Mengenal Tekstil Tradisional Indonesia

Berbicara tentang Indonesia, sulit rasanya bagi kita untuk tidak mengkaitkannya dengan tekstil tradisional Nusantara yang begitu kaya varian warna, motif, dan tekniknya, serta sarat akan lokal wisdom yang telah mengakar pada masyarakatnya sejak zaman dahulu kala.

Desain Tekstil

Merupakan `rancangan motif dan corak baik struktur kain maupun permukaan kain dengan teknik titik, garis dan bidang warna.

Proses merencana motif atau pola pada kain dengan memperhatikan fungsi, komposisi warna, bentuk, taawal atau pra desain tata letak, harga dan bisa di produksi banyak, sambungan, langkah dan pengulangan motif juga dipikirkan keinginan pasar serta bisa laku dijual.

I. Reka Rakit (Structure Design)

Merupakan cara menghias kain (memberi warna atau membuat motif), yang dilakukan bersamaan dengan pada saat kain tersebut sedang dibuat.

A. Tenun (Traditional Handwoven)

Visualisasi persilangan antara benang pakan dan lungsin pada tenunan (Elmir, 2008)

Bisa dibilang merupakan teknik membuat kain paling awal dan paling populer yang dikenal diseluruh masyarakat di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Dilakukan dengan cara membuat kain dengan cara “menganyam” benang pakan (benang yang terentang secara horisontal) yang dibuat tegak lurus dengan benang lungsinnya (benang yang membujur secara vertikal). Tenunan bisa dibuat tanpa motif (polos), bisa juga dibuat sekaligus dengan motifnya.

Pada zaman dahulu kala, seluruh tenun di berbagai wilayah di Indonesia menggunakan alat tenun tradisional gedog (yang memiliki nama berbeda-beda pada setiap daerah penenunnya, misalnya kalira di Sumba, atau peranggon di Lombok). Alat Tenun Gedog ini terbuat dari kayu, berukuran kecil, relatif mudah dibawa kemana-mana dan cara membuatnya hanya bisa dilakukan sambil duduk selonjor (kaki diluruskan ke depan). Hasil tenunan dari gedog ini hanya bisa berlebar maksimal sekitar 70 cm (karena dibatasi pada jangkauan lebar dari alat tenun itu sendiri), namun bisa memiliki panjang tidak terbatas (sesuai desain yang diinginkan atau seberapa kuatnya sang penenun itu sendiri). Oleh karena itu, tenunan yang dibuat dari alat tenun gedog biasanya hanya dapat digunakan sebagai selendang, atau jika ingin membuat sarung atau kain besar, maka harus dijahit-sambung di bagian tengah-tengah kain (seperti yang biasa diterapkan pada sarung dan kain besar dari Nusa Tenggara Timur, seperti di Pulau Flores, Sumba dan Timor).

Sedangkan kini, demi efektifitas waktu dan efisiensi tenaga, maka menenun dapat pula dibuat dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Dengan ATBM, seseorang bisa menghasilkan kain tenun lebih cepat dengan ukuran yang jauh lebih lebar, sesuai dengan jangkauan lebar atau besarnya ukuran ATBM itu sendiri (hingga 2 meter tanpa ada jahitan sambung dengan tenunan lain). ATBM ini berbentuk seperti meja dengan bilah-bilah kayu yang terbentang baik secara melintang maupun membujur.

Berbeda dengan gedog yang dilakukan dengan posisi duduk selonjor, maka penenun ATBM bekerja sambil duduk di atas kursi. Karena besarnya alat ini, sehingga biasanya satu atau beberapa ATBM diletakkan di satu ruangan khusus karena tidak memungkinkan untuk dapat dengan mudah dibawa kemana-mana. ATBM ini dapat dengan mudah dijumpai di dataran Jawa, utamanya daerah penghasil tenunan seperti Desa Troso di Jepara, Jawa Tengah, ataupun di Cirebon, Jawa Barat. Kemudian di antara Gedog dan ATBM, ada alat tenun “tijak” yang merupakan jenis peralihan di antara keduanya. Semi tradisional – semi modern, seperti yang biasa dilakukan untuk membuat jenis tenunan Lurik di Jogjakarta ataupun Jawa Tengah.

