Masjid Jami’ Angke Tambora Jakarta Barat

Masjid Jami’ Al Anwar Angke atau Masjid Jami’ Angke (https://www.bbc.com)

Masjid Jami’ Al Anwar Angke, dikenal dengan nama Masjid Jami’ Angke terletak Jl. Pangeran Tubagus Angke (dulu Bacherachtsgracht), Gg. Masjid No.1. RT 01/RW 05, Kampung Rawa Bebek, Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat 14440.

Sejarah

Bangunan masjid Angke dan kondisi di sekitarnya pada 1921 (https://www.bbc.com)

Sejarah pendirian masjid ini berkaitan erat dengan peristiwa di zaman Jenderal Adrian Valckenier (1737-1741), beberapa kali terjadi ketegangan antara VOC dengan rakyat dan orang Cina. Ketegangan memuncak pada tahun 1740 ketika orang-orang Cina bersenjata menyusup dan menyerang Batavia. Karena kejadian ini, sang jenderal sangat marah dan memerintahkan pembunuhan massal terhadap orang-orang Cina. Peristiwa ini diketahui Pemerintah Belanda, sang jenderal dimintai pertanggungjawaban dan dianggap sebagai gubernur jenderal tercela. Akibatnya, ia kemudian dipenjarakan Pemerintah Belanda pada tahun 1741. Dan tak lama kemudian sang jenderal pun akhirnya mati di penjara.

Dari cerita lisan, istilah sungai merah – yang merujuk pada sungai Angke -biasanya dikaitkan dengan peristiwa pembantaian orang-orang Cina pada 1740 oleh pasukan militer kolonial Belanda (https://www.bbc.com)

Sewaktu terjadi pembunuhan massal itu, sebagian orang Cina yang sempat bersembunyi dilindungi oleh orang-orang Islam dari Banten, dan hidup bersama hingga tahun 1751. Mereka inilah yang kemudian mendirikan Masjid Angke pada tahun 1761 sebagai tempat beribadah dan markas para pejuang menentang penjajah Belanda. Masjid konon juga sering dipakai sebagai tempat perundingan para pejuang dari Banten dan Cirebon.

Berkembang dari mulut ke mulut, yang kemudian dicatat secara berulang, disebutkan bahwa sebagian orang-orang Cina yang selamat dari pembantaian itu kemudian melarikan ke wilayah yang disebut Angke (https://www.bbc.com)

Berdasarkan sumber Oud Batavia karya Dr F Dehan, masjid didirikan pada hari Kamis, tanggal 26 Sya’ban 1174 H yang bertepatan dengan tanggal 2 April 1761 M oleh seorang wanita keturunan Cina Muslim dari Tartar bernama Ny. Tan Nio yang bersuamikan orang Banten, dan masih ada hubungannya dengan Ong Tin Nio, istri Syarif Hidayatullah. Arsitek pembangunan masjid ini adalah Syaikh Liong Tan, dengan dukungan dana dari Ny. Tan Nio. Makam Syaikh Liong Tan, arsitek Masjid Jami Angke, yang berada di bagian belakang Masjid Jami Angke.

Foto masjid Angke yang diperkirakan diabadikan antara tahun 1900 dan 1940 (https://www.bbc.com)

Menurut sejarawan Heuken dalam bukunya Historical Sights of Jakarta, kampung di sekitar Masjid Angke dulu disebut Kampung Goesti yang dihuni orang Bali di bawah pimpinan Kapten Goesti Ketut Badudu. Kampung tersebut didirikan tahun 1709. Banyak orang Bali tinggal di Batavia, sebagian dijual oleh raja mereka sebagai budak, yang lain masuk dinas militer karena begitu mahir menggunakan tombak, dan kelompok lain lagi datang dengan sukarela untuk bercocok padi. Selama puluhan tahun orang-orang Bali menjadi kelompok terbesar kedua dari antara penduduk Batavia (A Heuken SJ, 1997:166).

Arsitektur

Syeh Liong Tan merupakan Arsitekturnya Masjid ini, memadukan antara Jawa, Cina, Bali, Arab dan Eropa. Arsitektur Jawa dapat ditelusuri dari denah bangunan persegi, bentuk atap tumpang, dan sistem struktur saka guru. Bagaimanapun bentuk bangunan bujur sangkar dan atap tumpang seperti itu dengan jelas menunjukkan bentuk masjid tradisional Jawa. Termasuk sistem konstruksi empat saka guru di tengah ruang shalat yang menopang atap yang meskipun tidak menggunakan material kayu tetapi material beton atau bata pada kolomnya, tetapi tetap memperlihatkan kesamaannya dengan sistem konstruksi masjid-masjid tradisional di Jawa.

