Kain Tenun Ikat Sumba Nusa Tenggara Timur

Kain Tenun Ikat Sumba Nusa Tenggara Timur

May 5, 2018 0 By admin

Beragam kain tenun ikat Sumba

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan eksotis yang berada di wilayah timur Indonesia. Tak hanya dikenal sebagai daerah yang memiliki banyak objek wisata menarik seperti Danau Kelimutu dan Labuan Bajo, Provinsi NTT juga dikenal memiliki “harta karun” berupa kekayaan budaya yang begitu memesona.

Tenun ikat Sumba adalah salah satu bentuk dari kekayaan budaya yang dimiliki oleh Provinsi NTT. Tenun ikat Sumba merupakan kain nusantara nan eksotis yang diciptakan oleh para seniman tenun dari Sumba Timur. Tenun ikat Sumba bukanlah kain yang bisa dikerjakan oleh sembarang orang. Salah satu seniman tenun ikat Sumba senior, Ruth Babang Liau atau Mama Ruth, menceritakan bahwa butuh proses yang rumit dan panjang untuk menghasilkan satu helai kain tenun ikat Sumba berukuran besar. Hal tersebut dikarenakan seluruh proses pengumpulan bahan dan pembuatan tenun ikat Sumba dikerjakan secara manual.

“Satu helai kain tenun biasanya saya kerjakan selama 2 hingga 3 bulan. Bisa 5 bulan kalau ukurannya besar. Mengapa lama, karena kita harus mencari bahan baku dan bahan pewarna ke hutan. Semua kain tenun ikat Sumba sepenuhnya dibuat dari tumbuhan, termasuk pewarnanya juga,” tutur Mama Ruth ketika ditemui oleh Greeners pada acara pameran tenun ikat Sumba di Jakarta, Minggu (01/10).

Mama Ruth juga menjelaskan bahwa setiap helai kain tenun ikat Sumba siap pakai telah melewati 42 tahap proses pengerjaan dan tidak dapat dikerjakan seorang diri.

“Satu helai tenun ikat Sumba biasanya dikerjakan oleh 3 sampai 10 orang. Ada yang mencari bahan, memintal benang, mewarnai benang, menenun, dan membuat motif. Selembar kain tenun ikat kita buat melalui 42 proses, mulai dari proses lamihi (proses memisahkan biji dari kapas) hingga proses wari rumata (proses finishing) .Makanya selesainya bisa lama,” papar Mama Ruth.

Tak hanya indah, kain tenun ikat Sumba juga merupakan kain yang sangat ramah lingkungan karena sepenuhnya terbuat dari kapas. Tenun ikat Sumba juga diwarnai dengan pewarna alami yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Tidak ada bahan kimia sedikitpun yang digunakan dalam proses pembuatan tenun ikat ini. Setiap motif tentunya memiliki cerita masing-masing.

Motif

Tidak seperti kain pada umumnya, setiap lembar kain tenun ikat Sumba yang lahir dari tangan para seniman memiliki cerita dan keunikan masing-masing. Seperti lukisan, setiap helai kain tenun ikat Sumba menggambarkan kreativitas, imajinasi, dan suasana hati dari sang seniman tenun.

Ada yang berisi tentang cerita sejarah dan doa. Cerita tersebut dituangkan dalam kain melalui motif-motif. Biasanya membuat motif langsung di atas kain, tidak dibuat sketsa terlebih dahulu.

Kain tenun ikat Sumba sendiri biasanya dihiasi oleh berbagai motif yang terinspirasi dari flora dan fauna. Setiap motif tentunya memiliki cerita masing-masing.

Motif singa berkepala manusia melambangkan kekuasaan, motif bunga melambangkan kehidupan manusia yang saling membutuhkan, dan motif ular melambangkan kehidupan setelah kematian. Ada juga beberapa motif yang hanya bisa digunakan oleh masyarakat dari kelas bangsawan seperti motif patola ratu.

Warna Alami

Bahan baku tenun ikat Sumba adalah kapas. Kapas diurai dengan pandi lalu dipintal menjadi benang. Setelah itu, benang diwarnai oleh pewarna alami. Warna biru berasal dari tanaman indigo dan nila, merah dari akar mengkudu, dan hitam dari lumpur.

Proses pewarnaan juga memakan waktu lama, bisa minimal 2 minggu baru selesai diwarnai. Untuk melakukan pewarnaan warna biru, prosesnya harus dilakukan oleh perempuan dan ada beberapa pantangan yang harus dijaga supaya proses pewarnaannya tidak gagal.

Dunia Fesyen

Dalam dunia fesyen di Indonesia, keeksotisan kain tenun ikat Sumba mampu menarik peminat yang begitu banyak. Sudah banyak para desainer yang merancang pakaian dengan menggunakan kain tenun ikat Sumba. Meski demikian, para desainer harus sangat berhati-hati dalam merancang busana yang terbuat dari kain tenun ikat Sumba. Sebisa mungkin, kain tenun ikat Sumba tidak mengalami proses pengguntingan supaya nilai seni dari kain tersebut tetap terjaga utuh.

Sumber: greeners