Kategori

Secara umum, pengkategorian Tenun Tradisional di Indonesia dapat terbagi ke dalam 4 jenis berikut ini:

1. Tenun Datar (Regular Handwoven)

Teknik tenun dasar (polos), tanpa ada penambahan teknik atau material lain, dengan contoh penerapannya pada kain Indonesia.

a). Lurik. Motif garis-garis lurus atau kotak-kotak kecil (jika dilihat dari dekat) dari Jawa Tengah dan Jogjakarta.
b). Poleng. Motif kotak-kotak seperti papan catur yang berasal dari Bali.
c). Sarung Lippa. Motif kotak-kotak atau garis-garis khas Bugis.
d). Tenun Katun Silungkang. Motif garis-garis dengan ciri khas kombinasi antara benang katun dengan benang berwarna mengkilap. Termasuk tenun pengembangan modern dari Silungkang, salah satu daerah penghasil songket di Sumatera Barat.

Gambar (kiri-kanan): Detail pada Lurik, Poleng, Lippa, Tenun Katun Silungkang (Elmir, 2015)

2. Tenun Ikat (Ikat Handwoven)

Jika tenunan tersebut pada saat pembuatannya melewati tahapan ikat-celup (untuk mewarnai benang) sebelum benang-benang tersebut mulai ditenun. Motifnya terbentuk sesuai dengan peletakan ikatannya sebelum dicelupkan pada cairan warna.

a). Tenun Ikat Lungsin. Jika letak benang yang diikat-celup merupakan benang yang membentang secara vertikal. Contoh: Ulos Sibolang dari Sumatra Utara.
b). Tenun Ikat Pakan. Jika letak benang yang diikat-celup merupakan benang yang terlintang secara horisontal. Contoh: Porisitutu dari Toraja, Sulawesi Selatan.
c). Tenun Ikat Ganda. Jika letak benang yang diikat-celup merupakan kedua sisi benang, Baik yang terbentang secara vertikal maupun horisontal. Contoh: Geringsing khas Tenganan, Bali.

Gambar (kiri-kanan): Ulos Sibolang, Porisitutu, Geringsing (Kartiwa, 2007)

3. Tenun Sungkit (Supplementary Wrap Handwoven)

Memakai benang atau serat tertentu yang “disungkit” (ditambahkan) pada rentangan benang dasar yang telah ada.

a). Songket. Biasanya penamaan ini hanya digunakan untuk yang merujuk pada penambahan benang emas atau perak. Biasanya ditemukan pada daerah dengan pengaruh Islam yang sudah kental, oleh karenanya tidak menggunakan motif hewan atau figur leluhur (sepert tenun ikat). Ia menggunakan motif geometris, atau bentuk stilasi dari tumbuh-tumbuhan. Beberapa contoh yang populer: Songket Minang (Pandai Sikek atau Silungkang), Songket Palembang, Songket Lombok (yang populer: Songket Subahnale), Bima, dan lain sebagainya. Namun ada pula daerah non Islam yang juga membuat kain dengan penambahan benang emas, misalnya Bali.

Gambar (kiri-kanan): Detail pada Songket Pandai Sikek, Songket Subahnale, Songket Bali (Elmir, 2015)

b). Tenun Baduy. Kain tenun yang dibuat oleh masyarakat Baduy Luar, dengan motif kotak-kotak warna-warni dengan penambahan benang katun sehingga menghasilkan tenunan dengan tesktur kotak-kotak tipis-tebal yang khas.

c). Tenun Renda. Seperti songket, namun menggunakan benang katun khas Bima, NTB. Biasanya berwarna latar hitam atau merah dengan motif khas berwarna-warni merah, kuning dan hijau.

d). Pahikung. Seperti songket, namun biasanya menggunakan kapas dan serat dari akar-akaran yang diolah secara tradisional, khas masyarakat Sumba Timur. Kain yang biasanya dibuat satu set sarung wanita dan selendangnya. Menggunakan motif figur stilasi dari hewan, misalnya kuda, singa, serangga, hingga ikan-ikanan.

