Kain Tenun Ikat Sikka Nusa Tenggara Timur

Beragam kain tenun ikat Sikka (https://travel.kompas.com)

Suku bangsa Sikka merupakan sebagai bagian dari etnis Mukang yang terdiri dari beberapa suku, yaitu suku Sikka, Krowe, Mukang dan Muhang, yang mendiami Kabupaten Sikka, Flores timur-tengah, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Kebiasaan masyarakat Sikka dalam kesehariannya dan tiap acara adat atau agama, selalu memakai kain tenun atau sarung adat. Sebutan U’tang Sikka untuk sarung perempuan dan lipa Sikka atau Ragi Sikka untuk sarung laki-laki.

Sejarah

Proses awal tenun kain di Sikka dalam catatan sejarah, dieksplorasi secara hebat sekitar tahun 1600-an oleh Raja Don Aleksius Alesu Ximenes Da Silva, yang akrab disapa “Mo’ang Lesu” sebagai perintis tradisi tenun-menenum di kampung Sikka sejak tahun 1607.

Sebagai salah satu ungkapan rasa terima kasih atas jasanya, hingga kini kaum ibu selalu “mengabadikan” motif Rempe Sikka Tope pada salah satu jenis tenunan mereka karena motif tersebut merupakan salah satu motif kesukaan Mo’ang Lesu.

Jenis Kain Tenun

Seorang ibu sedang menenun (https://www.youtube.com)

Jenis tenunan tersebut terdiri dari, Kain tenun ikat, Kain tenun prenggi, Kain tenun liin, Kain tenun neleng dan Kain tenun itor. Jenis kain adat artinya penuh dan kaya motif terdiri dari hurang kelang (jalur-jalur ikat dan non ikat) dan bermutu tinggi karena mempunyai nilai filosofi atau pesan khusus dan prosesnya dengan upacara khusus dalam hampir tiap tahapan prosesnya. Lapisan-lapisan bagian motif yang disebut sebagai satu-kesatuan hurang kelang yang terdapat dalam suatu unsur kain tenun atau sarung berbeda tergantung pada jenis motifnya. Motif teridentifikasi pada bagian ina gete (main motif) yang merupakan nama dari motif kain tersebut.

Motif dan Makna

Jika  ditelusuri  kembali  dari motif, teknik, proses pembuatan dan asalnya, sebuah  kain  tenun  ikat  bagi masyarakatnya dapat dianggap mempunyai nilai dan makna yang dalam. Nilai- nilai itu antara lain nilai spritual (religio-magi), nilai politis (dikaitkan dengan ritual-ritual adat dan oleh pemangku adat), dan nilai sosial-ekonomis (sebagai denda adat untuk mengembalikan keseimbangan sosial). Juga makna yang dalam dapat ditemukan dalam pemakaian kain tenun berdasarkan corak-motifnya, seperti contoh dibawah ini:

  • Utang Jarang Atabi’ang, dengan motif pasangan manusia berkuda yang melambangkan manusia menuju   alam   baka   (dipakai sewaktu ada kematian).
  • Utang Merak, dengan  motif  burung merak  dari  corak  dan  warna yang    menarik    dan    indah (dipakai    pengantin    wanita).
  • Utang Mitang,  dengan  motif  garis     warna     gelap     yang tenang    (dipakai    oleh    para orang  tua).
  • Utang Mawarani, dengan  motif  bintang  kejora sebagai pemberi terang, petunjuk  dan  media  penolak bala  (dipakai  para  pemimpin).
  • Utang Rempe-Sikka,   dengan bermotif   tiga   bintang   yang mengandaikan suami, istri dan anak  (dipakai  oleh  pengantin wanita).
  • Utang Sesa We’or, dengan motif ekor burung murai betina dan jantan (dipakai  oleh  sepasang pengantin). (Marie Jeanne Adams)

Proses Pembuatan

Dikutip dari laman astinsoekanto, proses pembuatan selembar kain tenun sebagai berikut:

