Mengenal Bahasa Banten

Kamus Jaseng (Jawa Serang) – (https://petir-fenomenal.blogspot.co.id)

Penduduk asli yang hidup di Provinsi Banten berbicara menggunakan dialek bahasa Sunda Kuno. Dialek tersebut dikelompokkan sebagai bahasa kasar dalam bahasa Sunda modern, yang memiliki beberapa tingkatan dari tingkat halus sampai tingkat kasar (informal), yang pertama tercipta pada masa Kesultanan Mataram menguasai Priangan (bagian timur Provinsi Jawa Barat).

Namun demikian, di Wilayah Banten Selatan seperti Lebak dan Pandeglang menggunakan bahasa Sunda campuran Sunda Kuno, Sunda Modern, dan bahasa Indonesia, di Serang dan Cilegon, Merak, Bojonegoro, Pontang, Tirtayasa, Ciruas, Carenang, Kasemen, dan kramatwatu, bahasa Jawa Banten digunakan oleh etnik Jawa. Dan, di bagian utara Kota Tangerang, bahasa Indonesia dengan dialek Betawi juga digunakan oleh pendatang beretnis Betawi. Di samping bahasa Sunda, bahasa Jawa, dan dialek Betawi, bahasa Indonesia juga digunakan terutama oleh pendatang dari bagian lain Indonesia.

Akulturasi serupa terjadi di komunitas suku Lampung di Desa Cikoneng, Kecamatan Anyer, Kota Cilegon. Masyarakat setempat menggunakan bahasa Lampung sebagai bahasa sehari-hari. Namun, bahasa yang dituturkan sudah tidak murni lagi. Diantara kosakata-kosakata yang dituturkan terdapat kosakata bahasa Sunda. Oleh karena itu, bagi orang lampung asli akan merasa aneh jika mendengarnya.

Bahasa Sunda Banten

adalah salah satu ragam percakapan bahasa Sunda yang digunakan sebagian masyarakat di provinsi Banten, bagian barat Kabupaten Bogor (Wilayah Jasinga Raya, meliputi: Kecamatan Jasinga, Cigudeg, Tenjo, Nanggung, Parungpanjang, dan Sukajaya), serta bagian barat Kabupaten Sukabumi (terutama Kasepuhan Ciptagelar di Kecamatan Cisolok yang termasuk dalam daerah Kasepuhan Banten Kidul). Bahasa ini dilestarikan salah satunya melalui program berita Beja ti Lembur dalam bahasa Banten yang disiarkan oleh siaran televisi lokal di wilayah Banten.

Secara praktiknya, bahasa Sunda Banten digolongkan sebagai bahasa Sunda dialek Barat. Pengucapan bahasa Sunda di Banten umumnya berada di daerah Banten bagian selatan, yaitu Kabupaten Lebak (termasuk wilayah Cilangkahan) dan Kabupaten Pandeglang (Termasuk wilayah Caringin dan Cibaliung). Di Banten bagian utara (Kabupaten Serang), Bahasa ini digunakan di kecamatan Ciomas, Pabuaran, Padarincang, Cinangka, Baros, Petir, Cikeusal, Kopo, Cikande, Pamarayan, dan sebagian Anyar. Sementara pemakaian bahasa Sunda-Jawa (bilingual) di Kabupaten Serang terkonsentrasi di kecamatan Anyar, Mancak, Waringinkurung, Taktakan, Cipocok Jaya, Walantaka, dan Kragilan. Bahasa Sunda Banten juga dituturkan hingga ke wilayah Kabupaten Tangerang (terutama di wilayah Tangerang sebelah Selatan, Barat daya, Barat tengah, dan sebagian Utara), Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan.

(https://www.kaskus.co.id)

Perbedaan dengan bahasa Sunda Priangan

Bahasa Sunda Banten (https://id.wikipedia.org)

Bahasa Jawa Banten

Bahasa Jawa yang merupakan bahasa masyarakat Jawa dalam lima bahasa dengan penuturan terbanyak. Bahasa Jawa yang dituturkan di Provinsi Banten terdiri dari dua dialek yaitu: (1) dialek Pantai Utara (Pantura) dan (2) dialek Cikoneng. Dialek Pantura dituturkan di sepanjang pesisir utara Banten, yaitu Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan dan Serang. Dialek Cikoneng dituturkan oleh masyarakat di Desa Cikoneng, Kecamatan Anyar, Kabupaten Serang. Berdasarkan hasil perhitungan dialektometri, prosentase perbedaan kedua dialek tersebut sebesar 55%.

Selanjutnya baca:  Macam-Macam Dialek Bahasa Jawa

Bahasa Lampung Banten

Bahasa dituturkan oleh masyarakat yang berada di Desa Cikoneng, Kecamatan Anyar, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Menurut pengakuan penduduk, nenek moyang mereka berasal dari daerah Kalianda di wilayah Lampung Selatan. Secara historis, Lampung dan Banten memiliki kedekatan khusus pada masa Kasultanan Banten dan secara geografis letak Banten dengan Lampung hanya dihubungkan oleh Selat Sunda.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Lampung di Kabupaten Serang dengan bahasa Lampung di Kabupaten Lampung Selatan menunjukkan perbedaan bahasa dengan persentase di atas 81%. Bahasa Lampung ini dinamakan bahasa Lampung Cikoneng.

Secara kualitatif bahasa Lampung Cikoneng memiliki ciri khas yakni tidak diketemukan adanya realisasi bunyi (R) di semua posisi. Hal ini berbeda dengan bahasa Lampung yang merealisasikan bunyi (R) dalam semua posisi, misalnya pada bentuk: Ruwa ~ ruwo ‘dua’, jaRi ~ jari ‘jari’, gelaR ~ gelar ‘nama’. Secara konsisten juga terdapat realisasi bunyi (o) pada posisi vokal akhir terbuka. Hal ini berbeda dengan bahasa Lampung yang merealisasikan bunyi (a) , misalnya apa bentuk dada ~ dado, ‘dada’, paha ~ paho ‘paha’, sapa ~ sapo ‘siapa’. Bunyi (R) tidak dikenal oleh masyarakat di pulau Jawa dan perubahan bunyi (a) ~ (o) juga berhubungan dengan letak Desa Cikoneng yang merupakan enclave ‘kantong’ bahasa Lampung di daerah pakai bahasa Jawa.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.