Wisata Sejarah di Kabupaten Bekasi Jawa Barat

Kabupaten Bekasi, Propinsi Jawa Barat memiliki sejarah yang panjang. Pada masa penjajahan, kawasan tersebut merupakan garis depan pertahanan rakyat Indonesia mengingat letaknya yang berbatasan langsung dengan Batavia. Era pendudukan Belanda di Bekasi meninggalkan jejak-jejak yang hingga kini masih berdiri kokoh sehingga dapat disinggahi para pecinta sejarah maupun wisatawan.

Situs Buni

Hasil temuan di Situs Buni (http://kurnialilis2.blogspot.co.id)

Situs Buni terletak di Kampung Buni Pasar Emas, Desa Buni Bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi.

Situs Buni merupakan kawasan penemuan benda-benda arkeologi, hasil penelitian di wilayah Kampung Buni Pasar Mas dan Buni Pendayakan menunjukkan adanya temuan berupa tembikar terdiri dari macam-macam bentuk dan ukuran berupa periuk, mangkuk berkaki, kendi dan tempayan. Selain itu ditemukan adanya beliung persegi, artefak logam perunggu dan besi, gelang dari batu dan kaca, perhiasan emas, manik-manik, bandul jala dari terakota dan tulang belulang manusia.

Situs Buni bukan merupakan situs sejarah kecil melainkan suatu kompleks kebudayaan yang cukup luas dengan cakupan sepanjang pantai utara Pulau Jawa. Karena itulah Situs Buni juga disebut Kompleks Kebudayaan Buni. Berbagai temuan yang ada menunjukan bahwa pusat kebudayaan tersebut telah berkambang sejak tahun 2000 SM.

Kelihatannya masyarakat Buni telah mengenal tradisi penguburan langsung tanpa wadah dengan tembikar sebagai bekal kuburnya, namun demikian tidak menutup kemungkinan bahwa tembikar-tembikar tersebut dimanfaatkan pula untuk keperluan sehari-hari. Selain itu di Kampung Buni juga ditemukan alat-alat berupa kerang, periuk, tengkorak dan tulang manusia, gelang, manik-manik dalam berbagai bentuk dan warna. Cincin dalam berbagai ukuran, dan kapak persegi terbuat dari batu. Di Buni Wates ditemukan juga periuk berhias.

Penemuan berbagai aneka perhiasan dari emas dan tulang-belulang manusia yang menggemparkan terjadi pada 1950-an sampai 1970-an. Penemuan pertama tatkala seorang warga Kampung Buni, Dogol, membuat kali kecil (kalenan) yang menghubungkan kali Bekasi dengan sawahnya pada 1958. Tiba-tiba cangkulnya mengenai benda keras. Setelah diperhatikan ternyata benda tersebut berupa tulang belulang dan tengkorak manusia. Di tubuhnya tertinggal perhiasan terbuat dari emas berupa manik-manik (seperti tasbih) dalam kondisi sudah bercerai berai.

Rupanya, setelah dilakukan penggalian di sekitar lokasi, ditemukan perhiasan, dan terdapat tulang manusia. Perhiasan yang ditemukan diantaranya berbentuk manik-manik, cincin, bintang, kembang kelapa, stambul, topeng dan mahkota. Dari hasil perbandingan antara bentuk dan kreasi tahun 1950-an ternyata emas temuan tersebut sangat berbeda teknik pembuatannya. cincin misalnya kepalanya mirip stempel dan berbentuk polos.

Masyarakat juga menemukan berbagai artefak lain seperti tembikar, beliung persegi, kapak perunggu. Selain itu juga ditemukan sisa-sisa makanan berupa cangkang-cangkang moluska dan tulang-tulang hewan. Namun demikian tampaknya temuan tembikar adalah yang paling menonjol mengklasifikasikan tembikar komplek Buni menjadi dua, yakni tembikar neolit dan perundagian. Tembikar neolit ditandai oleh tatap berukir dengan pola hias anyaman keranjang dan duri ikan. Pada masa perundagian tembikar Buni makin berkembang seperti periuk, kendi, cawan miarni, cawan berkaki, tutup dan bandul jala.

Penemuan harta karun perhiasan tersebut, mengundang masyarakat lain dari kampung lain, kota Bekasi, Jakarta dan wilayah lain untuk mengadu nasib di Buni. Dampaknya, Buni tempat ditemukannya perhiasan emas itu menjadi ramai laksana pasar. Itu sebabnya pada perkembangannya Kampung Buni lebih dikenal dengan julukan Kampung Buni Pasar Emas.

