Wisata Sejarah di Kabupaten Bandung Barat Jawa Barat

Kabupaten Bandung Barat merupakan pemekaran dari Kabupaten Bandung, dengan pusat pemerintahan Kabupaten Bandung Barat berlokasi di Kecamatan Ngamprah yang terletak di jalur Bandung-Jakarta. Dan untuk sementara waktu, pusat pemerintahan Kabupaten Bandung Barat dipindahkan ke Batujajar, dan Kecamatan Ngamprah akan di pilih menjadi pusat pemerintahan pada tahun mendatang.

Kabupaten Bandung Barat (KBB) menjadi satu wilayah yang memiliki peninggalan bunker atau benteng-benteng bersejarah. Dimulai dari wilayah utara Lembang, hingga barat dan selatan Bandung Barat terdapat peninggalan benteng.

Gedung Bekas Radio Komunikasi Belanda

Gedung Bekas Radio Komunikasi Belanda (http://regional.kompas.com)

Terletak di jl. Radio Cililin, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, satu lokasi dengan SMAN 1 Cililin.

Bagian dalam Gedung Bekas Radio Komunikasi Belanda (http://regional.kompas.com)

Gedung seluas 18 x 12 meter dengan tinggi 9 meter tersebut dibangun pada tahun 1904 oleh Ir Raymond Sircke Helssinken. Raymond membeli 3,85 hektar tanah untuk keperluan membangun kompleks pemancar dan kantor radio komunikasi bernama Telepoonken. Ada sekitar 5 buah bangunan yang Raymond dirikan. Tiga bangunan di antaranya saat ini telah menjadi bagian dari SMA Negeri 1 Cililin. Sementara dua bangunan utama yaitu kantor radio dan gudang pembangkit listrik dibangun terpisah.

Benteng Pasir Ipis

Benteng Pasir Ipis (https://www.infobdg.com)

Benteng Pasir Ipis terletak di Kampung Pasir Ipis, RT 05/RW o6, Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Benteng Pasir Ipis (https://www.infobdg.com)

Benteng Pasir Ipis diperkirakan memiliki panjang lebih dari 1 Km lebih. Beberapa sumber menyebutkan bahwa benteng ini dibuat oleh bangsa Belanda dalam dua periode, dibangun mulai tahun 1819 dan selesai pada 1930. Benteng ini saat zaman Hindia Belanda berfungsi sebagai basis pertahanan bangsa Belanda untuk mengintai dari serangan musuh pada saat Perang Dunia I.

Benteng Gedong Dalapan

Benteng Gedong Dalapan (https://jabar.tribunnews.com)

Terletak di Kampung Gagak RT 02/03, Desa Karang Anyar, Kecamatan Cililin, lebih tepatnya di atas perbukitan Pasir Gagak, Kabupaten Bandung Barat.

Benteng Gedong Dalapan ini pertama kali dibangun oleh bangsa Belanda dengan memperkerjakan bangsa pribumi pada tahun 1912 dan selesai pada tahun 1918 di bawah pimpinan Tuan Bengkok (orang Belanda) dan Tuan Jackson.

Diambil dari tribun, terdapat empat bangunan utama di kompleks benteng tersebut. Satu bangunan utama terdapat di bagian depan memanjang dari selatan ke utara menghadap ke arah timur. Bangunan ini memiliki delapan ruangan dengan jumlah delapan pintu dan 16 jendela.

Setiap ruangan berukuran 2,5 m x 3 m persegi, masing-masing ruangan dihubungkan oleh sebuah pintu di dalamnya. Makanya kemudian benteng tersebut dinamani Benteng Gedong Dalapan.

Sementara ketiga bangunan lainnya berada tepat di bagian belakang bangunan utama. Membentuk setengah lingkaran mengelilingi bangunan utama. Ketiga bangunan ini sudah tampak tidak utuh lagi, selain sudah rusak, pintu dan jendela bangunan sudah rubuh dan tidak utuh lagi, juga sudah terdapat retakan-retakan besar.

