit untuk memastikan kebenaran data legenda atau cerita rakyat tersebut.

Seperti yang dikemukakan oleh Schrieke, Negara Kertagama, karya tulis penting pada masa Majapahit, sama sekali tidak menyebut nama-nama daerah di Pantai Utara Jawa sebelah barat Lasem yang mencakup daerah Tegal, Pekalongan dan Semarang, yang pada masa itu diduga masih jarang dihuni penduduk.  Sementara daerah lain seperti Demak, Jepara , Kudus dan Pati telah berkembang menjadi daerah penting.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.