Pohon kapas dengan sebutan ‘kapa ai’. Biasanya pohon kapas ini ditanam di kebun dan menghasilkan buah selama satu musim saja, yaitu di musim kemarau. Jika daya berbuahnya sudah hilang, pohon itu akan kering dan mati.

a. Memisahkan biji dengan kapas

Memisahkan antara biji dan kapas

Prosesnya dimulai dari mengeluarkan kapas putih dari kelopak atau cangkangnya. Kapas putih yang masih banyak bijinya tadi, kemudian dijemur di panas matahari. Jika kapas sudah kering dan ringan, itu berarti langkah berikutnya adalah mengeluarkan biji kapas. Cara mengeluarkan biji kapas disebut keho kappa atau ngeung kappa.

Untuk memisahkah kapas dari bijinya, dipakai sebuah alat tradisional yang disebut ngeung atau keho. Alat itu sangatlah sederhana kontruksinya dan sebagian besar terbuat dari kayu. Lalu bagaimana caranya mengeluarkan atau memisahkan putih kapas dari bijinya dengan memakai alat ngeung?

Tangan kanan menggerakkan alat pemutar, sementara tangan kiri mengisi atau memasukkan kapas diantara 2 kayu bulat melintang. Memasukkankan kapas ini harus cepat meskipun jumlahnya tidak boleh langsung banyak, namun harus sedikit demi sedikit. Kapas yang bersih jatuh ke bagian depan alat, sedangkan biji-bijinya jatuh ke belakang.

Memasukkan kapas untuk memisahkan dari bijinya disebut wotik, yang berarti menyuapi. Jadi pekerjaan ini butuh kesabaran dan ketenangan luar biasa, layaknya seorang ibu yang sedang menyuapi anaknya.

b. Membersihkan kapas

Pembersihan kapas dengan memukul-mukul berulang kali

Meskipun kapas telah dipisahkan dari biji-bijinya, namun tidak otomatis selesai dan bisa digunakan, karena kotoran masih tetap ada. Karena itu, untuk membersihkannya kapas dibiarkan kering dengan menjemurnya.

Proses membersihkan kapas dilakukan oleh 2 perempuan yang memukul-mukul kapas dengan 2 tongkat kayu di atas tikar. Keduanya memukul secara silih berganti. Karena terus menerus dipukul serta dibolak-balik, maka kapas menjadi lembek, sehingga kotoran-kotoran mudah dibersihkan.

c. Kapas dipintal

Memintal benang kapas

Setelah kapas dibersihkan, maka serat kapas tadi dihaluskan dengan alat semacam busur kecil, dengan dipilin menggunakan telapak tangan. Pilinan kapas ini kemudian dipintal menjadi benang panjang yang tidak terputus.  Cara memintal kapas menjadi benang, menggunakan alat yang dinamakan jantra atau kincir. Onderdil alat ini terbuat dari kayu yang berbentuk seperti roda.

d. Membuat Motif

Merentangkan benang

Jika kapas sudah menjadi benang, maka tahapan berikutnya adalah mengikat motif dan ragam hias. Benang direntangkan pada alat yang disebut laing tebong yang terbuat dari 2 kayu yang melintang. Setelah benang direntangkan, maka pekerjaan yang berikutnya adalah membuat ikat motif atau ragam hias geometris. Pekerjaan ini dilakukakn oleh 2 orang, dengan cara saling memberi dan menerima benang. Yang satu mengatur agar tiap urat benang dimasukkan dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas, yang lainnya, mengembalikan urat benang ke pangkalnya. Lalu dengan hitungan tertentu, mereka membentuk motif yang diinginkan.

Membuat jalur-jalur ikat tenun

Jalur-jalur ikat tenun dibedakan atas beberapa pola, yang antara lain: pola besar yang dominan (pola ibu), pola besar sedang, dan pola kecil. Semua jalur ikat baik yang besar maupun yang kecil dengan motif atau ragam hias tertentu, bisa memenuhi satu bahan sarung tenun ikat. Penataannya tergantung pada rasa seni si pembuatnya.

e. Mewarnai Benang

Mewarnai benang secara tradisional dengan bahan alami

Benang-benang yang sudah diikat dan membentuk pola-pola dengan motif tertentu tadi, kemudiam akan melalui proses pewarnaan benang. Proses ini dimulai dengan mencelupkan benang kedalam adukan minyak kenari dan minyak kemiri untuk pengawetan.

