Putri Mambang Linau Riau

 

Bujang Enok pergi mencari kayu ke hutan. Ketika sedang mengikat kayu untuk dibawa pulang, tiba-tiba seekor ular berbisa mendekatinya. Ular itu siap mematuknya. Bujang Enok tak mau mati konyol. Untung saja ia selalu membawa sebilah rotan peninggalan almarhum ayahnya. Dengan sekali pukul, ular berbisa itu langsung mati. Dalam perjalanan pulang, Bujang Enok mendengar suara sekelompok wanita sedang bercakap-cakap. “Tahukah kau, ular berbisa itu sudah mati. Sekarang kita aman, tak ada lagi yang membahayakan kita,” demikian perbincangan mereka. Bujang Enok tak ambil pusing. Ia pikir, mereka hanyalah ibu-ibu yang biasa mencuci di sungai.

Sesampainga di rumah, Bujang Enok hendak beristirahat melepas lelah. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat dapurnya penuh dengan makanan lezat. “Siapa yang mengiapkan semua ini? Ibuku sudah lama meninggal, saudara aku tak punya, lalu siapa?” gumannya heran. Namun karena rasa lapar, ia tak berpikir lebih lanjut dan makan dengan lahap. Dalam hati ia berkata, “Besok aku akan mencaritahu siapa yang menyiapkan semua ini.”

Keesokan harinya, Bujang Enok bersembunyi di balik semak-semak depan rumahnya. Ia ingin tahu, siapa yang menyiapkan hidangan lezat itu. Menjelang siang, tampaklah iring-iringan tujuh wanita cantik membawa bermacam-macam makanan. Mereka semua cantik, namun ada satu yang paling memikat hati Bujang Enok. Gadis berselendang jingga telah memikat hati Bujang Enok.

Bujang Enok penasaran, “Siapa mereka? Mengapa mereka menyediakan makanan untukku?” Saat mencuri dengar percakapan mereka, barulah Bujang Enok tahu kalau makanan itu disediakan sebagai ucapan terima kasih. Rupanya ketujuh wanita itu tahu kalau dirinyalah yang membunuh ular berbisa itu. Bujang Enok jatuh cinta pada wanita berselendang jingga. Ia mencari cara untuk berkenalan. Ia lalu mengikuti ketujuh wanita tersebut. Mereka berjalan menuju sungai, kemudian melepas selendang untuk mandi. Diam-diam, Bujang Enok mengambil selendang jingga dan menyembunyikannya.

Selesai mandi, mereka kembali mengenakan selendangnya. “Dimana selendangku?” tanya salah satu dari mereka dengan panik. Keenam temannya membantu mencari selendangnya. Tentu saja mereka tak dapat menemukannya. Dengan berat hati, keenam wanita tersebut meninggalkannya di Bumi. Rupanya mereka semua adalah bidadari dari kayangan yang turun ke Bumi. Satu per satu mengepak-kepakkan selendangnya dan naik ke langit. “Maafkan kami, tapi kami harus meninggalkanmu,” kata mereka.

Sepeninggal teman-temannya, wanita itu terus menangis. Bujang Enok lalu keluar dari persembunyiannya dan pura-pura bertanya, “Wahai wanita cantik, mengapa engkau terus menangis?”

“Aku kehilangan selendang jinggaku. Jika Kanda melihatnya, tolong kembalikan padaku,” jawab wanita itu. Tak tega, Bujang Enok lalu mengembalikan selendang jingga itu.

 

“Aku yang mencuri selendangmu. Aku melakukannya karena aku jatuh cinta padamu. Aku tak ingin kau kembali ke kayangan. Tinggallah di sini dan menikahlah denganku,” kata Bujang Enok jujur.

Wanita itu terharu mendengar ketulusan niat Bujang Enok. Ia pun bersedia menikah dengan Bujang Enok. “Perkenalkan Kanda, namaku Putri Mambang Linau. Aku bersedia menjadi istri kanda. Namun ada satu syarat yang tak boleh dilanggar. Kanda tak boleh menyuruhku menari. Jika aku menari, aku akan kembali ke kayangan, tempat asalku,” kata wanita itu. Bujang Enok menyetujui syarat itu. Mereka pun menikah dan saling mencintai.

Hari demi hari berlalu. Bujang Enok dan Putri Mambang Linau hidup berkecukupan. Mereka amat dermawan dan suka membantu orang miskin. Lama-kelamaan, sifat baik hati Bujang Enok terdengar sampai ke telinga Raja. Raja senang padanya, dan untuk membalas jasa, Raja mengangkatnya menjadi kepala kampung. Bujang Enok dan Putri Mambang Linau sangat senang. Itu berarti, mereka dapat membantu lebih banyak penduduk kampung

Sebagai kepala kampung, Bujang Enok selalu diundang untuk menghadiri pesta-pesta yang diadakan oleh Raja. Pada suatu pesta, Raja mengumumkan bahwa semua istri kepala kampung diminta untuk mempersembahkan satu tarian. Hati Bujang Enok berdebar. Ia teringat janjinya pada Putri Mambang Linau. Namun ia juga tak ingin membantah perintah Raja. Putri Mambang Linau pun bingung. Bujang Enok berbisik padanga “Istriku, tolonglah, ini perintah Raja, aku tak mungkin menolaknya.”

Putri Mambang Linau menuruti permintaan suaminya. Ketika gilirannya tiba, Putri Mambang Linau menarikan tarian terbaik. Dengan selendang jingganya, ia menari dengan gemulai. Semua yang hadir berdecak kagum melihat tariannya. Namun tiba-tiba, suasana menjadi gempar. Ketika sedang asyik menari, tiba-tiba kaki Putri Mambang Linau terangkat dari tanah. Tak lama kemudian, tubuhnya melayang-layang di udara. Bujang Enok memandangi istrinya dengan sedih. Rupanya, inilah saatnya Putri Mambang Linau kembali ke kayangan. Putri Mambang Linau terbang semakin jauh ke langit. Ia melambaikan tangan tanda perpisahan pada suaminya.

Ada sedikit rasa penyesalan di hati Bujang Enok, namun ia menepisnya. “Aku harus mendahulukan kepentingan Raja di atas kepentingan pribadi,” katanya dalam hati.

Sejak itu, Bujang Enok hidup seorang diri. Terkadang ia merindukan Putri Mambang Linau, tapi ia berusaha melupakannya. Atas kesetiaanya pada Raja, Bujang Enok pun diberi jabatan sebagai penghulu istana. Sampai akhir hayatnya, Bujang Enok mengabdikan diri pada rakyat dan rajanya.

Pesan Moral

Dalam kehidupan, kita kadang harus memilih. Pikirkan dengan baik sebelum kau memutuskan dan setelah itu, jangan menyesalinya. Selain itu kita hendaknya tidak boleh mengingkari janji, karena ada konsekuensi atas pilihan yang kita lakukan.

Sumber: dongengceritarakyat

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.