Gambar (kiri-kanan): Detail pada Tenun Baduy, Renda Bima, Pahikung Sumba (Elmir, 2015)

e). Sotis. Seperti songket, namun biasanya full menggunakan serat kapas yang dipintal manual ataupun yang sudah berupa benang katun. Memiliki ciri khas penampakan visual positif-negatif yang begitu kental antara sisi atas dengan sisi bawah kainnya. Maksudnya: Pada sisi atas kain X, terlihat bahwa latarnya merah, motifnya kuning. Namun pada sisi bawah kain X, akan tampak bahwa latarnya menjadi kuning, sedangkan motifnya berwarna merah). Teknik ini mudah dijumpai di Timor, NTT, dengan penamaan yang beraneka ragam, sesuai dengan nama daerah asalnya. Contoh: Sotis Soe, Sotis Kefa, Sotis Boti dan lain sebagainya.

Gambar: Tampak perbandingan warna “positif-negatif” pada sisi atas dan bawah pada sehelai Sotis (Elmir, 2015)

f). Buna. Teknik menenun dengan penambahan benang yang disulam bolak-balik (atas-bawah) di atas tenunannya. Jika dilihat, kita akan mudah terkecoh karena ia tampak seperti bordir mesin, melihat dari hasil pekerjaannya yang begitu rapi dan rapat. Buna merupakan teknik membuat kain tenun kebanggaan khas orang Timor (NTT). Disana, setiap daerah memiliki motif khas, yang dinamakan sesuai dengan nama daerah asalnya. Seperti Buna Soe, Buna Molo, Buna Nungkolo, Buna Ayotupas, Buna Bokon, Buna Krawang, hingga Buna Arae yang sudah terancam kepunahannya.

Gambar (kiri-kanan): Detail pada Buna Soe, Buna Ayotupas, Buna Krawang (Elmir, 2015)

4. Tenun Khusus (Special Handwoven)

Jika ia tak lagi dapat dikategorikan ke dalam Tenun Datar, Tenun Ikat maupun Tenun Sungkit. Biasanya ia memiliki teknik tersendiri yang khas, sehingga jenis tenunan ini begitu melekat pada satu daerah.

a). Rang-Rang. Teknik menenun berpola “loncat-loncat” pada beberapa bagian, sehingga menghasilkan kain yang terlihat jarang-jarang. Jika diperhatikan, maka akan terlihat ada beberapa lubang-lubang kecil yang pada akhirnya menghasilkan motifnya tersendiri. Maka dari itu, ia dinamakan sebagai “Rang-Rang”, alias “jarang-jarang”. Tenunan yang biasanya bermotif zig-zag ini merupakan khas Nusa Penida, Bali. Namun kini juga diproduksi di Lombok, serta sudah mudah ditemui replikanya berupa Tenun Ikat dari Jepara, Jawa Tengah. Bahkan kini, motif khas zigzag-nya tersebut sudah mudah ditemui dalam bentuk batik yang diproduksi di Cirebon, Jawa Barat.

Gambar (kiri-kanan): Detail pada Rang-Rang Bali (Elmir, 2015)

b). Ulap Doyo. Merupakan tekstil tradisional khas orang Dayak. Biasanya, teknik yang digunakan merupakan kombinasi antara tenun datar (pada motif garis-garis pinggirnya) dan tenun ikat (yang dilakukan pada motif di tengah-tengah kain yang menggunakan serat daun “doyo”, yang konon hanya tumbuh di dataran Kalimantan).

