Masjid Jami’ Al Mansur Tambora Jakarta Barat

Masjid Jami’ Al Mansur (https://bujangmasjid.blogspot.co.id)

Masjid Jami’ Al Mansur terletak di Jl. Sawah Lio II/33, Kampung Sawah Lio, Kelurahan Jembatan Lima, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat 11250.

Sejarah

Menurut inskripsi yang terdapat pada menara masjid, bangunan ini didirikan tahun 1130 H atau 1717 M. Pada saat itu disebut Masjid Kampung Sawah, rumah ibadah ini dibangun oleh Raden Abdul Mihit yang juga disebut Pangeran Cakrajaya Adiningrat dari Kerajaan Mataram.

Guru Mansur yang bernama lengkap Muhammad Mansur bin Imam Abdul Hamid adalah piut atau canggah dari Abdul Mukhit pendiri Masjid Kampung Sawah tersebut. Guru adalah julukan yang diberikan orang-orang Betawi terhadap ulama yang diakui kepakaran dan kedalaman ilmunya, sehingga diakui otoritasnya untuk mengeluarkan fatwa.

Bapak, kakek, dan buyut Guru Mansur adalah ulama-ulama Betawi yang diakui keilmuannya. Pada tanggal 4 Safar 1186 H atau 1772 M, Masjid Kampung Sawah dikunjungi ulama besar Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, tatkala itu baru kembali dari Makkah dan singgah di Betawi, untuk bersilaturahim sekaligus diminta untuk mengoreksi arah kiblat masjid ini, juga membetulkan kiblat masjid Pekojan dan masjid Luar Batang.

Di masa awal setelah proklamasi kemerdekaan, masjid ini digunakan oleh KH. Muhammad Mansur sebagai tempat mobilisasi pejuang sekitar Tambora untuk melawan Belanda, Sebuah pertempuran frontal pernah terjadi di muka masjid. Terjadi baku tembak antara pejuang RI yang berlindung di masjid dengan tentara NICA yang kala itu masuk dari Pelabuhan Sunda Kelapa bergeser ke selatan menuju daerah Kota lalu menyebar ke sekitar Tambora.

Baku tembak itu dipicu oleh tindakan berani KH. Mohammad Mansur yang mengibarkan bendera Merah Putih di atas kubah menara masjid ini. Sesudah peristiwa tersebut KH. Muhammad Mansur lalu dipanggil ke Hofd Bureau [Polsek] untuk diadili dan ditahan atas tindakannya itu. KH. Muhammad Mansur wafat pada tanggal 12 Mei 1967, dan kepengurusan masjid ini dilanjutkan oleh Badan Panitia Kepengurusan Masjid Jami Al Mansur hingga sekarang. Sebagai bentuk penghargaan kepada almarhum KH. Muhammad Mansur, pemerintah RI kemudian mengabadikan nama beliau sebagai nama Masjid tempat beliau berjuang ini sekaligus menjadi nama jalan persis di muka Jalan Sawah Lio II, Kelurahan Jembatan Lima.

Arsitektur

Arsitektur masjid ini merupakan perpaduan antara budaya Jawa, Cina, Arab dan Betawi. Empat buah soko guru yang besar-besar namun pendek terdapat di ruang utama masjid, mengingatkan pada masjid-masjid kuno di Jawa Tengah.

Empat soko guru merupakan cerminan empat aliran mazhab yang dianut ahlus sunnah wal jama’ah. Di antarnya Imam Syafii, Hanafi, Malik dan Imam Hambali. Demikian pula bentuk atapnya, yang merupakan limasan bersusun tiga. Bagian masjid yang tertua kiranya adalah ruang utama ini yang berukuran 12 × 14,40 m

Bangunan

Sketsa Masjid Jami’ Al Mansur (https://jakartapunyasouvenir.blogspot.co.id)

Dilihat dari keletakan pintu masuk-keluar utama, bangunan masjid Sawah Lio memiliki arah hadap selatan, sedangkan denahnya berupa empat persegi panjang mengarah utara-selatan berukuran 12 m x 14,40 m. Pada bagian depan terdapat halaman terbuka yang sempit. Serambi depan memiliki lebar yang cukup sempit, hanya 150 cm dibatasi oleh tiang-tiang persegi empat yang membentuk lengkung yang distilisasi.

