Museum Tuanku Imam Bonjol Pasaman Sumatera Barat

Museum Tuanku Imam Bonjol (https://kampungpasaman.blogspot.co.id)

Museum Tuanku Imam Bonjol terletak di Jl. Lintas Tengah Sumatera, Ganggo Hilia, Kecamtan Bonjol, Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat 26381, dengan areal seluas 2,5 hektar.

Sejarah

Museum Tuanku Imam Bonjol (https://soeloehmelajoe.wordpress.com)

Seperti dikutip dari laman wikipedia, Imam Bonjol bernama asli Muhammad Shahab, lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatera Barat pada 1 Januari tahun 1772. Beliau merupakan putra dari pasangan Bayanuddin (ayah) dan Hamatun (ibu). Ayahnya, Khatib Bayanuddin, merupakan seorang alim ulama yang berasal dari Sungai Rimbang, Suliki, Lima Puluh Kota. Nama Imam Bonjol didapat dari tanah kelahirannya yang didaulat sebagai pemimpin di daerah itu.

Sebagai ulama dan pemimpin masyarakat setempat, Muhammad Shahab memperoleh beberapa gelar, yaitu Peto Syarif, Malin Basa, dan Tuanku Imam. Tuanku nan Renceh dari Kamang, Agam sebagai salah seorang pemimpin dari Harimau nan Salapan adalah yang menunjuknya sebagai Imam (pemimpin) bagi kaum Padri di Bonjol. Ia akhirnya lebih dikenal dengan sebutan Tuanku Imam Bonjol. Salah satu Naskah aslinya ada di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat Jalan Diponegoro No.4 Padang Sumatera Barat. Naskah tersebut dapat dibaca dan dipelajari di Dinas Kearsipan dan Perpustakàan Provinsi Sumatera Barat.

Tak dapat dipungkiri, Perang Padri meninggalkan kenangan heroik sekaligus traumatis dalam memori bangsa. Selama sekitar 18 tahun pertama perang itu (1803-1821) praktis yang berperang adalah sesama orang Minang dan Mandailing atau Batak umumnya.

Rasa penyesalan Tuanku Imam Bonjol atas tindakan kaum Padri atas sesama orang Minang, Mandailing dan Batak, terefleksi dalam ucapannya Adopun hukum Kitabullah banyak lah malampau dek ulah kito juo. Baa dek kalian? (Adapun banyak hukum Kitabullah yang sudah terlangkahi oleh kita. Bagaimana pikiran kalian?).

Dalam bulan Oktober 1837, Tuanku Imam Bonjol diundang ke Palupuh untuk berunding. Tiba di tempat itu langsung ditangkap dan dibuang ke Cianjur, Jawa Barat. Kemudian dipindahkan ke Ambon dan akhirnya ke Lotak, Minahasa, dekat Manado. Di tempat terakhir itu ia meninggal dunia pada tanggal 8 November 1864. Tuanku Imam Bonjol dimakamkan di tempat pengasingannya tersebut.

Bangunan

Keris peninggalan jaman perang paderi (https://kelanakecil.wordpress.com)

Bangunan ini terdiri dari dua lantai, lantai pertama akan disuguhkan bagi gansis barang-barang pribadi milik pahlawan Nasional ini. Berbagai senjata tradisional, yakni senapan, pistol, meriam, tombak dan pedang yang dipakai masa perperangan, lukisan-lukisan dan silsilah dari keluarga Tuanku Imam Bonjol. Sayangnya pedang-pedang di sini hanya replika, lantaran pedang asli yang pernah digunakan pahlawan nasional itu telah hilang dicuri.

Museum Tuanku Imam Bonjol (https://aieangekcity.wordpress.com)

Lantai dua, kita akan menemukan barang-barang kuno seperti peralatan dapur, uang kuno, keramik antik dan lainnya. Pada lantai dua ini memang diisi dengan benda yang tidak berhubungan dengan Tuanku Imam Bonjol, karena masih sedikitnya temuan barang-barang pribadi milik Tuanku Imam Bonjol.

Museum Tuanku Imam Bonjol
Jalan Trans Sumatera Bukittinggi-Padang Sidempuan, Bonjol, Kabupaten Pariaman, Provinsi Sumatera Barat

One thought on “Museum Tuanku Imam Bonjol Pasaman Sumatera Barat

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.