Gambar: Pahudu Sumba yang menggabungkan teknik pahikung, sulam kerang, coletan, sekaligus tenun ikat dalam satu kain yang sama (Elmir, 2015)

c). Tapis. Merupakan tekstil tradisional kebanggaan masayarakat Lampung. Biasanya dibuat satu set antara sarung dan selendangnya. Ia dibuat dengan cara menenun serat kapas secara manual-tradisional (menggunakan alat tenun gedog), lalu disulam tangan dengan benang emas bermotifkan flora dan fauna. Namun pengembangannya kini, sudah banyak yang ditenunnya dengan benang katun, menggunakan ATBM (alat tenun bukan mesin), kemudian dibordir dengan mesin bordir.

d). Ulos Sadum. Merupakan tenun tradisional kebanggaan masyarakat Batak yang mudah diidentifikasi dari warna latarnya yang umumnya hitam, dengan motif warna-warni di atasnya bertaburan manik-manik (yang umumnya) berwarna putih. Setelah ditilik lebih dalam, maka akan tampaklah betapa tingginya ilmu menenun mereka yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak zaman dahulu kala. Cara pembuatannya merupakan kombinasi dari beberapa teknik, misalnya sungkit (seperti sotis Timor), sulam manik (namun ada pula yang manik-maniknya dimasukkan ke dalam benang pakannya bersamaan saat menenun, bukan pada saat tenunan sudah selesai dibuat sebagaimana sulaman pada umumnya), hingga tapestri di beberapa bagian.

Gambar: Detail pada Ulos Sadum tampak depan dan belakang. Terlihat bahwa ia merupakan gabungan dari teknik sungkit, sulam manik dan tapestri (Elmir, 2015)

e). Batik Gedog Tuban. Merupakan tekstil tradisional masyarakat Tuban. Batik jenis ini berbeda dari batik jenis lain, karena pada saat batik biasanya dilakukan di atas kain pabrikan, maka batik gedog ini selalu diaplikasikan pada kain tenun yang diproses secara tradisional, menggunakan Alat Tenun Gedog. Itulah mengapa ia dikenal sebagai “Batik Gedog”. Selain itu, ciri khas lainnya adalah proses pembatikannya pun dilakukan secara manual, alias termasuk ke dalam kategori Batik Tulis.

Gambar: Detail Batik Tulis yang diterapkan pada Tenun Gedog khas Tuban, Jawa Timur (Elmir, 2015)

B. Non Tenun

Kain bukan tenunan (nama Inggris: Kain Non Woven atau Nonwoven Cloth) yang juga dikenal sebagai non woven, dibuat oleh serat terarah atau acak, merupakan generasi baru bahan ramah lingkungan, dengan kelembaban, bernapas, fleksibel, ringan, non-pembakaran, mudah dekomposisi, tidak beracun non-menjengkelkan, warna-warni, murah, dapat didaur ulang dan sebagainya.

1. Rajut. Terbagi ke dalam 2 jenis (knitting atau merajut dan crocheting atau merenda atau meng“kait”). Ia adalah cara membuat kaitan benang dengan menggunakan jarum khusus yang dinamakan sebagai hakken atau dengan breien. Hasilnya yang mudah ditemui kini biasa digunakan sebagai alas meja, taplak gelas, rompi, topi, syal, dan lain sebagainya. Masyarakat yang mengenal kebiasaan merajut misalnya ada di Sumbar, Lampung, Jabar dan Bali.

2. Makrame. Membuat anyaman serat dengan cara mengikat tali-temalinya dengan berbagai teknik pengembangannya. Contoh: Noken (tas khas Papua) dan Rotali (rok “jerami” khas Papua).

Gambar: Detail Makrame pada tas Noken khas Papua (Elmir, 2015)

3. Tapestri. Membuat anyaman benang menggunakan teknik puntir yang khas dan pola berulang. Dapat diidentifikasi dari penggunaan alat khusus berupa bingkai kayu besar dengan barisan paku di atas dan bawahnya. Biasanya dilakukan sembari duduk ataupun berdiri. Contoh penggunaannya di Indonesia: Naisa Molo dari Molo, yaitu suatu desa di Pulau Timor, NTT.

