Wisata Sejarah di Kabupaten Bandung Jawa Barat

Kabupaten Bandung beribu kotanya adalah Soreang. Sebagian besar wilayah Kabupaten Bandung adalah pegunungan, kecuali wilayah utara yang merupakan dataran rendah yang sering terendam banjir. Di antara puncak-puncaknya adalah: Gunung Patuha (2.334 m), Gunung Malabar (2.321 m), serta Gunung Papandayan (2.262 m) dan Gunung Guntur (2.249 m), semuanya di perbatasan dengan Kabupaten Garut dan Kabupaten Cianjur.

Candi Bojongmenje

Candi Bojongmenje (https://www.idsejarah.net)

Terletak di Kampung Bojongmenje, Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Lokasi berada pada ketinggian 675 m dpl, berhadapan perbukitan di sebelah timur dan utara, yaitu G. Bukit Jarian, G. Iwir-iwir, Pasir Sumbul, G. Kareumbi, G. Kerenceng, G. Pangukusan, Pasir Sodok, Pasir Panglimanan, Pasir Dungus Melati, Pasir Serewen, G. Buyung dan beberapa puncak lainnya.

Baca: Candi Bojongmenje

Denah candi berbentuk bujur sangkar berukuran sekitar 6 X 6 m bila diukur dari sisi genta dan sekitar 7,5 X 7,5 m bila diukur dari batu paling bawah. Bahan utama yang dipergunakan adalah batuan vulkanik berukuran antara tebal 9 cm, lebar 20 cm dan panjang 40 cm. Disusun secara melintang. Pada situs ditemukan yoni, lingga, fragmen tembikar serta wadah berbentuk kotak dari bahan batuan tufa.

Perkebunan Teh Malabar

Perkebunan Teh Malabar (https://tempatwisatadibandung.info)

Perkebunan Teh Malabar terletak di Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandungm Jawa Barat.

Perkebunan teh Malabar seluas 2.022 hektare ini setiap hari dapat mengolah 60.000 kilogram pucuk teh. Pemasarannya sembilan puluh persen ke luar negeri. Tenaga kerja yang terlibat mencapai 1.860 orang. Perkebunan teh Malabar telah dibuka sejak tahun 1890-an oleh Preangerplanter bernama Kerkhoven yang sebelumnya sudah membuka perkebunan teh di daerah Gambung, Ciwidey. Akan tetapi, popularitas kawasan Kebun Teh Malabar berkembang dengan pesat dan memuncak setelah Kerkhoven mengangkat sepupunya, Karel Albert Rudolf Bosscha, untuk menjadi administratur perkebunan ini pada tahun 1896.

Bekas Rumah Bosscha

Perkebunan Teh Malabar adalah salah satu perkebunan yang ada di Pangalengan. Pada bulan Agustus 1896, Bosscha mendirikan Perkebunan Teh Malabar. Dan pada tahun-tahun berikutnya, ia menjadi juragan seluruh perkebunan teh di Kecamatan Pangalengan. Bosscha datang ke Indonesia, dulu Hindia-Belanda, dalam usia 22 tahun pada 1887.

Mulanya, ia membantu bekerja di perkebunan teh milik pamannya, Edward Julius Kerkhoven, di Sukabumi. Pada bulan Agustus 1896, Bosscha mendirikan Perkebunan Teh Malabar dan menjabat sebagai Administratur selama 32 tahun. Selama itu, ia mendirikan dua pabrik teh dan menjadikan perkebunannya sebagai perkebunan yang maju. Bosscha menjelma menjadi “Raja Teh Priangan”.

Wisma Malabar, Front Office nya di : +62 853 2037 1164 atau pn8

Sekarang Perkebunan Teh Malabar dikelola oleh PT. Perkebunan Nusantara VIII.

Produk Teh dari PT. Perkebunan Nusantara 8 (https://komunitasaleut.com)

SD Negeri Malabar II

Banguan tua itu masih berdiri di tengah perbukitan yang dipenuhi tanaman teh milik Perkebunan Teh Gunung Malabar, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Sebuah bangunan yang berbentuk panggung, terbuat dari bilik bambu kusam, berlantaikan kayu jati, dan beratapkan seng. Meski sudah tua, bangunan itu tetap bisa berfungsi sebagai tempat belajar sejumlah murid sekolah dasar di sana.

Bangunan tersebut dibangun sekira tahun 1901 oleh Karel Albert Rudolf Bosscha, untuk memberi kesempatan kepada kaum pribumi, khususnya anak-anak karyawan dan buruh di perkebunan teh Malabar agar mampu mengenyam pendidikan setingkat sekolah dasar empat tahun.

Sekolah panggung warisan Bosscha itu memiliki empat ruangan belajar. Masing-masing kelas berukuran 5 x 6 meter. Dulu cara belajar murid di kelas cukup dengan menggelar tikar di atas lantai kayu jati, dengan menggunakan sabak dan gerip. Bosscha, kata Kosasih, sangat memerhatikan kemajuan pendidikan dasar. Hal itu dibuktikannya dengan menanggung seluruh keperluan dan sarana pendukung kegiatan belajar-mengajar. Pada saat itu, tak seorang murid pun yang dikenakan biaya sekolah karena semuanya sudah ditanggung oleh Bosscha.

Bekas Kantor Kawedanan Ciparay

Bekas Kantor Kawedanan Ciparay (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Bekas Kantor Kawedanan Ciparay terletak di Jl. Paledang, Kelurahan Manggungharja Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, dengan ketinggian 706 m di atas permukaan laut. Kawedanan Ciparay merupakan salah satu dari enam kawedanan yang pernah didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda di wilayah Bandung. Enam kawedanan tersebut yaitu kawedanan Padalarang, Lembang, Soreang, Ujungberung, Cililin, dan kawedanan Ciparay. Bekas kantor kawedanan Ciparay saat ini dipakai sebagai kantor kecamatan Ciparay.

Bekas kantor kawedanan Ciparay terdiri dari beberapa unit bangunan. Salah satu bangunan yaitu bangunan yang berada di sisi kanan bangunan utama, memiliki atap berbentuk piramida. Bangunan ini dikelilingi oleh dinding kaca di bagian atas, sedangkan dinding bagian bawah dilapisi masonry atau batu ekspose. Bangunan lainnya adalah bangunan dengan atap berbentuk pelana, yang berada di sisi kiri atau barat bangunan utama.

Satu hal yang menarik di kawasan kantor camat Ciparay ini adalah pola atau tata letak komponen-komponen bangunan yang berada di kawasan ini. Terlihat bahwa pengaruh tata kota Islam yang pernah berkembang di Pulau Jawa juga diterapkan di kawasan bekas kantor kawedanan Ciparay. Komponen bangunan dan letaknya dalam tata kota Ciparay adalah sebagai berikut: alun-alun sebagai sentral kota, kawedanan Ciparay berada di sebelah selatan alun alun, masjid di sebelah barat alun-alun, dan pasar di sebelah utara alun-alun.

 

One thought on “Wisata Sejarah di Kabupaten Bandung Jawa Barat

Leave a Reply