Penelitian situs Buni pernah dilakukan beberapa kali oleh Tim Penelitian dari Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (LPPN), yaitu tahun 1960 (berupa ekskavasi penyelamatan) dan dilanjutkan secara intesif pada tahun 1964, 1969 dan 1970 LPPN yang dipimpin oleh R.P. Soejono.

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan :

  • Jenis keramik tanah liat (gerabah) terdiri dari jenis periuk, cawan, pedupaan dan kendi. Periuk berupa periuk bulat dan periuk berkarinasi. Cawan terdiri beralas bulat dan cawan beralas rata. Pedupaan, berbadan dan mempunyai kaki agak panjang dan melebar. Sedangkan kendi, terdiri dari kendi berbadan membulat dan kendi berkarinasi. Kedua kendi berleher panjang dan tidak berkarinasi. (Surayasa 1975:5-8).
  • Klasifikasi tembikar komplek Buni menjadi dua, yakni tembikar neolit dan perundagian. Tembikar neolit ditandai oleh tatap berukir dengan pola hias anyaman keranjang dan duri ikan. Pada masa perundagian tembikar Buni makin berkembang seperti periuk, kendi, cawan miarni, cawan berkaki, tutup dan bandul jala.
  • Berdasarkan warna, gerabah ”Komplek Buni” dapat dibedakan, yaitu gerabah berwarna kemerahan dan gerabah berwana keabu-abuan. Gerabah berwarna kemerahan umumnya berhias gores dengan pola garis sejajar dan tumpal, sedangkan gerabah keabu-abuan umumnya dihias dengan teknik tekan (tera) dan teknik gores, dengan pola hias lingkaran memusat, garis-garis sejajar dan jalatumpal, sedang pola hias gores terdiri dari garis-garis sejajar dan tumpal.
  • Gerabah dibuat diperkirakan dengan teknik tatap dan pelandas serta teknik roda putar.
  • Dari hasil penelitian prasejarah mendapat kesimpulan bahwa tembikar Komplek Buni ini berkembang pada sekitar abad ke-2-5 Masehi dan mendapar pengaruh dari tembkar S-huynh-Kalanay.
  • Fungsi gerabah Kompleks Budaya Buni, dapat diduga sebagai salah satu benda magis yang dipakai sebagai alat upacara atau sebagai bekal kubur, karena cukup banyak penemuan gerabah ini bersama-sama dengan tulang-tulang manusia dan benda lainnya seperti beliungbatu persegi, gelang batu daln sebagainya. Selain itu juga ada dugaan bahwa gerabah-gerabah berfungsi sebagai benda untuk keperluan kehidupan sehari-hari yang bersifat profan.
  • Semua situs sudah hancur dan temuan-temuannya sudah bercampur aduk.

Tidak jauh dari Kampung Buni Pasar Emas dan Buni Pendayakan, perhiasan juga ditemukan di Kampung Kedung Ringin, Desa Sukaringin, Kecamatan Sukawangi. Di sana ditemukan perhiasan emas berbentuk telor ikan, kembang kelapa, tali sepatu, songko haji berbahasa Arab bertuliskan ”Haji Saka”, corong lampu, pedang, kendi. Bersamaan dengan ditemukannya perhiasan emas, juga ditemukan tulang dan tengkorak manusia. Dari situ menunjukkan masyarakat kala itu percaya perhiasan tersebut harus digunakan untuk orang-orang yang sudah meninggal dunia.

Perkembangannya kemudian menunjukkan bahwa Buni bukan hanya sekedar sebuah situs kecil, melainkan suatu komplek kebudayaan yang cukup luas dengan cakupan di sepanjang pantai utara Jawa Barat, di daerah aliran Sungai Cisadane, Ciliwung, Bekasi, Citarum, dan Cipagare, sehingga dinamakan dengan komplek kebudayaan Buni. Komplek ini mempunyai wilayah sebaran yang dikelompokkan menjadi tiga, yaitu kelompok Tanggerang, Kelompok Bekasi dan kelompok Rengasdengklok. Kelompok Tangerang terdiri atas situs-situs Serpong, Curug dan mauk. Kelompok Bekasi terdiri atas atas Buni, Kerangkeng, Puloglatik, Pulo Rengas, Kedungringin, Bulaktemu, Rawa Menembe, Batujaya dan Tugu. Kelompok Rengasdengklok terdiri atas Babakan Pedes, Tegalkunir, Kampung Krajan, PuloKlapa, Cibutek, Kebakkendal, Karangjati dan Cilogo.

