Kain Tenun Ikat Lio Nusa Tenggara Timur

Seorang ibu dengan latar belakang Tenun Ikat Lio (https://www.socimage.net)

Produk tenun ikat Lio, baik yang alamiah maupun kontemporer, memiliki nilai yang sangat esensial bagi kebutuhan ritual tradisional. Misalnya, dimanfaatkan sebagai busana tradisional sehari-hari bagi masyarakat (tau pakezuzera/lulera), sebagai busana pernikahan adat (pakenika), upacara resmi adat (pakepa’a pembe/pa’aloka, wake sa’o, dan lain-lain).

Selain itu, dimanfaatkan pula sebagai barang dagangan atau jualan (ngawuteka), bahan bawaan pada saat acara adat nikah, meninggal (wurumana, mailaki, niangala, tau ozowa’u), busana pesta seni budaya (tau tojawanda, tau nyanyi), bukti keterampilan menenun tenun (tau ngamangaza/ngala, tembo tau), jaminan penebus utang (nggesu/nggelusepu), busana kebesaran raja (atangga’e), mosalaki dan istri (ineria/no’ongga’e), memakaikan pada anak dan mantu (tau pakeana, phebaana), pakaian perang suku (wikkanua, mboutana) dan sebagainya.

Para leluhur orang Ende-Lio dahulu merancang sehelai kain tenun ikat dengan berbagai pertimbangan dan citarasa estetika yang tinggi. Misalnya, pertimbangan kualitas, simbolis, penghayatan, dan sentuhan seni. Hal ini dapat dilihat pada keseluruhan proses menenun. Tenun ikat digarap dengan pola dan rupa yang hadir dengan dukungan pilihan benang atau serat kapas serta kulit kayu yang tumbuh di hutan dengan sistem pewarnaan yang khas, hitam, nila, dan merah mengkudu. Warna-warna itu diambil dari kulit kayu, akar, batang dan dedaunan tumbuhan sehingga sampai kapan pun warna tersebut tidak akan luntur bahkan makin lama akan bertambah mencolok warnanya.

Sejarah

Kain patola diperkenalkan oleh para pedagang dari Portugis, yang pada abad keenam belas mengadakan perdagangan dan pertukaran kain patola dengan rempah-rempah dari nusantara bagian timur, termasuk di Flores. Bangsa Portugis, dan bangsa-bangsa Eropa lain (Belanda dan Jerman) meninggalkan pengaruh yang begitu besar, terutama karena banyaknya misionaris yang menyebarluaskan agama Kristen, Protestan dan Katholik. Hingga saat ini agama Kristen banyak penganutnya di Flores.

Motif dan Warna

Kain tenun ikat Lio (https://www.ikat.us)

Ragam hias kain tenun ikat dari daerah ini diilhami oleh kain patola India berupa motif ceplok seperti jelamprang pada kain batik. Selain motif ceplok, kain dari Lio ini juga dihiasi dengan motif daun, dahan, dan ranting.

Ciri khas motif tenun ikat Lio yang lain adalah bentuk geometris, manusia, biawak, dan lainnya yang biasanya berukuran kecil dan disusun membentuk jalur-jalur berwarna merah atau biru di atas dasar kain yang berwarna gelap.

Di kalangan sub-etnis Lio, terdapat motif yang langka yang disebut Omembulu telu (tiga emas). Menurut kepercayaan masyarakat lokal, kain tenun motif ini dapat membuat pemiliknya menjadi kaya raya.

Selain itu ada motif Nggaja dan Rajo, menceritakan leluhur dari India dan Malaka. Motif Nggaja berbentuk hewan gajah itu mendeskripsikan tentang kehidupan para dewa India Malaka yang datang ke Ende. Entah ada atau tidaknya hewan gajah di Ende, tetapi pada umumnya para pemeluk agama Hindu yang sebagian dianut bangsa India menjadikan gajah sebagai simbolisasi Dewa Ganesha, dewa pelindung ilmu pengetahuan.

Motif nggaja biasa dipakai untuk melayat kematian dan untuk memenuhi undangan perkawinan. Saat melayat kain harus dipakai terbalik. Kepala gajah harus menghadap ke bawah.

Sedangkan motif Rajo, menceritakan tentang sebuah kapal “Rajo” milik leluhur dari India Malaka, dari India Malaka menuju Ende menggunakan kapal “Rajo”.

Rajo adalah perahu dan didalam Rajo terdapat wea atau emas dan riti atau anting emas yang biasa dikenakan oleh ibu-ibu etnis Lio. Sementara wea dikenakan oleh lelaki tua (mosalaki) yang digantungkan pada leher.

Kain tenun ikat dengan motif patola mempunyai nilai tinggi. Oleh karena itu, daerah-daerah tenun di wilayah Nusa Tenggara Timur memiliki motif-motif patola yang diperuntukkan khusus bagi kalangan raja-raja, pejabat, dan tokoh adat yang jumlahnya terbatas. Mengingat kain ini sangat istimewa dan berharga, bahkan ikut dikuburkan saat seorang raja, pejabat atau bangsawan tersebut meninggal dunia.

Kain tenun Lio ini juga diberi hiasan tambahan atau aplikasi dengan manik-manik dan kulit kerang. Pakaian dengan hiasan khusus ini hanya dipergunakan dalam upacara-upacara adat tertentu. Selain terkenal dengan tenunannya, Lio juga penghasil kerajinan tembikar berupa kebutuhan rumah tangga khususnya peralatan dapur yang terbuat dari tanah liat. Ada suatu kesamaan ragam hias pada kain tenun ikat dan barang tembikar yaitu goresan garis-garis geometris seperti bentuk meander, kait, belah ketupat, tumpal, dan lainnya, yang sering terdapat pada ragam hias ikat pada kain tenun dan anyaman.

Kain sarung Lio

Sarung atau Lawo (https://www.ikat.us)

Sarung atau Lawo (https://www.ikat.us)

Tenun ikat dari Lio menunjukkan kemahiran tenun dengan motif ikat yang halus dan rumit. Ragam hias pada kain dari daerah Lio menunjukkan banyaknya pengaruh kain patola dalam pembuatannya, seperti pada kain sarung ini. Kain ini dibuat dengan latar warna cokelat tua, diberi ragam hias berwarna cokelat muda campur kuning bergaris geometris dalam bentuk flora. Ragam hias dibagi dalam beberapa jalur. Jalur besar di tengah diapit jalur kecil dan di kedua ujung kain terdapat jalur-jalur motif flora sebagai hiasan ujung dan hiasan pinggir. Kain sarung yang mempunyai dua latar/dasar warna, yaitu tiga bagian berlatar gelap (cokelat hitam) dan satu bagian berlatar merah. Pada latar yang berwarna cokelat hitam dihiasi dengan motif patola ceplok bunga bersudut delapan warna kuning. Pada latar kain berwarna merah diberi ragam hias jalur-jalur yang diisi motif tumpal gaya pepohonan dan ranting-ranting serta ragam hias geometris.

Sarung atau Lawo (https://www.ikat.us)

Sarung atau Lawo (https://www.ikat.us)

Leave a Reply