Tunggu Dusun, Penghormatan Suku Serawai Terhadap Alam

Kaum ibu tampak sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk perlengkapan ritual adat. Sementara kaum bapak tak kalah sibuknya menyiapkan bara api, kemenyan, dan peralatan pendukung lainnya.Puluhan warga Desa Pering Baru, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, akan menggelar ritual adat tahunan.

Ritual adat tahunan itu bernama “Tunggu Dusun”. Ritual ini  merupakan sebuah tradisi masyarakat Suku Serawai, salah satu suku terbesar yang menempati Provinsi Bengkulu.

Upacara tersebut dipimpin oleh para tetua adat. Upacara sesungguhnya berlangsung sederhana ala masyarakat jelata. Terdapat beragam jenis makanan seperti telur rebus, lemang bambu kecil, daun sirih, ketan hitam dan putih serta beberapa makanan lainnya diletakkan pada sebuah tempat sesaji.

Sesaji tersebut dibuat menjadi empat bagian. Bagian pertama akan diritualkan di mata air, bagian kedua akan diritualkan di jalan utama desa, bagian lainnya akan diritualkan di pintu masuk desa, dan bagian terakhir akan diritualkan di rumah warga.

Setelah tiba di tempat yang telah ditentukan maka ritual adat dipimpin oleh tetua kampung untuk meminta doa pada Tuhan yang Maha Kuasa dan mendoakan roh leluhur.

“Ini upacara tahunan yang terus dilakukan, tujuannya meminta pada Tuhan agar warga dijauhkan pada bala bencana, didekatkan rezeki dengan membaiknya hasil panen,” kata Walana salah seorang tetua adat, Sabtu (21/11/2016).

Pesan tersirat

Walana menyebutkan, sesaji dan doa dilakukan di empat titik desa, pertama di mata air. Ini melambangkan bahwa masyarakat tak bisa lepas dari kebutuhan terhadap air. Bagi warga menjaga sumber mata air tetap lestari, menghormati dan memanfaatkan air secara arif an bijaksana merupakan sebuah keharusan.

Titik kedua di jalan desa. Ini mengartikan kesuburan dan kebaikan agar selalu melimpah pada masyarakat desa setempat.

Titik ketiga upacara dilakukan di pintu masuk desa. Ini merupakan bentuk keteguhan masyarakat menjaga wilayah desa termasuk tanah, air, udara, serta hutan.

“Hutan, tanah, air dan udara yang bersih merupakan hal terpenting bagi rakyat. Hutan dijaga untuk menjaga mata air agar kehidupan terus berlangsung, sementara tanah adalah sumber penghidupan,” paparnya.

Kemudian titik keempat, ritual dilakukan di rumah.  Ini melambangkan agar rumah masyarakat selalu dijauhkan dari balak bencana dan dimudahkan segala urusan dan usaha.

Sumber: kompas

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.