Sebagian besar benda-benda peninggalan situs Buni, kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta. Lokasi situs Buni sendiri, telah dibelah menjadi dua wilayah sejak dibangunnya Kali Canal Bekasi Laut (CBL). Lokasi bekas ditemukannya situs, kini sudah berdiri bangunan industri pembuatan baling-baling kapal. Dekat lokasi penemuan situs Buni, juga sedang berlangsung eksplorasi minyak mentah dan gas bumi, disana pula dilakukan ribuan titik uji seismik (getaran) menggunakan bom dinamit di sejumlah lokasi sekitar Kecamatan Babelan, Sukawangi, Tarumajaya dan Muaragembong. Selain itu di sana akan dibangun berbagai industri menengah dan berat. Bila tidak hati-hati dikhawatirkan, akan merusak situs yang belum tergali.

Temuan Gerabah dari Kawasan Budaya Buni, diduga ada yang berasal dari Arikamendu (India Selatan) abad ke-4 M. Gerabah Arikamedu umumnya ditemukan pada kedalaman di atas 2 meter dan bercampur dengan Gerabah-gerabah Komplek Buni. Dari hasil analisis laboratorium, diketahui pula bahwa bahan pembuat tembikar Arikamedu berbeda dengan tembikar-tembikar lain yang ditemukan di Candi Blandongan, Situs Batujaya, Kabupaten Karawang.

Dengan demikian dapat diduga masyarakat Sunda kuna pendukung tradisi tembikar Komplek Buni (tradisi prasejarah) telah melakukan kontak dengan daerah luar (India) yang kemudian berkembang menjadi sebuah masyarakat pendukung Budaya Buni.

Penyebaran gerabah Kawasan Budaya Buni berasal Arikamedu melalui Tamluk dan Tamralipa (India) yang merupakan pelabuhan kuno yang besar dan ramai masa Dinasti Pala, meskipun sesungguhnya Tamluk telah lebih dahulu muncul dibandingkan dengan Dinasti Pala.

Kota Tamluk bukan saja sebagai kota pelabuhan melainkan pula telah menjadi pusat agama Budha di Bengal. Berdasarkan berita Fa hien, Hiun Tsang dan I-Tsing, Tamluk dikenal sebagai pusat agama Budha (Gayatri Sen Majumdar, 1983:4). Dalam laporan I-Tsing yang menetap di Tamluk selama dua tahun menyebutkan bahwa pada masa itu di bawah pemerintahan Kerajaan Gupta yang diperintah oleh Chandra Gupta. Pada masa itu, Raja telah mendirikan 20 bangunan suci Budhis. Dari laporan-laporan tersebut diketahui bahwa Dinasti Pala mendirikan kerajaannya setelah keruntuhan Kerajaan Gupta.

Jika membandingkan kondisi masyarakat Buni masa lampau yang memiliki peradaban unggul, amat bertolak belakang dengan masyarakat Buni saat ini yang sebagian masuk dalam pra sejahtera I. Aliran kali Bekasi yang dahulu untuk kepentingan lalu lintas, mencari ikan, dan sumber air bersih, namun sekarang sudah terputus sejak dibangunnya kali CBL dan hanya menjadi kubangan limbah. Ikan sulit didapat, sehingga mereka banyak memenuhi kebutuhan hidupnya dari menanam eceng gondok, bahkan air bersih sangat sulit didapat.

Saung Sanggon

Saung Ranggon berada di Kampung Cikedokan, Desa Cikedokan, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Bangunan tradisional itu dibuat di atas lahan seluas 500 meter persegi.

Bangunan bersejarah tertua di Bekasi tersebut memiliki panjang 7,6 meter dan lebar 7,2 meter. Sedangkan tingginya mencapai 2 meter. Untuk memasukinya, pengunjung harus meniti anak tangga yang berjumlah 7 buah.

Saung ini dibuat pada abad ke-16 oleh Pengeran Rangga yang merupakan putra dari Pangeran Jayakarta. Selain menikmati arsitektur tradisional, tempat bernilai historis itu juga menawarkan hiburan berupa upacara tradisional terutama pada bulan Maulid.

