Masjid Jami’ Tambora Tambora Jakarta Barat

Masjid Jami’ Tambora dengan kanopi permanen (https://duniamasjid.org)

Masjid Jami’ Tambora terletak di Jl. Tambora Raya IV No. 11, RT 004/03, Kelurahan Tambora, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat 11220.

Kawasan Tambora dahulunya merupakan kantong pemukiman orang-orang Islam yang berasal dari pulau Sumbawa, yang pada tahun 1755 diberitakan dipimpin oleh seorang kapten.

Sejarah

Masjid Jami’ Tambora dibangun pada tahun 1181 H atau 1761 M oleh Kiai Haji Moestoyib, Ki Daeng, dan kawan-kawan. Mereka berasal dari Makasar dan lama tinggal di Sumbawa tepatnya di kaki Gunung Tambora. Pada tahun 1176 H (1756 M) KH. Moestodijb dan Ki Daeng dikirim ke Batavia oleh Kompeni karena menentang dan dihukum kerja paksa selama lima tahun.

Setelah hukuman selesai mereka tidak kembali ke Sumbawa, tetapi menetap di Kampung Angke Duri (sekarang Tambora) dan berkenalan dengan ulama setempat. Kemudian mereka menemukan ide untuk membangun sebuah masjid sebagai tanda syukur. Lokasinya sengaja dibuat di tepi Kali Krukut karena saat itu air kali masih jernih sehingga bisa dipakai untuk berwudlu.

Sumber lain menyebutkan, konon Masjid Tambora ini dibangun oleh H.Moestoyib, bersama seorang kontraktor Cina Muslim yang berasal dari Makasar pada tahun 1761, kedua Muballigh itu ditahan oleh penguasa Belanda selama kurang lebih 5 Tahun dengan tuduhan makar, tetapi tuduhan itu tidak terbukti dan mereka pun dibebaskan, lalu penguasa Belanda memberikan sebidang tanah di luar tembok Batavia yang kemudian dibangun Masjid Tambora.

Arsitektur

Masjid Jami’ Tambora (https://www.aroengbinang.com)

Bangunan masjid ini merupakan perpaduan gaya aristektur Jawa, Arab dan Cina. Pengaruh arsitektur Cina dapat dilihat pada cungkup makam, mihrab dan kaki soko guru.

Bangunan

Ruang utama dengan empat soko guru (https://www.aroengbinang.com)

Masjid ini mempunyai luas tanah 1.225 m² dan luas bangunan 1.225 m², denah masjid berbentuk empat persegi. Masjid terdiri dari bangunan induk dan bangunan tambahan di barat dan di timur. Di dalam bangunan induk terdapat empat buah soko guru yang bagian atasnya berpelipit makin ke atas makin melebar. Dinding masjid berlapis porselin putih, sedangkan dinding mimbar bagian atas terdapat tulisan angka tahun berdirinya masjid jami’ Tambora (tahun 1761).

Mihrab dan Mimbar (https://books.google.co.id)

Atap

Puncak atap terdapat mustaka berbentuk buah Nanas (https://books.google.co.id)

Atap masjid ini merupakan atap tumpang dua berbentuk limasan dari genteng, pada puncak atap terdapat mustaka berbentuk buah Nanas.

Bangunan Tambahan

Bangunan tambahan atau pendukung lainnya adalah aula, empat persegi dengan lantai bahan porselin dan pintunya terdapat pada dinding utara. Masjis ini juga dilengkapi dengan ruang sekretariat, ruang koperasi dan ruang tempat tinggal penjaga masjid (marbot) yang berada di samping ruang koperasi.

Pemugaran

Perluasan masjid dilakukan pada tahun 1971 menjadikan ruangan yang awalnya berukuran 10 x 10 m (denah asli) menjadi 16 x 10 m.

Menurut Heuken, tahun 1980 masjid ini diperluas dan dipugar secara menyeluruh oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI. Dalam pelaksanaan renovasi tersebut banyak bahan material asli diganti dengan yang baru, terutama bagian konstruksi atap. Namun komponen utama tidak ada yang diganti. Selain itu, ada penambahan ruangan disisi selatan yang dijadikan aula dan tempat sholat bagi wanita.

One thought on “Masjid Jami’ Tambora Tambora Jakarta Barat

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.