Dalam mewarnai benang, pengrajin tenun ikat tradisional menggunakan bahan dasar alami, seperti: daun dan akar mengkudu (warna merah); daun tarum (warna biru indigo), kunyit (warna kuning), dan lain sebagainya. Setidaknya ada 11 warna tercipta dari bahan alami yang ramah lingkungan.

Pewarnaan benang dapat dilakukan berulang-ulang, demi menghasilkan warna yang khas. Dalam pewarnaan benang yang menggunakan bahan dasar alami, memang warna terlihat tidak secerah (kurang kinclong) layaknya kalau memakai benang modern (sintetis). Tapi pewarnaan yang alami seperti ini, justru lebih tahan lama dan jika kain dikenakan dalam jangka waktu yang lama, justru akan semakin menguak warna yang makin lama semakin indah.

Usai pewarnaan, benang dibiarkan hingga kering, lalu direntangkan pada rangka benang untuk kemudian ditata sedemikan rupa menjadi pola hias.

f. Menenun

Menenun

Jika rentangan benang sudah membentuk motif dan pola hias tertentu, maka tahapan berikutnya adalah menenun. Saat menenun, seorang mama penenun akan melakukan beberapa hal, seperti misalnya: mengangkat benang sambil mengeluarkan alat panjang seperti tombak (pedang tenun), memasukkan benang dengan memakai tabung kecil (legung), menyentak-nyentak dengan memakai pedang tenun, merapikan benang yang disebut plehok, dsb.

Hasil tenun yang indah sekali memerlukan kesabaran dan ketekunan tinggi

Selama proses menenun, seorang perajin tenun dengan lincah menggerakkan kedua tangannya dan menyatukan hati serta pikirannya, bersamaan dengan peralatan tradisional yang melilit pinggang. Mereka bekerja dari mulai matahari setinggi tombak hingga menjelang sore hari. Butuh waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk bisa menghasilkan selembar kain tenun yang berkualitas sekaligus bercitra seni tinggi.

Setelah menyaksikan demonstrasi menenun tadi, semakin paham dan menyadari betapa panjangnya proses menenun. Ada sekitar 20 tahapan yang harus dilalui demi menghasilkan sehelai kain tenun yang indah. Harga yang kita bayar demi sehelai kain tenun, semahal apapun itu menurut kita, rasanya sepadan dengan ketekunan dan kesabaran para penenun itu. Bukankah begitu?

Teknik Menenun

Ada kain tenun yang proses penembakan pakannya menggunakan benang pakan yang sudah terbentuk motifnya, maka harus tepat penempatan motifnya secara langsung saat ditenun.

Karena pakan jenis ini sudah melalui proses ikat pada pakan bukan diikat pada benang lungsi. Jenis ini hanya seniwati penenun yang daya imajinasinya tinggi.

Juga ada kain tenun yang pembentukan motifnya tanpa ikat tapi langsung dengan permainan unsur pakan selama menenun. Pembentukan motifnya secara langsung saat menenun. Jenis ini juga hanya penenun dengan ketrampilan tinggi.

Ada juga kombinasi permainan warna spiral pada benang pakan yang menggunakan alat pintal, sehingga mutu kain yang dihasilkan bisa terbentuk modifikasi warna-warni dan tekstur yang menarik.

Warna

Pewarnaan alami (https://www.youtube.com)

Pewarna yang digunakan pun tergantung dari dominansi tumbuhan yang tumbuh sebagai habitat di daerah tersebut. Proses pewarnaan merupakan unsur seni dalam memadukan kombinasi warna yang sudah secara lasim dihasilkan. Ada yang warna tunggal dan warna kombinasi bersusun. Paduan warna ada yang warna ganda, yang tentu saja pengerjaannya pun makin rumit dan proses yang lama juga ada upacara khusus dan ada pantangan-pantangan tertentu agar hasilnya sempurna.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.