Mengenal Bahasa Bangka

(https://slametsuradi.blogspot.co.id)

Bahasa Bangka adalah bahasa yang dituturkan di Pulau Bangka, Indonesia. Jumlah penutur bahasa ini mencapai 340,000 di tahun 2000. Beberapa dialek bahasa ini diantaranya: dialek Urban atau Jakarta, dialek Bangka Utara, dialek Bangka Selatan, dialek Bangka Tengah, dan dialek Lom atau Belom atau Mapor. Keaneka ragaman bahasanya pun memiliki keunikan tersendiri, karena beda Kampung atau Tempat, berbeda juga bahasanya.

Dialek Muntok

Muntok merupakan ibukota Kabupaten Bangka Barat, bahasa yang digunakan adalah menggunakan  akhiran “E”, seperti Siape, Dimane, dlsb.

Dialek Sungaliat

Sungaliat merupakan ibukota Kabupaten Bangka, mempunyai kosakata campuran atau urban, antara Melayu Bangka dan Indonesia berdialek betawi.

Dialek Belinyu

Belinyu merupakan kecamatan di Kabupaten Bangka, mempunyai kosakata campuran antara Melayu Bangka, Palembang dan Malaysia. Vokal A dalam bahasa Indonesia dan E dalam bahasa Bangka berubah atau sering diucapkan O khususnya pada akhir kata seperti belanjo, ngapo.

Dialek Pangkal Pinang

Dialek Pangkal Pinang mempunyai kosakata campuran antara melayu Bangka dan Indonesia berdialek betawi, seperti siape, ngape. Vokal U diucapkan jadi O seperti, ku jadi ko.

Dialek Toboali

Toboali merupakan ibukota Kabupaten Bangka Selatan, memiliki ciri dalam pengucapannya menggunakan huruf S sering diucapkan seperti kata sabun menjadi habun, namun tidak semua huruf S menjadi H, seperti susu tetap susu bukan huhu, sisir tetap sisir bukan hihir.

(https://www.pictame.com)

Perbedaan menonjol dari dialek yang ada pada fonologis. Fonem /é/ (e pepet) dan /o/ pada posisi akhir kata. Contoh kata “apa” dalam bahasa Indonesia diucapkan:

  1. /apé/ dalam dialek Sungailiat, Pangkalpinang, dan Toboali;
  2. /ape/ dalam dialek Muntok;
  3. dan /apo/ dalam dialek Belinyu.

Namun ada pula yang berbeda dalam dialek tertentu untuk kata “sini” dan “sapu” yaitu:

  1. /sini/ dan /sapu/ dalam dialek Pangkalpinang, Sungailiat, Belinyu, dan Mentok;
  2. /hini/ dan /hapu/ dalam dialek Toboali.

Berbeda dalam bidang morfologis yaitu sufiks. Contoh:

  1. Dialek Muntok menggunakan sufiks (-ne) dalam penggunaan kata /malem ne/;
  2. Dialek Belinyu menggunakan sufiks (-no) dalam penggunaan kata /malem no/;
  3. Namun dari kelima dialek ini, sufiks (-an), konfiks ( ke-an), (be-an), (pe-an) jarang dipergunakan.

Kosakata dasar bahasa Melayu Bangka memiliki 5% perbedaan antar kelima dialek.Contoh : kata “engkau” atau “anda” dalam bahasa Indonesia menjadi:

  1. /ka/ dalam dialek Sungailiat;
  2. /kao/ dalam dialek Muntok;
  3. /kaw/ dalam dialek Belinyu;
  4. /enka/ dalam dialek Toboali;
  5. /ka/ dalam dialek Pangkalpinang

Untuk memperkaya perbendaharaan kata, Kamus Bahasa Bangka.

Berbagai sumber

Leave a Reply