Tahun 1821, Raden Abbas menemukan bangunan bersejarah itu dan diberi nama Saung Ranggon. Dalam Bahasa Sunda, saung berarti rumah di tengah sawah atau ladang. Saung biasa digunakan sebagai huma atau tempat menunggui padi maupun palawija yang siap panen. Selama masa penjajahan, saung dipakai sebagai tempat menyepi dan bersembunyi dari kejaran penjajah.

Situs Saung Ranggon (https://makanangin-travel.blogspot.com)

Saung ranggon dibangun dengan prinsip ramah lingkungan. Material pembuatnya terdiri atas papan kayu serta bambu. Setiap bagian bangunan tidak dikaitkan menggunakan paku melainkan memakai pasak bambu maupun tali yang terbuat dari ijuk atau sabut kelapa.

Saung ini merupakan bangunan tradisonal khas Bekasi. Atap Saung Ranggon merupakan gabungan dua bidang miring yang dikenal dengan nama julang ngapak. Bagian dalamnya merupakan ruangan luas tanpa sekat pemisah. Di bagian bawah saung terdapat kolong menyerupai sumur yang digunakan sebagai tempat menyimpan benda pusaka.

Gedung Tinggi

Gedung Juang 45 (https://nurhamim426.wordpress.com)

Gedung Juang 45 atau disebut juga dengan nama Gedung Juang berlokasi di Jalan Sultan Hasanudin No. 5, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, koordinat GPS: 107º 05′.455″ BT dan  06º 25′ 953″ LS.

Bangunan yang memiliki nama lain Gedung Tinggi ini mulanya milik seorang landherr (tuan tanah) keturunan Cina bernama Kouw Tjing Kee. Gedung ini didirikan tahun 1906 dan tahap kedua tahun 1925, oleh seorang tuan tanah keturunan Cina, Kouw Oen Huy. Ia sering juga dipanggil Kapitaen. Kouw Oen Huy, sebagai tuan tanah menguasai lahan mulai dari Tambun, Cakung Teluk Pucung hingga ke Cakung yang kini sudah masuk DKI Jakarta.

Arsitektur

Jika dilihat dari gaya bangunan, pembangunan gedung tinggi diilhami oleh bangunan bergaya Eropah, yang saat itu mulai banyak muncul di beberapa daerah jajahan Belanda. Bangunan itu bercirikan tulang penyangganya terdiri dari pilar yang bergaris lurus dan bermotif kembang. Ketinggian bangunannya diperikirakan 4 meter untuk lantai dasar dan 4 meter untuk lantai dua. Sedang atapnya memiliki kemiringan sekitar 50 persen.

Lantainya terbuat dari ubin berkualitas tinggi. Sehingga tidak mudah pecah. Ubin terbut dibuat motif kembangan warna merah. Sedang ketebalan dindingnya diperkirakan sekitar 15 Cm. Terbuat dari batu bata merah. Sedang tiang penyangga sekaligus dijadikan sebagi pilar terbuat dari semen cor.

Gedung Juang 45 (https://www.wikiwand.com)

Merupakan bangunan bersejarah paling terkenal di Kabupaten Bekasi. Tempat bernilai historis tersebut memiliki banyak sebutan seperti Gedung Juang, Gedung Juang Tambun, Gedung Juang 45, serta Gedung Tinggi Tambun. Gedung Juang Tambun dibuat tahun 1902 oleh tuan tanah keturunan Cina bernama Kouw Tjing Kee. Sejak pertama kali berdiri, rumah dua lantai itu telah dimanfaatkan sebagai tempat penting seperti Kantor Kabupaten Jatinegara oleh KNI (Komite Nasional Indonesia) dan Pusat Komando Perjuangan RI melawan Sekutu. Pemerintah Kabupaten Bekasi juga memanfaatkannya sebagai gedung perpustakaan daerah hingga tahun 2007.

Gedung Juang Tambun terdiri atas lima unit bangunan. Yang pertama adalah bangunan utama atau disebut juga gedung tinggi. Yang kedua merupakan rumah tinggal yang terletak di sebelah kiri gedung tinggi. Bangunan selanjutnya berupa dua paviliun besar. Yang terakhir adalah paviliun kecil yang dulunya dimanfaatkan sebagai kamar tamu.

