Masjid Jami’ An Nawier Tambora Jakarta Barat

Masjid Jami’ An Nawier (http://jakarta.tribunnews.com)

Masjid Jami’ An Nawier atau Masjid Jami’ Pekojan terletak Jalan Pekojan Raya No. 71, Gg. II, Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat 11240

Pekojan, tempat Masjid ini berada, bersama tetangganya Glodok merupakan kampung tua di Jakarta yang dibangun pada abad ke 18. Sampai tahun 1950-an keturunan Arab merupakan mayoritas penduduk Pekojan. Sebelum dihuni etnis Arab yang datang dari Hadramaut (Yaman Selatan), Pekojan lebih dulu bermukim orang Benggali dari India. Kata Pekojan sendiri berasal dari kata “Koja” sebutan untuk muslim India yang datang dari Bengali.

Salah satu sumber menyebutkan bahwa Komandan Dahlan adalah seorang utusan Kesultanan Banten yang membantu Fatahillah menyerang Belanda di daerah Sunda Kelapa. Dari kebiasaannya menggunakan ikat kepala dari kain tenun Banten yang disebut Koja lahir nama PeKOJAn.

Sejarah

Masjid Jami’ An Nawier pada tahun 1910 (https://id.wikipedia.org)

Nama An-Nawier yang menjadi nama Masjid ini memiliki makna “cahaya”, Bisa jadi para pendirinya dulu berharap agar masjid yang berada ditengah perkampungan Pekojan ini  diharapkan bisa memberi cahaya bagi umat Islam di tanah air.

Berdasarkan catatan sejarah yang ada di Masjid Jami’ Annawier, disebutkan bahwa Masjid Jami’ Annawier pertama kali berdiri tahun 1760 M bertepatan dengan tahun 1180 H berupa sebuah surau kecil yang diketuai oleh Daeng Usman Bin Rohaeli sampai tahun 1825 M. Kemudian diteruskan oleh Komandan Dahlan tahun 1825-1860 M. Daeng Ustman, adalah salah seorang pedagang yang menggunakan sungai Pekojan sebagai jalur transportasi dagangnya. Kemudian beliau berinisiatif mendirikan masjid, sehingga dibangunlah masjid ini.

Tahun 1897 M Syarifah Kecil atau Syarifah Fatimah binti Husein Al Idrus mewakafkan tanah miliknya untuk keperluan pembangunan Masjid. Dan pada tahun 1926 masjid ini diperluas dan diperindah oleh Sayid Abdullah bin Husein Alaydrus, beliau merupakan seorang muslim kaya raya yang namanya diabadikan menjadi nama Jalan Alaydrus, Jakarta Pusat. Semasa hidupnya ia ikut menyelundupkan senjata untuk para pejuang Aceh saat melawan Belanda.

Arsitektur

Masjid Jami’ An Nawier (https://bujangmasjid.blogspot.co.id)

Masjid An-Nawier mempunyai arsitektur indah dan khas. Kekhasan terlihat dari perpaduan gaya Timur Tengah, Cina, Eropa, dan Jawa. Tidak terdapatnya kubah merupakan bentuk pengaruh masjid di Timur Tengah, tepatnya Hadramaut (Yaman Selatan). Kita dapat menyaksikan ornamen khas Cina menempel di pintu-pintu masjid dan bentuk konstruksi daun jendela beraksen Jawa. Sangat menarik karena pembangunan masjid ini melibatkan kontraktor Cina dan Moor di Batavia.

Bangunan

Masjid An Nawier dikelilingi pagar tembok dan besi dengan pintu masuk halaman di selatan dan barat laut. Luas tanah 2.470 meter persegi dan luas bangunan 1.500 meter persegi. Pondasinya setinggi setinggi 80 sentimeter.

Banyak komponen bangunan masjid memiliki jumlah yang sama dengan simbol agama Islam. Ruang utama masjid memiliki tiang sejumlah 33 buah. Jumlah ini simbol jumlah zikir yang biasa dibaca seusai shalat. Tiang di pelataran masjid berjumlah 17 dan tinggi menara 17 meter, sesuai jumlah rakaat dalam shalat. Rukun Islam dilambangkan dengan 5 pintu dari arah barat ke timur. Adapun 6 jendela pada bagian selatan melambangkan rukun Iman.

Ruang utama masjid memiliki tiang sejumlah 33 buah (https://telusur.metrotvnews.com)

Masjid menghadap ke selatan dengan empat buah pintu masuk ke ruang utama. Denah ruang utama seperti huruf ” L” seluas 1.170 meter persegi, terbagi utara dan selatan. Pada ruang utama terdapat tiang-tiang, mihrab, dan mimbar. Bagian utara, selatan, dan timur masjid terdapat serambi.

Menara

Menara Masjid Jami’ An Nawier yang tampak seperti mercusuar (KOMPAS.COM/Alek Kurniawan)

Yang menonjol dari masjid ini adalah menara setinggi 17 meter yang dibangun pada abad ke-19, menyerupai mercusuar, hingga kini masih kokoh berdiri. Konon, pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, menara ini sering dijadikan tempat bersembunyi para pejuang dari kejaran tentara penjajah.

Ruang Utama

Memasuki ruang utama, berbentuk huruf L, terlihat jelas pada tiang penyangga berbentuk silinder bercat putih khas Eropa, berjumlah 33 pilar besar.

Mihrab dan Mimbar

Mihrab dan Mimbar (https://www.aktual.com)

Terdapat dua mimbar tempat berkotbah. Salah satunya hadiah dari Sultan Pontianak pada abad 18 Masehi. Di dinding dekat mimbar terdapat tulisan Arab dengan arti: “Inilah mimbar tempat menyampaikan penerangan-penerangan agama dan nasihat yang benar”.

Pemugaran

Masjid Pekojan mengalami dua kali pemugaran. Pemugaran pertama dilakukan oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta pada tahun 1970-1971. Pada tahap ini dilakukan pemasangan porselen pada bagian bawah dinding masjid, tempat wudhu, dan tiang-tiang yang berada di dalam Masjid.

Tahap ke dua dilakukan oleh Proyek Pelestarian dan Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jakarta, mulai tahun 1991 hingga 1992. Pemugaran tahap ini meliputi pemasangan tegel pada serambi timur dan utara serta pemugaran kolam.

One thought on “Masjid Jami’ An Nawier Tambora Jakarta Barat

Leave a Reply