Pengaruh budaya Cina dapat dilihat pada detail konstruksi pada skur atap bangunan yang mengingatkan pada skur bangunan Cina atau klenteng. Skur kayu bertumpuk seperti ini memang merupakan pengaruh budaya Cina yang juga banyak ditemukan di pantai utara Jawa antara abad ke-14 dan ke-18. Sedangkan bentuk dan detail pada ujung-ujung atap bangunan juga memperlihatkan budaya Cina, meski ada yang berpendapat bahwa hal ini merupakan pengaruh seni bangunan Bali yakni punggel.

Arsitektur masjid ini juga memperlihatkan pengaruh budaya Cina yang menurut sejumlah arkeolog terlihat dari ujung-ujung atapnya yang sedikit melengkung ke atas (https://www.bbc.com)

Sedangkan budaya Eropa dapat diamati terutama pada bukaan-bukaan seperti pintu, jendela dan lubang angin. Pintu-pintu di sini dicirikan dengan ukuran yang tinggi dan besar dan berdaun pintu ganda. Sedangkan jendelanya juga besar dan lebar-lebar, namun jeruji kayu ulir sebagai pengisi jendela seperti itu lebih menampakkan kemiripan dengan jendela khas rumah tradisional Betawi dan umum dipakai pada masjid-masjid kuno di Jakarta yang dibangun pada sekitar abad ke-18.

Pengaruh Eropa atau kolonial Belanda antara lain bisa dilihat dari lubang lain di atas pintu yang pola, hiasan dan warnanya mirip dengan gedung Arsip nasional yang dibangun orang-orang Belanda (https://www.bbc.com)

Bangunan

Dikelilingi pagar tembok dan pagar besi untuk sisi timur. Halaman masjid seluas ±500 m persegi. Bangunannya merupakan perpaduan bentuk arsitektur yaitu gaya Jawa (terdapat pada tajuk), gaya limas pada karpus, dan gaya Eropa pada bagian pintu dan jendela.

Kaki bangunan yang bersifat massif mengingatkan kita kepada bangunan suci Indonesia sebelum Islam, yaitu candi.

Atap

Tangga untuk naik ke loteng Masjid Angke (https://www.kompasiana.com)

Atapnya bertingkat dua atau dikenal juga dengan atap tumpang bersusun dua berbentuk limasan. Pada umumnya susunan atap-atap masjid kuna berjumlah ganjil, sedangkan susunan atap dari masjid Angke ini berjumlah genap.

Atap masjid Angke yang bertingkat dua, mempunyai loteng yang bertingkat dua pula, tempat muadzin mengumandangkan Azhan dan Iqomat.

Ruang Utama

Ruang utama

Ruang utamanya berdenah empat persegi, di dalamnya terdapat tiang, mihrab dan mimbar.

Mihrab dan Mimbar (https://www.bbc.com)

Mihrab yang merupakan tempat imam memimpin salat berjamaah, gaya arsitekturnya mengingatkan pada gaya arsitektur bangsa Moor. Mereka yang disebut Moor, sebagaimana dikutip dari sumber lain, adalah orang Muslim dari zaman pertengahan yang tinggal di Al-Andalus (Semenanjung Iberian termasuk Spanyol dan Portugis zaman sekarang) dan juga Maroko dan Afrika Barat, yang budayanya disebut Moorish.

Bangunan Tambahan

Bangunan tambahannya berupa bangunan tempat sholat, tempat wudhu, ruang perpustakaan, dan ruang untuk belajar mengaji. Pada sisi utara bagian depan terdapat ruangan yang berfungsi sebagai sekretariat dan ruang perpustakaan. Di sebelah kiri (sisi selatan) agak ke depan dibuat ruangan yang berfungsi sebagai tempat anak-anak belajar mengaji.

Makam

Makam ibu Tan Nio yang memprakarsai berdirinya Masjid Jami’ Angke, dengan ukiran dan bentuk nisannya berbeda dengan lainnya (https://www.bbc.com)

Di kompleks masjid ini terdapat makam yang terbagi atas tiga kelompok, dua kelompok terdapat di dalam kompleks sedang satu kelompok di seberang (depan) masjid.

Makam Syeh Liong Tan, arsitektur bangunan Masjid Jami’ Angke (https://www.bbc.com)

Sumber: bujangmasjid

One thought on “Masjid Jami’ Angke Tambora Jakarta Barat

Leave a Reply