Dinding muka masjid memiliki tiga pintu dengan dua daun berbahan kayu. Pintu utama yang seringkali digunakan sehari-hari adalah pintu bagian tengah. Pintu tengah memang terlihat lebih raya dibandingkan dua pintu lainnya dalam hal hiasan. Perbedaan dapat dilihat dari daun pintu dan kusennya. Bersisian dengan pintu terdapat jendela tanpa daun yang disekat oleh teralis kayu. Bentuk jendela terbuka, berteralis kayu, bentuk ini terdapat hampir di setiap sisi dinding masjid. Dindingnya dilapisi oleh keramik berwarna hitam bercorak. Di atas pintu tidak dilengkapi dengan ventilasi, mungkin disebabkan oleh jendela yang digunakan adalah jendela terbuka pada beberapa bagian. Selain jendela terbuka, masjid ini memiliki beberapa jendela dengan dua daun berpanel kaca yang hanya terdapat di bagian muka masjid. Dua pintu lain juga terdapat di sisi timur dan barat masjid.

Menara

Menara masjid Al Mansur (https://www.aroengbinang.com)

Menara masjid terletak di sebelah tenggara, berbentuk silinder terbuat dari batu bata, setinggi 12 meter. Pada bagian tubuh menara terdapat jendela sebanyak 12 buah. Bentuk jendela empat persegi dengan bagian atasnya berbentuk setengah lingkaran tanpa pintu.

Pada bagian keempat dan kelima dari menara itu terdapat teras yang berpagar besi. Sementara atap menara berbentuk kubah. Menara semacam ini mencerminkan pengaruh Arab Hadramy.

Atap

Atap masjid jami’ Al Mansur berbentuk limasan segi empat bertumpang tiga. Atap paling atas menjulang ke atas berbetuk piramid. Di puncak atas terdapat mustaka (mahkota) terbuat dari keramik. Di ujung atap tidak dibuat melengkung ke atas, tapi sejajar. Atap masjid benbahan genteng. Diantara atap tumpang paling atas dan atap di bawahnta dibuatkan jendela yang terbuat dari kayu yang berfungsi menerima cahaya matahari dan angin untuk menerangi dan menyejukkan ruang utama.

Ruang Utama

Mihrab dan Mimbar (https://bujangmasjid.blogspot.co.id)

Masuk ke bagian dalam akan didapati lantai yang memiliki beda tinggi antara bagian tepi dengan tengah yang dibatasi oleh pilar-pilar berbentuk empat persegi, yang dilapis keramik putih sejumlah 14 buah. Pilar ini memperlihatkan bentuk hiasan lama, begitu juga dengan material yang digunakan untuk plesternya.

Di bagian atas tiang-tiang ini terhubung oleh balok kayu sehingga membentuk denah empat persegi di bagian atasnya. Di bagian tengah dari jajaran tiang empat persegi tersebut terdapat tiang-tiang dengan jumlah empat yang dapat dikatakan sebagai saka guru. Keempat tiang ini menyangga atap masjid yang memiliki atap tumpang tiga. Tiang saka gurunya memiliki dasar berdenah  segi enam dengan bentuk ke atas berupa silindris yang mengecil ke bagian atas.

Empat soko guru masjid Al Mansur (https://www.journal18.org)

Terdapat anak tangga dari kayu untuk naik ke lantai kayu yang ditopang oleh tiang saka guru. Lantai kayu tersebut saat ini hanya digunakan untuk menyimpan sejumlah barang. Sedangkan bagian lain di bawah atap ditutup menggunakan asbes sebagai plafon. Adanya penambahan luas masjid tentu saja berpengaruh pada bagian atapnya. Model atap yang lama adalah atap tumpang dua, namun saat ini sudah sulit dilihat karena telah tertutup oleh bagian bangunan yang baru.

Pemugaran

Masjid ini telah mengalami beberapa kali pemugaran. Pada tahun 1937, Masjid Kampung Sawah direhabilitasi dan diperluas oleh Guru Mansur.

Pada tahun 1767 pernah dipugar yang diprakarsai oleh Haji Imam Muhammad Arsyad dari Banjarmasin untuk mengoreksi arah kiblat. Pada tahun 1957 diadakan perluasan bangunan masjid oleh pengurus masjid. Pada tahun 1992 – 1994 dilakukan pemugaran oleh Proyek Pelestarian atau Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jakarta.

Meskipun telah mengalami banyak penambahan, bangunan masjid ini masih menunjukkan kekhasannya sebagai bangunan cagar budaya. Beberapa pintu dan jendela masih tampak asli. Demikian juga dengan menara masjidnya. Namun demikian, dikarenakan telah mengalami perluasan dan penambahan ruangan, façade bangunan asli tidak tampak dari luar.

One thought on “Masjid Jami’ Al Mansur Tambora Jakarta Barat

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.