Hingga tahun 1942, Gedung Juang dimiliki oleh sang tuan tanah. Setahun kemudian, gedung itu dimanfaatkan di bawah pengawasan tentara Jepang hingga akhir masa pendudukannya tahun 1945. Gedung Tinggi juga memiliki peran penting pada masa kemerdekaan. Bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 1000 meter persegi itu digunakan sebagai Kantor Kabupaten Jatinegara oleh KNI (Komite Nasional Indonesia) sekaligus Pusat Komando Perjuangan RI melawan Sekutu. Demikian juga pada periode setelah proklamasi kemerdekaan, Gedung Tinggi selalu menempati peran sentral sebagai kantor-kantor pemerintah. Saat ini bangunan tersebut digunakan sebagai perpustakaan.

Bila ingin menyaksikan gedung bersejarah di Kabupaten Bekasi tersebut Anda dapat menggunakan kendaraan pribadi. Dari Jakarta, ambil rute menuju Bekasi lewat Tol Jakarta-Cikampek. Setelah sampai kawasan Tambun selatan keluar dari tol menuju Jalan Haji Mulyadi Joyomartono. Ikuti jalan tersebut hingga perempatan dan belok ke Jalan Sultan Hasanudin. Anda cukup berkendara selama 10 menit untuk sampai Gedung Juang.

Rumah Tuan Tanah Pebayuran

Rumah Tuan Tanah Pebayuran (https://www.bekasiurbancity.com)

Rumah Tuan Tanah Pebayuran berlokasi di Jalan Raya Pebayuran, Desa Pebayuran, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, koordinat GPS: 107º 17′.091″ BT dan 06º 12′ 913″ LS. Rumah tersebut diperkirakan dibangun tahun 1930 oleh saudagar Cina yang merupakan tuan tanah kawasan Pebayuran. Rumah tersebut juga menampilkan sedikit unsur bangunan Cina karena pengaruh pemiliknya.

Pada masa pendudukan Belanda, Bekasi banyak dihuni oleh pedagang Eropa maupun saudagar Cina. Para pendatang tersebut menguasai sebagian besar tanah di kawasan itu yang memang terkenal subur. Dari sinilah dikenal istilah landheer atau tuan tanah. Dibandingkan penduduk lokal yang hidup sederhana, tuan-tuan tanah hidup makmur dengan memanfaatkan hasil dari tanah yang mereka kuasai. Rumah yang megah menjadi salah satu ciri kesuksesan landheer di Bekasi. Salah satu bangunan peninggalan tuan tanah yang masih terpelihara sampai saat ini adalah Rumah Tuan Tanah Pebayuran.

Arsitektur

Arsitektur art deco mengusung konsep tampil beda, baru, lebih menarik dari yang lain, serta tidak kuno. Ciri khas arsitektur era awal abad ke-20 tersebut pada Rumah Tuan Tanah Pebayuran terutama tampak pada bentuk rumah yang menyerupai lambang palang merah. Selain tembok yang berwarta cerah, bangunan seluas 1000 meter persegi itu juga menggunakan genting tanah liat berwarna terang. Pada bagian beranda depan terdapat hiasan geometris (melengkung) dengan ornamen kubistik.

Rumah Tuan Tanah Pebayuran juga memiliki halaman yang lapang. Sekitar lima puluh meter di sebelah utara bangunan megah tersebut terdapat bekas gudang atau pabrik. Diperkirakan bangunan tersebut dahulunya merupakan pabik penggilingan padi karena di dalamnya masih tersimpan mesin penggiling padi. Pada sisi sebelah barat terdapat bangunan-bangunan tambahan meski kondisinya sudah tidak utuh.

Pada masa perang kemerdekaan, Rumah Tuan Tanah Pebayuran pernah digunakan sebagai tempat singgah Ir. Soekarno sebelum dibawa ke Rengasdengklok. Di sini sang proklamator memberikan arahan kepada para pejuang setempat. Saat ini bangunan yang hampir berusia satu abad itu digunakan sebagai kantor polisi Sektor Pebayuran sekaligus sebagai ruang pertemuan.

Bila ingin mengunjungi Rumah Tuan Tanah Pebayuran Anda dapat menggunakan kendaraan pribadi. Dari Jakarta pilih rute menuju Bekasi lewat Tol Jakarta-Cikampek. Selanjutnya keluar melalui Jalan Akses Tol di Cibitung dan menuju Jalan Iman Bonjol. Sampai Stasiun Cikarang belok ke Jalan Gatot Subroto kemudian Jalan Ki Hajar Dewantara. Ikuti Jalan tersebut hingga Jalan Raya Pebayuran tempat bangunan bersejarah yang Anda tuju.

One thought on “Wisata Sejarah di Kabupaten Bekasi Jawa Barat

Leave a Reply