II. Reka Latar (Surface Design)

Merupakan cara menghias kain (member warna atau membuat motif)  yang dilakukan pada saat kain tersebut telah selesai dibuat.

A. Batik (Batik)

Gambar: Detail perbandingan antara Batik Tulis, Batik Cap, dan Tekstil Printing bermotif Batik (Elmir, 2015).

Merupakan teknik reka latar paling terkenal dan sudah dapat dianggap sebagai representasi dari kekayaan tekstil tradisional Nusantara yang telah mendunia, bahkan diakui sebagai warisan budaya dunia oleh lembaga internasional sekelas UNESCO. Pertama kali dibuat oleh masyarakat Jawa, yang kemudian terus menjalar ke daerah-daerah lain, dari Sumatra hingga Papua. Dari cara membuatnya, ia dapat dikategorikan menjadi 2 jenis: Batik Cap dan Batik Tulis. Batik Cap adalah membatik dengan cara menempel-nempelkan cap (yang cetakan bawah cap-nya telah dibuatkan motif sesuai selera), yang sebelumnya sudah ditempelkan di atas wajan panas berisi cairan lilin (atau “malam”) secara teratur dan berulang hingga kainnya penuh dengan motif yang diinginkan, untuk kemudian dicelupkan ke dalam zat pewarna kemudian di”lorod” (menghilangkan tempelan lilin dari atas kain).

Sedangkan Batik Tulis tidak memakai cap, melainkan menggunakan canting (seperti pena namun atasnya sedikit terbuka dan berujung runcing) untuk mengucurkan lilin sehingga terlukislah motif-motif yang diinginkan. Proses selanjutnya kurang-lebih sama dengan Batik Cap, yaitu melalui proses celup, lorod, hingga penjemuran sehingga kainnya menjadi kering dan warna menjadi lebih nyata serta tahan lama.

Dan yang paling penting adalah, jangan sampai membeli “batik printing”. Karena seringkali batik printing yang biasanya dijual dalam bentuk gulungan berpuluh-puluh meter tersebut, (sebagaimana kain pabrikan pada umumnya), bukan merupakan buah karya anak bangsa, melainkan produk pabrikan besar dari negara non Indonesia, yang hanya dicetak dengan motif-tradisional, sehingga dapat menyerupai batik, atau tenun, bahkan songket. Jangan sampai maksud hati ingin mendukung pengrajin lokal, malah ternyata menambah kekayaan pabrik besar yang justru dapat mematikan para pelestari tekstil tradisional Nusantara itu sendiri.

Cara membedakan antara batik (yang sesungguhnya) dengan tekstil bermotif batik, dapat diidentifikasi melalui penampilan visual dan aromanya (sebelum kain dicuci). Tekstil printing biasanya menghasilkan penampilan visual yang sangat rapi, tidak tampak jejak “tumpahan lilin” atau “ketidak-merataan-warna”. Lalu, batik tulis dan cap memiliki aroma yang khas, seperti bau zat organik (atau rambut) dibakar. Sedangkan tekstil printing bermotif batik, biasanya tidak berbau, atau justru beraroma khas minyak tanah (seperti aroma kertas di print atau fotokopi).

B. Jumputan

Gambar: Detail motif dan jejak tusukan jarum pada kain Jumputan (Elmir, 2015)

Merupakan teknik ikat-celup khas Sumatera Selatan. Berbeda dengan tenun ikat yang proses ikat-celupnya diterapkan pada benang-benangnya sebelum ditenun, maka pada teknik jumputan ini, proses ikat-celup dilakukan terhadap kain jadi (baik itu berupa kain tenun maupun kain katun pabrikan). Ciri khas dari kain jumputan ini adalah terletak dari motif bulatan dan sulur-sulur yang terlihat ada jejak tusukan jarum di atasnya. Hal ini disebabkan dari tusuk jelujur dan pem”bungkus”an kelereng saat proses ikat-celup dilakukan.