Jika bangunan tersebut utuh, tampak masing-masing bangunan memiliki dua ruangan berukuran sama, yakni 2,5 m x 3 m persegi. Otomatis bangunan ini juga memiliki dua pintu lengkap dengan empat jendela.

Akan tetapi jika dilihat dari konstruksi bangunan ke tiga bangunan ini, sebelumya tampak tidak dihubungkan oleh pintu penghubung, hanya terdapat jendela kecil berukuran 50 cm x 50 cm di dalamnya. Selain itu terdapat bangunan gerbang utama yang cukup megah dengan panjang sekitar 10 meter.

Observatorium Bosscha

Observatorium Bosscha, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (https://www.pergidulu.com)

Observatorium Bosscha (dahulu bernama Bosscha Sterrenwacht) dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda. Pada rapat pertama NISV, diputuskan akan dibangun sebuah observatorium di Indonesia demi memajukan Ilmu Astronomi di Hindia Belanda. Dan di dalam rapat itulah, Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang tuan tanah di perkebunan teh Malabar, bersedia menjadi penyandang dana utama dan berjanji akan memberikan bantuan pembelian teropong bintang. Sebagai penghargaan atas jasa K.A.R. Bosscha dalam pembangunan observatorium ini, maka nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium ini.

Pembangunan observatorium ini sendiri menghabiskan waktu kurang lebih 5 tahun sejak tahun 1923 sampai dengan tahun 1928.

Observatorium Bosscha, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (https://www.pergidulu.com)

Publikasi internasional pertama Observatorium Bosscha dilakukan pada tahun 1933. Namun kemudian observasi terpaksa dihentikan dikarenakan sedang berkecamuknya Perang Dunia II. Setelah perang usai, dilakukan renovasi besar-besaran pada observatorium ini karena kerusakan akibat perang hingga akhirnya observatorium dapat beroperasi dengan normal kembali.

Kemudian pada tanggal 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan observatorium ini kepada pemerintah RI. Setelah Institut Teknologi Bandung (ITB) berdiri pada tahun 1959, Observatorium Bosscha kemudian menjadi bagian dari ITB. Dan sejak saat itu, Bosscha difungsikan sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal Astronomi di Indonesia.

Pendopo Lembang

Pendopo Lembang (https://www.bandungdiary.id)

Pendopo Lembang disamping masjid besar Lembang, dekat alun-alun Lembang atau di Jl. Lembang Raya, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Lembangsche Melkerij Ursone (Peternakan Ursone)

Rumah Ursone (https://www.imgoor.com)

Keluarga Ursone adalah satu-satunya keluarga berkebangsaan Italia pertama yang menetap di tanah Priangan pada tahun 1880. Keluarga Ursone terdiri dari empat orang bersaudara yang pergi merantau ke Hindia Belanda dan kemudian menetap di Lembang. Keluarga Ursone adalah peternak sapi perah di kawasan Lembang dan juga menjadi “leveransir” (supplier) susu sapi utama untuk Hotel Savoy Homann Bandung.

Saat hijrah ke tanah Priangan keluarga Ursone memulai karirnya sebagai peternak sapi perah yang kemudian diambil susunya. Peternakan sapi milik keluarga Ursone dimulai sejak abad ke-20 pada tahun 1895. Dari hasil usaha tersebut keluarga Ursone mampu membangun perusahaan susu yang bernama Lembangsche Melkerij Ursone yang saat itu terkenal se Hindia Belanda sebagai penghasil susu terbaik dengan kualitas tinggi.

Saat mengawali karirnya keluarga ini hanya memiliki 30 ekor sapi perah yang didatangkan langsung dari daerah Friesland di negeri Belanda. Dalam waktu yang sangat singkat sapi yang dimiliki oleh keluarga ini berkembang pesat hingga mencapai 250 ekor sapi perah. Produksi susu yang semula hanya 100 botol per hari pun bertambah menjadi ribuan liter setiap harinya.