C. Sasirangan

Gambar: Detail motif dan jejak tusukan jarum pada kain Sasirangan (Elmir, 2015)

Serupa dengan jumputan, kain sasirangan ini merupakan kain tradisional yang menggunakan proses ikat-celup dalam menghasilkan motif dan warnanya, nemun dengan teknik yang lebih sederhana. Kain kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan ini umumnya cukup menggunakan 1-2 varian rentang warna (misalnya: putih dan ungu, beserta rentang tingkatan warna diantaranya), dengan ciri khas motif jelujur, garis, atau zigzag, mengikuti tusukan jarum saat proses pengikat-celupan warna dilakukan.

D. Sulam

Gambar (kiri-kanan): Detail Kristik dari Sumatera Barat dan Sulam Kerang khas Sumba Timur (Elmir, 2015)

Merupakan penambahan jahitan kreasi (tusuk benang atau stitch) di atas kain tenun yang sudah jadi, yang dilakukan secara manual dengan tangan. Contoh: Sulam Usus (Lampung), Tusuk Peniti dan Kristik (Sumbar), serta Sulam Kerang khas Sumba.

E. Bordir

Gambar: Detail Bordir Gayo khas Aceh (Elmir, 2015)

Merupakan bentuk pengembangan dari sulam, yang dibuat dengan mesin khusus bordir. Contoh: Bordir Gayo di Aceh. Selain itu, ada pula bentuk pengembangannya bernama “krancang”. Ia berupa bordiran yang kemudian di-solder (dipanaskan dengan alat khusus bernama solder) ditengah-tengahnya sehingga menimbulkan tekstur khas berupa lubang-lubang kecil yang dibingkai dengan jahitan bordir di sekelilingnya. Contoh: Bordir Krancang Tasikmalaya.

F. Lukis

Gambar: Detail Colet Warna yang diterapkan pada kain Pahikung dari Sumba Timur (Elmir, 2015)

Jarang diterapkan pada tekstil tradisional Nusantara. Lebih dikenal sebagai teknik modern-kontemporer atau “hanya” sebagai penambahan dari teknik yang sudah diterapkan sebelumnya (seperti colet warna di atas kain pahikung di Sumba Timur).

III. Kombinasi Reka Latar dan Reka Rakit (New Exploration: Combining Structure & Surface Design)

Seiring dengan berkembangnya zaman, mengakibatkan semakin banyaknya pula eksplorasi dalam bidang pertekstilan tradisional Nusantara. Beberapa eksplorasi yang menggabungkan reka latar + reka rakit yang kini telah dikenal umum oleh masyarakat luas diantaranya adalah:

A. Lutik (Lurik + Batik)

Ditenun dahulu dengan pola menenun lurik, lalu dibatik di atasnya. Dapat ditemui di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

B. Batik Dobi (Tenun Dobi ATBM + Batik)

Gambar: Detail Batik Cap yang diterapkan pada Tenun Dobi Katun ATBM dari Cirebon, Jawa Barat (Elmir, 2015)

Penggabungan dari teknik tenun sungkit (pengrajin setempat menyebutnya sebagai Tenun Dobi) yang dikerjakan pada Alat Tenun Bukan Mesin, untuk kemudian dibatik di atasnya. Batik Dobi ini terbagi menjadi 2 jenis. Yaitu Biasa dikenal dengan istilah “Dobi Katun” (menggunakan benang katun, lebih lembut, menyerap keringat, dan tidak berlubang-lubang) atau “Dobi Viskos” (menggunakan benang viskos, lebih mengkilap, licin, dan memiliki tesktur lubang-lubang kecil sehingga memungkinkan kain menjadi bersifat transparan di beberapa bagian). Telah dikembangkan oleh pengrajin dari Cirebon, Jawa Barat.

C. Songket Sulam

Gambar: Detail sulam pada songket Pandai Sikek (Elmir, 2015)

Dikerjakan oleh pengrajin dari Pandai Sikek, Sumatra Barat. Merupakan penggabungan teknik songket tradisional berkualitas tinggi dan sulam suji yang dilakukan setelah songket tersebut telah selesai dibuat.

Sumber: lmiraethnique

Leave a Reply