Produksi susu yang melimpah ini kemudian di tampung pada badan usaha gabungan para peternak dan pengusaha susu yang memiliki fasilitas pengolahan modern dan jaringan distribusi yang lebih luas, yang bernama Bandoengsche Melk Centrale (BMC) dan berlokasi di belakang Masjid Al Ukhuwah samping Balai Kota. Hingga kini Bandoengsche Melk Centrale (BMC) masih tetap beroperasi dan ditempat itu hadir sebuah café ternama dengan susu sebagai menu andalannya.

Bekas Hotel Tangkoeban Prahoe

Dodik Bela Negara (https://www.facebook.com)

Bekas Hotel ini terletak di Jl. Raya Cikole Desa Cikole Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Tangkoeban Prahoe Hotel berdiri sekitar tahun 1930, salah satu favorit tempat menginap orang Belanda saat pelesiran ke Lembang, selain Grand Hotel dan Montagne. Kini di atas lahan bekas hotel tersebut dibangun sebuah instansi militer bernama Dodik Belanegara Rindam III/Siliwangi, Jawa Barat.

Rumah Selai strawberry Monteiro

Dolce Far Niente Monteiro (https://mooibandoeng.com)

Terletak di jalan raya Bandung-Tangkubanparahu, Kabupaten Bandung Barat. Dari arah Bandung, letaknya di sebelah kanan setelah Hotel Putri Gunung, lihat sebuah rumah bertembok hitam dengan tulisan “Dolce Far Niente”.

Usaha Selai Strawberry dilakukan oleh Adolph Bernard Monteiro, menilik namanya saja dia bukanlah orang Indonesia. Tapi Beni, begitu nama kecilnya, tak pernah melihat negeri lain selain Indonesia selama hidupnya. Beni dilahirkan di Manado pada tahun 1917 dari ayah kelahiran Blitar bernama Herman Christian Monteiro dan ibu kelahiran Cirebon, Eugenie Geerath, dengan merek Monteiro & Sons.

Produk dari Rumah Selai strawberry Monteiro (https://mooibandoeng.com)

Usaha ini berkembang naik-turun hingga akhir tahun 1980-an. Produk selai Monteiro memang tak pernah menjadi industri yang besar, namun namanya cukup dikenal warga Bandung baheula. Monteiro mengelola usaha ini hingga akhir hayatnya di tahun 1987, setelah itu dilanjutkan oleh istrinya, Atikah, dan anak-anaknya. Saat ini minat terhadap selai Monteiro sudah tidak seramai dulu, namanya tersamarkan di tengah produk-produk modern yang sangat beragam.

Waterleiding Cibadak

Waterleiding (https://catatansamping.wordpress.com)

Waterleiding terletak dekat Terminal Angkot Ledeng, Cibadak, Kabupaten Bandung Barat, yang menghubungkan akses Bandung wilayah Barat seperti Cihideung, Sersan Bajuri, Parongpong dan Lembang. Untuk mencapai lokasi tersebut dengan berjalan kaki dari Terminal Ledeng melewati perkampungan Jalan Sersan Surip dengan jarak sekitar dua kilometer.

Pada tahun 1920 – 1923, Gemeente Bandung memelihara mata air di kawasan ini dengan membuatkan benteng pelindung sumber mata air. Benteng ini kemudian diresmikan oleh Bertus Coops, Walikota Bandung pada tahun 1921. Hingga saat ini benteng tersebut masih kokoh berdiri dan pipa-pipa saluran air masih ada dan digunakan sebagai alat instalasi saluran pembagian air di Kota Bandung.

Spread the love

One thought on “Wisata Sejarah di Kabupaten Bandung Barat Jawa Barat

Leave a Reply